Curhat Pascasarjana (TOEFL IBT) #LPDP #Story #4

Abu Darda Radliyallahu ‘anhu berkata, “Siapa yang beranggapan bahwa pergi menuntut ilmu bukan jihad maka telah berkurang akalnya.”

Mu’adz bin Jabal berkata, “Pelajarilah ilmu, karena mempelajarinya karena Allah adalah hasanah, menuntutnya adalah ibadah, mempelajarinya adalah tasbih, dan membahasnya adalah jihad.”

Persiapan selanjutnya adalah test TOEFL IBT, berbeda dengan TOEFL ITP (Institutional Test Program) atau PBT (Paper Based Test), TOEFL IBT (Internet Based Test) menjadi persyaratan masuk Universitas yang harus dilampirkan. Mungkin ada beberapa yang menerima dalam bentuk ITP atau PBT, teteapi lebih banyak yg menerima IBT (saat akan apply ke universitas, mohon ditanyakan mengenai persyaratan TEOFL ini). *FYI: TOEFL hanya diperuntukan untuk negara seperti Asia dan Amerika, kalau Eropa dan Australia yg diperlukan adalah IELTS (jangan tanya saya, soalnya belum pernah XD)

Untuk mengikuti TOEFL IBT hal pertama yang harus dilakukan adalah membuat akun di www.ets.org nanti akan ada kolom Sign Up untuk register.

ets ets2

As always, saya curcol sama Tiko (yang selalu selangkah lebih maju.. eaa :D). Apa saja yang dibutuhkan, dipersiapkan, dll. Jujur, kami belum pernah ikut les persiapan untuk TOEFL dan semacamnya, dan langkah ini pun kami nilai sebagai langkah yang Nekat! :p Bismllahi tawkkaltu, laa hawla wa laa quwwata ila biLlah…

Seelum Tes TOEFL IBT, saya dua kali mengikuti Tes TOEFL ITP, yg pertama yang saya ceritakan sebelumnya, yakni di LIA Pramuka, dengan hasil yang gak banget, saya gak ambil deh hasil tesnya. hehe. Dan yang kedua bertempat di LIA Veteran (test TOEFL ini saya ambil bersama dengan Tiko). Untuk tes TOEFL IBT itu jadwal tes saya berselang seminggu dengan jadwalnya Tiko.

Oke-nya, pendaftaran IBT ini adalah untuk daftar minimal sebulan sebelumnya, hal ini mencegah saya yg deadliner ini untuk tergesa, dan gak belajar untuk persiapan test :p. Yah namanya juga riska, dengan alasan masih mikir, ngumpulin uang, dan sok sibuk dengan kerjaan (ya karena utama adalah kerjaan bukan? hihi), saya kena denda juga, karena telat sehari pendaftaran. #tepokjidat. Sehingga sistem belajar kebut 2 minggu pun saya lakukan.

Buku yang saya baca untuk persiapan test adalah buku dari KAPLAN, dengan dilengkapi CD-ROM untuk latihan. Ada empat bagian test yakni, Reading, Listening, Speaking, dan Writing. Yang nge-buat keki dan gak pede adalah bagian Speaking hehe. Jadi saya maksimalin untuk latihan speak-speak :p

kaplan

Tantangannya, dibandingkan TOEFL IBT yang hanya Reading dan Listening, IBT memang lebih kompleks dan lengkap. Semua kemampuan ditest disana. Seperti dua tahun lalu saya saya berkesempatan course english selama 2 bulan di US, 4 hal itulah yang dititikberatkan untuk dilatih. Then, selama di Indonesia, menguap sudah ilmunya, karena gak pernah dipake, wkwk. Wallahu’alam 😉

Jeng jeng, kenapa saya terburu mengambil test pada bulan Mei ini? Karena oh karena deadline berkas Admission adalah 7 Juni 2013, dan waktu terakhir untuk ikut test IBT adalah saat itu juga. Hoho. Ya begitulah pemirsah. itu pun saya masih harus izin untuk bilang bahwa hasil test yang akan langsung dikirim ke kempus Tsukuba dari US (tempat penilaian test) akan telat sepekan dari yang sudah dijadwalkan. Alhmdulillah diperbolehkan. Yap, jadi ingat-ingat, untuk test TOEFL IBT harus sebulan sebelum (minimal dua pekan, klo telat denda skitar 47$ atau sekitar Rp.500.000 lumayan kan T_T), sedangkan testnya sendiri seharga 175$ atau sekitar Rp. 1.850.000. Dan hasilnya akan dikirim langsung ke Universitas Tujuan, dalam durasi sekitar 15 hari.

Hasil nilai bisa dilihat langsung di web ets.org, dan dengan hasil itu saya pastikan lagi ke kampus, sehingga mereka percaya bahwa saya telah ambil test IBT hehe. ALhmdulillah dengan nilai sekian-sekian, saya memberanikan diri untuk menyertakan nilai itu dalam aplikasi pendaftaran saya ke University of Tsukuba. Aplikasi lainnya berupa form pendaftaran, CV, dan Reserach Plan. Yosh! 😀

Iklan

Curhat Pascasarjana #LPDP #Story #3

Terpilihlah satu negara, yang pada awal tahun saya sempatkan untuk mengikuti pameran pendidikan negara itu yang diselenggarakan di Universitas Atmajaya Jakarta (Benhil, Depan Kost-nya Tiko, pemirsah, nama: Tiko, akan beberapa kali di-mensyen, mohon jangan bosan :D)

Global 30 program pengajaran dengan bahasa Inggris, yang membuat saya memberanikan diri untuk mengambil sekolah di Jepang. Ya Jepang, tanpa harus menguasai bahasa Jepang secara keseluruhan (yang selama ini menjadi kendala saya untuk maju sesegera mungkin) akhirnya saya bisa sekolah di Jepang hehe. Tentunya, bahasa Jepang harus tetap dipelajari, sebagai bahasa keseharian. Akhirnya setelah tanya-tanya dan bertemu beberapa sensei yang datang di pameran pendidikan itu, saya memantapkan diri untuk mengambil kuliah di sana.

Tersebutlah beberapa Universitas yang menyediakan beberapa jurusan yang berhubungan dengan sains, biokimia, dan pertanian. Sambil mencoba menentukan universitas, saya pun mencoba mencari peluang-peluang beasiswa yang ada, pertama kali yang saya coba adalah beasiswa kominfo. Saya pun menyesuaikan jurusan yang saya ambil, yang berhubungan dengan informatika, jreeng, saya akan mencoba mengambil Bioinformatika di Tokodai. Saya mulai mempersiapkan persyaratan seperti berkas-berkas, formulir, TPA dan TOEFL ITP.

Bulan Januari pekan ke 2 saya mengambil test TOEFL ITP di LIA Pramuka Jakarta (TOEFL saya yang dulu ternyata sudah expired hihi XD), pekan ke 3 nya saya mengambil test TPA di Bappenas Jakarta (Pertama kalinya ambil test TPA). Mepeett, sungguh mepet karena deadline berkas untuk beasiswa kominfo adalah tanggal 5 Februari. So, hasil test haruslah sesuai dengan syarat yakni 550 untuk TOEFL dan 450 untuk TPA. Alhasil TPA dengan nilai cukup bagus (walau di kemampuan matematika yang pas-pasan wkwk), namun TOEFL saya ternyata turun hiks hiks, saya tidak jadi apply untuk beasiswa kominfo. Dadaahh bioinformatikaaa… 😀

Target beasiswa selanjutnya adalah Monbugakusho (atau MEXT yakni beasiswa dari pemerintah Jepang), yang bikin cupu buat ikut beasiswa ini adalah kemampuan bahasa Jepang yang “ahsudahlah” :p saya cuma bisa baca hiragana sama katakana, kanji mesti merem-melek buat bacanya XD. Dan proses aplikasi yang cukup panjang yakni setahun.

Beasiswa lain yang lagi marak adalah LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) dari kementrian Keuangan yang berkoordinasi dengan Kementrian Pendidikan dan Kementrian Agama. Tahun ini adalah tahun pertama untuk beasiswa LPDP. Tiko menyarankan untuk coba monbusho dan LPDP, saya yang tukang ngeyel dan sok banyak kerjaan ini, masih maju mundur untuk memperjuangankan kedua beasiswa itu. Jadilah dalam tahap itu saya mencoba untuk mencari LOA (Letter of Acceptance) dulu.

Dari hasil pertimbangan yang mendalam, saya list 3 universitas yakni Kyoto, Kyushu, dan Tsukuba sebagai target. dan diantara ketiga itu, saya mencoba mencari sensei dan jurusan yang sesuai, ada beberapa yang menarik hati di Kyoto, misalnya Global Frontier Bioscience, tetapi saat dipertimabangkan kembali, saya gak mau ambil yang bioscience banget hehe, ingin yang lebih aplikasi dan mengarah ke social science tapi yang gak sosial banget (hadeeh banyak maunya). Then, saya akhirnya jatuh cinta pada sebuah program post-graduate di University of Tsukuba, sebut saja ia: Professional Training Program in International Agriculture Research, saya coba SKSD dengan menanyakan beberapa mata kuliah yang ditawarkan. Sambil tanya-tanya juga ke alumni Tsukuba Daigaku seperti Ka Ikono dan Mba Nur Hasanah. Selang sehari kemudian, saya mendapat beberapa jawaban langsung dari sensei yang bersangkutan, Happy to hear that! Saya kepo-in deh riwayat sensei tersebut, yap dengan mantap saya memintanya untuk jadi prospective supervisor atau dosen pembimbing saya.

Saat itu, saat bulan Mei, dimana saat pertengahan April saya sudah menyerah dengan berkas monbugakusho saya, akhir April saya berangkat ke Taiwan untuk presentasi, sehingga berkas itu benar-benar tidak terkirim hehe. Kabar baiknya, ternyata LPDP dibuka sepanjang tahun, ALhmdulillah secercah harapan sedikit terlihat. Bulan Mei, selain sibuk persiapan kampanye pangan lokal, saya juga menyempatkan untuk menulis proposal riset dan mengikuti test TOEFL IBT. Ganbaru! 😉

to be continued…

Curhat Pascasarjana #LPDP #Story #2

Hari ini kabarnya pengumuman penerima beasiswa LPDP gelombang ke-6 tahun 2013 keluar, sambil nunggu pengumuman yang semenjak bulan lalu saya tunggu ini, saya akan lanjutkan curcolan gakjelas tentang perjalanan melanjutkan sekolah. Wallahu’alam, entah dapat atau tidaknya beasiswa, semoga curhat ini bermanfaat hihi.. 😉

Okey, setelah niat yang cukup, mengapa harus melanjutkan seokalh, kemudian kita mencari negara tujuan, Indonesia atau di Luar Negeri? Benua Asia, Australia, Amerika, Eropa, atau Afrika? Untuk penentuan ini, saya butuh hampir setengah tahun untuk banyak berkonsultasi ke senior-senior yang saya rasa cukup banyak pengalaman di pasca sarjana di dalam dan di luar negeri. Tepatnya, dari bulan Juli 2012 sampai November 2012. Selain senior, saya juga sempatkan untuk banyak bermusyawarah dengan keluarga, khusunya ibu dan bapak. Yup. jangan sampai mereka tidak tahu rencana anak perempuan pertama satu-satunya, yang ternyata ingin ‘meninggalkan-rumah-lagi’ hiks.

Saya timbang-timbang, saya pun melihat beberapa peluang, dan juga jadal-jadwal perkuliahan yang tidak boleh terlewatkan. Saya sempat membuat akun penerimaan mahasiswa UI, dengan pilihan jurusan antara Ilmu Herbal dan Biomedis (Karena UI adalah kampus yang sering di-mensyen oleh Bapak saya agar bisa lanjut disana, semacam impian bapak saya yang belum tercapai hehee…), dan hampir ikut seleksinya di bulan April 2013 kemarin, tetapi tidak jadi karena saya harus berangkat presentasi di Taiwan. hehehe…

Akhirnya, di akhir tahun 2012, saya memutuskan benua Asia, sebagai pilihan dengan dua negara Jepang atau Korea. Kenapa Jepang atau Korea? Jepang, bisa dibilang negeri impian, hoho. Pertanian dan Sainsnya maju, Dan juga Alhmdulillah sudah pernah merasakan tinggal walau hanya beberapa hari disana :p Jadi lebih terbayang bagaimana jika tinggal disana dalam waktu yang lama.

Korea, bukan karena korean wave yang lagi happening :p walau sejujurnya saya juga pernah sih ngikutin kabarnya super junior, duluu waktu awal kuliah di tahun 2007 hahah :p. Korea negara yang hampir sama perkembangannya dengan Jepang, dan salah satu negara yang mempunyai banyak Inovasi dengan tetap memberdayakan tenaga kerja dalam negerinya. Seperti Jepang, Ia negara yang sangat menjaga tradisi dan cinta terhadap produk dalam negeri. Ditambah, di tempat tinggal saya kini banyak sekali tenaga kerja dari Korea. Semenjak Krakatau-Posco berdiri di Cilegon, jadilah buanyak sekali pekerja yang didatangkan dari negara asalnya, untuk memegang pabrik industri baja patungan PT. Krakatau Steel dan Posco dari Korea (Kapa-kapan saya akan cerita tentang ini). Jadi, ceritanya, kalau saya bisa bahasa korea kan saya bakal ngerti apa yang bakal mereka lakukan di kota saya ini :p

Dan jadilah Jepang dan Korea yang menjadi kandidat negara selanjutnya dengan beberapa kandidat Universitas seperti: Kyoto University, Tokyo University of Agriculture and Technology (TUAT), Kyushu University, Tsukuba University, Yonsei University, Korea Advance Institute of Science and Technology (KAIST). dan Pohang University of Science and Technology (POSTECH).

Sekitar dua bulan, saya pun banyak berdiskusi dengan teman seperjalanan seperjuangan (Tiko) untuk menentukan mana yang akan dipilih dari kedua negara ini. Dengan beberapa pertimbangan, akhirnya diputuskanlah satu negara tujuan… Bismillah 😉

Curhat Pascasarjana #LPDP #Story #1

“Paling tidak, saya pernah memperjuangkannya dalam hidup saya” -Tiko

Saya pernah bercita-cita menjadi seorang peneliti atau scientist penerima nobel.. haha.. muluk banget yeee :p

Tapi ya namanya juga cita-cita, selalu membawa energi lebih untuk perjuangan. Dalam perjalanannya, saya semakin memahami kalau untuk menjadi bermanfaat itu tidaklah harus menjadi peneliti penerima nobel.tetapi memang salah satu jalan adalah itu. Melalui karya, yang bermanfaat, yang dihargai, dan yang diterapkan.

Tidak ada sejarahnya dalam keluaraga saya untuk meneruskan jenjang pendidikan sampai jenjang pasca sarjana. Paling dominan ya sarjana, setelah itu langsung kerja. Tidak masalah. Oleh Karena itu, selulusnya dari IPB, saya langsung bekerja. Belum sempat saya menyebar CV ke berbagai instansi dan perusahaan. Tawaran untuk menjadi staf di sebuah LSM pun akhirnya saya terima. Saya menerima itu karena sejalan dengan apa yang ingin saya perjuangkan #apadeh :p

Setiap orang diciptakan Allah dengan berbagai macam keahlian yang berbeda-beda untuk kebaikan dan kesejahteraan manusia. Dengan keahlian itu manusia dapat menjadi bermanfaat dalam rangka beribadah kepada Allah SWT. Dengan keyakinan itulah setiap manusia akan yakni terhadap apa yang Ia perjuangankan dan menghargai apa yang oranglain perjuangkan.

Dalam kurun 2 tahun saya bekerja di LSM tersebut, banyak hal yang saya dapat diantaranya adalah aplikasi teknologi untuk kesejahteraan masyarakat. Saya mulai memahami bagaimana mendayagunakan hasil-hasil riset menjadi sesuatu yang bisa memberdayakan masyarakat khususnya di daerah pedesaan. Akhirnya saya tertarik untuk mempelajari ilmu itu lebih lanjut dengan dasar biokimia dan pertanian yang saya punya, saya mencoba untuk mengembangkan konsep sosial teknoprenership untuk diaplikasikan di daerah pedesaan.

Untuk itu saya tertarik untuk mengambil study yang tidak jauh dari pertanian, namun agak jauh siy dari biokimia hahaha maap yak… karena saya ingin mengambil segi aplikasi dari ilmu dasar biokimia salah satunya adalah agrobioteknologi.

Ribet ye keliatannya mau nentuin study buat sekolah lagi aja. Tapi ya begitulah, harus kuat niat nih soalnyaa hehe. Dan paham juga apa yang akan nanti dilakukan sepulangnya dari sekolah. Dan yang mau saya lakukan nanti adalaahh nulis, bisnis atau ngajar! hoho, jangan heran kalau nanti saya bakal nulis (apapun itu), bisnis (apapun itu), dan ngajar (dimanapun itu) dan yang penting halal. masih absurd kan? seabsurd para pewawancara yang butuh jidat mengkerut untuk memahami jawaban saya saat wawancara beasiswa LPDP akhir juli lalu… hhehe (bagian ini, tolong jangan dicontoh.. haha :p)

Kenapa masih absurd gitu? karena saya menyiapkan hati untuk berbagai macam kemungkinan yang ada #tsah, asal dalam koridor yang sejalur (pertanian, misalnya), peluang-peluang yang ada selalu bisa didayagunakan. Semangat!

Semoga semangat ini yang akan terus menyemangati untuk sekolah, jika tidak bisa tahun ini, ya tahun depan, atau tahun depannya lagi. Jika tidak bisa sebelum menikah ya sesudah menikah, bahkan jika memungkinkan dan tidak mengganggu peran sebagai istri dan ibu, ya saat setelah mempunyai anak. Yup! kesempatan sekolah lagi itu selalu ada, semoga InsyaAllah 😉

Eng ing eeng… Akhirnya dari kegalauan hati, dilanjutkan musyawarah dengan teman-teman kantor dan juga keluarga, saya memutuskan untuk sekolah lagi. Perjuangan pun dimulai!

Hakikat Pendidikan bukan hanya mendapatkan ijazah dan gelar, namun untuk melejitkan potensi diri agar lebih bermakna bagi sumbangsih peradaban… (LPDP Website).