Mengandung dan Melahirkan di Jepang #5 (ASI VS Sufor)

Maraknya berita mengenai ibu yang kehilangan anaknya karena menyusui esklusif mengingatkan saya kembali untuk melanjutkan kisah pasca persalinan yang kemarin belum selesai hehe.

Agak kontroversial memang judul artikel tersebut, “karena ASI ekslusif bayi meninggal”, tentu saja segera disambut keriuhan dari para ibu-ibu baik yang pro maupun kontra. Jadi semakin meruncingkan perselisihan di kalangan para ibu muda yang sedang berjuang di awal-awal pengasuhan anaknya. Padahal mungkin bisa kita sikapi dengan lebih moderat dan bijak. Yuk kita urai satu-satu benang kusutnya.

Kalau dibaca secara seksama judul tersebut memang terlalu berlebihan, karena kenyataannya, dalam artikelnya, bayi meninggal bukan karena ASI ekslusif tetapi bayi meninggal karena dehidrasi. Manajemen pemberian ASI dan penyusuan serta kondisi bayi itulah yang menjadi titik permasalahannya.

Jika disimpulkan secara individualis, mungkin kita bisa menggunakan prinsip ‘bodo amat‘ ‘yang penting anak saya sih gini gitu begini begitu‘ namun jika dilihat secara statistik, sosial, dan kemasyarakatan kita sebaiknya peduli terhadap permasalahan ini. Karena kita ingin anak-anak Indonesia tumbuh menjadi anak-anak yang sehat, kuat, cerdas.

Nah, saya ingin mengawali kisah ini dengan pengalaman saya, kalau dirasa kurang penting, bisa di-sekip kok bu ibu.. wkwk.

Setelah proses lahiran di ruangan melahirkan, saya dibantu perawat dibawa ke kamar inap menggunakan kursi roda. Bersama dengan bayi saya yang sudah mulai tertidur lelap dalam tempat tidurnya. Perawat memberi kami waktu untuk istirahat sambil berpesan, tiga jam lagi latihan untuk buang air kecil ya, setelah itu bayinya dibangunkan dan disusui ya. Saya pun tidur, tiga jam berselang, saya yang masih takut-takut terpaksa untuk berlatih buang air kecil, ya gitu deh rasanya. Setelah mencuci tangan dan bersih-bersih, saya mencoba membangunkan bayi saya dan menyusuinya dengan percaya diri, juga dalam kesempatan-kesempatan berikutnya. Saat nangis, saya coba susui, sempat terdiam dan tertidur. Namun ternyata lebih banyak masih menangisnya setelah disusui.

Satu, dua hari terlewati, saya sudah menyiapkan diri kalau-kalau beratnya turun. Namun, ternyata turunnya melebihi skala yang dianggap normal. Berat yang turun dibawah 10% ditambah dengan kulit yang mulai menguning. Saya lupa persisnya kadar kuningnya, namun ada saran untuk menambah susu tambahan yang mana itu adalah susu formula.

Dokter bilang kalau ASI saya masih sedikit, dan itu daijyoubu, tidak apa-apa, jangan dikhawatirkan, namun saya keburu sudah stres dan saya bersikeras tidak akan memberikan sufor karena sepengetahuan saya dari beberapa artikel, bayi bisa bertahan tiga hari tanpa makan. Saya mencoba mengingat-ingat teknik apa yang harus dilakukan untuk melancarkan ASI. Saat itu seakan apa yang telah saya pelajari meluap, karena ternyata menyusui itu memanglah tidak mudah. Saya pun menyadari, sedikit sekali yang saya ketahui tentang perlekatan yang baik, sehingga bayi dapat minum dengan baik, juga puting tidak lecet. Karena banyak yang bilang bahwa menyusui itu mudah, natural, nanti juga bisa sendiri, ASI pasti akan keluar, sehingga pada akhirnya saat hamil, hal utama yang selalu saya pelajari adalah bagaimana teknik melahirkan, mengatur pernapasan, biar jahitannya sedikit dan lainnya.

Di titik itu, saya menjadi tambah stres karena menghadapi kenyataan bahwa saya kesulitan untuk menyusui, ditambah lagi setiap orang yang datang pasti akan bertanya; gimana ASInya keluar kan? Saya hanya mengangguk sambil tersenyum, padahal setelah para tamu pulang, saya harus menahan sakit untuk menyusui dikarenakan puting lecet dan luka. Walau pun ada juga beberapa sahabat yang menenangkan, mamahami kondisi saat itu, memberi masukan yang tidak men-judge, dan memberi support.

IMG_3745
Hasil pompa selama 3 jam T_T

Selain itu,  kegalauan berlipat karena ada kabar jika semua susu formula baik yang susu sapi maupun kedelai tidak halal di Jepang, atau bisa dikatakan syubhat. Pengen nangis rasanya jika mengingat ini, ibu macam apa saya yang tega memberi makan anak dengan hal yang syubhat?

Namun setelah hari ketiga saya pun menyerah, karena melihat kondisi bayi yang semakin mengkhawatirkan. Setelah berbekal konsultasi kesana kesini, menanyakan ke produsen atau customer service bahwa susu kedelainya tidak ada campuran hewan (dalam hal ini kandungan taurin, yang dijawab cs nya bahwa tidak ada kandungan hewani), dengan pegangan bahwa cakupan pendapat kehalalan yang sangat lebar dan mengingat ini kondisi darurat. Saya pun mengizinkan dokter memberikan sufor dengan takaran 20 ml per 3 jam. Sambil terus menyusui walau dalam keadaan puting masih luka, perawat tetap mempersilakan saya untuk mencoba menyusui langsung dengan beberapa teknik. Selang seling dengan pemberian sufor di hari itu. Perawat pun bilang, kalau besok berat badan sudah naik, sudah gak perlu tambahan sufor lagi.

Begitu seterusnya dalam kurun waktu sekitar 5 hari rawat inap, pemberian sufor ditakar dengan kecukupan berat badan dan banyaknya buang air kecil dan besar. Dan Alhmdulillah, setelah 5 hari yang berasa training yang melebihi ospek di rindam jaya TNI kali yaak, saya pun diperbolehkan pulang dengan tidak perlu lagi memberikan sufor karena cukup dengan ASI saja. Namun, setelah dua minggu paska kepulangan dari rumah sakit, saat dicek kembali kondisi kesehatan, Ikyu tidak mengalami peningkatan berat badan, seharusnya beratnya kembali semula saat dilahirkan, tapi ternyata tidak. Kembali, ASI campur sufor disarankan oleh dokter, dan Alhmdulillah dibulan ke empat Ikyu sudah mulai full ASI lagi.

IMG_3758
Kamar rawat Inap
IMG_3754
Kangen Makanan RS 😀

Dari pengalaman ini saya melihat bahwa Jepang, bisa dibilang pro keduanya antara sufor dan asi, tergantung dengan kondisi ibu dan anak. Kenapa Jepang pro sufor pun karena melihat depresi yang ibu-ibu Jepang rasakan paska melahirkan, mungkin kalau dibiarkan, ga mau lagi kali punya anak. Mengingat populasi yang semakin menurun, maka kesejahteraan ibu pun diperhatikan.

Lain halnya dengan Indonesia, kita perlu memperhatiakn tingat ekonomi, tingkat higienis, tingkat literasi, tingkat edukasi, cakupan vaksinasi, tingkat KDRT, angka perokok, penerapan kode etis dan promosi sufor, pemberian makanan sesuai rekomendasi WHO, karena bisa dibilang ibu-ibu yang ASIx hanya mencakup 27% sehingga harus serius mengkampanyekan ASI agar ibu-ibu bersemangat menyusui anaknya. (Data diambil dari penjelasan dr. Anissa Karnadi) Saya salut sama beliau, yang memiliki pengalaman gagal menyusui namun tetap rajin mengakampanyekan ASI (cerita di dalam blog beliau, Saya Gagal Menyusui dan Saya Merayakan World Breastfeeding Week).

Jujur, saya sempat malu bahwa bisa dibilang saya pun gagal menyusui ekslusif. Namun, ada perkataan suami yang bikin saya meleleh dan mengakui kekurangan diri. “Ikyu itu jatah rezekinya sudah dijamin Allah, bisa lewat ASImu atau lewat susu fomula itu udah ditentukan, yang penting sekarang terima apa adanya, sambil terus berusaha meningkatkan ASI nya ya, rajin pumping juga, semangat ibookk!” T___T maacih ayaah.

Jadi teringat, sebelum menikah saya sempat rajin membaca-baca artikel mengenai kehidupan paska pernikahan, mengandung, melahirkan, menyusui adalah hal yang membuat wanita ‘syempurna’ #eaaa.. pun dalam kajian-kajian, dijelaskan bahwa peran istri di rumah hanyalah mengandung, melahirkan, dan menyusui. Selebihnya adalah tugas laki-laki sebagai pencari nafkah, pendidik, dan pemenuh kebutuhan keluarga. Weiiss, atulah enak yah jadi istri yak mihihi…

Namun kini, setelah melewati fase-fase yang Allah kasih untuk perbaikan diri, saya seakan mendapat pandangan baru, dan saya bersyukur atas itu, karena Alhmdulillah diberi pemahaman yang semoga lebih baik dari sebelumnya.

Saya jadi belajar bahwa menjadi ibu tentulah tidak mudah, harus terus belajar. Saya saat saya belum menikah dan punya anak, saya mungkin bisa bilang, ih kok dikasih sufor sih, kan gak bagus buat bayi, namun ketika merasakan sendiri bagaimana ada kasus tertentu yang mau tidak mau kita harus memilih itu, maka saya lebih-lebih harus banyak istigfar, mengurangi menghakimi orang lain, karena setiap orang pasti punya cerita perjuangan sendiri. Mungkin saya juga bisa bilang kalau, ih pake sufor pun tetep bisa pinter dan cerdas koooq… tapi lagi-lagi hati dan lisan harus dijaga, agar sesama ibu-ibu tidak saling melemahkan. Namun, saling menyemangati dengan cara yang baik, untuk anak Indonesia yang cerdas dan sehat. Merdeka!! semangat mengASIhi anak-anak kitaaa…

Mengandung dan Melahirkan di Jepang #4 (Melahirkan)

Tibalah saat yang dinanti dengan berbagai perasaan didalamnya, ada senang, gak sabar, khawatir, sedih juga, takut apalagi. Saat pemeriksaan hari Selasa di pekan ke 38, ada hal yang mengejuktkan, karena ternyata saya sudah bukaan 2. Ini mngejutkan bagi saya yang belum lengkap siap-siapin barang-barang yang dibutuhin untuk nginep di rumah sakit (gurbakk!). Dan akhirnya sepulangnya dari RS saya dan suamipun sempet-sempetnya jalan-jalan belanja.

Berdasarkan pengalaman ibu yang sudah menangani beberapa kehamilan, karena ibu adalah bidan hehe. Beliau pun bilang, wah besok juga bakal keluar tuh! Saya dan pak suami sontak terkejut dan saya yang masih bisa cengengesan pun belum merasakan yang namanya kontraksi alias mules-mules.

Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu pun terlewati. Saat itu adalah saat harap-harap yang paling cemas, kalau kata mamah, yaudah nginep di RS aja.. Oww tapi tunggu dulu, untuk dapat dinyatakan bisa menginap di RS haruslah memenuhi 3 syarat; Kontraksi yang berulang setiap 10 menit, Pecah ketuban, atau Perdarahan. Kira-kira itulah syarat ditetapkan oleh pihak RS disini. Dan karena saya belum mengalami itu semua, saya pun tinggal di rumah dan masih menyempatkan foto-foto sebelum daunnya makin rontok -__-

Sabtu malam, rasa mules yang katanya hampir mirip dengan mules menstruasi pun datang. Sebelumnya saya bingung, kalau sudah bukaan itu masih bisa sholat gak ya? Dan memang ada beberapa pendapat, salah satunya saya mengikuti yang ini (https://rumaysho.com/6388-hukum-darah-sebelum-melahirkan.html) yang menyatakan bahwa masih bisa sholat.

Dengan bantuan aplikasi, interval mules pun saya hitung, sampai pada akhirnya Ahad malam sekitar jam 11, kami memutuskan untuk ke RS karena kontraksi yang makin berulang dan adanya flek darah. Yang mana mules yang dirasa memang sama dengan saat saya menstruasi yang nyerinya bisa sampai nungging guling-guling. Saya yang sebenernya masih takut-takut ini akhirnya merelakan, terserah nanti disana mau diapain aja, sambil berdoa semoga apapun cara lahirnya, semoga itu yang terbaik yang dikasih sama Allah.

Sesampainya di Emergency, yang sebelumnya bahkan sempet salah sambung pulak teleponnya, duh. Kami pun disambut oleh suster yang saat ditelepon sudah saya beri tau keadaan terakhir sebelum menuju RS. Saya pun dibawa ke ruangan untuk pengecekan kontraksi. Diruangan pemeriksaan, ketuban saya pecah, dan bukaan sudah mencapai 7 cm.

Di RS yang saya tempati, ada dua ruangan terpisah yakni ruang kontraksi (labor room) dan ruang kelahiran (delivery room), setelah pemeriksaan saya pun saya berganti baju dan dibawa ke ruang labor, dengan berjalan kaki, oke hmm. Di ruang labor yang kata senior saya adalah ruang pesakitan, karena memang ruangan yang dikhususkan untuk kontraksi. Dan, disanapun saya merasakan kontraksi yang bener-bener kontraksi yang digambarkan oleh salah seorang sahabat sebagai rasa mules dengan hasrat ingin buang air besar yang air nya suangat besarrr! Sampai-sampai saya khawatir kalau anus saya akan pecah karena kuatnya tekanan kearah sana. Dibantu oleh seorang bidan, saya pun diajarkan cara bernapas dalam untuk mengurangi rasa sakit, ditambah juga fasilitas bola kasti yang fungsinya menekan bagian anus agar tidak terlalu sakit, dan itu adalah tugas suami saya yang hampir semalaman melakukan tugas mulia itu.

Waktu menunjukan pukul 4 subuh, saya yang sudah tidak sabar pun semakin gelisah dengan rasa sakit yang tidak berkesudahan. Saya pun bertanya kira-kira berapa lama lagi harus begini. Ibu bidan menjelaskan bahwa bukaan belum sampai 10 cm dan untuk melahirkan interval kontraksinya harus setiap 2 menit. Hiks. Perlakuan induksi pun ditambahkan karena kontraksi saya yang masih 6 menit. Pukul 8 pagi dan kabar baik itu datang, saya boleh pindah ke ruang delivery karena bukaan sudah lengkap dan kontraksi sudah semakin sering. Saya pindah ruangan dengan berjalan kaki, yak, disuruh jalan kaki!

Sesampainya diruangan pun, oleh seorang bidan saya masih harus mencoba berbagai macam posisi untuk bisa mengejan, masih ditemani suami. Saat rambut bayi sudah terlihat saya pun dinyatakan sudah siap untuk melahirkan, pak suami diminta keluar ruangan. Yakk, keluarr deh dia. Dan tim paramedis yang terdiri dari dua dokter, dua bidan, dan beberapa suster pun datang. Saya sudah pasrah dengan adanya satu dokter lelaki yang ada disana, dalam situasi darurat sehingga kondisi yang menurut saya tidak ideal itu harus dihadapi, Alhmdulillah dokternya baik dan mirip sama yang ada di dorama yang pernah saya ceritakan, *haduh ris!

Beberapa kali harus mengejan, yang saya ingat adalah jangan merem (karena bisa menyebabkan pembuluh darah di mata pecah), jangan angkat pantat (karena bisa menyebabkan robekan sampai anus) dan jangan teriak (karena akan mengabiskan tenaga). Di suatu hentakan dengan aba-aba yang dikomando oleh pak dokter; Seeei no, ich ni san! saya merasakan perut tetiba menjadi ringan dan ada teriakan seorang bayi diujung sana. Alhmdulillah rabbi habli minnasshalihinn.. Tatapan mata saya pun tak lepas dari sosok itu, selain untuk melupakan rasa sakitnya dijahit, saya pun tertakjub dengan manusia yang akhirnya lahir itu :’)

Entah berapa jahitan, karena saya sudah males tanya, plus gak tau bahasa jepangnya hhe. yang pasti itu terasa nyut-nyutan. Alhmdulillah proses melahirkan selesai sudah, dokter pun mempersilakan saya beristirahat sekitar satu jam di ruang persalinan, setelahnya diperbolehkan ke ruang inap dengan jalan. Oh tidak, jalan lagi? Alhmdulillah karena saat mencoba berdiri pengelihatan saya menjadi berkunang-kunang, sayapun dibawa ke ruang inap dengan kursi roda 😀

Mengandung dan Melahirkan di Jepang #3 (Saat Kehamilan)

The worst thing for pregnant mother is being swayed by other people’s opinion and information and then losing confidence (Konotori Sensei dalam Drama Koundori)

Kehamilan mungkin menjadi salah satu penyebab kebahagiaan di dunia ini, atau mungkin menjadikan seorang wanita merasa sempurna. Namun, juga jangan dilupakan bahwa memilih hamil berarti memilih untuk terbebani amanah, memilih untuk tidak bisa lagi tidur nyenyak, tidak ada lagi me time, harus pinter-pinter jaga makanan, badan remuk redam dll dsb dst 😀

Juga bukan berarti wanita yang belum dikaruniai kehamilan bukan wanita sempurna atau belum dipercaya untuk diberikan amanah. Meyakini bahwa anak adalah rezeki rahasia yang menjadi hak Allah dalam penentuannya, mungkin sama dengan jodoh dan kematian. Hanya Allah yang tau bukan? Tugas kita adalah berusaha untuk mencari jodoh terbaik, berusaha untuk mendapatkan dan mendidik anak menjadi manusia yg sholeh, serta menjadikan kehidupan sebagai ladang amal untuk bekal kematian.. (Susah ya.. Iyaa..)

Kira-kira kata penghibur saya ketika dalam masa menanti (jodoh) ataupun keturunan ya mungkin emang belum dikasih sama Allah (titik) sambil terus mengupayakan yg terbaik yg bisa saya upayakan. Hihi, apalagi ditengah hantaman informasi kehidupan orang lain yang dibombardir di sosial media, harus bisa mengurut-urut hati biar gak dengki sama kehidupan orang lain, mensyukuri apa yang sudah diberi dan sebisa mungkin mengambil inspirasi yang baik-baik.. Ya Allah ampuni hambaaa..

Yuk dilanjutt..
Hamil, Alhmdulillah akhirnya Allah berikan juga, tapi tunggu dulu, hamil di Jepang? Pas lagi sekolah? Mungkin kedengerannya ribet sendiri ya. Udah mana membaca saja saya sulit, plus membayangi harus sering-sering berinteraksi dengan tenaga medis dengan bahasa jepang T_T sedih ya kitah.

Anyway, Alhmdulillah dalam kurun 9 bulan kehamilan di jepang, banyak sekali bantuan dan dukungan yang saya dapatkan, dari mulai komunitas Indonesia di jepang (dukungan moril, materil, dan yang paling penting makanan hehe) teman-teman, guru-guru, dan kolega di kampus, juga dari orang-orang jepang yg kadang saya temui tidak sengaja melihat perut saya yang besar, “Ee.. Omoi desuka? Ganbatte ne! 🙂” walau dalam tiga bulan pertama saya harus berjuang dengan mual-mual yang dahsyat sampai kehilangan 5 kg berat badan, juga merelakan ngidam-ngidam (termasuk nasi goreng dan sate ayam yang lewat depan rumah di cilegon) yang gak kesampean. Ditambah lagi kerjaan lab dan submit paper yang gak selesai-selesai. Dukungan mamah yang selalu bilang, “semangat! Jangan manja, jangan menye-menye” yang menjadikan saya harus selalu setrong T_T walau sama suami tetep sih kadang nangis-nangis random gak ngerti kenapa atau juga karena kedodolan yang makin menjadi saat hamil bikin suami kadang kesel juga, maaf ya pak suami.

image.jpg
Yang sabar ya pak sama istrinya 😄

Untuk kerjaan di lab, saya pun berusaha
untuk melakukan sebaik mungkin yang saya bisa, walau hamil bukan berarti saya minta diringankan, dan memang sensei saya pun tetap meminta saya mengerjakan kerjaan yang seperti biasa, riset, asisten, study trip, sampe saya pikir “sensei, gak ngeh apa saya lagi hamil?” Lahhh.. Wkw. Tapi kerja keras selalu membuahkan hasil, Alhmdulillah, Setidaknya saya bisa mengambil cuti dengan tenang 😀

image.jpg
Si Utun yang ikut presentasi 🙂

Intinya, klo ga ada tantangan gak bakal maju-maju ya gaakk? Nah, biasanya biar memotivasi kadang saya ambil beberapa inspirasi dari dorama (halah, bilang aja emg demennya nonton dorama, ups). Salah satu drama rekomendasi saya yg berkaitan dengan kehamilan, obgyn, bayi, dll adalah Dr. Storks atau Koundori yg tayang di TV jepang Oktober 2015 lalu, link nonton streamingnya bisa dilihat disini loh hehe: http://www1.dramanice.at/kounodori/watch-kounodori-episode-1-online

Selain buat nambah vocab bahasa jepang buat periksa rutin dan persiapan kelahiran, drama ini juga lumayan mempersiapkan mental hiks, tiap episode hampir selalu berurai air mata dan banyak hal yang bisa dipelajari. Jadi, hami di jepang, walau banyak tantangan insyaAllah selalu ada kemudahan! Semangat!

Mengandung dan Melahirkan di Jepang #2 (Pemeriksaan)

Saat melalukan pemeriksaan kehamilan di Klinik, kita akan melakukan pemeriksaan janin dan detak jantung janin pada pekan ke enam dan tujuh kehamilan. Setelah memastikan bahwa janin sehat dan berkembang, ditandai dengan adanya detak jantung dan penambahan ukuran janin pada pekan ketujuh, maka dokter akan memberikan surat rekomendasi untuk pengajuan asuransi kehamilan di balai kota.

Asuransi tersebut biasa disebut ‘Marufuku’. Syarat untuk mengurus Marufuku adalah, Residence Card, Kartu Asuransi, Rekomendasi Dokter dan tanda tangan suami. Setelah semua oke, kita akan mendapat satu bendel dokumen yang berisikan, Boshi Techo (Buku Petunjuk Kesehatan Ibu dan Anak), Gantungan kunci ibu hamil (untuk pertanda priority seat hehe), dokumen penjelasan hamil dan bersalin di jepang, serta kupon-kupon asurasi yang dipakai setiap pemeriksaan.

Setelah itu, kita akan dirujuk untuk melakukan pemeriksaan rutin di Rumah Sakit besar, untuk Tsukuba, yang dipilih adalah Tsukuba Daigaku Byoin atau Rumah Sakit Universitas Tsukuba.

Pemeriksaan rutin di Rumah Sakit dilakukan kira-kira 11 kali pemeriksaan, sebulan sekali sampai pekan ke 20, kemudian dilanjutkan pemeriksaan dua pekan sekali, dan saat memasukin pekan ke 36, pemeriksaan menjadi satu pekan sekali. Setiap periksaan, selalu dicek keadaan janin menggunakan USG. Beberapa jadwal berisi pemeriksaan darah (TORCH test, hormon kelenjar tiroid, gula darah, dll), pemeriksaan urine (kandungan protein, pH, dll), pemeriksaan tensi, berat badan, serta keberadaan bakteri streptokokus grup B.

Nah, menariknya menggunakan asuransi adalah, pembayaran tiap kali pemeriksaan akan mendapatkan potongan, misalkan saat pemeriksaan adanya bakteri streptokokus grup B dikenai sampai 10.000 yen, namun dengan adanya asuransi hanya kena 600 yen Alhmdulillaah 😀

Selain itu perlu diketahui bahwa dokter di jepang sangat jarang memberikan resep obat seperti vitamin, obat penguat dll apalagi susu ibu hamil. Yang saya pernah dapag hanya obat konstipasi dan zat besi, itu pun karena hasil pemeriksaan yang menunjukan kadar Hb yang rendah. Untuk vitamin seperti asam folat, vit.B, kalsium, DHA dan EPA biasanya dibeli sendiri di apotik terdekat tanpa resep dokter. Mungkin mereka sudah pede dengan nutrisi makanan di jepang, heuheu.

image

Dengan ini, catatan-catatan lengkap pemeriksaan perpekan yang diberikan oleh pihak RS akan saya simpan, sebagai referensi jika-jika suatu saat akan melahirkan di Indonesia. Di postingan selanjutnya, saya akan bercerita tentang bertahan hidup di Jepang saat hamil, detik2 menjelang melahirkan, dan satu bulan awal setelah melahirkan yang sesuatu bingits lah.. 😄

Mengandung dan Melahirkan di Jepang #1 (Awal Kehamilan)

Setelah menikah pada Maret tahun 2015, kami memang menjadi salah satu pejuang LDR karena saya harus kembali melanjutkan studi di Jepang dan suami harus menyelesaikan kontrak kerja dan mempersiapkan hal-hal yang perlu dipersiapkan sebelum ia terbang menemani saya di jepang. Keluarga kami pun tidak terlalu terburu menuntut harus cepat punya anak, pun Alhmdulillah dengan kami yang juga memiliki motto “let it flow” plus sedang menikmati waktu-waktu pacaran setelah nikah mehehe..

Selang setahun setelah menikah, akhirnya kami memulai hidup bersama tepatnya di bulan Februari 2016. Suami sudah menetap di Jepang dan sudah memulai rutinitasnya. Saat bersama itu kamipun mulai terpikir untuk melakukan program hamil, beberapa rencana saya lakukan seperti ikut kelas Online Promil, cek kesehatan reproduksi dll. di bulan Maret 2016, Alhmdulillah saya dinyatakan positif hamil.

Diawali dengan “feeling” hmm koq belum dapet-dapet yah. Biar gak kege-eran hehe, setelah yakin telat sekitar 2 pekan, maka saya memberanikan diri untuk cek dengan testpack. Reaksi pertama saya saat mengetahui dua garis positif adalah… Nangis! Wkw. Antara terharu, khawatir, seneng, dan juga langsung mikir bahwa akan bertambah amanah dan tanggung jawab. Sedangkan suami, senyam-senyum cengar cengir sambil bilang, selamat yaa! 😄

Si Utun dan Sakura

Setelah itu, saya pun memberi kabar keluarga di rumah. Alhmdulillah, insyaAllah cucu pertama dari dua keluarga pun akan hadir. Selang beberapa hari, saya mencari klinik untuk melakukan pemeriksaan. Di Tsukuba, ada beberapa klinik yang biasanya memberi rujukan sebelum kita berobat ke Rumah Sakit, diantaranya,

1. Shoji Clinic (Obsetrics&Gynecolog)

2. Nanairo  (Obsetrics&Gynecolog)

3. Maejima (Gynecolog)

Saya pun memilih Shoji. Yang perlu dilakukan saat pertama periksa adalah membuat janji, datang saat jadwal pemeriksaan, membayar dan membuat kartu pendaftaran. Untuk semua klinik, biaya pembayarannya hampir sama, berkisar antara 5000-6000 yen.
Aksesnya dari kampus memang agak jauh, tetapi alhmdulillah klinik tersebut memiliki dokter wanita yang juga bisa berbahasa inggris selain bahasa jepang. Buat saya yang masih ‘membaca saja sulit’ 😀 itu sangat membantu sekali.

Di postingan berikutnya insyaAllah saya akan berbagi pengalaman hal yg sangat penting hihi, yakni saat mengurus asuransi untuk kehamilan di Jepang… ^_^