#beasiswa

Step by Step Kuliah di Jepang #4 (Memilih Kampus)

Posted on

Setelah niat yang cukup, mengapa harus melanjutkan sekolah, setelahnya adalah mencari negara tujuan, Indonesia atau di Luar Negeri? Benua Asia, Australia, Amerika, Eropa, atau Afrika? Untuk penentuan ini, saya butuh hampir setahun untuk banyak berkonsultasi ke senior-senior yang saya rasa cukup banyak pengalaman di pasca sarjana di dalam dan di luar negeri. Selain senior, saya juga sempatkan untuk banyak bermusyawarah dengan keluarga, khusunya ibu dan bapak.

Akhirnya, di akhir tahun 2012, saya memutuskan benua Asia, sebagai pilihan dengan dua negara Jepang atau Korea. Kenapa Jepang atau Korea? Jepang, bisa dibilang negeri impian, Pertanian dan Sainsnya maju, Dan juga Alhmdulillah sudah pernah merasakan tinggal walau hanya beberapa hari disana Jadi lebih terbayang bagaimana jika tinggal disana dalam waktu yang lama.

Korea, bukan karena korean wave yang lagi happening :p Korea negara yang hampir sama perkembangannya dengan Jepang, dan salah satu negara yang mempunyai banyak Inovasi dengan tetap memberdayakan tenaga kerja dalam negerinya. Seperti Jepang, Ia negara yang sangat menjaga tradisi dan cinta terhadap produk dalam negeri. Ditambah, di tempat tinggal saya kini banyak sekali tenaga kerja dari Korea. Dan jadilah Jepang dan Korea yang menjadi kandidat negara selanjutnya dengan beberapa kandidat Universitas seperti: Kyoto University, Tokyo University of Agriculture and Technology (TUAT), Kyushu University, Tsukuba University, Yonsei University, Korea Advance Institute of Science and Technology (KAIST). dan Pohang University of Science and Technology (POSTECH).

Sekitar dua bulan, saya pun menentukan mana yang akan dipilih dari kedua negara ini. Dengan beberapa pertimbangan, akhirnya diputuskanlah satu negara tujuan yakni jepang. Alhmdulillah ternyata pilihan saya adalah pilihan yang tepat, karena seiring perjalanan saya mulai menemukan kedua perbedaan dari jepang dan korea.

Jepang dan Korea bisa dikatakan selalu bersaing dalam segala hal, keduanya ingin mengungguli satu sama lain, namun bisa dibilang jika perekonomian jepang lebih maju dari Korea, kareanya ritme kerja di korea menjadi lebih keras dari jepang karena mereka merasa harus mengungguli jepang. Istilahnya, no break until drop, karenanya, di korea, jenjang antara senior-junior sangatlah jelas diantara mereka.

Untuk memilih kampus yang baik di jepang ada hal-hal yang perlu diperhatikan, diantaranya:

  1. Jurusan yang ingin digeluti

Hal inilah yang pertama kali harus ditentukan, karena hal ini yang akan membuat semangat kita naik turun, dan yang akan menentukan hal-hal yang akan dilakukan kedepannya. Ketertarikan terhadap riset adalah hal yang penting karena, budaya riset di jepang yang sangat kental, baik untuk ilmu eksak dan ilmu sosial. Jadi, jangan sampai salah jurusan ya! 🙂

  1. Sensei yang diminati

Hal selanjutnya yang menentukan hidup mati kita (oke ini lebay, tapi sangat menjadi pertimbangan hehe), adalah sensei. Banyak macemnya sensei, ada yang prefeksionis, yang aktif ikut seminar, yang gak mengizinkan mahasiswanya memiliki kehidupan selain di kampus hehe, yang gak terlalu suka jika mahasiswanya menikah dan punya anak, sampai ada yang baik banget sampai mau meminjamkan uangnya untuk keperluan mahasiswanya. Tapi overall, sensei disini semuanya bertanggung jawab dan dapat dipercaya akreditasinya.. jadi pilihlah jenis sensei yang tepat untukmu *bukan karena sensei ini mudah atau sulit, Karena setiap orang berbeda mengahapinya. Caranya bisa dilihat dari rekam jejak penelitiannya (menggambarkan bahwa dia orang yang aktif), dari cara korespondensi email (coba tanyakan mengenai perihal keluarga dll, jika kita berniat membawa keluarga), dan lain –lain.

  1. Bahasa Pengantar (English/Japanese)

Hal ini cukup penting untuk dirimu dalam mempersiapkan kemampuan berbahasa di jepang. Kalau memang ingin masuk ke program yang Bahasa jepang baiknya adalah ikut research student dulu, keuntungannya adalah kamu akan lebih gaul dikalangan teman-teman jepang, dan mendapat banyak info yang bisa kamu mengerti (jika info itu dalam Bahasa jepang), tapi jika program yang kamu ikuti berbahasa inggris itu lebih menguntungan sehingga kamu bisa fokus ke peningkatan risetmu, namun kelemahannya ya jd banyak gak ngerti hal-hal sekitar..

  1. Kampus yang memiliki peringkat yang baik

Di Jepang, peringkat satu dan dua adalah Tokyo dan Kyoto, peringkat lainnya berubah-ubah tiap tahunnya. Namun sepuluh besar jepang, biasanya menyediakan program Bahasa inggris. Jadi sebenernya dimanapun kamu belajar insyaAllah setiap kampus memiliki keistimewaannya sendiri.

  1. Lokasi, budaya, dan masyarakat sekitar

Lokasi perkuliahan yang kana mempengaruhi anggaran studimu dan bagaimana cara mengatur keuangan hehe. Jika tinggal di daerah kota seperti Tokyo, Kyoto, dan Nagoya, kemungkinan kamu akan menghabiskan anggaran lebih besar dari kota lainnya. Jadi siap-siap untuk hal ini. Namun, di kota besar akan banyak hal yang akan didapatkan lebih dari kota lainnya.

Step by Step Kuliah di Jepang #3 (Personal Statement)

Posted on

Saat melakukan pendaftaran untuk program pasca sarjana khususnya di universitas jepang. Beberapa hal menjadi salah satu syarat diterimanya seseorang menjadi mahasiswa universitas tersebut. Salah satunya adalah syarat untuk menulis ‘personal statement’. Personal statement (PS) atau jika diterjemahkan dengan Bahasa yang mudah dimengerti menjadi ‘Jelaskan mengenai diri anda dalam sebuah tulisan’ hehe. PS biasanya dituliskan di salah satu kolom didalam berkas aplikasi yang akan dikumpulkan. Terkadang PS diminta sebagai ‘Carrier Plan’, ‘Future Plan’, dll. Jadi jangan bingung jika ada pertanyaan demikian.

Untuk menulis PS, banyak hal yang perlu dipersiapkan. Berdasar dari pengalaman pribadi, pengalaman teman-teman, dan informasi dari berbagai tulisan, saya rangkum step by step penulisan PS dalam poin-poin serta penjelasannya dibawah ini. Check this out! 😉

  1. Mengenali diri sendiri

Hal pertama kali yang paling utama adalah: yup! Mengenali diri sendiri, karena jika kita belum mengenal diri sendiri, maka kita akan sulit dalam menemukan apa yang akan kita tuliskan. Jadi, untuk tahap ini perlu perenungan mendalam tetang pengalaman apa yang telah dilakukan, kegiatan yang sedang dikerjakan, dan juga hal-hal apa yang ingin dicapai di masa depan.

  1. Menyampaikan informasi yang benar

Jangan pernah gunakan atau melakukan co-paste PS yang sudah dibuat oranglain, karena plagiarisme adalah hal yang paling harus dihindari di dunia akademis. Hindari juga menyampaikan informasi yang tidak benar mengenai prestasi, pengalaman organisasi, dan lainnya. Dan usahakan agar membuat tulisan yang seimbang untuk menjelaskan prestasi dan potensi, tidak terlalu rendah diri atau pun arogan.

  1. Menjelaskan mengenai kegiatan dan pengalaman.

Kegiatan dan pengalaman bisa berupa, pekerjaan, hobi, ketrampilan, organisasi, dan prestasi, Penjelasan ini sebisa mungkin sesuai dengan jurusan atau program disediakan oleh universitas, Misalkan jelaskan pengalaman kita saat mengikuti organisasi yang berkaitan dengan tema jurusan yang akan dimasuki, seperti Himpunan Jurusan, UKM, dan NGO lainnya. Sama halnya dengan prestasi, jelaskan prestasi-prestasi terbaik yang pernah dicapai. Selain itu pengalaman kerja sebagai asisten praktikum, asisten dosen, karyawan, atau wirausaha juga bias menjadi infomasi yang menarik jika memang sesuai dengan jurusan yang akan didaftarkan.

  1. Ketertarikan terhadap program/jurusan.

Berikan alasan terbaik mengapa kita ingin sekolah di jurusan, universitas, kota, juga negara tujuan kita. Jelaskan juga ketertarikan kita terhadap riset yang telah dilakukan oleh calon pembimbing dan promosikan bahwa kita adalah orang yang sesuai yang calon pembimbing cari.

  1. Rencana masa depan

Tunjukkan pada para penyeleksi bahwa kita memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar. Jelaskan jika rencana masa depan akan tercapai jika kita bias menggunakan pengetahuan yang didapat dari sekolah di program tersebut. Rencana masa depan bisa diperkaya juga dengan kontribusi kita untuk negara, dunia dan untuk perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri.

Setelah mengetahui kerangka untuk pembuatan PS, selanjutnya adalah merancang tulisan yang tidak terlalu banyak atau sedikit, kira-kira 500/700 words banyaknya.. Sehabis menulis, biasanya kita perlu waktu untuk melihat kembali apakah ada yang harus ditambah atau kurangi dari tulisan tersebut sehingga bisa menjadi PS yang menarik untuk calon pembimbingmu, gudlak! :))

Blessing

Posted on Updated on

Alhmdulillah, Hampir dua tahun sudah! berjibaku hidup di negeri seberang. Banyak hal yang terjadi dalam kurun setahun ini (setelah lama gak apdet blog wkw), beberapanya adalah menyempurnakan data tesis dan menyempurnakan hidupku dengan kehadiranmu (#ea #apasihris XD). Yup insyaAllah dalam waktu dekat saya akan melaksanakan sidang akhir untuk perkuliahan master dan Alhmdulillah dalam waktu dekat (bulan maret kemarin) status saya telah berubah menjadi lebih berat dari sebelumnya. Menjadi seorang istri (ganbarimashou!)

Banyak hal yang saya dapatkan, baik susah maupun senang, suka dan duka, gundah gembira dan banyak lagi hehe. Yup, apapun keadaannya, semuanya adalah nikmat dari Allah, yang terbaik dari Allah. Nikmat mengenyam pendidikan, melanjutkan kuliah apalagi di Luar Negeri dengan bekal beasiswa dari negara sendiri (Nikmat Mana Lagi Yang Kau Dustakan (Ris) T_T maka tidak sepatutnya mengeluh dengan kesempitan-kesempitan yang pernah ada mewarnai perjalanan ini (#tsah) –walau-kadang-tetep-sih-syedih-.

Suatu ketika saat berbarengan dengan Tsukuba sister (mahasiswi2 tsukuba univ) bertandang ke acara di SRIT (Sekolah Republik Indonesia-Tokyo) dalam suatu seminar kemahasiswaan, ada salah satu materi yang cukup menohok yang dibawakan oleh salah satu mahasiswa yang juga memiiki kedalaman ilmu agama yang cukup luas. Ialah ust. Abdurrahman, beliau menyampaikan tentang hal yang tidak asing bagi kami, yakni mengenai nikmat dalam mengelola kehidupan di jepang sebagai seorang mahasiswa.

Nah, materi yang dibawakan kurang lebihnya seperti yang telah saya rangkumkan dibawah ini, semoga berkenan! 🙂

Salah satu nikmat adalah nikmat menuntut ilmu di luar negeri. Berdasarkan data BPS, rasio penduduk Indonesia yang mengenyam pendidikan di Luar Negeri adalah 13 dari 10.000 orang.

Bagaimana mengelola nikmat yang telah diberikan Allah? Ketika mendapat beasiswa dan mengenyam pendidikan di tempat yang memiliki fasilitas lengkap dan kemudahan lainnya. Jangan sampai dengan nikmat yang diberikan Allah kita malah lalai untuk beribadah kepada Allah.

Nikmat yang diberi dapat menjadi ujian jika kita keliru mengelolanya. Saat menggap nikmat yang datang adalah balasan dari kebaikan dan keshalehan yg sudah kita lakukan, maka hal itu bisa menjadi potensi kelalaian. Sifat ingkar, bangga yang berlebihan, pamer merupakan salah satu sikap yang menyalahgunakan nikmat.

Salah satu kisah mengenai sikap yang penyalahgunaan nikmat adalah kisah tentang Qarun yang Allah abadikan di surat Al-Qasas sebagai pelajaran untuk manusia.

Qarun termasuk kaum Musa. Namun dia bertindak melampaui batas terhadap nikmat yg diberi kepadanya. Ia sudah diingatkan bahwa “Janganlah kamu terlalu bangga, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri”.

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu lupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melakukan kerusakan. (76-77)

Namun Qarun, lalai terhadap hartanya, Ia berbangga akan nikmat yang diberi Allah karena ilmu dan kesalehan yang ia punya. Dan Allah membantahnya bahwa sudah banyak umat-umat sebelumnya yang diberi nikmat lebih banyak namun dibinasakan karena tidak bersyukur. (78)

Namun, celakalah Qarun, karena pahala Allah lebih baik dari orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan dan pahal itu diperoleh oleh orang-orang yang sabar. Dan Allah benamkan Qarun bersama rumahnya kedalam bumi. (80-81)

Lalu bagaimana menyikapi nikmat yang diberi Allah? Yakni memahami bahwa kenikmatan adalah ujian dari Allah sehingga berhati-hati menyikapinya, dengan syukur dan sabar.

Dalam surat An-naml 19, Seperti doa Nabi Sulaiman, Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yg telah engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang engkau ridhai dan masukanlah aku kedalam golongan orang-orang sholeh.

Selain itu, cara-cara mensyukuri nikmat lainnya adalah, beramal sholeh dengan maksimal, menjaga shalat pada waktunya, menutup aurat dan meninggalkan yang syubhat serta taklupa juga membalas kebaikan dengan kebaikan, membantu kesulitan oranglain, dan menjaga hubungan baik. Karena, dengan senantiasa menjaga ketaatan terhadap Allah, nikmat yang telah ada akan terus Allah tambah keberkahannya. InsyaAllah 😉

May Allah bless us. Cheers! 😉

Curhat Pascasarjana #LPDP #Story #7 (Habis)

Posted on Updated on

Kita, mungkin tidak pernah tahu apa yang terbaik untuk kita. Kita hanya bisa menerka, menduga, dan mencari celah dimana kita dapat menemukan berkah dan ridha-Nya. Dengan selalu menemukan cara untuk bersyukur.

Bahkan untuk keinginan yang telah kita capai, tidak berarti itu yang terbaik untuk kita, juga untuk keinginan yang kandas dan tergantikan oleh kenyataan, tidak berarti itu yang terburuk untuk kita. Tetapi sekali lagi, kita dapat mencari celah dimana kita dapat menemukan berkah dan ridha-Nya. Dengan cara menemukan alasan untuk bersabar.

Wahai Allah, karuniakan apa yang terbaik menurut-Mu, yang dengan itu hati selalu merasa tentram, walau dengan keadaan yang berpayah dalam kesulitan, namun selalu ada jalan untuk berbaik sangka memahami skenario-Mu.

Alhmdulillah, semenjak ada LOA, perjuangan harus lebih semangat! Saya segera mengecek status pendaftaran beasiswa LPDP di website. Belum ada pengumuman yang lolos seleksi berkas. Saya tunggu beberapa pekan lagi, keluarlah pengumuman seleksi gelombang 4, yang periode submitnya mencakup tanggal dimana saya submit berkas. Hasilnya, cukup membuat sesak, karena tidak ada nama saya.

Saya mulai bertanya, apakah karena tidak ada LOA? atau Essay yang tidak bisa dipahami atau nilai TOEFL yang terlalu kecil? atau atau yang lain, yang membuat saya pusing untuk berasumsi sendiri.

Kalau memang tidak ada LOA, maka saya coba untuk mengabarkan bahwa, hey saya sudah dapet LOA-nya, hiks.

Saya bertanya-tanya pada banyak orang, apa yang harus saya lakukan. Tibalah dimana saya mencoba untuk mendatangi kantor LPDP untuk menjelaskan kondisi saat ini. Tetapi setelah saya kesana, memang prosedurnya adalah harus menunggu pengumuman seleksi beasiswa selanjutnya. Intinya, harus sabar, Riska…

Saat itu, mungkin saya dalam tahap yang, Saya harus dapet beasiswa! Saya mulai mencari jalan lain, beasiswa lain. Dikti dan kemendikbud, menjadi sasaran selanjutnya yakni beasiswa BPLN dan BPKLN, saya sempat melengkapi berkas untuk kedua beasiswa itu.

Dalam sebulan itu saya hampir tiap pekan mendatangi kantor-kantor pemerintahan seperti dikti dan kemendikbud untuk memastikan pembukaan program beasiswa itu. Saya juga hampir mencari rekomendasi dari Universitas untuk merekomendasikan saya sebagai dosen disana, tetapi akhirnya setelah dipertimbangkan lagi, saya urungkan untuk yang dikti. Then, saya coba beasiswa kemendikbud, saya pastikan bahwa memang benar ada beasiswa ini, dengan menelefon dan mendatangi langsung kantornya, namun sekali lagi, saya urungkan untuk mendaftar beasiswa ini.

Juli, seperti bulan yang penuh dengan campur aduk perasaan, di satu sisi saya bersyukur bisa diterima oleh salah satu universitas, di sisi lain, saya harus siap memilih untuk tidak berangkat, jika memang tidak mendapatkan beasiswa.

Rasanya saat melihat nama tidak ada dalam list pendaftar yang lolos seleksi berkas itu, seperti dunia berhenti berputar, isi perut seakan pindah ke ubun-ubun, terbang dan dijatuhkan kembali, sampai akhirnya sadarkan diri, dan adegan kemudian adalah nangis bombay… (Oke ini lebay :p)

Seakan disentil dan diperintahkan untuk mengingat dan melihat kebelakang, “pasti ada yang salah”. Yang buruk dari saya adalah, procrastinator sejati, kerjaannya selalu menunda-nunda pekerjaan, dengan banyak alasan atau cari-cari alasan 😦 saya juga sempat diingatkan sama TIko, “kan riss, aku juga saranin kamu cepet-cepet siapin persyaratannya, siapin ini itu, langsung usaha cari ini itu” dan saya hanya ber-“iyaaa yaa tikoo huhuhu“. Dan penyesalan datang karena usaha yang tidak maksimal.

Saat keasyikan menunda-nunda, seakan terlupa sama nasihat:

“Barangsiapa yang suka melambat-lambatkan pekerjaannya maka tidak akan dipercepat hartanya.”  (HR. Bukhari)
”Jika kamu menyongsong pagi, maka janganlah menunggu waktu sore. Jika kamu berada pada waktu sore, maka janganlah menunggu waktu pagi. (Ibnu Umar)
Padahal Allah senantiasa meminta kita untuk bersegera, tetapi tidak tergesa, baik dalam hal tugas, amanah, dan ibadah.
“Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Robb kalian dan kepada syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imron: 133).
Saat dalam titik, “yasudahlah” dan saya mulai sibuk untuk mengerjakan yang lain. Saya dikabari Tiko, untuk mengecek pengumuman pendaftaran hasil seleksi berkas gelombang 5, dan ternyataaa, tertulis nama saya diantara beratus pendaftar lainnya, Allahu akbar! saat itu, saya bingung harus merasakan seperti apa, karena saat itu sedang di warnet yang sedang ramai…
Kabarnya, saat wawancara LPDP, banyak hal yang ditanyakan terkait dengan nasionalisme, seperti isi panca sila, pembukaan UUD, pahlawan-pahlawan, lagu Indonesia Raya dan lain-lain, sya mencoba untuk mem-Pede-kan diri untuk menghapalkannya lagi. fiuh.
Kenyataannya, saat wawancara dilakukan oleh 3 orang interviewer, 2 berlatar belakang psikologi dan 1 orang berlatar belakang pendidikan (dosen). Saya yang sudah mempersiapkan presentasi dalam bahasa Inggris, jika sewaktu-waktu ditanyakan tentang rencana riset, saya sudah siap (yes!). Dan nyatanya, apa yang saya persiapkan, tidak ada yang ditanyakan (Nah loh ris..). Mereka benar-benar fokus pada pertanyaan: Akan jadi apa kamu setelah 5 dan 20 tahun mendatang. Selain pertanyaan dasar seperti alasan memilih universitas, negara, dan jurusan.
Saya yang random, dan saat itu sulit menjelaskan tentang cita-cita, semakin disadarkan bahwa tujuan memang harus segera ditentukan dan fokus dalam pencapaiannya. Saya yang dahulu saat kuliah sarjana banyak menargetkan cita-cita, bak seorang yang memiliki ratusan list mimpi, seperti hilang arah saat cita-cita itu tidak tercapai, khususnya setelah lulus kuliah, dan akhirnya saya lelah untuk bermimpi. Padahal, sukses itu bukan tanpa hambatan, bukan jalan lurus yang langsung sampai. Pemahaman saya yang keliru akan definisi sukses dan gagal, memepengaruhi pemahaman kehidupan saat itu.
Saya lupa, bahwa Allah selalu menyediakan ruang yang luas untuk berharap, dan saya lupa bahwa apa-apa yang terbaik selalu menjadi hak-Nya untuk kita. Saya lupa… dan saya diingikatkan kembali saat tahap wawancara.
Saya jawab, saya ingin menjadi ini dan itu, sebisa mungkin saya jelaskan, bahwa saya ingin menjadi bla.. bla.. bla.. 😀
Allahu rabbi, sepulang wawancara, saya merasa hilang arah (halah), orang yang saya temui setelah wawancara adalah Atha, dan saya langsung keluarkan perasaan saya yang tidak yakin dengan jawaban, yang menyesal kenapa harus jawab itu gak ini dan lainnya.
Seperti berada di titik yang sama seperti sesaat setelah interview universitas, nama tidak ada di list pendaftar yang lolos seleksi berkas, dan saat ini, selepas wawancara beasiswa, tahap terakhir untuk mendapatkan beasiswa dari LPDP.
Padahal, saat itu saya sedang ribet-ribetnya memikirkan pembuatan Certificate of Eligibility, yang meminta keterangan sudah dapat beasiswa atau belum, saat itu seperti saat -saat tersensitif dalam hidup, karena sering merasa tidak banyak orang yang membantu, tidak banyak diperhatikan, dan lain-lain, Padahal sebenarnya gak selebay itu sih dalam kenyataannya.
Saat itu juga, saya seperti ditampar dengan halus, karena diingatkan bagaimana kedua orangtua saya mendukung penuh. Sampai, seperti tidak adalagi yang mereka pikirkan selain mikirin anaknya. Seperti yang selalu ibu saya bilang: “bersemangat ya teh!”, Padahal saya kadang sok tahu terhadap pendapat ayah dan ibu saya yang ternyata memang lebih benar perkataannya.
Dua bulan sebelum tanggal (seharusnya) keberangkatan. Saya mencoba untuk menata ulang lifeplan, jikalau tiba-tiba saya harus mengisi form withdraw universitas, jika memang tidak menerima beasiswa, jika.. jika..
Sebulan sebelum keberangkatan, tepatnya akhir Agustus, saya menerima email yang berisikan undangan untuk mengikuti pelatihan yang berarti saya hampir lulus program beasiswa LPDP. Allah… Yang Maha Baik… Allah Yang Maha Baik… Ia tahu apa yang terbaik…
Saya pun mengikuti pelatihan 2 pekan sebelum saya berangkat. Pelatihan kepemimpinan LPDP menjadi syarat terakhir untuk menentukan pendaftar menjadi penerima beasiswa LPDP. Bersama dengan 96 calon penerima lainnya. Alhmdulillah, hari terakhir pelatihan kita dinyatakan resmi sebagai penerima beasiswa. Allahu Yubariik Fiik…
Karena keputusan terbaik, ada dalam keadaan terbaik, dan keadaan terbaik ada dalam suasana hati terbaik, suasana hati terbaik itulah, dimana kita mengingat Allah dan Yakin kepada-Nya.

See… tidak ada yang spesial dari curhatan pascasarjana saya… banyak hal dodol, geje, dan gak banget yang mewarnai hari-hari dalam perjalanannya… sekali lagi, bukan karena saya bisa, tetapi hanya karena betapa beruntungnya saya berkat doa-doa orang tua, dan orang-orang yang rela mendoakan saya ditengah kesibukan, yang saya tidak tahu siapa mereka (semoga Allah melipatgandakan doa untuk mereka) dan kelanjutannya.. bagaimana Allah saja, terserah Allah saja 😉

Curhat Pascasarjana #LPDP #Story #6 (LOA)

Posted on Updated on

Dua pekan berlalu semenjak interview. Saya merasa sudah lebih ‘plong’ dan ‘yaudahlah’ sambil terus berdoa meminta hasil terbaik dari Yang Maha Memberi.

Sambil menunggu hasil interview universitas, saya coba untuk submit pendaftaran LPDP, tertanggal 17 Juni 2013, Dengan segenap kumpulan mood, hehe, saya submit tanpa menyertakan LOA, Saya yang awalnya masih ingin menunggu LOA, akhirnya mengirimkan berkas tanpa menyertakan LOA, karena pengumuman hasil interview universitas baru akan diumumkan tanggal 3 Juli 2013.

Let it be…

Setelah submit berkas dan menunggu hasil pengumuman seleksi berkas, akhirnya tanggal 3 Juli tibalah. Saya sempatkan untuk khataman quran malamnya, supaya bisa baca doa khataman yang super keren itu… X) *dan saya baru nyadar kenapa kita dianjurkan untuk khatam quran minimal sebulan sekali, supaya setiap bulan kita bisa memperbaharui niat-niat yang kadang dalam perjalanan suka melipir kemana-mana, atau memperbaharui pilihan-pilihan, agar ridha Allah mengiringi pilihan kita… Agar pilihan kita sesuai dengan pilihan-Nya.

“Ya Allah, hamba memohon kepada-Mu permintaan terbaik, doa terbaik, kesuksesan terbaik, ilmu terbaik, amal terbaik, pahala terbaik, kehidupan terbaik, kematian terbaik, Kuatkanlah hamba, beratkanlah timbangan kebajikan hamba, realisasikan keimanan hamba, tinggikan derajat hamba, terima shalat hamba, ampuni dosa-dosa hamba…”

Sejenak saya, cek email, urutan paling atas dikirimkan oleh pengirim bertuliskan kanji. Biidznillah…

LOA

Mata saya berair, mereka yang pertama mengetahui pengumuman ini tentunya teman-teman sekost dan saya langsung kabari ibu dan bapak saya. Saya sadar, ini bukan akhir perjuangan, tetapi permulaan, permulaan yang kadang mempertemukan saya dengan kata ‘lelah’ atau ‘berhenti’.

Curhat Pascasarjana #LPDP #Story #5 (Interview)

Posted on Updated on

4 Juni 2013

Perjuangaaan mencari surat rekomendasi dari Dean of Faculty yang buat saya dag-dig-dug sebelum tanggal 7 Juni, dan tertanggal 4 Juni saya masih corat coret ngisi formulir, dan nunggu kepastian surat rekomendasi dari dosen di IPB. Saya memang gak gaul di Fakultas (Gaulnya tingkat Universitas sih, :p ditimpuk rame2), Nah itu yang buat saya gak deket sama Ibu Dekan yang baru, dan agak sungkan untuk minta rekomendasi beliau. saya juga agak sungkan untuk minta rekomendasi ke Departemen saya, Biokimia, karena studi yang saya ambil agak jauuuh dari apa yang saya pelajari sebelumnya hehe. Maap Pak,Bu. Akhirnya saya beranikan diri untuk meminta rekomendasi ke Dekan Pascasarjana IPB, yang saya baru kenal karena beliau yang membantu menjadi juri opini untuk lomba pangan lokal. Alhmdulillah beliau bersedia 😀

Dodolnya saya, bapak tersebut pasti sibuk luar biasa, harusnya saya meminta jauh-jauh hari. Ya tetapi apa daya, saya coba untuk ke kampus hari itu, saya sudah sms tetapi tidak mendapat balasan, wah beneran sibuk, batin saya. Sebelum ke rekntorat, saya coba ke kantor dekan FMIPA, tapi ternyata ibunya sedang ke luar kota T_T hampir speechless dan nyerah. Saya jalan-jalan lah ke rektorat dengan maksud mentranslet dan legalisir ijazah yg berbahasa Inggris, dan saat sampai disana, tiba-tiba saya melihat sesosok bapak yang berjalan tegap, saya perhatikan… Yatta! itu pak dekan! refleks langsung memanggil si bapak dengan nada setengah teriak (bener-bener gak sopan pemirsah, jangan ditiru :D) dan sambil cengar-cengir, menghampiri si Bapak, “Ohiya, kamu riska ya? maaf ini saya belum sempat balas sms, sini mana saya buatkan suratnya sekarang juga” waks… langsung melting, dan bolak-balik dzikir istigfar sambil hamdalah dalam hati, ya Allah emang kalau jodoh gak kemanaaa :”) doakan bapaknya berkah dunia akhirat.

Akhirnya saya ikut ke ruangan beliau, dan saat itu juga dibuatkan surat rekomendasinya. :”) padahal itu H-4 jam harus dikumpul lewat pos ke Jepang. Selain bapak itu, saya sebelumnya telah meminta ke dosen lainnya, (lagi2 bukan dosen departemen saya)< bapak itu adalah dosen jurusan teknik mesin dan biosistem yang sudi membuatkan surat rekomendasi untuk saya. dan hari itu membatu saya untuk mencari alamat DHL Bogor! Semoga bapak iini juga berkah dunia akhirat :”)

Waktu menunjukkan pukul 14.00 wib. dan itu artinya saya harus cepat-cepat mengirimkan berkas. menuju ke DHL Bogor di jalan Padjajaran. Hal selanjutnya yang selalu saya alami adalah, Nyasar! sampe jam 16.30 wib. Alhmdulillah, sampai juga di DHL, setelah muter-muter :p yang membuat saya bersyukur selanjutnya adalah pengiriman ke jepang yang 2 hari sampai sodara-sodara! Allahu Akbar! dan hari itu ditutup dengan pengiriman berkas, saya pun pulang ke Cilegon dari Bogor ;’)

admission

7 Juni 2013

Saya mendapatkan email dari Ms. Shinoda tentang jadwal interview, Alhmdulillah lolos seleksi berkas. Dalam jadwal yang diberikannya, ada 2 agenda tanggal 12 Juni untuk cek koneksi skype dan tanggal 19 Juni untuk interview. Saat tanggal 12, waktu yang ditentukan untuk cek koneksi yakni jam 11.00 p.m, dan dengan pinjaman laptop dari Mba Intan di kantor saya coba untuk terhubung dengan Ms. Shinoda. Gak nyambung-nyambung, suara yang tidak terdengar dll T_T akhirnya saya memutuskan untuk membeli peralatan seperti web-cam dan head-phone yang ada micro-phonenya (tadinya sih mau ngirit, tapi emang mesti modal juga XD). Tibalah tanggal 19 Juni, kedodolan saya kembali muncul, yang saya ingat adalah jam 11.00 p.m, dengan santainya saya masih siap-siap di kost-an, pilih-pilih jilbab dll XD, tanpa sadar bahwa jam yang saya ingat itu salah! Saat mulai berangkat pukul 08.30 dari kosan, dengan dibonceng motor oleh Atha. Perasaan saya nggak enak, saya coba cek lagi email di perjalanan naik motor, deg. Ternyata jam interview adalah jam 08.45-09.00. Saya tepuk-tepuk pundak Atha, kalau salah jam >.<! Akhirnya dengan kekuatan kebut-kebutan (Saya sunggu percaya pada sahabat saya ini, karena dia sudah pengalaman bermotor ria, sampai ketiduran saat bawa motor :P) perjalanan yang biasanya ditempuh sekitar 45 menit, menjadi sekitar 25 menit saja. Sampai di parkiran motor, ada nomor asing yang menelepon, dan itu suara sensei saya!

Setelah basa-basi di telpon sambil meminta maaf, saya pasang alat-alat untuk sykpe yang baru dibeli tadi malam >_< dan mencoba memulai koneksi. Jreeeng. sudah ada sekitar 5 orang pewawancara. Saya berusaha mengatur napas dan rileks. Thanks berat buat temen2 kantor saya yang ikutan rempong pagi itu, dan akhirnya mereka menonton saya interview… >,<.

“I’m sorry, I’m late, this is my fault.. bla bla bla…” saya bilang itu kesalahan saya, ditambah dengan alasan macet (dan memang macet ^^”) dan interview pun berlangsung…

Pertanyaan yang muncul pertanyaan standar seperti alasan memilih jurusan, cita-cita, rencana study, sponsorship, kenapa memilih Jepang bukan USA, dan banyak lagi. Semua jawaban mengalir, kalau boleh terharu, mungkin saya bakal menitikan air mata saat ditanya mengapa jurusan ini dan mengapa jepang (hihi oke ini lebay :p). Allahu rabb, saat itu datang juga 😉

Sesudahnya interview, teman2 di ruangan senyam-senyum sendiri, hal pertama yang saya tanya:

ngerti gak tadi aku ngomong apaaa? *sambil meringis :p (soalnya jawaban saya yang menurut saya amburadul :p)

“ngertii, hihi,” Alhmdulillah, *doa buat Mba Nuri, Mba Intan, Atha, dan Ka ufuwan yang hadir saat ini 😀

Sesudah interview itu juga, saya naik ke mushola, saya merenung, nangis sebanyak-banyaknya biar semua beban lepas, sambil dhuha-an, karena sebelum interview gak sempet >.

Curhat Pascasarjana #LPDP #Story #2

Posted on Updated on

Hari ini kabarnya pengumuman penerima beasiswa LPDP gelombang ke-6 tahun 2013 keluar, sambil nunggu pengumuman yang semenjak bulan lalu saya tunggu ini, saya akan lanjutkan curcolan gakjelas tentang perjalanan melanjutkan sekolah. Wallahu’alam, entah dapat atau tidaknya beasiswa, semoga curhat ini bermanfaat hihi.. 😉

Okey, setelah niat yang cukup, mengapa harus melanjutkan seokalh, kemudian kita mencari negara tujuan, Indonesia atau di Luar Negeri? Benua Asia, Australia, Amerika, Eropa, atau Afrika? Untuk penentuan ini, saya butuh hampir setengah tahun untuk banyak berkonsultasi ke senior-senior yang saya rasa cukup banyak pengalaman di pasca sarjana di dalam dan di luar negeri. Tepatnya, dari bulan Juli 2012 sampai November 2012. Selain senior, saya juga sempatkan untuk banyak bermusyawarah dengan keluarga, khusunya ibu dan bapak. Yup. jangan sampai mereka tidak tahu rencana anak perempuan pertama satu-satunya, yang ternyata ingin ‘meninggalkan-rumah-lagi’ hiks.

Saya timbang-timbang, saya pun melihat beberapa peluang, dan juga jadal-jadwal perkuliahan yang tidak boleh terlewatkan. Saya sempat membuat akun penerimaan mahasiswa UI, dengan pilihan jurusan antara Ilmu Herbal dan Biomedis (Karena UI adalah kampus yang sering di-mensyen oleh Bapak saya agar bisa lanjut disana, semacam impian bapak saya yang belum tercapai hehee…), dan hampir ikut seleksinya di bulan April 2013 kemarin, tetapi tidak jadi karena saya harus berangkat presentasi di Taiwan. hehehe…

Akhirnya, di akhir tahun 2012, saya memutuskan benua Asia, sebagai pilihan dengan dua negara Jepang atau Korea. Kenapa Jepang atau Korea? Jepang, bisa dibilang negeri impian, hoho. Pertanian dan Sainsnya maju, Dan juga Alhmdulillah sudah pernah merasakan tinggal walau hanya beberapa hari disana :p Jadi lebih terbayang bagaimana jika tinggal disana dalam waktu yang lama.

Korea, bukan karena korean wave yang lagi happening :p walau sejujurnya saya juga pernah sih ngikutin kabarnya super junior, duluu waktu awal kuliah di tahun 2007 hahah :p. Korea negara yang hampir sama perkembangannya dengan Jepang, dan salah satu negara yang mempunyai banyak Inovasi dengan tetap memberdayakan tenaga kerja dalam negerinya. Seperti Jepang, Ia negara yang sangat menjaga tradisi dan cinta terhadap produk dalam negeri. Ditambah, di tempat tinggal saya kini banyak sekali tenaga kerja dari Korea. Semenjak Krakatau-Posco berdiri di Cilegon, jadilah buanyak sekali pekerja yang didatangkan dari negara asalnya, untuk memegang pabrik industri baja patungan PT. Krakatau Steel dan Posco dari Korea (Kapa-kapan saya akan cerita tentang ini). Jadi, ceritanya, kalau saya bisa bahasa korea kan saya bakal ngerti apa yang bakal mereka lakukan di kota saya ini :p

Dan jadilah Jepang dan Korea yang menjadi kandidat negara selanjutnya dengan beberapa kandidat Universitas seperti: Kyoto University, Tokyo University of Agriculture and Technology (TUAT), Kyushu University, Tsukuba University, Yonsei University, Korea Advance Institute of Science and Technology (KAIST). dan Pohang University of Science and Technology (POSTECH).

Sekitar dua bulan, saya pun banyak berdiskusi dengan teman seperjalanan seperjuangan (Tiko) untuk menentukan mana yang akan dipilih dari kedua negara ini. Dengan beberapa pertimbangan, akhirnya diputuskanlah satu negara tujuan… Bismillah 😉