Mengandung dan Melahirkan di Jepang #2 (Pemeriksaan)

Saat melalukan pemeriksaan kehamilan di Klinik, kita akan melakukan pemeriksaan janin dan detak jantung janin pada pekan ke enam dan tujuh kehamilan. Setelah memastikan bahwa janin sehat dan berkembang, ditandai dengan adanya detak jantung dan penambahan ukuran janin pada pekan ketujuh, maka dokter akan memberikan surat rekomendasi untuk pengajuan asuransi kehamilan di balai kota.

Asuransi tersebut biasa disebut ‘Marufuku’. Syarat untuk mengurus Marufuku adalah, Residence Card, Kartu Asuransi, Rekomendasi Dokter dan tanda tangan suami. Setelah semua oke, kita akan mendapat satu bendel dokumen yang berisikan, Boshi Techo (Buku Petunjuk Kesehatan Ibu dan Anak), Gantungan kunci ibu hamil (untuk pertanda priority seat hehe), dokumen penjelasan hamil dan bersalin di jepang, serta kupon-kupon asurasi yang dipakai setiap pemeriksaan.

Setelah itu, kita akan dirujuk untuk melakukan pemeriksaan rutin di Rumah Sakit besar, untuk Tsukuba, yang dipilih adalah Tsukuba Daigaku Byoin atau Rumah Sakit Universitas Tsukuba.

Pemeriksaan rutin di Rumah Sakit dilakukan kira-kira 11 kali pemeriksaan, sebulan sekali sampai pekan ke 20, kemudian dilanjutkan pemeriksaan dua pekan sekali, dan saat memasukin pekan ke 36, pemeriksaan menjadi satu pekan sekali. Setiap periksaan, selalu dicek keadaan janin menggunakan USG. Beberapa jadwal berisi pemeriksaan darah (TORCH test, hormon kelenjar tiroid, gula darah, dll), pemeriksaan urine (kandungan protein, pH, dll), pemeriksaan tensi, berat badan, serta keberadaan bakteri streptokokus grup B.

Nah, menariknya menggunakan asuransi adalah, pembayaran tiap kali pemeriksaan akan mendapatkan potongan, misalkan saat pemeriksaan adanya bakteri streptokokus grup B dikenai sampai 10.000 yen, namun dengan adanya asuransi hanya kena 600 yen Alhmdulillaah 😀

Selain itu perlu diketahui bahwa dokter di jepang sangat jarang memberikan resep obat seperti vitamin, obat penguat dll apalagi susu ibu hamil. Yang saya pernah dapag hanya obat konstipasi dan zat besi, itu pun karena hasil pemeriksaan yang menunjukan kadar Hb yang rendah. Untuk vitamin seperti asam folat, vit.B, kalsium, DHA dan EPA biasanya dibeli sendiri di apotik terdekat tanpa resep dokter. Mungkin mereka sudah pede dengan nutrisi makanan di jepang, heuheu.

image

Dengan ini, catatan-catatan lengkap pemeriksaan perpekan yang diberikan oleh pihak RS akan saya simpan, sebagai referensi jika-jika suatu saat akan melahirkan di Indonesia. Di postingan selanjutnya, saya akan bercerita tentang bertahan hidup di Jepang saat hamil, detik2 menjelang melahirkan, dan satu bulan awal setelah melahirkan yang sesuatu bingits lah.. 😄

Mengandung dan Melahirkan di Jepang #1 (Awal Kehamilan)

Setelah menikah pada Maret tahun 2015, kami memang menjadi salah satu pejuang LDR karena saya harus kembali melanjutkan studi di Jepang dan suami harus menyelesaikan kontrak kerja dan mempersiapkan hal-hal yang perlu dipersiapkan sebelum ia terbang menemani saya di jepang. Keluarga kami pun tidak terlalu terburu menuntut harus cepat punya anak, pun Alhmdulillah dengan kami yang juga memiliki motto “let it flow” plus sedang menikmati waktu-waktu pacaran setelah nikah mehehe..

Selang setahun setelah menikah, akhirnya kami memulai hidup bersama tepatnya di bulan Februari 2016. Suami sudah menetap di Jepang dan sudah memulai rutinitasnya. Saat bersama itu kamipun mulai terpikir untuk melakukan program hamil, beberapa rencana saya lakukan seperti ikut kelas Online Promil, cek kesehatan reproduksi dll. di bulan Maret 2016, Alhmdulillah saya dinyatakan positif hamil.

Diawali dengan “feeling” hmm koq belum dapet-dapet yah. Biar gak kege-eran hehe, setelah yakin telat sekitar 2 pekan, maka saya memberanikan diri untuk cek dengan testpack. Reaksi pertama saya saat mengetahui dua garis positif adalah… Nangis! Wkw. Antara terharu, khawatir, seneng, dan juga langsung mikir bahwa akan bertambah amanah dan tanggung jawab. Sedangkan suami, senyam-senyum cengar cengir sambil bilang, selamat yaa! 😄

Si Utun dan Sakura

Setelah itu, saya pun memberi kabar keluarga di rumah. Alhmdulillah, insyaAllah cucu pertama dari dua keluarga pun akan hadir. Selang beberapa hari, saya mencari klinik untuk melakukan pemeriksaan. Di Tsukuba, ada beberapa klinik yang biasanya memberi rujukan sebelum kita berobat ke Rumah Sakit, diantaranya,

1. Shoji Clinic (Obsetrics&Gynecolog)

2. Nanairo  (Obsetrics&Gynecolog)

3. Maejima (Gynecolog)

Saya pun memilih Shoji. Yang perlu dilakukan saat pertama periksa adalah membuat janji, datang saat jadwal pemeriksaan, membayar dan membuat kartu pendaftaran. Untuk semua klinik, biaya pembayarannya hampir sama, berkisar antara 5000-6000 yen.
Aksesnya dari kampus memang agak jauh, tetapi alhmdulillah klinik tersebut memiliki dokter wanita yang juga bisa berbahasa inggris selain bahasa jepang. Buat saya yang masih ‘membaca saja sulit’ 😀 itu sangat membantu sekali.

Di postingan berikutnya insyaAllah saya akan berbagi pengalaman hal yg sangat penting hihi, yakni saat mengurus asuransi untuk kehamilan di Jepang… ^_^

Kehidupan Riset di Jepang

Sudah hampir memasuki tahun ketiga saya bergabung dalam kelompok riset dimana saya belajar di University of Tsukuba. Seperti yang telah saya ceritakan pada cerita sebelumnya, bahwa mayoritas sistem pendidikan lanjutan di Jepang adalah based on research dibandingkan course work. Jadi, jika dibandingkan dengan pendidikan yang based on course work yang dialami teman-teman di belahan bumi Eropa atau Australia, memang agak sedikit berbeda. Kalau disana, banyak sekali saya mendapati cerita mengenai penuhnya kelas dan SKS yang harus diambil, begadang mengerjakan report, ujian tertulis, dan banyak lagi. Saya kadang sempat terpikir…

‘’Wah sampai segitunya ya, kaya disini ngerjain laporan kuliah ga pake begadang, -ya itumah elu aja ris yang kesantean… wkw.’’

Tapi tenang saudara-saudara, begadangnya kami di Jepang, bukan karena tugas, tetapi karena riset yang harus dikerjakan, apalagi jika berkewajiban untuk melakukan publikasi riset (jurnal). Yap, balik lagi ke pendidikan yang berbasis riset. Hampir selama pendidikan, yang kita kerjakan adalah riset, riset, dan riset. Walau memang bergantung kepada jurusan yang diambil, namun mayoritas mahasiswa di jepang akan memiliki study room/laboratory tempat untuk ‘berkarya’ siang dan malam hehe.

Sistem pendidikan yang menekankan pada riset membuat persiapan untuk melanjutkan pendidikan di Jepang menjadi unik. Hal pertama yang paling penting adalah, mencari calon supervisor, atau dengan kata lain, sensei yang berkenan untuk membimbing kita. Nah, dibagian ini adalah yang paling penting, karena bisa dibilang sensei adalah titik penentuan kehidupan kita di Jepang akan berjalan bahagia atau sebaliknya (agak lebay ya, tapi memang itulah kenyataanya hiks).

Mengapa peran sensei sangatlah penting? Karena, sebagai supervisor beliaulah yang akan menjamin hidup kita di Jepang, yang menjadi penanggung jawab di setiap form yang kita isi, yang memberikan rekomendasi untuk berbagai hal dan banyak lagi. Oleh karenanya, peran dan tanggung jawab beliau sangat penting, wajib untuk kita menjaga hubungan baik, saat menempuh pendidikan dan juga setelahnya.

Ada teman yang bertanya,

‘’Jadi parameter sensei yang baik itu kayak gimana ris?’’

Hm, memang agak sulit, karena dalam komunikasi tulisan, yakni yang kita lakukan saat berkirim email pertama kali, hal itu sulit ditentukan. Cara lain adalah dengan bertanya kepada senior atau memang belum ada senior disana, berdoalah supaya senseinya memang baik. Atau memang terlanjur mendapat sensei yang agak kurang baik (nah ini juga parameternya bias sih), cara paling akhir adalah selalu bersabar mengahadapinya. InsyaAllah selalu ada jalan.

Selain itu, penting juga untuk mengetahui riset apa yang digeluti oleh sensei yang kita tuju. Banyak cara kepo-in sensei, lewat google scholar, web universitas, atau linkedin. Dari situ dapat tergambar mengenai apa yang akan kita lakukan dalam riset dibawah bimbingan beliau.

Setelah semua proses dilakukan, sampailah kita dalam kehidupan riset di Jepang. Setiap mahasiswa yang sudah memasuki masa riset (tahun keempat undergraduate, graduate baik master atau doctor) akan mendapat study room/laboratory yang hampir semua kegiatan riset akan dikerjakan sedari pagi sampai sore bahkan malam. Seluruh fasilitas yang mendukung riset sudah tersedia, jikapun tidak, kita diberikan kesempatan untuk mengajukannya. Study room/laboratory menjadi tempat untuk belajar secara mandiri, maupun berdiskusi dengan teman satu ruangan. Agenda wajib lain di setiap lab adalah mengikuti konferensi, serta menghadiri dan persentasi pada diskusi pekanan atau yang kami sebut zemi (asal kata dari seminar).

konfrens
Presentasi dalam Konferensi
IMG_2112
Teman-teman satu ruangan study room
zemi
Kegiatan Zemi

Nah, menariknya, kegiatan di kelompok riset bukan hanya tentang penelitian semata. Dalam beberapa kesempatan, kegiatan lain seperti bersilaturahim ke rumah sensei, study trip, welcome party, farewell party, dan juga end year party. Kegiatan-kegiatan ini yang menjadi media komunikasi antar sensei, mahasiswa jepang, dan juga mahasiswa luar negeri. Harapannya, kegiatan-kegiatan tersebut dapat skill dalam berkomunikasi, dan juga wawasan antar negara. Jadi jangan takut riset di Jepang ya. Hidup riset! *menyemangati diri sambil ngolah data yang gak kelar-kelar ><

IMG_2182
Farewell Party

 

 

Step by Step Kuliah di Jepang #4 (Memilih Kampus)

Setelah niat yang cukup, mengapa harus melanjutkan sekolah, setelahnya adalah mencari negara tujuan, Indonesia atau di Luar Negeri? Benua Asia, Australia, Amerika, Eropa, atau Afrika? Untuk penentuan ini, saya butuh hampir setahun untuk banyak berkonsultasi ke senior-senior yang saya rasa cukup banyak pengalaman di pasca sarjana di dalam dan di luar negeri. Selain senior, saya juga sempatkan untuk banyak bermusyawarah dengan keluarga, khusunya ibu dan bapak.

Akhirnya, di akhir tahun 2012, saya memutuskan benua Asia, sebagai pilihan dengan dua negara Jepang atau Korea. Kenapa Jepang atau Korea? Jepang, bisa dibilang negeri impian, Pertanian dan Sainsnya maju, Dan juga Alhmdulillah sudah pernah merasakan tinggal walau hanya beberapa hari disana Jadi lebih terbayang bagaimana jika tinggal disana dalam waktu yang lama.

Korea, bukan karena korean wave yang lagi happening :p Korea negara yang hampir sama perkembangannya dengan Jepang, dan salah satu negara yang mempunyai banyak Inovasi dengan tetap memberdayakan tenaga kerja dalam negerinya. Seperti Jepang, Ia negara yang sangat menjaga tradisi dan cinta terhadap produk dalam negeri. Ditambah, di tempat tinggal saya kini banyak sekali tenaga kerja dari Korea. Dan jadilah Jepang dan Korea yang menjadi kandidat negara selanjutnya dengan beberapa kandidat Universitas seperti: Kyoto University, Tokyo University of Agriculture and Technology (TUAT), Kyushu University, Tsukuba University, Yonsei University, Korea Advance Institute of Science and Technology (KAIST). dan Pohang University of Science and Technology (POSTECH).

Sekitar dua bulan, saya pun menentukan mana yang akan dipilih dari kedua negara ini. Dengan beberapa pertimbangan, akhirnya diputuskanlah satu negara tujuan yakni jepang. Alhmdulillah ternyata pilihan saya adalah pilihan yang tepat, karena seiring perjalanan saya mulai menemukan kedua perbedaan dari jepang dan korea.

Jepang dan Korea bisa dikatakan selalu bersaing dalam segala hal, keduanya ingin mengungguli satu sama lain, namun bisa dibilang jika perekonomian jepang lebih maju dari Korea, kareanya ritme kerja di korea menjadi lebih keras dari jepang karena mereka merasa harus mengungguli jepang. Istilahnya, no break until drop, karenanya, di korea, jenjang antara senior-junior sangatlah jelas diantara mereka.

Untuk memilih kampus yang baik di jepang ada hal-hal yang perlu diperhatikan, diantaranya:

  1. Jurusan yang ingin digeluti

Hal inilah yang pertama kali harus ditentukan, karena hal ini yang akan membuat semangat kita naik turun, dan yang akan menentukan hal-hal yang akan dilakukan kedepannya. Ketertarikan terhadap riset adalah hal yang penting karena, budaya riset di jepang yang sangat kental, baik untuk ilmu eksak dan ilmu sosial. Jadi, jangan sampai salah jurusan ya! 🙂

  1. Sensei yang diminati

Hal selanjutnya yang menentukan hidup mati kita (oke ini lebay, tapi sangat menjadi pertimbangan hehe), adalah sensei. Banyak macemnya sensei, ada yang prefeksionis, yang aktif ikut seminar, yang gak mengizinkan mahasiswanya memiliki kehidupan selain di kampus hehe, yang gak terlalu suka jika mahasiswanya menikah dan punya anak, sampai ada yang baik banget sampai mau meminjamkan uangnya untuk keperluan mahasiswanya. Tapi overall, sensei disini semuanya bertanggung jawab dan dapat dipercaya akreditasinya.. jadi pilihlah jenis sensei yang tepat untukmu *bukan karena sensei ini mudah atau sulit, Karena setiap orang berbeda mengahapinya. Caranya bisa dilihat dari rekam jejak penelitiannya (menggambarkan bahwa dia orang yang aktif), dari cara korespondensi email (coba tanyakan mengenai perihal keluarga dll, jika kita berniat membawa keluarga), dan lain –lain.

  1. Bahasa Pengantar (English/Japanese)

Hal ini cukup penting untuk dirimu dalam mempersiapkan kemampuan berbahasa di jepang. Kalau memang ingin masuk ke program yang Bahasa jepang baiknya adalah ikut research student dulu, keuntungannya adalah kamu akan lebih gaul dikalangan teman-teman jepang, dan mendapat banyak info yang bisa kamu mengerti (jika info itu dalam Bahasa jepang), tapi jika program yang kamu ikuti berbahasa inggris itu lebih menguntungan sehingga kamu bisa fokus ke peningkatan risetmu, namun kelemahannya ya jd banyak gak ngerti hal-hal sekitar..

  1. Kampus yang memiliki peringkat yang baik

Di Jepang, peringkat satu dan dua adalah Tokyo dan Kyoto, peringkat lainnya berubah-ubah tiap tahunnya. Namun sepuluh besar jepang, biasanya menyediakan program Bahasa inggris. Jadi sebenernya dimanapun kamu belajar insyaAllah setiap kampus memiliki keistimewaannya sendiri.

  1. Lokasi, budaya, dan masyarakat sekitar

Lokasi perkuliahan yang kana mempengaruhi anggaran studimu dan bagaimana cara mengatur keuangan hehe. Jika tinggal di daerah kota seperti Tokyo, Kyoto, dan Nagoya, kemungkinan kamu akan menghabiskan anggaran lebih besar dari kota lainnya. Jadi siap-siap untuk hal ini. Namun, di kota besar akan banyak hal yang akan didapatkan lebih dari kota lainnya.

Riset

Kekuatan riset ada pada originalitas, aktualitas, rasionalitas, publisitas dan prioritas. Untuk membangun komponen kekuatan riset itulah perlu perjuangan yang terorganisir dengan baik dan rapi serta dilandasi dengan mental yang mumpuni. Tidak sedikit yang sukses dalam kuliah namun gagal dan kandas dalam risetnya. Tapi sebaliknya ada yang prestasi IPK tidak menonjol namun tuntas risetnya. Ini semakin mengkonfirmasi bahwa riset perlu dikawal dengan mental dan nyali yang mumpuni selain ilmu pengetahuan pada bidangnya.

-Prof. Kudang Seminar

Step by Step Kuliah di Jepang #3 (Personal Statement)

Saat melakukan pendaftaran untuk program pasca sarjana khususnya di universitas jepang. Beberapa hal menjadi salah satu syarat diterimanya seseorang menjadi mahasiswa universitas tersebut. Salah satunya adalah syarat untuk menulis ‘personal statement’. Personal statement (PS) atau jika diterjemahkan dengan Bahasa yang mudah dimengerti menjadi ‘Jelaskan mengenai diri anda dalam sebuah tulisan’ hehe. PS biasanya dituliskan di salah satu kolom didalam berkas aplikasi yang akan dikumpulkan. Terkadang PS diminta sebagai ‘Carrier Plan’, ‘Future Plan’, dll. Jadi jangan bingung jika ada pertanyaan demikian.

Untuk menulis PS, banyak hal yang perlu dipersiapkan. Berdasar dari pengalaman pribadi, pengalaman teman-teman, dan informasi dari berbagai tulisan, saya rangkum step by step penulisan PS dalam poin-poin serta penjelasannya dibawah ini. Check this out! 😉

  1. Mengenali diri sendiri

Hal pertama kali yang paling utama adalah: yup! Mengenali diri sendiri, karena jika kita belum mengenal diri sendiri, maka kita akan sulit dalam menemukan apa yang akan kita tuliskan. Jadi, untuk tahap ini perlu perenungan mendalam tetang pengalaman apa yang telah dilakukan, kegiatan yang sedang dikerjakan, dan juga hal-hal apa yang ingin dicapai di masa depan.

  1. Menyampaikan informasi yang benar

Jangan pernah gunakan atau melakukan co-paste PS yang sudah dibuat oranglain, karena plagiarisme adalah hal yang paling harus dihindari di dunia akademis. Hindari juga menyampaikan informasi yang tidak benar mengenai prestasi, pengalaman organisasi, dan lainnya. Dan usahakan agar membuat tulisan yang seimbang untuk menjelaskan prestasi dan potensi, tidak terlalu rendah diri atau pun arogan.

  1. Menjelaskan mengenai kegiatan dan pengalaman.

Kegiatan dan pengalaman bisa berupa, pekerjaan, hobi, ketrampilan, organisasi, dan prestasi, Penjelasan ini sebisa mungkin sesuai dengan jurusan atau program disediakan oleh universitas, Misalkan jelaskan pengalaman kita saat mengikuti organisasi yang berkaitan dengan tema jurusan yang akan dimasuki, seperti Himpunan Jurusan, UKM, dan NGO lainnya. Sama halnya dengan prestasi, jelaskan prestasi-prestasi terbaik yang pernah dicapai. Selain itu pengalaman kerja sebagai asisten praktikum, asisten dosen, karyawan, atau wirausaha juga bias menjadi infomasi yang menarik jika memang sesuai dengan jurusan yang akan didaftarkan.

  1. Ketertarikan terhadap program/jurusan.

Berikan alasan terbaik mengapa kita ingin sekolah di jurusan, universitas, kota, juga negara tujuan kita. Jelaskan juga ketertarikan kita terhadap riset yang telah dilakukan oleh calon pembimbing dan promosikan bahwa kita adalah orang yang sesuai yang calon pembimbing cari.

  1. Rencana masa depan

Tunjukkan pada para penyeleksi bahwa kita memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar. Jelaskan jika rencana masa depan akan tercapai jika kita bias menggunakan pengetahuan yang didapat dari sekolah di program tersebut. Rencana masa depan bisa diperkaya juga dengan kontribusi kita untuk negara, dunia dan untuk perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri.

Setelah mengetahui kerangka untuk pembuatan PS, selanjutnya adalah merancang tulisan yang tidak terlalu banyak atau sedikit, kira-kira 500/700 words banyaknya.. Sehabis menulis, biasanya kita perlu waktu untuk melihat kembali apakah ada yang harus ditambah atau kurangi dari tulisan tersebut sehingga bisa menjadi PS yang menarik untuk calon pembimbingmu, gudlak! :))

Step by Step Kuliah di Jepang #2 (Research Plan)

Setelah pada postingan sebelumnya kita membahas tentang perkuliahan di Jepang yang didominasi oleh sistem study by research, disini mari kita coba telaah persiapan untuk terjun kedalamnya #tsah 😀 Master by research merupakan sebuah program master yang memiliki proporsi riset yang dominan dibandingkan mata kuliah di kelas. Biasanya mahasiswa akan menghabiskan semester pertama dan kedua untuk kuliah dan dua semester berikutnya full riset dan menulis tesis. Untuk mengikuti perkuliahan yang didominasi riset ini diperlukan rencana penelitian yang matang dari mahasiswa saat mencoba mendaftar pada program yang diinginkan.

  1. Hal awal yang harus dipersiapkan adalah, tema riset yang sesuai dengan sensei tujuan, laboratorium, juga sesuai dengan keahlian yang kita sudah atau ingin dikuasai. Cara mudahnya adalah dengan mencari tema riset yang sering dilakukan oleh sensei dan labratorium yang dituju. Mencari keyword tentang penelitian yang akan dilakukan akan memudahkan kita menyesuaikan tema apa yang akan dipilih dan yang akan kita dalami.
  2. Judul/tema yang menarik. Judul atau tema sebaiknya menunjukkan isi penelitiannya sendiri, sebaiknya dibuat menarik dan mencakup keseluruhan isi dari proposal penelitian.
  3. Latar belakang harus jelas dan mendukung. latar belakang penelitian pada pokoknya menyampaikan alasan-alasan dilakukannya penelitian tersebut. Alasan tersebut muncul biasanya disebabkan oleh adanya permasalahan yang terjadi baik skala mikro dan makro, dirasakan langsung oleh masyarakat atau pun tidak.
  4. Problem statement dan tujuan penelitian yakni penjelasan lebih jelas mengenai permasalahan yang muncul yang akan diangkat sebagai topik penelitian. Sehingga permasalahan tersebut akan dijawab melalui tujuan penelitian. 
  5. Metode penelitian secara gari besar bias dibagi menjadi dua bagian yakni kualitatif dan kuantitatif. Bagian inilah yang terpenting untuk disesuaikan dengan model lab/grup penelitian yang akan teman-teman masuki. Metode akan mempengaruhi hasil suatu penelitian dan bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya apabila didukung oleh kebenaran data yang didapatkan serta proses yang dilakukan.
  6. Keunikan penelitian (novelty). Inti dari sebuah penelitian adalah melengkapi yang sudah ada atau melakukan apa yang belum dilakukan. Sederhananya, kita tidak akan melakukan hal yang persis sama dengan apa yang sudah pernah dilakukan orang lain. Keunikan itu bisa ditegaskan dengan menyatakan bahwa riset kita akan menggunakan metode baru yang belum pernah dilakukan, menggunakan pendekatan baru, membahas kasus yang sama sekali baru, atau menggabungkan beberapa metode di bidang lain yang belum pernah diuji.
  7. Daftar pustaka yang mencakup juga hasil-hasil publikasi dari sensei yang kita tuju. Tentu, hal ini menjadi kebanggaan tersendiri jika calon pembimbing mengetahui bahwa calon mahasiswa-nya sudah berusaha untuk mempelajari tema riset yang selama ini dilakukan. Hal ini juga menunjukkan ketertarikan kita terhadap tema riset yang ditawarkan, sehingga taka da salahnya kita mempelajari tentang riset melalui publikasi sensei tujuan.

Okey, kira-kira mungkin itulah beberapa step yang sebaiknya dopersiapkan sebelum menyusul rencana riset kita. See you di postingan selanjutnya. Goodluck! 🙂

“Research is creating new knowledge” -Neil Amstrong