Aliran Rasa #3

Pekan ini, saya sempat merasa menjadi ibu yang payah. Diawali dengan anak yang tiba-tiba sakit, muntah-muntah, yang awalnya saya belum tau apa penyembabnya. Tanpa menunggu lama, setelah kejadian muntah-muntah langsung dibawa ke bagian gawat darurat di Rumah Sakit, setelah pemeriksaan, ternyata dirujuk ke bagian THT karena kabarnya ada peradangan di bagian telinga. Setelah ditangani dan diberi obat. Alhmdulillah keadaan semakin membaik.

Kejadian selanjutnya sepekan kemudian, anak saya muntah-muntah kembali, dan setelah ditelusuri karena asupan MPASI yang tidak cocok. Saya pun merasa gagal mempersiapkan, mempelajari, dan mempraktekan teori MPASI yang telah saya baca dari berbagai sumber. Alhmdulillah ditengah rundungan perasaan gagal memberi hal terbaik untuk anak, banyak yang menenangkan bahwa setiap anak itu unik dan tidak bisa disamakan satu sama lain. Yang membuat satu teori cocok untuk semua anak. Sayapun menyadari bahwa saya tidak boleh berhenti belajar memahami anak, keluarga, juga diri saya sendiri. Serta tak patah semangat untuk membangun peradaban dari dalam keluarga. Dari forum diskusi IIP saya pun diingatkan kembali bahwa,

“Pahamilah bahwa semua menginginkan ‘keberadaan’ anda, anda diciptakan dengan tidak sia-sia.”

“Maka bersungguh-sungguhlah dalam menjaga “amanah” yang sudah diberikan dengan sepenuh cinta untuk kita.”

“Jangan pernah bandingkan diri anda/anak anda/keluarga anda dengan diri/anak/keluarga lain. Tapi bandingkanlah dengan diri/anak/keluarga anda sendiri. Apa perbedaan anda hari ini dengan perbedaan anda satu tahun yang lalu.”

Peradaban dari Dalam Rumah #NHW3

Jodoh itu adalah cerminan diri

Setelah dua tahun menikah, kami banyak sekali menemukan kesamaan diantara kami, walau perbedaannya pun tak kalah banyak. Memulai pernikahan dengan bekal pengenalan yang singkat sebelumnya menjadikan kami banyak mendapat kejutan setelahnya haha.. kejutan yang menyenangkan atau sebaliknya.

Sebut saja beberapa kebiasaan kecil masing-masing kami yang terkadang saya tidak sadar kalau itu mengganggu pasangan saya. Apalagi kalau kebiasaannya mengancam kemaslahatan bersama, perlu diubah memang, namun kami paham itu butuh proses dan waktu.

Saya juga memahami, saya harus mengubah standar romantisme yang saya pahami lebih lama menjadi versi suami. Sehingga jikalau tidak dibelikan bunga atau coklat di hari pernikahan kami, saya tidak lagi sakit hati wkwkw…

Berat memang, apalagi dulunya saya sering dan kebanyakan nonton princess-princess disney, dan hey pernikahan di kehidupan nyata bukanlah cerita yang happily ever after ya hihi, karena pada akhirnya saya menyebut pernikahan adalah perjuangan, berjuang agar diberi kebaikan dunia dan akhirat, agar kami bisa dikumpulkan kembali di hari yang lebih kekal, dengan keadaan yang lebih baik dari sekarang.

Kepada suami tercinta, terimakasih sampai saat ini masih bersabar membersamai seorang istri yang saya tahu dan menyadari betul, sebagai istri, saya masih jauh dari kata frase “istri yang baik” namun saya bertekad akan terus belajar agar menjadi istri yang berbakti dan menyenangkan suami. Terimakasih juga telah merelakan untuk sama-sama membangun rumah tangga berdua, jauh dari keluarga. Membesarkan bersama Mas Ikyu dan adik-adiknya kelak agar menjadi pemuda sholih yang baik hati, cerdas budi. Semoga keberadaan kita di Jepang, khususnya Tsukuba, menjadi manfaat dan kebaikan untuk sekitar.

Akupun paham bahwa kiranya terlalu jauh dan muluk jikalau membahas ‘membangun peradaban dari dalam rumah’ padahal printilan, remeh temeh rempeyak rengginang yang walau remeh tapi penting kadang suka terlupakan untuk dibenahi. Semoga kita selalu diberi petunjuk agar bisa membangun peradaban dari dalam rumah, dimulai dari sekarang, dari diri sendiri, dan dari hal-hal yang sederhana. Aamiin.

Aliran Rasa #2

“Ojo kalah karo wegah” (Jangan mau kalah dengan rasa malas).

Sekelumit kalimat yang sempat diutarakan dalam diskusi grup diskusi Institut Ibu Profesional pekan lalu. Alhasil, saya, pun, mesem-mesem sendiri, salah tingkah, untung gak ada yang liat wkw… biasanya sih kalau salah tingkah karena ngerasa ya, ya emang huhu..

Teringat bagaimana manajemen waktu saya yang acakadut seperti yang pernah saya jelaskan dipostingan sebelumnya, sehingga saya memang perlu untuk diingatkan salah satunya melalui forum tersebut. Selain itu, sentilan kedua datang dari beberapa key word, diantaranya; Komitmen, Konsisten, Deep Habit, Shallow Work, dan Deep Work. Sebagai seseorang yang terkadang bermasalah dengan waktu, pekerjaan, yang banyak, dan prioritas, tentu komitmen dan konsisten sangatlah diperlukan, seharusnya. Tetapi kenyataannya, saya ternyata harus banyak-banyak meminta ampun kepada Allah karena banyaknya waktu yang tersia, suka menunda-nunda, dan akhirnya menjadi tidak optimal. Maka, perbaikilah dirimu mulai dari sekarang juga.

Selanjutnya, adalah Deep Habit, Shallow Work, dan Deep Work. Deep Habit yaitu kebiasaan-kebiasaan yang dibangun secara terus menerus untuk mendukung aktivitas yang membutuhkan fokus, ketajaman berpikir dan benar-benar krusial untuk hidup kita. Yang tentunya akan berkaitan dengan produktivitas kita yang didukung oleh deep work atau aktivitas yang memerlukan fokus, ketajaman berpikir sehingga membawa perubahan besar dalam hidup kita. Sentilan kesekian karena ternyata saya tidak bisa mencapaikan dikarenakan apaa? karena Shallow work yang salah satu contohnya adalah, scrolling timeline facebook ampe bawah yang gak berbatass… sehingga yang harusnya kita bisa lebih produktif malah sebaliknya. Oleh karenanya, sudah siapkah tidak sering-sering buka medsos? atau kapan terakhir kali baca buku dengan fokus? Ng…. umm.. fiuh…

Indikator Ibu SMART dan Profesional NHW#2

Memasuki materi kedua di pekan kedua kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional (IIP) saya semakin menyadari bahwa banyak hal yang harus dibenahi dari diri saya, jleb deh rasanya, langsung mengena di relung jiwa, ea oke ini lebay.

Tapi saya kembali merenungi, kenapa selama ini, apalagi setelah memiliki anak, sering banget bad mood, muka ditekuk, cemberut, pusing sendiri. Ternyata jawabannya adalah, manajemen diri dan waktu yang acakadut.

Lagi-lagi, yang menjadi korban adalah suami saya, mungkin juga anak saya yang walau masih belum setahun pasti merasakan rasa hati ibunya hiks, maaf ya.

Dalam materi kedua, untuk menjadi profesional, kita harus mamahami peran sebagai seorang individu, istri, dan ibu. Sehingga mampu melaksanakan ketiga tugas tersebut dengan baik. Caranya, dengan menanyakan pada diri, suami, dan anak (sebenernya ini yang masih bingung, bagaimana mendapat respon dari bayi berumur 6 bulan hehehe, namun akhirnya saya buat berdasar asumsi dan beberapa sumber tumbuh kembang anak), selain itu, memasang indikator dalam setiap capaian. Berikut inilah indikatornya,yakni SMART.

Specific: unik/detail
Measurable: terukur
Achiveable: bisa diraih, tidak terlalu susah dan tidak terlalu mudah
Realistic: berhubungan dengan kondisi sehari-hari
Timebond: berikan batas waktu

Saya diingatkan kembali, kapan ya terakhir bikin target, time table, dan list-list seperti itu, huhu, a long time ago…

and then, here we go, inilah targetan yang sekiranya saya mampu lakukan sebagai individu, istri, dan ibu, semoga istiqomah!

IMG_5125
Targetan Menjadi Ibu Profesional

Jadilah, semoga di momen yang bertepatan dengan Ramadhan ini, bisa menjadi titik balik dan momen perubahan menjadi seorang wanita, istri, dan ibu yang lebih baik. Aamiin 😉

 

Aliran Rasa #1

Merasakan bergabung dengan komunitas Institut Ibu Profesional Batch#4 menjadikan saya banyak merenung, belajar, dan mengambil hikmah dari sesi materi, sesi tanya jawab, dan sesi penugasan yang membuat saya mengukur kembali kapasitas diri. Mengenai adab menuntut ilmu yang terlebih dahulu disampaikan sebelum materi lainnya membuat proses pembelajaran menjadi lebih efektif. Karena, setiap peserta menyadari bahwa sebagai seorang ibu, tidak ada yang merasa paling baik, tidak ada yang merasa sudah cukup ilmu, semuanya memiliki semangat belajar sehingga kita mampu mendapatkan inspirasi dan juga memberikan inspirasi kepada ibu lainnya. Saya bersyukur karena dengan sistem seperti ini, saya merasa aman untuk curhat permasalahan keluarga, parenting, pembagian waktu khususnya sebagai ibu yang menyambi mahasiswa huhu… tak ada penghakiman yang didapat seperti jika kita curhat di medos #eh.. karena dalam diskusi kelas semua peserta saling menyemangati ;’)

Mengenai ilmu yang ingin dipelajari pun, setelah review tugas diberikan, saya menelaah kembali apakah ilmu yang saya ingin tekuni sudah tepat? Dan akhirnya akan kembali kepada pengukuran kapasitas diri, menentukan prioritas, serta pengaturan waktu agar keluarga mendapat hak yang semestinya. Semoga, semoga terus-menerus bisa melakukan perbaikan diri, membersihkan hati, mengatur waktu agar waktu-waktu menjadi berkah. Bismillah… semangat!

Nice Homework #1 Adab Menuntut Ilmu

Berkaitan dengan materi pertama matrikulasi mengenai Adab Menuntut Ilmu, untuk menguatkan kembali materi tersebut ada beberapa pertanyaan yang menjadi renungan untuk dipahami lebih lanjut tentang peran kita sebagai ibu. Diantaranya adalah pertanyaan sebagai berikut ini:

  1. Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini.
  2. Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut?
  3. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut?
  4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut?

Mengenai jurusan ilmu yang akan ditekuni, sejujurnya saya perlu beberapa lama untuk memikirkannya, kurang lebih dalam sepekan ini, direnungi secara dalam, apalagi jika dikaitkan kontribusi apa nanti yang akan saya lakukan selepas mengenyam pendidikan di Jepang, oleh Karena banyak hal yang ingin dipelajari sehingga sulit menentukan prioritas. Akhirnya setelah saya berkonsultasi dengan suami (yang paling tau keadaan kalau saya ini maunya banyak tapi sukar konsistennya ehehe…) maka jurusan yang menjadi prioritas untuk dipelajari adalah pemberdayaan wanita. Ibaratnya jurusan dalam perkuliahan yang terdiri dari ilmu pendukung, saya pun merancang beberapa ilmu yang akan mendukung jurusan yang akan saya pelajari diantaranya parenting, literasi, dan pertanian.

Banyak hal yang menjadi alasan mengapa saya memilih pemberdayaan wanita sebagai jurusan jangka panjang yang saya ingin tekuni. Selain karena keinginan saya berkontribusi untuk masyarakat, saya juga menginginkan kondisi lingkungan dan masyarakat yang baik dan kondusif untuk keluarga dan pertumbuhan anak-anak. Hal ini menjadikan kita tidak hanya mengedukasi keluarga dan anak-anak kita sendiri namun juga masyarakat khususnya wanita sebagai istri dan ibu. Disamping itu, saya menyadari bahwa beragamnya kondisi sosial masyarakat di Indonesia membuat informasi yang penting untuk diketahui tidak merata khususnya di daerah pedesaan, dari kondisi tersebut banyak sekali hal yang dilakukan untuk memberdayakan dan menguatkan wanita di sekitar kita. Ada yang bilang zaman sekarang, wanita lebih sering saling melemahkan, menganggap apa yang dilakukan dirinya lebih baik dari yang dilakukan orang lain. Semoga kita terhindar dari yang demikian, sehingga mampu mengkondisikan diri untuk belajar dari siapa saja dan dimana saja.

Memberdayakan masyarakat apalagi wanita memiliki tantangan tersendiri, perlu strategi dan juga tahapan untuk menekuninya. Saat terjun langsung ke masyarakat, tentu kita tidak boleh melupakan hak diri dan keluarga untuk menjadi prioritas utama dan motor penggerak di masyarakat. Strategi yang dilakukan mulai dari mengedukasi diri, suami, serta anak, sehingga pengetahuan seperti manajerial rumah tangga dan pendidikan untuk anak diperlukan sebagai strategi awal menuntut ilmu. Selanjutnya ilmu pendukung seperti parenting, literasi, dan pertanian sesungguhnya menjadi passion saya semenjak lama, dan pemberdayaan wanita yang akan dilakukan akan terkait dengan ilmu-ilmu tersebut.

Dengan demikian, proses menuntut ilmu yang saya dahulukan terkait adab menuntut ilmu adalah dengan terus menerus memperbaiki diri, mengatur waktu serta komunikasi dengan keluarga. Perbaikan diri yang dilakukan mencakup pembersihan hati dari penyakit-penyakit hati, kemudian pengaturan waktu agar hal-hal wajib seperti ibadah lebih diprioritaskan agar waktu-waktu menjadi berkah, tidak lupa belajar dari sumber-sumber ilmu yang terpercaya, dan pada akhirnya mengamalkan ilmu tersebut kepada masyarakat.

Tsukuba, 19 Mei 2017

Riska Ayu Purnamasari

Adab Menuntut Ilmu

Senin, 15 Mei 2017
Disusun oleh Tim Matrikulasi- Institut Ibu Profesional
Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mengubah perilaku dan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya ilmu menunjukkan kepada kebenaran dan meninggalkan segala kemaksiatan.
Banyak diantara kita terlalu buru-buru fokus pada suatu ilmu terlebih dahulu, sebelum paham mengenai adab-adab dalam menuntut ilmu. Padahal barang siapa orang yang menimba ilmu karena semata-mata hanya ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya, namun barangsiapa yang menuntut ilmu karena ingin mengamalkan ilmu tersebut, niscaya ilmu yang sedikitpun akan sangat bermanfaat baginya.
Karena ILMU itu adalah prasyarat untuk sebuah AMAL, maka ADAB adalah hal yang paling didahulukan sebelum ILMU
ADAB adalah pembuka pintu ilmu bagi yang ingin mencarinya. Adab menuntut ilmu adalah tata krama (etika) yang dipegang oleh para penuntut ilmu, sehingga terjadi pola harmonis baik secara vertikal, antara dirinya sendiri dengan Sang Maha Pemilik Ilmu, maupun secara horisontal, antara dirinya sendiri dengan para guru yang menyampaikan ilmu, maupun dengan ilmu dan sumber ilmu itu sendiri. Mengapa para Ibu Profesional di kelas matrikulasi ini perlu memahami Adab menuntut ilmu terlebih dahulu sebelum masuk ke ilmu-ilmu yang lain?
Karena ADAB tidak bisa diajarkan, ADAB hanya bisa ditularkan. Para ibulah nanti yang harus mengamalkan ADAB menuntut ilmu ini dengan baik, sehingga anak-anak yang menjadi amanah para ibu bisa mencontoh ADAB baik dari Ibunya
ADAB PADA DIRI SENDIRI
a. Ikhlas dan mau membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk. Selama batin tidak bersih dari hal-hal buruk, maka ilmu akan terhalang masuk ke dalam hati.Karena ilmu itu bukan rentetan kalimat dan tulisan saja, melainkan ilmu itu adalah “cahaya” yang dimasukkan ke dalam hati.
b. Selalu bergegas, mengutamakan waktu-waktu dalam menuntut ilmu, Hadir paling awal dan duduk paling depan di setiap majelis ilmu baik online maupun offline.
c. Menghindari sikap yang “merasa’ sudah lebih tahu dan lebih paham, ketika suatu ilmu sedang disampaikan.
d. Menuntaskan sebuah ilmu yang sedang dipelajarinya dengan cara mengulang-ulang, membuat catatan penting, menuliskannya kembali dan bersabar sampai semua runtutan ilmu tersebut selesai disampaikan sesuai tahapan yang disepakati bersama.
e. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas yang diberikan setelah ilmu disampaikan. Karena sejatinya tugas itu adalah untuk mengikat sebuah ilmu agar mudah untuk diamalkan.
ADAB TERHADAP GURU (PENYAMPAI SEBUAH ILMU)
a. Penuntut ilmu harus berusaha mencari ridha gurunya dan dengan sepenuh hati, menaruh rasa hormat kepadanya, disertai mendekatkan diri kepada DIA yang Maha Memiliki Ilmu dalam berkhidmat kepada guru.
b. Hendaknya penuntut ilmu mendahului guru untuk menjelaskan sesuatu atau menjawab pertanyaan, jangan pula membarengi guru dalam berkata, jangan memotong pembicaraan guru dan jangan berbicara dengan orang lain pada saat guru berbicara. Hendaknya penuntut ilmu penuh perhatian terhadap penjelasan guru mengenai suatu hal atau perintah yang diberikan guru. Sehingga guru tidak perlu mengulangi penjelasan untuk kedua kalinya.
c. Penuntut ilmu meminta keridhaan guru, ketika ingin menyebarkan ilmu yang disampaikan baik secara tertulis maupun lisan ke orang lain, dengan cara meminta ijin. Apabila dari awal guru sudah menyampaikan bahwa ilmu tersebut boleh disebarluaskan, maka cantumkan/ sebut nama guru sebagai bentuk penghormatan kita.
ADAB TERHADAP SUMBER ILMU
a. Tidak meletakkan sembarangan atau memperlakukan sumber ilmu dalam bentuk buku ketika sedang kita pelajari.
b. Tidak melakukan penggandaan, membeli dan mendistribusikan untuk kepentingan komersiil, sebuah sumber ilmu tanpa ijin dari penulisnya.
c. Tidak mendukung perbuatan para plagiator, produsen barang bajakan, dengan cara tidak membeli barang mereka untuk keperluan menuntut ilmu diri kita dan keluarga.
d. Dalam dunia online, tidak menyebarkan sumber ilmu yang diawali kalimat “copas dari grup sebelah” tanpa mencantumkan sumber ilmunya dari mana.
e. Dalam dunia online, harus menerapkan “sceptical thinking” dalam menerima sebuah informasi. jangan mudah percaya sebelum kita paham sumber ilmunya, meski berita itu baik.
Adab menuntut ilmu ini akan erat berkaitan dengan keberkahan sebuah ilmu, sehingga mendatangkan manfaat bagi hidup kita dan umat
Referensi :
Turnomo Raharjo, Literasi Media & Kearifan Lokal: Konsep dan Aplikasi, Jakarta, 2012.
Bukhari Umar, Hadis Tarbawi (pendidikan dalam perspekitf hadis), Jakarta: Amzah,
2014, hlm. 5
Muhammad bin sholeh, Panduan lengkap Menuntut Ilmu, Jakarta, 2015