Jum’ah Barokah #SerenadaJejakdanMimpi 5

Jumat.

Salah satu hari yang saya tunggu. Selain hari ini adalah hari berakhir perkuliahan selama seminggu. Hari ini merupakan hari raya muslim sedunia. Rasanya menyenangkan dapat bertemu dengan saudara seiman walaupun berbeda warna kulit dan mata. Bertemu sapa dengan dengan mengucapkan salam kerahmatan dan kesejahteraan.

“Assalamualaikum warrahmatullahi wa barakatuh”

Seorang wanita setengah baya menyapaku saat saya dan dua temanku memasuki ruangan tempat solat perempuan disebuah gedung besar bernama Masjid Al-Ikhsan.

Jumat ini saya sangat bersyukur dapat menyambangi masjid yang jaraknya sekitar 20 menit ditempuh dengan dua kali naik bus dari kawasan tempat saya kuliah. Saya dan dua teman perempuan lainnya berinisiatif mengikuti teman-teman laki-laki yang hendak solat jumat di masjid tersebut. Kami menunggu sampai solat jumat berakhir. Sambil mendengarkan bacaan solat sang imam, saya amati sudut demi sudut bangunan ini, bangunan yang tak cukup besar dan sederhana, namun terlihat unik dan eksotik di mata saya dengan ornamen batu-batu di dindingnya. Terdapat ruangan pertemuan di lantai bawah, ruang tempat solat pria di lantai dua, dan wanita di lantai 3.

Solat jumat berakhir dan dilanjutkan dengan ceramah singkat berbahasa inggris. Sayang sekali memang, seharusnya bahasa arablah yang menjadi bahasa pemersatu muslim sedunia, tapi apa boleh buat, saat ini seperti itulah yang harus dilakukan, mempelajari inggris sebagai bahasa internasional, suka tidak suka, mau tidak mau. Namun, tak dilupakan juga, bahasa arab setidaknya harus dipelajari, khususnya untuk saya yang masih harus belajar banyak.

Kembali pada perempuan separuh baya yang menyapa saya dan teman-teman. Beliau bernama Mrs. Farida berasal dari aljazair. Bersama suami yang merupakan professor bidang matematika di virginia tech, beliau menetap di amerika sudah sekian lama. Tertakjub, saya melihat ada muslim yang bertahan sedemikian lamanya di negara ini, dengan masih memegang teguh keislaman dan keimanannya. Tertekad, saya akan belajar banyak dari dia, belajar bertahan hidup disini untuk waktu yang cukup lama apabila di suatu masa saya diberi kesempatan lagi untuk menginjak tanah ini. Selain Mrs. Farida, ada lagi seorang muda bernama Allan. Muslimah amerika. Tertakjub untuk kedia kalinya, kali ini saya menemukan orang yang luar biasa, lengkap dengan hijabnya, ia menyapa kami dengan mempertemukan pipinya dengan pipi kami, kiri dan kanan. Suatu yang sering saya lakukan di Indonesia, namun sangat jarang di sini. Karena orang amerika lebih menyukai berjabat tangan dibanding salam sapa lainnya.

Sambil manyapa, dengan tersenyum sekilas ia berkata,

“This is our culture ukh, and handshake isn’t”

Tersadar. Jelas sudah semuanya, semakin mantap untuk melangkah, mempertahankan iman di tengah sahara kehidupan. Wahai dunia, saksikan bahwa kami seorang muslim, dan kami bangga dengannya…

Blacksburg, 26 Maret 2011

Mr. Jones dan Blacksburg #SerenadaJejakdanMimpi 4

Harap-harap cemas. Saya dan teman-teman menunggu siapa yang akan membawa kami pulang ke rumah mereka. Bagai sedang berada di program tali kasih di salah satu stasiun TV swata, menunggu saat-saat bertemu keluarga yang tak lama jumpa. 

Saya yakin teman-teman yang lain sibuk dengan perasaannya masing-masing, menerka-nerka siapakah gerangan orang amerika yang mau menampung kami. Sambil mendengarkan pengarahan Amanda, penanggung jawab kami, saya pun sibuk menerawang membayangkan tentang siapa dan bagaimana rupanya. Baik atau galak kah. Dan saya lebih memilih untuk membayangkan yang baik-baik, dia yang akan datang menjemputku adalah orang yang ramah, penyayang, baik hati, tenggang rasa dan toleransi tinggi. 

Benar saja, yang datang adalah seorang paruh baya yang cantik romannya. Selalu tersenyum dengan manisnya. Alhmdulillah, saya bergumam dalam hati, maka Allah, inilah dia yang terbaik yang Kau kirimkan hikmah darinya, belajar banyak darinya. Dialah Mrs. Jones yang ingin saya memanggilnya dengan sebuta Joe. Seorang bersahaja yang memiliki tiga orang anak yang saat ini tidak tinggal dengannya. Seorang penyayang yang telah ditinggal oleh belahan jiwannya hampir sepuluhtahun lamanya. Seorang periang yang dalam waktu hidupnya yang hampir 76 tahun masih mahir mengemudi dan bekerja sebagai akuntan di sebuah Bank.

Dengan muka cerah meriah bagai anak-anak yang dibelikan permen oleh ibunya, saya dan salah satu teman saya melenggang riang masuk ke mobil van putih miliknya. Dan kami mulai meluncur ke St. Andrew street dipinggiran kota Blacksburg, melewati jalan panjang yang diiringi bukit penuh semak savana, hutan dengan pohon mengering yang jelita dan sungai aliran tenang dengan silau yang menggema. 

Kota Blacksburg, seperti Bogor rasanya, dengan sedikit perbedaan tentunya. Kota yang tidak terlalu padat merayap, terlihat gagah namun sederhana dengan segala kemudahannya, terlihat menyenangkan dengan hamparan hutan, pertanian, dan perkebunan yang menyatu dengan pegunungan, terlihat bersahaja dengan keramahan dari setiap yang ditemui di mana pun saya melangkah, terlihat cerdas dengan banyak mahasiswa lalu lalang yang bangga memakai apapun yang bertulisakan Virginia Tech atau VT, mengalahkan fanatisme penggila bola rasannya.

Seketika, Mobil van terhenti di depan rumah dinding kayu berwarna jingga. Bertingkat dua dengan halaman yang luas penuh bunga. Saya takjub seketika. Syukur tak tertahan untuk terucap. Welcome Home… Selamat belajar dan menikmati dan merasakan. Maka nikmat yang mana lagi yang kau dustakan. :’)

 

Blacksburg, 16 Maret 2011

#SerenadaJejakdaMimpi 3

March 15th 2011

Semilir angin dingin menerpa wajah ini. menginggalkan jejak yang lebih dari sekedar kering, membeku mungkin. mencoba tengok kearah luar jendela, untuk melihat apakah mentari sudah menyapa. belum ternyata. padahal jarum pendek sudah berdentang di angka 6 tepat. Syukurlah, tidak terlambat untuk melaksanakan solat. perjalalan yang cukup menyita energi dan waktu tidur yang sedikit berantakan membuat saya selalu linglung saat bangun lelap.

06.20

waktu subuh akhirnya tiba. dalam helaan penuh syukur saya sambut pagi pertama saya di kota penuh perjuangan ini. Blacksburg. karena hidup itu perjuangan dan berjuang itu menyenangkan. dan belajar adalah berjuang melawan tantangan. saya yakinkan diri untuk belajar. saya siap belajar. maka, beranjaklah ke gedung tempat saya belajar. LCI namanya. Language and Culture Institute salah satu bagian dari Virginia Polytechnic Institute and state university, atau Virginia tech.

kelas pertama dimulai, tentang pengarahan mengenai sistem belajar, budaya, kedisiplinan, dan homestay. Homestay? ya, tinggal bersama orang-orang itu, orang-orang amerika. Bagamana rasanya? nanti saya ceritakan 🙂

Dialah Mrs. Jones yang akan menjadi orang tua saya selama 2 bulan. Joe, begitu saya biasa memanggilnya. tempat saya akan mengambil hikmah sebanyak-banyaknya. belajar memilah untuk menjadi dewasa. belajar dari siapa saja, kapan saja, dimana saja.

Dreamer #SerenadaJejakdanMimpi 2

Burung besi bertuliskan Lufthanssa mulai menderu dan menggetarkan setiap yang berada didalamnya. Ia berlari cepat bagai kecepatan mimpi kami para pejuang yang sedang memulai perjalanannya ke dunia yang berada di seberang sana, di suatu tempat bernama Virginia, Benua Amerika. Dan beberapa detik kemudian ia berhasil lepas landas membawa impian kami terbang menembus angkasa meninggalkan bandara kami tercinta Soekarno-Hatta. Impian yang mengisi semangat kami untuk bertahan dalam keterbatasan untuk merangkai jejak-jejak menjadi rangkaian jalan impian yang bisa dilewati semua yang ingin mengambil hikmah dari apapun kejadian dalam setiap nafas kehidupan.

Luthfanssa kemudian tiba di Changi, Singapura. Tidak sampai 30 menit kami berada didalamnya, namun setiap pantulan mata, kami rekam dengan seksama, beberapa decak kagum mengalir tanpa sengaja. Kami besyukur pernah melewati ini, karena syukur akan mengajak kebahagiaan untuk mengikuti . Maka kami bergegas menjalani perjalan selanjutnya. Delapan jam atas udara menuju Narita. Tak jadi hal yang membosankan bagi kami, karena kendaraan mimpi kami yang bernama Singapore Airlines memiliki tayangan ternama yang membuat kita bertahan selama berjam-jam atau makanan yang membuat kami merindukan rasa saat lapar datang menghadang. Narita menyambut kami dengan hangatnya mentari di musim semi. Dengan bangkit tak menyerah walau dua hari lalu terkena musibah, narita tetap menyambut kami dengan ramah. Enam jam kami habiskan untuk menunggu perjalanan berikutnya. Waktu yang cukup untuk kami mempersiapkan berjalanan panjang selama 12 jam melewati Samudera Pasifik menuju benua Amerika. United Airlines, menemani perjalanan kami, tak semewah Luftanssa dan Singapore Airlines memang. Namun, ia juga berjasa membawa mimpi kami sampai ke tujuan melewati san Francicso, California kemudian Wahsington dan hingga akhirnya pada Virginia.

tempat kami mencari hikmah, keluar dari kenyamanan kami, menuju perjuangan merangakai jejak menjadi jalan impian penuh kebaikan… 🙂

*kami= All Grantes of IELSP in virginia.

love u all… ^^

ambil hikmah sebanyaknya dan sebarkan ke penjuru semesta, menembus cakrawala…

Blacksburg, 13 Maret 2011

#SerenadaJejakdanMimpi 1

Hey welcome to Jekarda… Hoho…
And I’m still in Indonesia…

Hehe. Itulah yang saya jawab bila ada yang tanya: “Riska sudah sampai mana?” :p
Inilah cerita awal perjalanan saya ke virginia, yang awalnya kami (saya dan teman-teman seperjuangan) akan berangkat pada hari jumat malam. Namun harus ditunda sampai hari minggu malam. Hal ini karena gempa dan tsunami yang terjadi di jepang, sehingga kami tidak jadi transit di sana. 

Bersyukur, karena bayangkan, jika kami berangkat hari jumat dan saat itu gempa dan tsunami terjadi di jepang, maka tak taulah nasib kami disana. 

Kecewa dan panik, perasaan itu sedikit terlintas, namun melihat kegigihan para chaperone (sebutan kami untuk panitia yang mengurusi keberangkatan kami) maka saya pun menjadi malu sendiri. Mereka rela berlelah-lelah memikirkan keselamatan dan kenyamanan kami para penerima beasiswa.

Dan hari ini saya ingin bercerita tentang mereka. Saya menaruh kagum pada mereka yang saya sebut sebagai “Para agen pewujud mimpi”. Mereka yang menghimpun mimpi kami. Mereka yang menjadi tangan dan agen-agen pewujud mimpi. Dan lewat merekalah Allah merealisasikan mimpi-mimpi kami.
Agak berlebihan mungkin pandangan saya, namun, dari mereka saya banyak belajar tentang kontribusi dan pengorbanan. 

Kalo dipikir-pikir hey ngapain juga ngurusin anak-anak orang. Tapi bagi mereka yang mempunyai kesadaran sosial yang tinggi, memiliki empati dan tidak selalu memikirkan diri sendiri, pantas lah kalau saya menyematkan gelar “para agen pewujud mimpi” 😉
Baik pada orang-orang yg saya temui sekarang maupun orang-orang terdahulu yang pernah membuat saya merasa menjadi manusia yang beruntung karena pernah bertemu dengan mereka.

Dear para agen pewujud mimpi, yang menjadikan kami berani bermimpi, karena kami menyadari, berawal dari mimpi kami bangun kehidupan ini. 😉
Bertambahlah satu lagi cita kami, menjadi sperti kalian, “para agen pewujud mimpi”

*Dalam perjalanan menuju bandara soekarno-hatta.
11.00 wib.
11 Maret 2011

Sindroma Abroadisia

alias…

campur aduk!!

 
itulah macam rasa yang selalu datang apabila akan menemukan hal yang baru.
dan hal baru itu akan aku temukan esok hari! ya esok hari dalam perjalanan panjang ke belahan bumi seberang sana, melewati batas benua dan samudra.
 
maka, tak pernah terbayang sebelumnya raga ini dapat menginjakkan kaki ditempat itu. namun Allah memberikan kesempatan untuk merasakannya, merasakan sejuknya udara musim semi dan bersahabatnya sang mentari.
 
bagamanapun pandangan terhadap negara itu, namun diri ini yakin ia juga kepunyaan Sang Pemilik Alam Raya, dan akan selalu terselip hikmah dibaliknya. oleh karenanya, sambutlah kami wahai negara adidaya, kami yang mengemban berbagai amanah dari tanah kelahiran tercinta, kami yang akan memetik beberapa buah hikmah yang akan kami bawa pulang untuk mengubahnya jadi manfaat untuk negeri indonesia. 
 
Cilegon, 9 Maret 2012.
dua hari sebelum berangkat exchange… 😀

Pangea

Berlapang hati selapang Sahara. Berluas pemikiran seluas Hindia

            Di Bumi ini manusia ditempatkan pada wilayah dengan keadaan alam yang berbeda, sehingga menyebabkan perbedaan pula dalam bentuk fisik, makanan, dan bahasanya, berbeda pula adat istiadat, kebiasaan, dan budayanya. Dari keluasan ini lahirlah perbedaan, sebuah kenyataan yang tidak bisa dielakkan. Lantas, apakah perbedaan itu diciptakan tanpa maksud dan tujuan? Apakah perbedaan mesti menjadi sumber perselisihan dan permusuhan? Tentu saja tidak! Justru disinilah peran pemuda generasi masa kini dalam mengikat semua perbedaan itu menjadi indah dalam persatuan dan persaudaraan. Persatuan dan persaudaraan dalam bingkai kemanusiaan.

Abad 21 merupakan saat globalisasi muncul ke permukaan sebagai suatu sistem yang hampir dianut oleh seluruh Negara termasuk Indonesia. Banyak pro dan kontra atas sistem ini. Namun, walaupun termasuk dalam kelompok yang kontra, globalisasi harus tetap dipahami oleh seluruh pemuda di Indonesia agar dapat menimbang baik buruknya sistem ini dan mampu memilah aspek yang dapat diterapkan di Indonesia. Globalisasi yang secara umum digambarkan dapat menembus dan melintas tanpa batas negara dan bangsa, lintas budaya, antar budaya dan terpaan budaya. Salah satu agenda globalisasi adalah globalisasi budaya.

Globalisasi mempengaruhi hampir semua aspek yang ada di masyarakat, termasuk diantaranya aspek budaya. Kebudayaan dapat diartikan sebagai nilai-nilai (values) yang dianut oleh masyarakat ataupun persepsi yang dimiliki oleh warga masyarakat terhadap berbagai hal. Baik nilai-nilai maupun persepsi berkaitan dengan aspek-aspek kejiwaan/psikologis, yaitu apa yang terdapat dalam alam pikiran. Aspek-aspek kejiwaan ini menjadi penting artinya apabila disadari, bahwa tingkah laku seseorang sangat dipengaruhi oleh apa yang ada dalam alam pikiran orang yang bersangkutan. Sebagai salah satu hasil pemikiran dan penemuan seseorang adalah kesenian, yang merupakan subsistem dari kebudayaan.

Globalisasi sebagai sebuah gejala tersebarnya nilai-nilai dan budaya tertentu keseluruh dunia (sehingga menjadi budaya dunia atau world culture) telah terlihat semenjak lama. Cikal bakal dari persebaran budaya dunia ini dapat ditelusuri dari perjalanan para penjelajah Eropa Barat ke berbagai tempat di dunia ini.

Globalisasi budaya adalah terdapat upaya menggabungkan suatu kebudayaan kepada kebudayaan lain. Hal ini akan berpengaruh besar bagi kehidupan sebuah masyarakat. Dewasa ini, masyarakat Indonesia dicekoki untuk kemudian menjadikan budaya Barat sebagai kesehariannya hingga kemudian budaya yang baru tersebut melepaskan atau mencopot identitas masyarakat. Untuk menanggulanginya, jelas perlu selektif dalam menerima suatu budaya. Harus dikembalikan pada kepercayaan dan adat yang ada dalam masyarakat Indonesia. Pemahaman tentang globalisasi akan membantu para pemuda dalam beradaptasi di abad 21 ini. Oleh karenanya, pemuda dapat menghargai perbedaan kebudayaan yang ada tanpa harus memaksakan kebudayaan yang satu menekan kebudayaan yang lain serta saling menghormati antar budaya.

Pemahaman terhadap perbedaan kebudayaan ini salah satunya dapat dilakukan dengan mengadakan perjalanan. Dalam melakukan perjalanan, maka akan banyak menemui perbedaan. Perbedaan bahasa, perbedaan geografis, perbedaan adat, dan perbedaan kebiasaan. Perjalanan meningkatkan pemahaman terhadap perbedaan, sehingga kita menjadi lebih terbuka dan tidak menjadi katak dalam tempurung. Dengan saling memahami kebudayaan masing-masing, kita dapat lebih berpikir luas dan dapat menyatukan perbedaan yang ada tanpa merugikan salah satu pihak. Bagi pemuda perlu meluaskan cakrawala pandangan kita agar dapat memahami dan menerima perbedaan secara arif. Disamping keluasan wawasan dan pandangan, yang tidak kalah penting adalah kerendahan hati dalam melihat perbedaan yang ada pada kebudayaan lain. Dengan memahami perbedaan, maka kita dapat mempertahankan kebudayaan yang ada dalam masyarakat Indonesia menjadi kebudayaan yang kokoh, tidak terpengaruh oleh kebudayaan barat pengaruh globalisasi yang tidak sesuai dengan pribadi bangsa Indonesia. Kita pun dapat mampu berinteraksi dengan kebudayaan lain dalam konteks kemanusiaan antar umat manusia.