Berbuat Bersama, Berperan Setara

Pemberdayaan masyarakat merupakan langkah mengikutsertakan partisipasi masyarakat dalam pembangunan nasional dengan melibatkan masyarakat dalam keseluruhan proses, keterampilan analitis dan perencanaan pembangunan yang dimulai dari daerah tempat mereka berkarya. 

Pendekatan kepada masyarakat yang dilakukan untuk menginisiasi program tersebut haruslah menyesuaikan dengan kondisi daerah yang akan diberdayakan. Hal ini mencakup komoditas utama yang ada pada daerah target pemberdayaan serta menggunakan teknologi tepat guna dan ramah lingkungan yang bisa diterapkan. Kesesuaian program dengan kondisi daerah sangat penting untuk menciptakan program pemberdayaan masyarakat yang sesuai dengan kebutuhan dan keunggulan dari masing-masing daerah.

Saat ini, yang terjadi adalah beberapa permasalahan yang terkait dengan kurangnya partisipasi masyarakat dalam program yang akan dijalankannya. Banyak program yang seolah-olah berasal dari “atas” dan masyarakat hanya tinggal melaksanakan. Selain itu, proses penentuan “need assesment” hanya dilakukan berdasarkan survey dengan menggunakan data sekunder tanpa tahu kondisi sebenarnya yang harus dilakukan dengan riset lapang atau wawancara kepada masyarakat sekitar. Hal ini dapat menyebabkan kesenjangan antara peneliti, pemrakarsa dan pelaksana program sehingga program yang harusnya memberdayakan masyarakat dengan mengikutsertakan partisipasinya tidak dapat mencapai tujuan.

Berkaitan dengan penerapan teknologi ramah lingkungan dan tepat guna, sangat penting diperhatikan. Mengingat bahwa banyak penelitian yang telah dilakukan saat ini sangat jauh berbeda dengan kebutuhan masyarakat di lapangan. Sehingga banyak penelitian yang hanya teronggok dalam jurnal yang tergeletak di perpustakaan tanpa dapat menjadi aplikasi yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Dengan begitu sangat penting melihat peluang kebutuhan masyarakat saat ini sebagai suatu sumber dalam penentuan tema penelitian yang akan dilakukan. Pengenalan kondisi tersebut dapat dilakukan dengan cara mengunjungi langsung wilayah yang akan diberdayakan, mencari tahu permasalahan yang sedang dihadapi oleh masyarakat dengan wawancara atau berdiskusi dengan masyarakat setempat. Selain itu juga melibatkan masyarakat dalam keseluruhan proses dari survey awal sampai perencanaan dan pengorganisasian kegiatan program. Selain program itu akan lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat terhadap program lebih tinggi, juga ketrampilan analitis dan perencanaan akan teralihkan ke masyarakat. Dengan demikian, di masa yang akan datang secara bertahap ketergantungan pada pihak luar dapat terkurangi.

Indonesia merupakan negara yang menjadikan pertanian sebagai salah satu aspek pembangunan. Maka, sangat diperlukan inovasi teknologi yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pertanian di Indonesia. Tentu saja dengan inovasi teknologi yang sesuai dengan yang kebutuhan masyarakat di daerah yang akan diberdayakan. Hal ini diharapkan mampu menyelesaikan permasalahan pertanian seperti ketahanan pangan, diversifikasi pangan,  penanganan limbah industri pangan, dan menjadikan Indonesia mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri secara merata di berbagai pelosok nusantara. Oleh karenanya, setelah mengenyam pendidikan di bangku kuliah, serta mengasah analisis dengan melakukan penelitian, alangkah lebih baiknya jika kita bisa berperan serta bersama masyarakat, menerapkan ilmu yang telah kita miliki untuk kesejahteraan masyarakat. Yuk, bersama masyarakat, berbuat bersama dan berperan setara* 🙂

*Judul dikutip buku Parcipatory Rural Appraisal-Studio Driya Media.

Doa Rahasia

Karena kita, suatu saat akan berpisah…

Bolehkah aku mengarahkan sorot lensa ke arah kalian. Agar aku bisa menangkap bayangan itu menjadi sebuah gambar tak bergerak. Utuh tersimpan. Yang denganya aku bisa selalu melihat wajah kalian.

Mmm…
Bila tidak boleh, 
Maka,

Bolehkah aku merekam. Merekam suara kalian. Oh, aku tak hanya akan merekam suara kalian, tetapi juga dengan tawa. Yang dengannya aku bisa selalu bergembira walau hati meringis merindu kalian.

Mmm…
Bila tidak boleh
Maka,

Bolehkan aku menyimpan nama kalian dalam rangkaian memori jangka panjang. Agar aku selalu
Mengingat kalian, mengingatnya sampai nanti, sampai waktu berupaya mendegradasi serangkaian sel otak yang memaksaku untuk menghapusnya.

Mmm… Tidak?!

Baik, mungkin aku tidak akan melakukan semuanya. karena aku menyadari bahwa dengan cara itu, semua bentuk memori tidak bisa ikut terbawa menembus lapisan pembatas ruang, waktu, dan dimensi yang akan membuat kita terpisah.

Tapi, aku masih punya cara terakhir yang akan ku lalukan. Ini rahasia dan kau tidak boleh tahu. Karena bila kau tahu, cara ini tak akan berhasil untuk membuat kita bertemu dan saling menyapa kembali 🙂

“Sesungguhnya do’a seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendo’akan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan do’anya. Tatkala dia mendo’akan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Aamiin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.” -Abu Darda’ mengatakan bahwa dia menukilnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Galang Rambu Anarki

Harga BBM akan Naik!

Entah, saya belum terlalu paham bagaimana perhitungan dan pertimbangan orang-orang yang akan mengurangi subsidi terhadap bahan bakar tempat kita menggantungkan hidup selama ini. Yang terpikir dibenak saya yakni serangkaian kenaikan harga yang serempak bagai orkestra ikut membayang-bayangi.  Harga angkutan umum naik, harga makanan naik, harga pakaian naik, jumlah pengamen naik, jumlah anak jalanan naik, jumlah pengangguran naik dan segala-galanya naik. Semoga kenaikan ini tidak lantas membuat darah kita naik, namun seharusnya bisa membuat semangat berkarya ikut naik. *kencengin iket kepala*

Entah, siapa yang benar dan harus diamini pendapatnya antara yang pro dan kontra akan kenaikan BBM ini. Setuju dikarenakan untuk menghemat anggaran belanja negara. Tidak setuju karena sudah dipastikan akan memberatkan rakyat kecil. Sebelum kita berlanjut mendiskusikan akan dampak dan solusi yang akan kita siapkan untuk menghadang kenaikan BBM tersebut, seketika saya teringat kembali pada sebuah lagu saat melihat sesosok Iwan Fals di televisi. Lagu itu, Galang Rambu Anarki. Seketika pula saya langsung mendekati laptop dan mencari perihal lagu tersebut. Ya, judul itu adalah nama anak sang penyanyi sendiri yang telah meninggal pada tahun 1997 silam. Untuk liriknya kira-kira seperti ini,

Galang rambu anarki anakku
Lahir awal januari menjelang pemilu
Galang rambu anarki dengarlah
Terompet tahun baru menyambutmu

Galang rambu anarki ingatlah
Tangisan pertamamu ditandai bbm
Membumbung tinggi (melambung)

Reff:

Maafkan kedua orangtuamu 
Kalau tak mampu beli susu
Bbm naik tinggi
Susu tak terbeli orang pintar tarik subsidi
Mungkin bayi kurang gizi (anak kami)

Galang rambu anarki anakku
Cepatlah besar matahariku
Menangis yang keras, janganlah ragu
Tinjulah congkaknya dunia buah hatiku

Doa kami di nadimu

 

Terlepas dari pembahasan tentang BBM. Saat mendengar setiap petikan gitar dan alunan liriknya. Miris. Sedih. Haru. Dalam lagu tersebut, syukur, harapan, kekhawatiran, tumpuan, kekecewaan, campur aduk jadi satu. Terlebih melihat kenyataan yang terjadi pada seorang Galang Rambu Anarki. Sebelum harapan orang tuanya menjadi kenyataan, ia pergi dengan begitu cepatnya.

Kemudian saat kita sampai pada bait,

Cepatlah besar matahariku
Menangis yang keras, janganlah ragu
Tinjulah congkaknya dunia buah hatiku

Doa kami di nadimu”

Semua orang tua, tak hanya iwan Fals, menggantungkan harapannya pada kita. Kita matahari mereka. Mereka mengizinkan kita menangis dengan keras. Mereka meminta kita meneggakkan keadilan. Dan mulianya, doa mereka mengalir di nadi kita…

Sebesar apapun BBM akan naik nantinya, tak akan pernah mengubah dan mengurangi kasih sayang orang tua ke kita. Sama halnya, sebesar apapun BBM akan naik nantinya, tak akan pernah mengahalangi kita untuk selalu berupaya terbaik untuk ber-birrul walidain kepada mereka. J

 

*Yuk, menjadi Galang Rambu Anarki dalam arti sebenarnya, amar ma’ruf nahi munkar…

** Nama anak Galang Rambu Anarki itu keren banget. Tapi nanti nama anak saya pasti lebih keren.. hihi :p

 

Cilegon, 10 Maret 2012

Hastag #BioCommunity

Pergi dan temuilah masyarakatmu,
Hiduplah dan tinggalah bersama mereka,
Cintai dan berkaryalah bersama mereka,
Mulailah dari apa yang telah mereka miliki,
Buat rencana lalu…
Bangunlah rencana itu dari apa yang mereka ketahui,
Sampai akhirnya…
Ketika pekerjaan itu selesai
Mereka berkata :
 
“Kamilah yang telah mengerjakannya”
 
(Syair puisi dari pujangga China : Lau Tze)
 
Karena tugas kita untuk mengambil ilmu dari langit dan menebarkarnya ke bumi 🙂

Hastag #biowisata

Wisata, Jalan-Jalan, Rihlah, Travelling, Vacation, Pelesir, Tamasya, Bacpakcer… Dan berbagai sinonim lainnya. Selalu membuat mata tebelalak, nafas tercekat, dan mulut terperangap (mangap-mangap hiihi)*. 
*ekspresi antusias ceritanya.

Siapa yang tidak mau melakukan semua kegiatan itu. Menemukan hal baru, melihat yang tak biasa, dan membawa pulang sesuatu yang berbeda.

Idelalnya, perlu segenap jiwa dan raga ikut serta untuk menikmati deretan kata tersebut. Yang pada akhirnya akan membuat kita semakin tunduk dan bersyukur atas keindahan dan kebermanfaatan yang telah Allah ciptakan. Subhanallah…

Tapi, tentu tak semua yang kita inginkan bisa terpenuhi. Maka kiranya, raga biarkan tertinggal disini. Biar jiwa yang terbang melayang tanpa hambatan ke tempat-tempat yang kita inginkan, kita impikan.

Karena saat raga tak mampu berbuat, diri tak bisa merasa, tangan tak bisa menyentuh, dan kaki tak bisa berpijak. Kita masih punya mata yang mampu memandang seluas cakrawala dan telinga yang mampu mendengar cerita cendikia. Dengan mata itu, diri yang ada di sini mampu melihat keindahan yang ada di sana. Dengan telinga itu, diri yang menjaga gawang mampu mendengar keistimewaan yang ada di seberang.

Biarkan lihat dan dengar itu berpadu menjadi jiwa yang melanglang buwana. Karena terkadang raga harus merelakan jiwanya berkelana, berpisah untuk sementara. Hingga pada akhirnya, kembali lagi, menyatu dan semakin kaya.

Kita melihat dan mendengar lewat tutur dan laku dari saudara kita. Yang dengan jiwa raga mereka, mampu menyentuh, memijak, dan merasa. Yuk belajar dari mereka! ;D

Henshin!

Berkompetisi dan berprestasi bukanlah untuk mencapai suatu kebanggaan, tapi untuk memenuhi fitrah kita untuk selalu bersabar, bersyukur, bergerak, berkarya, lebih baik dari sebelumnya, berlomba dalam menebar kebaikan, dan berusaha terus memperbaiki diri dalam pandanganNya…

Sooo, ayo mulai lagi berkompetisi dan berprestasi… mulai menggeliat lagi, kemudian merangkak, berjalan, teruss berlariiii… kalau terasa lelah yaaa berhenti, setelah istirahat dirasa cukup, menggeliat lagi, merangkak lagi, berjalan lagi, berlari….. yuhuu itulah siklus kita…

yuk semangat!

*postingan geje pasca hibernasi… wkwkw

Cilegon, 26 Januari 2012

Melody of Biochemistry 1

21 Juni 2011. Hari ini mungkin bukan hari paling bersejarah buat saya, namun, untuk teman saya, teman satu jurusan, teman satu keahlian, teman satu pemimbing penelitian, dan teman satu laboratorium, hari ini akan menjadi salah satu hari yang paling diingatnya. Dia, Endah Ratna Puri, mahasiswa Biokimia 2007 pertama yang telah tersemat gelar Sarjana Sains di belakang namanya.

Sidang komprehensif sudah dilewati. Saya yang mendengar ceritanya saja sudah merasa tegang, apalagi apabila tiba saatnya saya yang di uji. Saya pun menjerit dalam hati (belum siaaaaaapppp!!! ><, lebay mode:on) 

Menguasai penelitian, menguasai biokimia dari bidang bioanalisis, biomolekular, dan metabolisme menjadi suatu syarat yang wajib hukumnya untuk para calon sarjana sains biokimia. Saat Endah bercerita tentang soal-soal yang diujikan, whew, saya lebih mati gaya lagi, saya membayangkan kalau saya yang diuji saat itu juga, saya tidak tahu akan menjawab apa. Seketika, ilmu yang pernah saya pelajari 3 tahun belakangan ini lenyap menghilang, mendadak amnesia. *fewh

Lantas, kejadian itu membuat saya berpikir, apa yang saya lakukan selama ini ya? Hiks, selama tiga tahun lebih mempelajari berbagai struktur, reaksi, siklus, kelainan metabolisme, rekayasa genetika, dan sebagainya. Namun, saat ini, Saya merasa belum cukup siap untuk dianggap sebagai sarjana sains biokimia. Dianggap sebagai orang yang dijadikan tempat rujukan untuk bertanya, dimintai pendapat, dan memberikan penjelasan terkait dengan biokimia. 

Kelihatannya kok ribet banget ya mesti berpikir sampai seperti itu. Entahlah, tapi yang pasti saya hanya ingin menghayati dan mencintai apa yang saya jalani sampai saat ini, sebuah ilmu yang saya pilih sendiri, sebuah tanggung jawab dan amanah yang saya berjanji untuk menjalani dengan sepenuh hati 🙂

Oleh karenanya, saya mencoba mengingat setiap ketukan hati saat pertama kali mencoba menetapkan pilihan, mengingat senandung riang saat pilihan tersebut menjadi kenyataan, dan mengingat setiap alunan perjuangan untuk menggapai masa depan. Sehingga merangkainya menjadi sebuah melodi kehidupan.

This is it…
Melody of Biochemistry…
Karena melodi biokimia menjadikan hidup lebih bermakna.

😉

Bogor, 21 Juni 2011