Hastag #biowisata

Wisata, Jalan-Jalan, Rihlah, Travelling, Vacation, Pelesir, Tamasya, Bacpakcer… Dan berbagai sinonim lainnya. Selalu membuat mata tebelalak, nafas tercekat, dan mulut terperangap (mangap-mangap hiihi)*. 
*ekspresi antusias ceritanya.

Siapa yang tidak mau melakukan semua kegiatan itu. Menemukan hal baru, melihat yang tak biasa, dan membawa pulang sesuatu yang berbeda.

Idelalnya, perlu segenap jiwa dan raga ikut serta untuk menikmati deretan kata tersebut. Yang pada akhirnya akan membuat kita semakin tunduk dan bersyukur atas keindahan dan kebermanfaatan yang telah Allah ciptakan. Subhanallah…

Tapi, tentu tak semua yang kita inginkan bisa terpenuhi. Maka kiranya, raga biarkan tertinggal disini. Biar jiwa yang terbang melayang tanpa hambatan ke tempat-tempat yang kita inginkan, kita impikan.

Karena saat raga tak mampu berbuat, diri tak bisa merasa, tangan tak bisa menyentuh, dan kaki tak bisa berpijak. Kita masih punya mata yang mampu memandang seluas cakrawala dan telinga yang mampu mendengar cerita cendikia. Dengan mata itu, diri yang ada di sini mampu melihat keindahan yang ada di sana. Dengan telinga itu, diri yang menjaga gawang mampu mendengar keistimewaan yang ada di seberang.

Biarkan lihat dan dengar itu berpadu menjadi jiwa yang melanglang buwana. Karena terkadang raga harus merelakan jiwanya berkelana, berpisah untuk sementara. Hingga pada akhirnya, kembali lagi, menyatu dan semakin kaya.

Kita melihat dan mendengar lewat tutur dan laku dari saudara kita. Yang dengan jiwa raga mereka, mampu menyentuh, memijak, dan merasa. Yuk belajar dari mereka! ;D

Henshin!

Berkompetisi dan berprestasi bukanlah untuk mencapai suatu kebanggaan, tapi untuk memenuhi fitrah kita untuk selalu bersabar, bersyukur, bergerak, berkarya, lebih baik dari sebelumnya, berlomba dalam menebar kebaikan, dan berusaha terus memperbaiki diri dalam pandanganNya…

Sooo, ayo mulai lagi berkompetisi dan berprestasi… mulai menggeliat lagi, kemudian merangkak, berjalan, teruss berlariiii… kalau terasa lelah yaaa berhenti, setelah istirahat dirasa cukup, menggeliat lagi, merangkak lagi, berjalan lagi, berlari….. yuhuu itulah siklus kita…

yuk semangat!

*postingan geje pasca hibernasi… wkwkw

Cilegon, 26 Januari 2012

Melody of Biochemistry 1

21 Juni 2011. Hari ini mungkin bukan hari paling bersejarah buat saya, namun, untuk teman saya, teman satu jurusan, teman satu keahlian, teman satu pemimbing penelitian, dan teman satu laboratorium, hari ini akan menjadi salah satu hari yang paling diingatnya. Dia, Endah Ratna Puri, mahasiswa Biokimia 2007 pertama yang telah tersemat gelar Sarjana Sains di belakang namanya.

Sidang komprehensif sudah dilewati. Saya yang mendengar ceritanya saja sudah merasa tegang, apalagi apabila tiba saatnya saya yang di uji. Saya pun menjerit dalam hati (belum siaaaaaapppp!!! ><, lebay mode:on) 

Menguasai penelitian, menguasai biokimia dari bidang bioanalisis, biomolekular, dan metabolisme menjadi suatu syarat yang wajib hukumnya untuk para calon sarjana sains biokimia. Saat Endah bercerita tentang soal-soal yang diujikan, whew, saya lebih mati gaya lagi, saya membayangkan kalau saya yang diuji saat itu juga, saya tidak tahu akan menjawab apa. Seketika, ilmu yang pernah saya pelajari 3 tahun belakangan ini lenyap menghilang, mendadak amnesia. *fewh

Lantas, kejadian itu membuat saya berpikir, apa yang saya lakukan selama ini ya? Hiks, selama tiga tahun lebih mempelajari berbagai struktur, reaksi, siklus, kelainan metabolisme, rekayasa genetika, dan sebagainya. Namun, saat ini, Saya merasa belum cukup siap untuk dianggap sebagai sarjana sains biokimia. Dianggap sebagai orang yang dijadikan tempat rujukan untuk bertanya, dimintai pendapat, dan memberikan penjelasan terkait dengan biokimia. 

Kelihatannya kok ribet banget ya mesti berpikir sampai seperti itu. Entahlah, tapi yang pasti saya hanya ingin menghayati dan mencintai apa yang saya jalani sampai saat ini, sebuah ilmu yang saya pilih sendiri, sebuah tanggung jawab dan amanah yang saya berjanji untuk menjalani dengan sepenuh hati 🙂

Oleh karenanya, saya mencoba mengingat setiap ketukan hati saat pertama kali mencoba menetapkan pilihan, mengingat senandung riang saat pilihan tersebut menjadi kenyataan, dan mengingat setiap alunan perjuangan untuk menggapai masa depan. Sehingga merangkainya menjadi sebuah melodi kehidupan.

This is it…
Melody of Biochemistry…
Karena melodi biokimia menjadikan hidup lebih bermakna.

😉

Bogor, 21 Juni 2011

Awaken #SerenadaJejakdanMimpi 9

Blacksburg, 23 Mei 2011

Tibalah sudah waktunya untuk mengakhiri mimpi panjang selama 2 bulan atau selama 8 minggu atau selama 56 hari. Semenjak hari selasa 2 minggu lalu, saya menghirup lagi udara yang pernah saya rasakan semenjak saya memulai cerita kehidupan saya, udara Indonesia.

Dalam mimpi panjang itu, saya menginjakkan kaki di suatu negara yang katanya negara maju, negara dunia pertama, negara adidaya. Perjalanan yang sangat mengesankan penuh makna, perjuangan, dan tantangan. Bagaimana tidak untuk mendapatkan tiket masuknya saja, yakni visa, saya dan teman-teman rela mengikuti serangkaian proses wawancara penuh antrian yang dimulai dari sehabis subuh sekitar jam 5-an. Pun setelahnya kami bergalau ria menunggu hasil wawancara yang menentukan visa kami jadi atau tidak. Alhamdulillah, visa sudah ditangan dan kami bisa beranjak ke persiapan berikutnya.

Menghadapi suasana dan keadaan baru disana, membuat kami berupaya melakukan persiapan seheboh mungkin. Dari mulai mencari tentang kebiasaan hidup seperti bahasa, bahasa slang, makanan, pergaulan, kebersihan dan sebagainya. Internet, Buku, dan Para Veteran atau alumni yang pernah menginjakkan kaki di tanah itu menjadi incaran kami untuk bertanya. Sampai akhirnya hari itu tiba. Jreeng. Kami injak tanah itu, kami perhatikan sekelilingnya, dan kami dapatkan hikmahnya. Vini, Vidi, Vici lah bahasa kerennya 🙂 Begitu selama 2 bulan.

Keterpanaan kami terhadap negara itu bertambah setiap harinya. Semakin terkesima dengan apa yang disebut kedisiplinan, kebebasan, keramahan, kerajinan, dan kepedulian versi mereka.

Disiplin. Cerdas dalam mengatur waktu. menghargai waktu. dan memanfaatkan waktu. Dilihat dari konsistensi mereka terhadap jadwal yang ada. Waktu luang yang digunakan untuk membaca dan hal bermanfaat lainnya.

Bebas. Yang maknanya bisa buruk dan baik. Baik disini bermakna, kita bisa melakukan hal kebaikan dengan cara apapun tak ada yang melarang, ingin berpakaian dengan model apapun tak ada yang komentar. Sampai ingin berjilbab dan memakai caar pun diperbolehkan. dan begitupun sebaliknya (namun yang buruk tak perlulah ditiru).

Ramah. Bertemu mengucap salam. Berpisah apalagi. How are you, How are you doing, Have a nice day, Have a good day, Have a good afternoon, Have a nice weekend, Have a nice dream. Dari bangun sampai tidur lagi, tak habis ucapan salam dan keramahan berkumandang.

Rajin. Pekerja keras, Kreatif, dan Inovatif. Tidak suka berbasa-basi, to the point. Membuat mereka terus melaju pesat dan cepat. Rasa ingin tahu yang tinggi, persiapan yang matang sebelum memulai kelas, membuat kami sedikit terbalap dengan laju belajar yang cepat, tepat , dan akurat.

Peduli. Empati dan Simpati. Hampir setiap hari ada gerakan donor sana-sini. Volunter itu-ini. Charity kesana-kemari. Rasa tenggang rasa dan toleransi yang sangat tinggi.

Hap! itulah lima rumus yang saya dapatkan dari sana. Kurang sebenarnya. Namun, mengaplikasikan yang lima itupun butuh perjuangan yang tak mudah adanya.

Belum selesai. Selain keterpanaan. Ada juga kegalauan kami saat disana. Culture Shocknama bekennya.Berbagai macam perbedaan kami temukan. Perbedaan prinsip, kebiasaan, kepercayaan dan sebagainya tak urung menghatui kami yang lugu dan tak berdaya ;]. Dari mulai pergaulan bebas, yang tekadang membuat kami geleng-geleng dan berdecak heran, sambil beristigfar dalam hati semoga tidak terseret kedalamnya. Kemudian makanan halal yang sedikit banyak membuat kami berpikir keras sebelum menyantapnya, yang membuat kami menjadi selalu waspada dan tak lupa berdoa 🙂 supaya kalaupun ada partikel atau atom yang berasal dari salah satu binatang yang diharamkan tak sengaja masuk ke tubuh kami, efeknya tak sampai mengubah akhlak kami menjadi sepertinya. Lalu Prinsip, yang bersangkut paut dengan toleransi antar umat beragama, yang sangat terlalu toleransi, sampai hampir memasuki ruang lingkup akidah. Juga isu terorisme maupun teori konspirasi. Wallahu’alam. Membuat kami mesti harus belajar banyak lagi untuk menjadi minoritas dan tidak terpengaruh oleh perang pemikiran atau Ghawzul Fikr. Dan menyangkut tentang teori konspirasi yang akan tetap ada sampai akhir dunia nanti, menjadikannya sebagai tantangan untuk berlomba-lomba menciptakan tatanan dunia baru (bukan versi ‘mereka’) namun versi Sunatullah-sebagai mana seharusnya. Empire atau peradaban sebagaimana mestinya.

huwah! itulah kurang lebih kegalauan saya selama disana. Semoga kegalauan ini menjadi pemicu untuk terus belajar dan belajar. Yang menyadarkan bahwa dimanapun kita berada selalu ada baik dan buruknya, sedih dan senangnya, fluktuasi perasaan, begitu saya menyebutnya. Syukur dan sabar dalam waktu bersamaan.

Dan kami yang memang ditakdirkan untuk lahir disini, mempunyai keharusan untuk membersamai negeri ini memperbaiki diri menjadi lebih baik dari hari ke hari. Memulai perbaikan dari diri sendiri, keluarga, masyarakat, negara, dan akhirnya merambah tingkat dunia. Bagaimana pun wajah negeri kami hari ini, harus ada opitimis yang mampu mengubah rautnya suatu saat nanti. Seberapa banyak pun masalah bangsa ini, selalu ada penyelesaian yang membuat semakin bertambah dewasa di suatu masa.

Karena Bangkit adalah terjaga dari mimpi besar untuk mengubah wajah Indonesia menjadi lebih CERIA (Cerdas, ber-Etika, Ramah, Inovatif, dan ber-Akhlak).

Selamat Terjaga ^^

*saat suatu saat kami diberi kesempatan untuk menginjakkan tanah itu lagi. kami akan siap dengan berbagai tatangan, rintangan, dan kegalauan yang ada. InsyaAllah. Vini, vidi, vici… Great Empire Wanna be. 🙂

Metamorfojahiliyah #SerenadaJejakdanMimpi 8

Ialah Jahiliyah yang ingin di ubah oleh Rasulullah di masa itu. Namun adakah tuntas sudah si jahil diberantas. Tentu selama masih ada penggoda ulung musuh terbesar manusia. Si Jahil tak akan pernah padam.

Melihat dari dekat negara ini. Teratur. Namun, apa yang ada dibalik keteraturan yang rapih itu? Si Jahil menggeliat dengan mempesona. Negara Madani yang hanya mementingkan sisi duniawi. Tanpa mempedulikan apa yang terjadi setelah mati.

Tak ada kebodohan, ketertinggalan, dan ketidaktahuan di negara ini. Semua serba canggih, modern, dan tak tertandingi. Namun itulah bentuk metamorfosannya. Betapa mereka yakin bahwa demokrasi, liberalisme dan kesetaraan gender adalah nilai final universal dari semua agama. Mereka berdalih ingin melakukan perbaikan dengan semangat pluralisme, menggabungkan energi keshalihan dan kemaksiatan dalam negara sekuler, kesamaan hakekat agama dan anti-kaffah. Tapi mereka merusak pemahaman umat tentang ‘aqidah dan ibadah, bahkan menakut-nakuti orang dengan kata ‘Syariat Islam’ yang sebenarnya indah dan mulia. 

Patung Liberty yang tidak di seimbangi dengan patung Responsibility menjadikan negara ini memberikan kebebasan sebebas-bebasnya sampai bablas. Yang akan terus mempengaruhi manusia lain untuk mengikuti jejak kebebasan ini. 

Lalu apa yang mesti kita lakukan? Berpegang teguh terhadap apa yang kita yakini sebagai seorang muslim. Mungkin sedikit banyak kita akan menyalahkan apa yang barat perlakukan terhadap kita. Namun, bagai keniscayaan mereka akan tetap seperti itu. Menarik pemahaman kita sebagai seorang muslim seolah asing dengan keyakinannya. Banyak mempertanyakan hal-hal yang sebenarnya itu adalah kebaikan untuk kita.

Sejenak melihat jauh kedalam hati, fokus dengan apa yang kita jalani, adakah kita terlalu tinggi hati atau tak mengerti tentang apa yang telah kita kerjakan selama ini? Dan cukupkah bekal yang untuk masa setelah dunia nanti? 

Perbaiki diri, kembali kepada Sang Rabbul Izzati, membuka lagi lembaran pedoman hakiki,

“… Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan…” (Al-Hujurat: 7)

Teringat syair indah yang dibawakan oleh Bang Zein, yang membuat diri menjadi terbangun dari lelap yang lalai…

We were given so many prizes
We changed the desert into oasis
We built buildings of different lengths and sizes
And we felt so very satisfied
We bought and bought
We couldn’t stop buying
We gave charity to the poor ’cause
We couldn’t stand their crying
We thought we paid our dues
But in fact
To ourselves we’re just lying

Oh
I’m walking with my head lowered in shame from my place
I’m walking with my head lowered from my race
Yes it’s easy to blame everything on the west
When in fact all focus should be on ourselves

We were told what to buy and we’d bought
We went to London, Paris and
We made show we were seen in the most exlusive shops
Yes we felt so very satisfied
We felt our money gave us infinite power
We forgot to teach our children about history and honor

We didn’t have any time to lose
When we were.. (were)
So busy feeling so satisfied
I’m walking with my head lowered in shame from my place
I’m walking with my head lowered from my race
Yes it’s easy to blame everything on the west
When in fact all focus should be on ourselves

We became the visuals without a soul
despite the heat Our homes felt so empty and cold
To fill the emptiness
We bought and bought
Maybe all the fancy cars
And bling will make us feel satisfied

My dear brother and sister
It’s time to change inside
Open your eyes
Don’t throw away what’s right aside
Before the day comes
When there’s nowhere to run and hide
Now ask yourself ’cause Allah’s watching you

Is He satisfied?
Is Allah satisfied?
Is Allah satisfied?
Is Allah satisfied?

Oh
I’m walking with my head lowered in shame from my place
I’m walking with my head lowered from my race
Yes it’s easy to blame everything on the west
When in fact all focus should be on ourselves

-Awaken by Maher Zein-

Ya, bagaimanapun juga, kita berhak mengambil hikmah dimanapun kita berada, pun di negara adidaya dengan segala kedigdayaannya ini,,, 

Ayo bangun! Awakening! 🙂

Blacksburg, 1 Mei 2011

Make Paper Will Travel #SerenadaJejakdanMimpi 7

Blacksburg, 17 April 2011

Sekelumit penggalan kalimat yang didapat darii sebuah Forum kepemudaan*  pada Mei tahun lalu. Menarik penuh perhatian saya karena ada kalimat “Paper” dan “Travel”. Topik yang dibawakan dengan  menggugah oleh seorang yang luar biasa** membuat saya tak ingin melewatkan dengan hanya berkedip saja. Ia mengajak kami para peserta forum untuk ikut dalam perjalanannya mengelilingi dunia dengan lembaran paper yang ia buat. Ya, paper -atau makalah atau karya tulis atau berbagai macam nama lain dari benda yang terdiri dari lembaran bebobot dan berisi- yang membuat dia bisa menjelajah berbagai benua. Terpikirkan, ternyata apa yang ia dapat tak semudah yang dibanyangkan, prosesnya berawal bertahun-tahun dibelakang. Tak sekejap mata. Tak secepat gelombang cahaya. Saya akhirnya menjadi salah satu dari sekian banyak peserta yang tergugah untuk mengikuti jejaknya. Dari forum itu saya bertekad lebih gencar untuk memacu semangat menjadikan paper sebagai tiket travel.

Disebuah SMA di Kota Cilegon,

“Eh ikutan LKIR yuk”

“Apa itu? tanya saya lugu.

“ihh, masa gak tau sih, gak gaul banget riskaa…”

“…”

“itu singkatan dari Lomba Karya Ilmiah Remaja”

“beda sama cerpen ya?” tanya saya lebih lugu lagi.

“ya bedalah,,, ah riska gimana nih, mau ikutan buat gak”

“boleh,,, boleh,, bolehh” saya mengiyakan tanpa tahu bagaimana caranya.

“kita mulai nulis besok yaa”

aku mengangguk cepat dengan semangat.

Keesokan harinya, Dua hari kemudian, Seminggu kemudian, sampai Hari penutupan lomba, kami pun belum memulainya. karena disibukkan dengan persiapan Ujian Semesteran. Itulah perkenalan pertama saya dengan dunia per-Paper-an. Mendengar pengumuman dan Semangat.

Setahun kemudian…

Di Sebuah Kampus Hijau yang penuh dengan pepohonan karet, Bogor.

“Kamu mau ikut UKM apa ris??”

“ini…” saya menunjuk pada selembaran pamflet bertuliskan FORCES*** dengan huruf besar-besar.

“wwihh… ini kan yang buat nulis-nulis itu, emang kamu bisa?”

“pengen bisa….”

“susah loh seleksinyaa… ratusan orang…”

“hmmm…. gitu yaa”

“emang kamu udah pernah ikut lomba karya tulis??”

“belum”

“waah tambah susah tuh… disanakan tempat orang2 yang pinter karya tulis… yang berprestasi… keren sih tapi saya takut gak lolos…hehe. ya udah… saya mau kuliah dulu yahh… dahh”

Saya melambaikan tangan tanda berpisah dan tangan satunya lagi masih menggenggam kertas yang bertuliskan FORCES.

Berhari kemudian. Saya berhasil mengumpulkan Persyaratan Open Recruitment UKM itu dengan berpeluh-peluh, menjadi peserta paling akhir yang hampir terlambat mengumpulkan paper. Dikarenakan, terlambat menemukan ide. Warnet kampus yang selalu penuh. Mengerjakan di waktu-waktu terakhir tanggal pengumpulan. Flashdisk yang terkena virus. Membuat ulang. Setelah di cetak salah format. Dan Membuat ulang lagi. Pengalaman paper pertama yang menjadikan saya hanya berharap artikel saya selesai dan sampai di tangan panitia. Sudah cukup buat saya. Mendengar pengumuman, semangat, dan membuatnya sampai selesai.

Saya dinyatakan lolos bergabung dengan UKM itu. Perjuangan panjang selama 3 tahun pun dimulai. Mulai dari semangat belajar menulis yang barapi, membara, dan membakar. Kemudian surut bagai ombak selepas pasang. Seketika muncul lagi kepermukaan. Terkadang tersesok, tersandung, jatuh dan terluka. Sesaat tersusul oleh teman seperjuangan yang sampai di garis prestasi lebih cepat. Tersempat kehilangan kepercayaan diri. Namun akhirnya mampu bangkit lagi.

Entah berapa harga yang telah saya pertaruhkan, pengorbanan yang telah saya perjuangkan, airmata sedih dan bahagia yang saya keluarkan, yang mungkin tidak seberapa dengan mereka yang terlebih dulu memeluk mimpi mereka. Saya yang saat itu rindu ingin memeluk mimpi, masih bertahan di pertengahan perjalanan yang panjang. Yang penuh kerikil itu. Susah mencari ide tulisan, Sulit mulai menuangkan ide dalam bentuk tulisan, Tunda menulisnya sampai selelai, Beda paham dikusi dengan dosen, Pecah kompak dengan teman sekelompok. dan banyak lagi. Sampai akhirnya, perjalanan pertama saya dengan tiket paper, mengantarkan pada pulau Bali pada tahun 2008. Mendengar pengumuman, semangat, membuatnya sampai selesai, Lolos seleksi.

Tahun berganti. Berhenti sampai disini. tidak tentunya. Masih belum cukup ilmu, saya meneruskan tahun kedua.perjalanan panjang itu saya susur kembali dengan kerikil yang sama pastinya. namun, kali ini saya tidak mudah terseok, tersandung, dan jatuh. karena sedikit paham akan kerikil dan lubang di jalan. dan tak cukup belajar untuk diri sendiri, saya pun berkewajiban membimbing yang lain denga sedikit ilmu yang saya punya. kemudian, Sampailah saya pada Kesempatan Perjalanan kedua, Malang ditahun 2009. Mendengar pengumuman, semangat, membuatnya sampai selesai, Lolos seleksi, Presentasi, dan Kalah.

Tahun berganti kembali. 2010. memasuki tahun ketiga di organisasi ini. tak hanya permasalahan karya tulis dan prestasi, sepenggal kata bernama kontribusi pun sempat memenuhi pikran kami. pelik. tapi itu yang membuat kami bertahan sampai saat ini. Paper berikutnya ditahun ini tak membawa saya melenggang ke kota lain. Cukup di Bogor. Namun ada hasil berbeda diakhir. dengan perjuangan dan tingkat kedepresian yang kurang lebih sama dengan paper-paper yang lain. kami menemukan kata itu. Mendengar pengumuman, semangat, membuatnya sampai selesai, Lolos seleksi, Presentasi, dan…. Juara. Setelah tiga tahun perjuangan aku pun memeluk kata itu. Terpuaskan? gelar itu tak membuat saya berhenti belajar. Proses perjuangan pun saya mulai kembali. 

Terus begitu. Berulang dan berulang. Pada kesempatan kesekian kalinya. Paper yang entah keberapa mengantarkan saya dan teman lainnya menembus awan Indonesia di akhir tahun 2010. Menyapa guguran daun menjingga di negeri seberang sana. Jepang. Sebelum akhirnya bisa berangkat, selalu dalam prosesnya, penuh dengan kelelahan yang tak henti mengikuti, perasaan gundah ingin berhenti, dan air mata tak tertahankan membanjiri. Dan benar saja kan pribahasa berakit-rakit ke  hulu berenang ke tepian. Kami akhirnya terbang dan bertemu dengan para ilmuan dan saitis dari berbagai negara. Melihat bagai mana proses  dan hasil mereka. Saya merasa kecil ditengahnya. Merasa tidak ada apa-apanya. Dengan begitu tertekad untuk menimba ilmu lebih banyak lagi. lagi. dan lagi. Belajar terus menerus. terus. dan terus.

Hingga pada awal tahun 2011 ini. Saya kumpulkan semua perjuangan bertahun-tahun itu. Saya ubah menjadi tiket pergi ke tempat yang lebih jauh. Amerika. Pencapaian yang merupakan akumulasi dari perjalanan yang penuh makna. Fluktuasi perasaan yang kadang reda kadang bergejolak. Jatuh dan bangun dengan bergantian. Sabar dan syukur dalam waktu bersamaan.

Tak hanya saya, mereka, yang tiba bersama saya di negara ini. Memiliki perjalanan dan perjuangan tersendiri untuk sampai kesini, yang mungkin lebih luar biasa daripada saya, dengan tiket yang mungkin berbeda juga. Itulah pelangi, indah karena berbeda.

Sampai disini, apakah kami akan berhenti…

Setinggi-tingginya mimpi adalah syurga. Sebaik-baik proses adalah mendapat Ridha-Nya.

Mimpi ke Syurga, kami rindu yang demikian itu. Yang membuat kami tak kan pernah berhenti untuk mengejar dan memeluk mimpi….

🙂

*FIM=Forum Indonesia Muda

** Shofwan Al-Banna

***FORCES: Forum For Scientifict Studies.

Imersi #SerenadaJejakdanMimpi 6

Blacksburg, 5 April 2011

Hampir memasuki ruangan berukuran sekitar 4×4 meter. Wajah-wajah asing itu saling beradu pandang dengan mata saya yang sedang menyapu seluruh sudut ruang yang saya sebut dengan kelas. Sekulum senyum berlesung saya hadiahkan untuk mereka. Bahagia, mereka pun membalas dengan senyuman lebih manis dari saya. Tak mau kalah, senyum yang saya umbar semakin cerah. Setelah dipersilakan oleh Seorang Amerika nan ramah yang belakangan ini saya penggil dengan sebutan Profesor Moore, Saya pun berlenggang dengan ceria ke tempat duduk kosong yang diperuntukkan untuk saya. Sambil sesekali menyapa beberapa diantara mereka.

Kelas pertama pun dimulai.  Di pimpin oleh Professor Moore. Seorang lembut dan ramah. Sang pemilik suara halus, yang gemar sekali mengucapkan “Thank You”. Kelas Speaking, Listening, dan Grammar.  Sebelum dimulainya kelas, Ia mempersilakan kami, warga kelasnnya yang berasal dari Indonesia untuk memperkenalkan diri. Berurutan, Uswah, Shely, Ansar, Elena, Saya, dan Sony.  Ini hari pertama bagi kami memulai proses belajar singkat namun padat makna selama dua bulan di tempat ini. Language and Culture Institute Virginia Tech.

Dari warna kulit, raut wajah dan warna mata. Saya bisa menebak dari manakah mereka berasal. Korea, Saudi Arabia dan Kuwait, China, serta Chili. Begitu beragamnya nasionalisme kelas ini. Berharap bisa sedikit mengenal bahasa mereka disamping bahasa Inggris tentunya. Berbeda dengan kami. Mereka masuk kelas ini karena harus mengikuti kelas bahasa sebelum mereka mengikuti perkuliahan di Virginia. Bisa dikata, mereka adalah calon-calon mahasiswa VT. Bayangkan, kalau jadi mereka kami yang dari Indonesia tentu senang bukan? Sudah ke Amerika, dapat beasiswa, uang bulanan terjamin, sudah pasti masuk VT pula. Namun, apa dikata, ternyata ada sebagian dari calon mahasiswa itu terpaksa untuk menjalaninya. Tidak seperti kami yang sangat menikmati, setiap hari berasa rekreasi.

Kelas kedua, Reading dan Writing. Orang indonesia yang ada dikelas ini hanya saya dan ansar. Terpisah dengan teman-teman lain yang ada di kelas berbeda. Berbeda dengan kelas pertama, saat memasuki kelas kami hanya melihat beberapa anak saja tanpa Profesor didalamnya. Setelah semua anak masuk. Tiba-tiba munculah seorang tambun berwajah jenaka. Dialah Prof. Jonson yang sangat ingin sekali dipanggil Prof. J. Ekspresif, energik, dan dinamis. Menghabiskan beberapa tahun di jepang, istri seorang korea, ayah-ibu blasteran irlandia dan prancis. Menguasai sejarah dan antropologi. Saya yakin dia punya kecerdasan dan kepekaan sosial yang luar biasa yang membuat kami nyaman berdiskusi bersamanya.

Hari demi hari berlalu. Tiga minggu sudah kami habiskan bersama mereka. Terlihatlah sedikit watak-watak teman-teman antar negara. Sesekali, persaingan tingkat internasional berlaku disini. Saat berlaga, tak lagi membawa nama sendiri atau keluarga, tetapi mencerminkan juga kehormatan bangsa. Walau tidak mutlak bisa digeneralisasi namun sedikit banyak terlihat kebudayaan dari kebiasaan mereka sehari-hari. Si arab raja minyak yang makmur sejahtera. Si China dengan ketekunan yang luar biasa. Si Korea yang stylish dan selalu bergaya. Si Chili yang melankolis ala spanyola. Seperti yang saya bilang tadi, tentang para calon mahasiswa VT ini, terkadang saya merasakan hawa tak sedap menerpa. Virus keluhan yang kian menyergap siapa saja. Menurut saya tak selayaknya mereka mengeluh akan semua kemudahan yang didapat. Profesor yang keren dan penuh semangat. Fasilitas yang canggih plus terawat. Serta pelayanan yang cukup bermartabat. Tak cukup untuk membuat mereka puas. Ya, darimana pun itu, selama masih berstatus manusia, yang namanya keluhan tak dapat dielak. Tergantung pada pribadi yang ingin menerima kebahagiaan itu atau tidak. Dan kami, para Indonesian, lebih memilih si bahagia agar menang telak.  ^^

Tentang perkara membawa nama Indonesia, bukan suatu hal yang mudah, ini cukup sulit, tetapi mungkin adanya. Seakan nama baik bangsa ini terletak di pundak kami semua. Para penjelajah dari pribumi di tanah amerika.

 

Terekam dalam ingatan saat melukan performa di Perhelatan International Street Fair sabtu kemarin. Sungguh membuat kami hampir kecewa dan tak yakin. Namun, sambutan dari mereka setidaknya menyadarkan bahwa Indonesia tidaklah miskin. Ia sebenarnya kaya raya dengan sumberdaya. Beragam adat dan budaya. Tetapi masih malu-malu untuk menunjukkan kegarangan bak harimau sumatera. Oleh karenanya, mari bangunkan ia dari tidurnya, ayo bekerja untuk Indonesia!

 

Masih terngiang bait dari lagu yang kami nyanyikan saat itu,

“Walaupun banyak negeri kujalani. Yang masyur permai dikata orang. Tetapi kampung dan rumahku. Disanalah ku rasa senang. Tanah ku tak kulupakan. Engkau kubanggakan” 🙂