Sindroma Abroadisia

Posted on Updated on

alias…

campur aduk!!

 
itulah macam rasa yang selalu datang apabila akan menemukan hal yang baru.
dan hal baru itu akan aku temukan esok hari! ya esok hari dalam perjalanan panjang ke belahan bumi seberang sana, melewati batas benua dan samudra.
 
maka, tak pernah terbayang sebelumnya raga ini dapat menginjakkan kaki ditempat itu. namun Allah memberikan kesempatan untuk merasakannya, merasakan sejuknya udara musim semi dan bersahabatnya sang mentari.
 
bagamanapun pandangan terhadap negara itu, namun diri ini yakin ia juga kepunyaan Sang Pemilik Alam Raya, dan akan selalu terselip hikmah dibaliknya. oleh karenanya, sambutlah kami wahai negara adidaya, kami yang mengemban berbagai amanah dari tanah kelahiran tercinta, kami yang akan memetik beberapa buah hikmah yang akan kami bawa pulang untuk mengubahnya jadi manfaat untuk negeri indonesia. 
 
Cilegon, 9 Maret 2012.
dua hari sebelum berangkat exchange… 😀

Pangea

Posted on Updated on

Berlapang hati selapang Sahara. Berluas pemikiran seluas Hindia

            Di Bumi ini manusia ditempatkan pada wilayah dengan keadaan alam yang berbeda, sehingga menyebabkan perbedaan pula dalam bentuk fisik, makanan, dan bahasanya, berbeda pula adat istiadat, kebiasaan, dan budayanya. Dari keluasan ini lahirlah perbedaan, sebuah kenyataan yang tidak bisa dielakkan. Lantas, apakah perbedaan itu diciptakan tanpa maksud dan tujuan? Apakah perbedaan mesti menjadi sumber perselisihan dan permusuhan? Tentu saja tidak! Justru disinilah peran pemuda generasi masa kini dalam mengikat semua perbedaan itu menjadi indah dalam persatuan dan persaudaraan. Persatuan dan persaudaraan dalam bingkai kemanusiaan.

Abad 21 merupakan saat globalisasi muncul ke permukaan sebagai suatu sistem yang hampir dianut oleh seluruh Negara termasuk Indonesia. Banyak pro dan kontra atas sistem ini. Namun, walaupun termasuk dalam kelompok yang kontra, globalisasi harus tetap dipahami oleh seluruh pemuda di Indonesia agar dapat menimbang baik buruknya sistem ini dan mampu memilah aspek yang dapat diterapkan di Indonesia. Globalisasi yang secara umum digambarkan dapat menembus dan melintas tanpa batas negara dan bangsa, lintas budaya, antar budaya dan terpaan budaya. Salah satu agenda globalisasi adalah globalisasi budaya.

Globalisasi mempengaruhi hampir semua aspek yang ada di masyarakat, termasuk diantaranya aspek budaya. Kebudayaan dapat diartikan sebagai nilai-nilai (values) yang dianut oleh masyarakat ataupun persepsi yang dimiliki oleh warga masyarakat terhadap berbagai hal. Baik nilai-nilai maupun persepsi berkaitan dengan aspek-aspek kejiwaan/psikologis, yaitu apa yang terdapat dalam alam pikiran. Aspek-aspek kejiwaan ini menjadi penting artinya apabila disadari, bahwa tingkah laku seseorang sangat dipengaruhi oleh apa yang ada dalam alam pikiran orang yang bersangkutan. Sebagai salah satu hasil pemikiran dan penemuan seseorang adalah kesenian, yang merupakan subsistem dari kebudayaan.

Globalisasi sebagai sebuah gejala tersebarnya nilai-nilai dan budaya tertentu keseluruh dunia (sehingga menjadi budaya dunia atau world culture) telah terlihat semenjak lama. Cikal bakal dari persebaran budaya dunia ini dapat ditelusuri dari perjalanan para penjelajah Eropa Barat ke berbagai tempat di dunia ini.

Globalisasi budaya adalah terdapat upaya menggabungkan suatu kebudayaan kepada kebudayaan lain. Hal ini akan berpengaruh besar bagi kehidupan sebuah masyarakat. Dewasa ini, masyarakat Indonesia dicekoki untuk kemudian menjadikan budaya Barat sebagai kesehariannya hingga kemudian budaya yang baru tersebut melepaskan atau mencopot identitas masyarakat. Untuk menanggulanginya, jelas perlu selektif dalam menerima suatu budaya. Harus dikembalikan pada kepercayaan dan adat yang ada dalam masyarakat Indonesia. Pemahaman tentang globalisasi akan membantu para pemuda dalam beradaptasi di abad 21 ini. Oleh karenanya, pemuda dapat menghargai perbedaan kebudayaan yang ada tanpa harus memaksakan kebudayaan yang satu menekan kebudayaan yang lain serta saling menghormati antar budaya.

Pemahaman terhadap perbedaan kebudayaan ini salah satunya dapat dilakukan dengan mengadakan perjalanan. Dalam melakukan perjalanan, maka akan banyak menemui perbedaan. Perbedaan bahasa, perbedaan geografis, perbedaan adat, dan perbedaan kebiasaan. Perjalanan meningkatkan pemahaman terhadap perbedaan, sehingga kita menjadi lebih terbuka dan tidak menjadi katak dalam tempurung. Dengan saling memahami kebudayaan masing-masing, kita dapat lebih berpikir luas dan dapat menyatukan perbedaan yang ada tanpa merugikan salah satu pihak. Bagi pemuda perlu meluaskan cakrawala pandangan kita agar dapat memahami dan menerima perbedaan secara arif. Disamping keluasan wawasan dan pandangan, yang tidak kalah penting adalah kerendahan hati dalam melihat perbedaan yang ada pada kebudayaan lain. Dengan memahami perbedaan, maka kita dapat mempertahankan kebudayaan yang ada dalam masyarakat Indonesia menjadi kebudayaan yang kokoh, tidak terpengaruh oleh kebudayaan barat pengaruh globalisasi yang tidak sesuai dengan pribadi bangsa Indonesia. Kita pun dapat mampu berinteraksi dengan kebudayaan lain dalam konteks kemanusiaan antar umat manusia.

Oryza Sativa

Posted on Updated on

 

“Agriculture is about alive or dead…”

 

 “I ask you : while Indonesian people in the near future will suffer from misfortune, disaster, if the problem of people’s food will not be solved immediately, whereas the problem of people’s Availability stocks is about alive or dead, how do with your groups? Why did only 120 and 7 students register at the faculty of agriculture and faculty of veterinary medicine, respectively? No, my young people, study in agriculture and veterinary sciences is not less important than other studies, is not less satisfied for the high aspiration-souls than other studies. Bear in mind, once more bear in mind, if we do not “bear in mind” the problem of people food as highty as is possible, radically and revolutionarily, we will suffer from great disaster.”

 

 (Pidato Presiden RI Soekarno pada peresmian Kampus IPB Baranangsiang, 1952)

 

Artinya

 

 “Aku bertanja kepadamu: sedangkan rakjat Indonesia akan mengalami tjelaka, bentjana, mala-petaka, dalam waktu jangdekat kalau soal makanan rakjat tidak segera dipetjahkan, sedangkan soal persediaan makanan rakjat ini bagi kita adalah soal hidup atau mati, kenapa dari kalangan-kalanganmu? Kenapa buat tahun 1951/1952 jang mendaftarkan diri sebagai mahasiswa fakultet pertanian hanja 120 orang, dan bagi fakultet kedokteran chewan hanya 7 orang? Tidak, pemuda-pemudiku, studie ilmu pertanian dan ilmu perchewanan tidak kurang penting dari studie lain-lain, tidak kurang memuaskan djiwa yang bertjita-tjita dan pada studie jang lain-lain. Tjamkan, sekali lagi tjamkan, kalau kita tidak “tjampakkan” soal makanan rakjat ini setjara besar-besaran, setjara radikal dan revolusioner,kita akan mengalami malapetaka!”

 

 Sumber : http://ipb.ac.id/about/bung-karno-speechs

 

Mungkin, semangat inilah yang membuat saya “keukeuh (teguh-red)” untuk belajar jurusan apapun di IPB… wehehe…

 

Wahai para Makhluk IPB, selama masyarakat Indonesia membutuhkan sandang, pangan, dan papan. Pengabdian kalian masih akan terus dibutuhkan. 🙂

 

 

Bogor, 26 Februari 2011Image

Hello world!

Posted on

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!