Aliran Rasa #1

Merasakan bergabung dengan komunitas Institut Ibu Profesional Batch#4 menjadikan saya banyak merenung, belajar, dan mengambil hikmah dari sesi materi, sesi tanya jawab, dan sesi penugasan yang membuat saya mengukur kembali kapasitas diri. Mengenai adab menuntut ilmu yang terlebih dahulu disampaikan sebelum materi lainnya membuat proses pembelajaran menjadi lebih efektif. Karena, setiap peserta menyadari bahwa sebagai seorang ibu, tidak ada yang merasa paling baik, tidak ada yang merasa sudah cukup ilmu, semuanya memiliki semangat belajar sehingga kita mampu mendapatkan inspirasi dan juga memberikan inspirasi kepada ibu lainnya. Saya bersyukur karena dengan sistem seperti ini, saya merasa aman untuk curhat permasalahan keluarga, parenting, pembagian waktu khususnya sebagai ibu yang menyambi mahasiswa huhu… tak ada penghakiman yang didapat seperti jika kita curhat di medos #eh.. karena dalam diskusi kelas semua peserta saling menyemangati ;’)

Mengenai ilmu yang ingin dipelajari pun, setelah review tugas diberikan, saya menelaah kembali apakah ilmu yang saya ingin tekuni sudah tepat? Dan akhirnya akan kembali kepada pengukuran kapasitas diri, menentukan prioritas, serta pengaturan waktu agar keluarga mendapat hak yang semestinya. Semoga, semoga terus-menerus bisa melakukan perbaikan diri, membersihkan hati, mengatur waktu agar waktu-waktu menjadi berkah. Bismillah… semangat!

Nice Homework #1 Adab Menuntut Ilmu

Berkaitan dengan materi pertama matrikulasi mengenai Adab Menuntut Ilmu, untuk menguatkan kembali materi tersebut ada beberapa pertanyaan yang menjadi renungan untuk dipahami lebih lanjut tentang peran kita sebagai ibu. Diantaranya adalah pertanyaan sebagai berikut ini:

  1. Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini.
  2. Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut?
  3. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut?
  4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut?

Mengenai jurusan ilmu yang akan ditekuni, sejujurnya saya perlu beberapa lama untuk memikirkannya, kurang lebih dalam sepekan ini, direnungi secara dalam, apalagi jika dikaitkan kontribusi apa nanti yang akan saya lakukan selepas mengenyam pendidikan di Jepang, oleh Karena banyak hal yang ingin dipelajari sehingga sulit menentukan prioritas. Akhirnya setelah saya berkonsultasi dengan suami (yang paling tau keadaan kalau saya ini maunya banyak tapi sukar konsistennya ehehe…) maka jurusan yang menjadi prioritas untuk dipelajari adalah pemberdayaan wanita. Ibaratnya jurusan dalam perkuliahan yang terdiri dari ilmu pendukung, saya pun merancang beberapa ilmu yang akan mendukung jurusan yang akan saya pelajari diantaranya parenting, literasi, dan pertanian.

Banyak hal yang menjadi alasan mengapa saya memilih pemberdayaan wanita sebagai jurusan jangka panjang yang saya ingin tekuni. Selain karena keinginan saya berkontribusi untuk masyarakat, saya juga menginginkan kondisi lingkungan dan masyarakat yang baik dan kondusif untuk keluarga dan pertumbuhan anak-anak. Hal ini menjadikan kita tidak hanya mengedukasi keluarga dan anak-anak kita sendiri namun juga masyarakat khususnya wanita sebagai istri dan ibu. Disamping itu, saya menyadari bahwa beragamnya kondisi sosial masyarakat di Indonesia membuat informasi yang penting untuk diketahui tidak merata khususnya di daerah pedesaan, dari kondisi tersebut banyak sekali hal yang dilakukan untuk memberdayakan dan menguatkan wanita di sekitar kita. Ada yang bilang zaman sekarang, wanita lebih sering saling melemahkan, menganggap apa yang dilakukan dirinya lebih baik dari yang dilakukan orang lain. Semoga kita terhindar dari yang demikian, sehingga mampu mengkondisikan diri untuk belajar dari siapa saja dan dimana saja.

Memberdayakan masyarakat apalagi wanita memiliki tantangan tersendiri, perlu strategi dan juga tahapan untuk menekuninya. Saat terjun langsung ke masyarakat, tentu kita tidak boleh melupakan hak diri dan keluarga untuk menjadi prioritas utama dan motor penggerak di masyarakat. Strategi yang dilakukan mulai dari mengedukasi diri, suami, serta anak, sehingga pengetahuan seperti manajerial rumah tangga dan pendidikan untuk anak diperlukan sebagai strategi awal menuntut ilmu. Selanjutnya ilmu pendukung seperti parenting, literasi, dan pertanian sesungguhnya menjadi passion saya semenjak lama, dan pemberdayaan wanita yang akan dilakukan akan terkait dengan ilmu-ilmu tersebut.

Dengan demikian, proses menuntut ilmu yang saya dahulukan terkait adab menuntut ilmu adalah dengan terus menerus memperbaiki diri, mengatur waktu serta komunikasi dengan keluarga. Perbaikan diri yang dilakukan mencakup pembersihan hati dari penyakit-penyakit hati, kemudian pengaturan waktu agar hal-hal wajib seperti ibadah lebih diprioritaskan agar waktu-waktu menjadi berkah, tidak lupa belajar dari sumber-sumber ilmu yang terpercaya, dan pada akhirnya mengamalkan ilmu tersebut kepada masyarakat.

Tsukuba, 19 Mei 2017

Riska Ayu Purnamasari

Adab Menuntut Ilmu

Senin, 15 Mei 2017
Disusun oleh Tim Matrikulasi- Institut Ibu Profesional
Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mengubah perilaku dan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya ilmu menunjukkan kepada kebenaran dan meninggalkan segala kemaksiatan.
Banyak diantara kita terlalu buru-buru fokus pada suatu ilmu terlebih dahulu, sebelum paham mengenai adab-adab dalam menuntut ilmu. Padahal barang siapa orang yang menimba ilmu karena semata-mata hanya ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya, namun barangsiapa yang menuntut ilmu karena ingin mengamalkan ilmu tersebut, niscaya ilmu yang sedikitpun akan sangat bermanfaat baginya.
Karena ILMU itu adalah prasyarat untuk sebuah AMAL, maka ADAB adalah hal yang paling didahulukan sebelum ILMU
ADAB adalah pembuka pintu ilmu bagi yang ingin mencarinya. Adab menuntut ilmu adalah tata krama (etika) yang dipegang oleh para penuntut ilmu, sehingga terjadi pola harmonis baik secara vertikal, antara dirinya sendiri dengan Sang Maha Pemilik Ilmu, maupun secara horisontal, antara dirinya sendiri dengan para guru yang menyampaikan ilmu, maupun dengan ilmu dan sumber ilmu itu sendiri. Mengapa para Ibu Profesional di kelas matrikulasi ini perlu memahami Adab menuntut ilmu terlebih dahulu sebelum masuk ke ilmu-ilmu yang lain?
Karena ADAB tidak bisa diajarkan, ADAB hanya bisa ditularkan. Para ibulah nanti yang harus mengamalkan ADAB menuntut ilmu ini dengan baik, sehingga anak-anak yang menjadi amanah para ibu bisa mencontoh ADAB baik dari Ibunya
ADAB PADA DIRI SENDIRI
a. Ikhlas dan mau membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk. Selama batin tidak bersih dari hal-hal buruk, maka ilmu akan terhalang masuk ke dalam hati.Karena ilmu itu bukan rentetan kalimat dan tulisan saja, melainkan ilmu itu adalah “cahaya” yang dimasukkan ke dalam hati.
b. Selalu bergegas, mengutamakan waktu-waktu dalam menuntut ilmu, Hadir paling awal dan duduk paling depan di setiap majelis ilmu baik online maupun offline.
c. Menghindari sikap yang “merasa’ sudah lebih tahu dan lebih paham, ketika suatu ilmu sedang disampaikan.
d. Menuntaskan sebuah ilmu yang sedang dipelajarinya dengan cara mengulang-ulang, membuat catatan penting, menuliskannya kembali dan bersabar sampai semua runtutan ilmu tersebut selesai disampaikan sesuai tahapan yang disepakati bersama.
e. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas yang diberikan setelah ilmu disampaikan. Karena sejatinya tugas itu adalah untuk mengikat sebuah ilmu agar mudah untuk diamalkan.
ADAB TERHADAP GURU (PENYAMPAI SEBUAH ILMU)
a. Penuntut ilmu harus berusaha mencari ridha gurunya dan dengan sepenuh hati, menaruh rasa hormat kepadanya, disertai mendekatkan diri kepada DIA yang Maha Memiliki Ilmu dalam berkhidmat kepada guru.
b. Hendaknya penuntut ilmu mendahului guru untuk menjelaskan sesuatu atau menjawab pertanyaan, jangan pula membarengi guru dalam berkata, jangan memotong pembicaraan guru dan jangan berbicara dengan orang lain pada saat guru berbicara. Hendaknya penuntut ilmu penuh perhatian terhadap penjelasan guru mengenai suatu hal atau perintah yang diberikan guru. Sehingga guru tidak perlu mengulangi penjelasan untuk kedua kalinya.
c. Penuntut ilmu meminta keridhaan guru, ketika ingin menyebarkan ilmu yang disampaikan baik secara tertulis maupun lisan ke orang lain, dengan cara meminta ijin. Apabila dari awal guru sudah menyampaikan bahwa ilmu tersebut boleh disebarluaskan, maka cantumkan/ sebut nama guru sebagai bentuk penghormatan kita.
ADAB TERHADAP SUMBER ILMU
a. Tidak meletakkan sembarangan atau memperlakukan sumber ilmu dalam bentuk buku ketika sedang kita pelajari.
b. Tidak melakukan penggandaan, membeli dan mendistribusikan untuk kepentingan komersiil, sebuah sumber ilmu tanpa ijin dari penulisnya.
c. Tidak mendukung perbuatan para plagiator, produsen barang bajakan, dengan cara tidak membeli barang mereka untuk keperluan menuntut ilmu diri kita dan keluarga.
d. Dalam dunia online, tidak menyebarkan sumber ilmu yang diawali kalimat “copas dari grup sebelah” tanpa mencantumkan sumber ilmunya dari mana.
e. Dalam dunia online, harus menerapkan “sceptical thinking” dalam menerima sebuah informasi. jangan mudah percaya sebelum kita paham sumber ilmunya, meski berita itu baik.
Adab menuntut ilmu ini akan erat berkaitan dengan keberkahan sebuah ilmu, sehingga mendatangkan manfaat bagi hidup kita dan umat
Referensi :
Turnomo Raharjo, Literasi Media & Kearifan Lokal: Konsep dan Aplikasi, Jakarta, 2012.
Bukhari Umar, Hadis Tarbawi (pendidikan dalam perspekitf hadis), Jakarta: Amzah,
2014, hlm. 5
Muhammad bin sholeh, Panduan lengkap Menuntut Ilmu, Jakarta, 2015

Program Matrikulasi Institut Ibu Profesional (IIP)

Bagi seorang wanita, sesekali mungkin kita akan masuk dalam perenungan, “Bagaimana agar menjadi wanita, istri dan ibu yang baik?” Jujur, ditengah banyaknya arus informasi, tak jarang kita pun tersesat untuk menemukan maknanya. Karena, menjadi wanita, menurut saya tidak lah mudah, padahal pria juga akan berkata sama sih hehe. Ya intinya saat kita tertakdir untuk menjadi manusia dan hidup di bumi memang tidaklah mudah.

Memahami bahwa wanita dan pria diciptakan saling melengkapi dengan kondrat masing-masing, serta dilengkapi dengan hak dan kewajiban, membuat saya menggali kembali, apa saja peran, hak, dan kewajiban wanita itu sendiri.

Dari berbagai literatur, baik konvensional ataupun kontemporer, konsep yang menurut saya paling mendekati dengan kebutuhan wanita adalah konsep yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, yang terangkum dalam Al-Quran. Al-Quran sendiri diturunkan langsung oleh Allah Yang Maha Pencipta sehingga Dia-lah yang memahami betul kebutuhan ciptaan-Nya. Dalam Islam sendiri, wanita dimuliakan dengan banyak hal, seperti misalnya; menjadi sebab orang tua masuk surga saat tumbuh menjadi wanita shalihah, boleh memasuki pintu surga mana saja saat taat kepada suaminya, didoakan malaikat dan dihapus dosa-dosannya saat mengandung dan melahirkan, diberi pahala jihad saat meninggal dalam melahirkan, dan saat menjadi ibu, anak-anak diminta menghormatinya tiga kali lipat dibanding menghormati ayahnya. Lalu bagaimana jika belum menikah dan belum punya anak? Saya selalu menyemangati kawan-kawan dengan kisah-kisah wanita-wanita yang utama dalam Islam seperti Maryam Ibu Nabi Isa, Asiyah Istri Firaun, Khadijah istri Nabi Muhammad, dan Fatimah anak Nabi Muhammad. Keempat wanita yang dijamin surga tersebut seakan menjadi jawaban bahwaw wanita dalam kondisi apapun mampu menjadi mulia, insyaAllah. Dengan demikian keutamaan-keutamaan yang ada pada wanita yang menjadikan hal-hal lain yang kita anggap sebagai “penghambat gerak wanita” tidak menjadi momok yang amat menakutkan.

Misalnya jika kita sebutkan beberapa yang kita anggap menjadi penghambat (?) Harus menutup aurat, yang ternyata untuk memuliakan wanita itu sendiri agar meminimalisir gangguan dari lawan jenis. Tidak boleh sekolah tinggi, sepertinya zaman sekarang sudah tidak berlaku ya, karena dalam Islam setiap individu diwajibkan menuntut ilmu sampai akhir hayat. Mendapat warisan lebih sedikit dari pria, ini jelas karena wanita tidak wajib mencari nafkah sehingga prioritas ada pada pria. Apa lagi ya, mungkin ada yang bias menambahkan? Namun intinya, jika kita merasa, perempuan terlalu dibatasi geraknya, pahamilah karena memang begitu adanya, dengan memahami insyaAllah kita bisa menerima hakikat kita menjadi wanita…

Selain itu, semakin menyadari, mengapa terkadang wanita banyak mengalami hal-hal rumit dan galau terkait keputusan hidupnya. Dalam konteks pendidikan, perempuan sudah memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki, namun dalam kiprah karirnya mungkin belum sepenuhnya.

Wanita lebih mudah mendapat prestasi cemerlang ketika mengenyam pendidikan, lalu ada titik dimana perempuan harus memilih melanjutkan pendidikan dan karir sampai titik tertinggi atau mengurus penuh rumah tangga. Terlebih saat paska menikah, mengandung, dan melahirkan.

Memilih karir atau rumah tangga, keduanya, merupakan keputusan yang sama pentingnya, apalagi akan selalu ada pandangan-pertanyaan yang menjadi hambatan, sehingga apapun pilihan diantara keduanya, haruslah didukung dengan persiapan diri dan kuatnya mental menghadapi hambatan-hambatan.

Mengingat dalam Islam pun wanita memiliki hak mendapatkan balasan yang sama dengan laki-laki atas amal yang dikerjakan. Sehingga, akhirnya dapat disimpulkan, perempuan memiliki hak untuk membuat pilihan dan kesepakatan, baik sebelum menikah atau sesudah menikah. Pilihan dan kesepakatan yang telah dibuat atas izin suami itu perlu dihargai bahkan oleh kalangan wanita sendiri, sehingga semoga ga ada lagi perang-perangan (#eh) antara ibu kerja atau ibu rumah tangga, ibu yang ini atau ibu yang itu karena dalam masyarakat sosial semuanya itu akan saling terkait, saling membutuhkan dan saling memberi manfaat, jadi buat apa mencari siapa yg lebih baik? Karena yang paling baik adalah mampu melakukan yg terbaik dalam peranannya masing-masing.

Akhirnya, dalam rangka menuntut ilmu lebih lanjut, sampailah saya pada forum yang disebut Intitut Ibu Profesional, yang merupakan forum bagi para ibu dan calon ibu untuk belajar meningkatkan kualitas diri dan profesi agar menjadi ibu kebanggan bagi keluarga, sehingga minimal suami dan anak-anak gak nyesel dan bersyukur memiliki ibu yang seperti kita walaupun banyak kurangnya wkwkwk….

Tsukuba, 19 Mei 2017

Riska Ayu Purnamasari

Step by Step Kuliah di Jepang #3 (Personal Statement)

Saat melakukan pendaftaran untuk program pasca sarjana khususnya di universitas jepang. Beberapa hal menjadi salah satu syarat diterimanya seseorang menjadi mahasiswa universitas tersebut. Salah satunya adalah syarat untuk menulis ‘personal statement’. Personal statement (PS) atau jika diterjemahkan dengan Bahasa yang mudah dimengerti menjadi ‘Jelaskan mengenai diri anda dalam sebuah tulisan’ hehe. PS biasanya dituliskan di salah satu kolom didalam berkas aplikasi yang akan dikumpulkan. Terkadang PS diminta sebagai ‘Carrier Plan’, ‘Future Plan’, dll. Jadi jangan bingung jika ada pertanyaan demikian.

Untuk menulis PS, banyak hal yang perlu dipersiapkan. Berdasar dari pengalaman pribadi, pengalaman teman-teman, dan informasi dari berbagai tulisan, saya rangkum step by step penulisan PS dalam poin-poin serta penjelasannya dibawah ini. Check this out! 😉

  1. Mengenali diri sendiri

Hal pertama kali yang paling utama adalah: yup! Mengenali diri sendiri, karena jika kita belum mengenal diri sendiri, maka kita akan sulit dalam menemukan apa yang akan kita tuliskan. Jadi, untuk tahap ini perlu perenungan mendalam tetang pengalaman apa yang telah dilakukan, kegiatan yang sedang dikerjakan, dan juga hal-hal apa yang ingin dicapai di masa depan.

  1. Menyampaikan informasi yang benar

Jangan pernah gunakan atau melakukan co-paste PS yang sudah dibuat oranglain, karena plagiarisme adalah hal yang paling harus dihindari di dunia akademis. Hindari juga menyampaikan informasi yang tidak benar mengenai prestasi, pengalaman organisasi, dan lainnya. Dan usahakan agar membuat tulisan yang seimbang untuk menjelaskan prestasi dan potensi, tidak terlalu rendah diri atau pun arogan.

  1. Menjelaskan mengenai kegiatan dan pengalaman.

Kegiatan dan pengalaman bisa berupa, pekerjaan, hobi, ketrampilan, organisasi, dan prestasi, Penjelasan ini sebisa mungkin sesuai dengan jurusan atau program disediakan oleh universitas, Misalkan jelaskan pengalaman kita saat mengikuti organisasi yang berkaitan dengan tema jurusan yang akan dimasuki, seperti Himpunan Jurusan, UKM, dan NGO lainnya. Sama halnya dengan prestasi, jelaskan prestasi-prestasi terbaik yang pernah dicapai. Selain itu pengalaman kerja sebagai asisten praktikum, asisten dosen, karyawan, atau wirausaha juga bias menjadi infomasi yang menarik jika memang sesuai dengan jurusan yang akan didaftarkan.

  1. Ketertarikan terhadap program/jurusan.

Berikan alasan terbaik mengapa kita ingin sekolah di jurusan, universitas, kota, juga negara tujuan kita. Jelaskan juga ketertarikan kita terhadap riset yang telah dilakukan oleh calon pembimbing dan promosikan bahwa kita adalah orang yang sesuai yang calon pembimbing cari.

  1. Rencana masa depan

Tunjukkan pada para penyeleksi bahwa kita memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar. Jelaskan jika rencana masa depan akan tercapai jika kita bias menggunakan pengetahuan yang didapat dari sekolah di program tersebut. Rencana masa depan bisa diperkaya juga dengan kontribusi kita untuk negara, dunia dan untuk perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri.

Setelah mengetahui kerangka untuk pembuatan PS, selanjutnya adalah merancang tulisan yang tidak terlalu banyak atau sedikit, kira-kira 500/700 words banyaknya.. Sehabis menulis, biasanya kita perlu waktu untuk melihat kembali apakah ada yang harus ditambah atau kurangi dari tulisan tersebut sehingga bisa menjadi PS yang menarik untuk calon pembimbingmu, gudlak! :))

Step by Step Kuliah di Jepang #2 (Research Plan)

Setelah pada postingan sebelumnya kita membahas tentang perkuliahan di Jepang yang didominasi oleh sistem study by research, disini mari kita coba telaah persiapan untuk terjun kedalamnya #tsah 😀 Master by research merupakan sebuah program master yang memiliki proporsi riset yang dominan dibandingkan mata kuliah di kelas. Biasanya mahasiswa akan menghabiskan semester pertama dan kedua untuk kuliah dan dua semester berikutnya full riset dan menulis tesis. Untuk mengikuti perkuliahan yang didominasi riset ini diperlukan rencana penelitian yang matang dari mahasiswa saat mencoba mendaftar pada program yang diinginkan.

  1. Hal awal yang harus dipersiapkan adalah, tema riset yang sesuai dengan sensei tujuan, laboratorium, juga sesuai dengan keahlian yang kita sudah atau ingin dikuasai. Cara mudahnya adalah dengan mencari tema riset yang sering dilakukan oleh sensei dan labratorium yang dituju. Mencari keyword tentang penelitian yang akan dilakukan akan memudahkan kita menyesuaikan tema apa yang akan dipilih dan yang akan kita dalami.
  2. Judul/tema yang menarik. Judul atau tema sebaiknya menunjukkan isi penelitiannya sendiri, sebaiknya dibuat menarik dan mencakup keseluruhan isi dari proposal penelitian.
  3. Latar belakang harus jelas dan mendukung. latar belakang penelitian pada pokoknya menyampaikan alasan-alasan dilakukannya penelitian tersebut. Alasan tersebut muncul biasanya disebabkan oleh adanya permasalahan yang terjadi baik skala mikro dan makro, dirasakan langsung oleh masyarakat atau pun tidak.
  4. Problem statement dan tujuan penelitian yakni penjelasan lebih jelas mengenai permasalahan yang muncul yang akan diangkat sebagai topik penelitian. Sehingga permasalahan tersebut akan dijawab melalui tujuan penelitian. 
  5. Metode penelitian secara gari besar bias dibagi menjadi dua bagian yakni kualitatif dan kuantitatif. Bagian inilah yang terpenting untuk disesuaikan dengan model lab/grup penelitian yang akan teman-teman masuki. Metode akan mempengaruhi hasil suatu penelitian dan bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya apabila didukung oleh kebenaran data yang didapatkan serta proses yang dilakukan.
  6. Keunikan penelitian (novelty). Inti dari sebuah penelitian adalah melengkapi yang sudah ada atau melakukan apa yang belum dilakukan. Sederhananya, kita tidak akan melakukan hal yang persis sama dengan apa yang sudah pernah dilakukan orang lain. Keunikan itu bisa ditegaskan dengan menyatakan bahwa riset kita akan menggunakan metode baru yang belum pernah dilakukan, menggunakan pendekatan baru, membahas kasus yang sama sekali baru, atau menggabungkan beberapa metode di bidang lain yang belum pernah diuji.
  7. Daftar pustaka yang mencakup juga hasil-hasil publikasi dari sensei yang kita tuju. Tentu, hal ini menjadi kebanggaan tersendiri jika calon pembimbing mengetahui bahwa calon mahasiswa-nya sudah berusaha untuk mempelajari tema riset yang selama ini dilakukan. Hal ini juga menunjukkan ketertarikan kita terhadap tema riset yang ditawarkan, sehingga taka da salahnya kita mempelajari tentang riset melalui publikasi sensei tujuan.

Okey, kira-kira mungkin itulah beberapa step yang sebaiknya dopersiapkan sebelum menyusul rencana riset kita. See you di postingan selanjutnya. Goodluck! 🙂

“Research is creating new knowledge” -Neil Amstrong

Step by Step Kuliah di Jepang #1 (Curriculum Vitae)

Perlu diketahui bahwa, memulai perkuliahan di jepang sedikit berbeda dengan perkuliahan di Negara lainnya. Di jepang hampir semua kampus menerapkan study by research di pada jenjang pascasarjana. Oleh karena itu seringkali kita mendengar tentang mahasiswa research student (atau mahasisnya yang mengikuti program persiapan, baik riset atau Bahasa) sebelum resmi menjadi mahasiswa S2 atau S3. Study by research inilah yang merupakan salah satu kelebihan teman-teman yang berkuliah di Jepang, karena memiliki meneliti baik ilmu eksak atau sosial.

Dan uniknya, untuk mendapatkan Letter of Acceptance (LOA) dari professor, kita harus berinteraksi ke professor/sensei yang spesifik pada satu lab. Nah pembuatan Curriculum Vitae (CV) untuk kuliah di jepang, adalah salah satu cara untuk PDKT ke prof/sensei tersebut.

Pembuatan Curriculum Vitae atau yang lebih dikenal dengan resume memang cukup unik. Kita diharuskan menulis tentang diri kita sendiri. Jika terlalu sederhana kita akan dicap sebagai orang yang tidak memiliki kompetensi. Tapi jika terlalu bagus kita akan dicap sebagai orang yang sombong #eh.

Sebelum membuat CV kita harus memahami apa yang dicari oleh orang yang membaca CV kita. Dengan memprediksi hal tersebut, kita bisa membuat CV dengan lebih terarah. Apa saja poin-poin penting yang harus kamu persiapkan dalam membuat CV, berikut daftarnya:

  1. Data Diri
  2. Jurusan, fakultas, univ dan minat serta kompetensi
  3. Durasi kuliah
  4. IPK
  5. Organisasi
  6. Prestasi
  7. Pengalaman kerja
  8. Publikasi karya ilmiah
  9. Arah penelitian
  10. Komitmen dan kepribadian

Perlu diketahui juga, di Jepang, ada beberapa universitas yang menyediakan program bahas inggris, namun ada juga yang perkuliahannya full dalam Bahasa jepang. Cara mempersiapkannya, jika ingin masuk program yang bahasa jepang, kalau bisa gunakan beasiswa yang dari pemerintah/institusi/company jepang seperti MEXT, Inpex, Panasonic, Hitachi. Karena biasanya calon mahasiswa diwajibkan untuk mengikuti research student yang mendapatkan intensif pelajaran Bahasa jepang.

Tapi jika mendapatkan beasiswa dari LPDP dan Dikti, kalau bisa cari yang kuliah dalam Bahasa inggris, karena akan sulit jika pengetahuan Bahasa jepang masih sedikit untuk mengikuti perkuliahan.

Jadi bisa disimpulan oleh teman-teman sendiri, kemampuan Bahasa jepang-nya harus ditingkatkan atau tidak. Tetapi saran saya, menguasai Bahasa jepang akan menjadi nilai tambah di mata professor, dan nilai tambah agar kita bisa bertahan hidup di jepang hehe (especially for daily life). So, mulai siapkan CV terbaikmu, dan mulai berburu professor! 🙂