Uncategorized

Mengandung dan Melahirkan di Jepang #4

Posted on

Tibalah saat yang dinanti dengan berbagai perasaan didalamnya, ada senang, gak sabar, khawatir, sedih juga, takut apalagi. Saat pemeriksaan hari Selasa di pekan ke 38, ada hal yang mengejuktkan, karena ternyata saya sudah bukaan 2. Ini mngejutkan bagi saya yang belum lengkap siap-siapin barang-barang yang dibutuhin untuk nginep di rumah sakit (gurbakk!). Dan akhirnya sepulangnya dari RS saya dan suamipun sempet-sempetnya jalan-jalan belanja.

Berdasarkan pengalaman ibu yang sudah menangani beberapa kehamilan, karena ibu adalah bidan hehe. Beliau pun bilang, wah besok juga bakal keluar tuh! Saya dan pak suami sontak terkejut dan saya yang masih bisa cengengesan pun belum merasakan yang namanya kontraksi alias mules-mules.

Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu pun terlewati. Saat itu adalah saat harap-harap yang paling cemas, kalau kata mamah, yaudah nginep di RS aja.. Oww tapi tunggu dulu, untuk dapat dinyatakan bisa menginap di RS haruslah memenuhi 3 syarat; Kontraksi yang berulang setiap 10 menit, Pecah ketuban, atau Perdarahan. Kira-kira itulah syarat ditetapkan oleh pihak RS disini. Dan karena saya belum mengalami itu semua, saya pun tinggal di rumah dan masih menyempatkan foto-foto sebelum daunnya makin rontok -__-

image.jpg
Trimakasih taneman yang jadi tripod! *maaf wajah pak suami ketutupan daun 😁

Sabtu malam, rasa mules yang katanya hampir mirip dengan mules menstruasi pun datang. Sebelumnya saya bingung, kalau sudah bukaan itu masih bisa sholat gak ya? Dan memang ada beberapa pendapat, salah satunya saya mengikuti yang ini (https://rumaysho.com/6388-hukum-darah-sebelum-melahirkan.html) yang menyatakan bahwa masih bisa sholat.

Dengan bantuan aplikasi, interval mules pun saya hitung, sampai pada akhirnya Ahad malam sekitar jam 11, kami memutuskan untuk ke RS karena kontraksi yang makin berulang dan adanya flek darah. Yang mana mules yang dirasa memang sama dengan saat saya menstruasi yang nyerinya bisa sampai nungging guling-guling. Saya yang sebenernya masih takut-takut ini akhirnya merelakan, terserah nanti disana mau diapain aja, sambil berdoa semoga apapun cara lahirnya, semoga itu yang terbaik yang dikasih sama Allah.

Sesampainya di Emergency, yang sebelumnya bahkan sempet salah sambung pulak teleponnya, duh. Kami pun disambut oleh suster yang saat ditelepon sudah saya beri tau keadaan terakhir sebelum menuju RS. Saya pun dibawa ke ruangan untuk pengecekan kontraksi. Diruangan pemeriksaan, ketuban saya pecah, dan bukaan sudah mencapai 7 cm.

Di RS yang saya tempati, ada dua ruangan terpisah yakni ruang kontraksi (labor room) dan ruang kelahiran (delivery room), setelah pemeriksaan saya pun saya berganti baju dan dibawa ke ruang labor, dengan berjalan kaki, oke hmm. Di ruang labor yang kata senior saya adalah ruang pesakitan, karena memang ruangan yang dikhususkan untuk kontraksi. Dan, disanapun saya merasakan kontraksi yang bener-bener kontraksi yang digambarkan oleh salah seorang sahabat sebagai rasa mules dengan hasrat ingin buang air besar yang air nya suangat besarrr! Sampai-sampai saya khawatir kalau anus saya akan pecah karena kuatnya tekanan kearah sana. Dibantu oleh seorang bidan, saya pun diajarkan cara bernapas dalam untuk mengurangi rasa sakit, ditambah juga fasilitas bola kasti yang fungsinya menekan bagian anus agar tidak terlalu sakit, dan itu adalah tugas suami saya yang hampir semalaman melakukan tugas mulia itu.

Waktu menunjukan pukul 4 subuh, saya yang sudah tidak sabar pun semakin gelisah dengan rasa sakit yang tidak berkesudahan. Saya pun bertanya kira-kira berapa lama lagi harus begini. Ibu bidan menjelaskan bahwa bukaan belum sampai 10 cm dan untuk melahirkan interval kontraksinya harus setiap 2 menit. Hiks. Perlakuan induksi pun ditambahkan karena kontraksi saya yang masih 6 menit. Pukul 8 pagi dan kabar baik itu datang, saya boleh pindah ke ruang delivery karena bukaan sudah lengkap dan kontraksi sudah semakin sering. Saya pindah ruangan dengan berjalan kaki, yak, disuruh jalan kaki!

Sesampainya diruangan pun, oleh seorang bidan saya masih harus mencoba berbagai macam posisi untuk bisa mengejan, masih ditemani suami. Saat rambut bayi sudah terlihat saya pun dinyatakan sudah siap untuk melahirkan, pak suami diminta keluar ruangan. Yakk, keluarr deh dia. Dan tim paramedis yang terdiri dari dua dokter, dua bidan, dan beberapa suster pun datang. Saya sudah pasrah dengan adanya satu dokter lelaki yang ada disana, dalam situasi darurat sehingga kondisi yang menurut saya tidak ideal itu harus dihadapi, Alhmdulillah dokternya baik dan mirip sama yang ada di dorama yang pernah saya ceritakan, *haduh ris!

Beberapa kali harus mengejan, yang saya ingat adalah jangan merem (karena bisa menyebabkan pembuluh darah di mata pecah), jangan angkat pantat (karena bisa menyebabkan robekan sampai anus) dan jangan teriak (karena akan mengabiskan tenaga). Di suatu hentakan dengan aba-aba yang dikomando oleh pak dokter; Seeei no, ich ni san! saya merasakan perut tetiba menjadi ringan dan ada teriakan seorang bayi diujung sana. Alhmdulillah rabbi habli minnasshalihinn.. Tatapan mata saya pun tak lepas dari sosok itu, selain untuk melupakan rasa sakitnya dijahit, saya pun tertakjub dengan manusia yang akhirnya lahir itu :’)

image
Foto yang diambil sama suster dan dikasih ke suami yang menunggu di luar

Entah berapa jahitan, karena saya sudah males tanya, plus gak tau bahasa jepangnya hhe. yang pasti itu terasa nyut-nyutan. Alhmdulillah proses melahirkan selesai sudah, dokter pun mempersilakan saya beristirahat sekitar satu jam di ruang persalinan, setelahnya diperbolehkan ke ruang inap dengan jalan. Oh tidak, jalan lagi? Alhmdulillah karena saat mencoba berdiri pengelihatan saya menjadi berkunang-kunang, sayapun dibawa ke ruang inap dengan kursi roda 😀

Mengandung dan Melahirkan di Jepang #3

Posted on Updated on

The worst thing for pregnant mother is being swayed by other people’s opinion and information and then losing confidence (Konotori Sensei dalam Drama Koundori)

Kehamilan mungkin menjadi salah satu penyebab kebahagiaan di dunia ini, atau mungkin menjadikan seorang wanita merasa sempurna. Namun, juga jangan dilupakan bahwa memilih hamil berarti memilih untuk terbebani amanah, memilih untuk tidak bisa lagi tidur nyenyak, tidak ada lagi me time, harus pinter-pinter jaga makanan, badan remuk redam dll dsb dst 😀

Juga bukan berarti wanita yang belum dikaruniai kehamilan bukan wanita sempurna atau belum dipercaya untuk diberikan amanah. Meyakini bahwa anak adalah rezeki rahasia yang menjadi hak Allah dalam penentuannya, mungkin sama dengan jodoh dan kematian. Hanya Allah yang tau bukan? Tugas kita adalah berusaha untuk mencari jodoh terbaik, berusaha untuk mendapatkan dan mendidik anak menjadi manusia yg sholeh, serta menjadikan kehidupan sebagai ladang amal untuk bekal kematian.. (Susah ya.. Iyaa..)

Kira-kira kata penghibur saya ketika dalam masa menanti (jodoh) ataupun keturunan ya mungkin emang belum dikasih sama Allah (titik) sambil terus mengupayakan yg terbaik yg bisa saya upayakan. Hihi, apalagi ditengah hantaman informasi kehidupan orang lain yang dibombardir di sosial media, harus bisa mengurut-urut hati biar gak dengki sama kehidupan orang lain, mensyukuri apa yang sudah diberi dan sebisa mungkin mengambil inspirasi yang baik-baik.. Ya Allah ampuni hambaaa..

Yuk dilanjutt..
Hamil, Alhmdulillah akhirnya Allah berikan juga, tapi tunggu dulu, hamil di Jepang? Pas lagi sekolah? Mungkin kedengerannya ribet sendiri ya. Udah mana membaca saja saya sulit, plus membayangi harus sering-sering berinteraksi dengan tenaga medis dengan bahasa jepang T_T sedih ya kitah.

Anyway, Alhmdulillah dalam kurun 9 bulan kehamilan di jepang, banyak sekali bantuan dan dukungan yang saya dapatkan, dari mulai komunitas Indonesia di jepang (dukungan moril, materil, dan yang paling penting makanan hehe) teman-teman, guru-guru, dan kolega di kampus, juga dari orang-orang jepang yg kadang saya temui tidak sengaja melihat perut saya yang besar, “Ee.. Omoi desuka? Ganbatte ne! 🙂” walau dalam tiga bulan pertama saya harus berjuang dengan mual-mual yang dahsyat sampai kehilangan 5 kg berat badan, juga merelakan ngidam-ngidam (termasuk nasi goreng dan sate ayam yang lewat depan rumah di cilegon) yang gak kesampean. Ditambah lagi kerjaan lab dan submit paper yang gak selesai-selesai. Dukungan mamah yang selalu bilang, “semangat! Jangan manja, jangan menye-menye” yang menjadikan saya harus selalu setrong T_T walau sama suami tetep sih kadang nangis-nangis random gak ngerti kenapa atau juga karena kedodolan yang makin menjadi saat hamil bikin suami kadang kesel juga, maaf ya pak suami.

image.jpg
Yang sabar ya pak sama istrinya 😄

Untuk kerjaan di lab, saya pun berusaha
untuk melakukan sebaik mungkin yang saya bisa, walau hamil bukan berarti saya minta diringankan, dan memang sensei saya pun tetap meminta saya mengerjakan kerjaan yang seperti biasa, riset, asisten, study trip, sampe saya pikir “sensei, gak ngeh apa saya lagi hamil?” Lahhh.. Wkw. Tapi kerja keras selalu membuahkan hasil, Alhmdulillah, Setidaknya saya bisa mengambil cuti dengan tenang 😀

image.jpg
Si Utun yang ikut presentasi 🙂

Intinya, klo ga ada tantangan gak bakal maju-maju ya gaakk? Nah, biasanya biar memotivasi kadang saya ambil beberapa inspirasi dari dorama (halah, bilang aja emg demennya nonton dorama, ups). Salah satu drama rekomendasi saya yg berkaitan dengan kehamilan, obgyn, bayi, dll adalah Dr. Storks atau Koundori yg tayang di TV jepang Oktober 2015 lalu, link nonton streamingnya bisa dilihat disini loh hehe: http://www1.dramanice.at/kounodori/watch-kounodori-episode-1-online

Selain buat nambah vocab bahasa jepang buat periksa rutin dan persiapan kelahiran, drama ini juga lumayan mempersiapkan mental hiks, tiap episode hampir selalu berurai air mata dan banyak hal yang bisa dipelajari. Jadi, hami di jepang, walau banyak tantangan insyaAllah selalu ada kemudahan! Semangat!

Mengandung dan Melahirkan di Jepang #2

Posted on

Saat melalukan pemeriksaan kehamilan di Klinik, kita akan melakukan pemeriksaan janin dan detak jantung janin pada pekan ke enam dan tujuh kehamilan. Setelah memastikan bahwa janin sehat dan berkembang, ditandai dengan adanya detak jantung dan penambahan ukuran janin pada pekan ketujuh, maka dokter akan memberikan surat rekomendasi untuk pengajuan asuransi kehamilan di balai kota.

Asuransi tersebut biasa disebut ‘Marufuku’. Syarat untuk mengurus Marufuku adalah, Residence Card, Kartu Asuransi, Rekomendasi Dokter dan tanda tangan suami. Setelah semua oke, kita akan mendapat satu bendel dokumen yang berisikan, Boshi Techo (Buku Petunjuk Kesehatan Ibu dan Anak), Gantungan kunci ibu hamil (untuk pertanda priority seat hehe), dokumen penjelasan hamil dan bersalin di jepang, serta kupon-kupon asurasi yang dipakai setiap pemeriksaan.

Setelah itu, kita akan dirujuk untuk melakukan pemeriksaan rutin di Rumah Sakit besar, untuk Tsukuba, yang dipilih adalah Tsukuba Daigaku Byoin atau Rumah Sakit Universitas Tsukuba.

Pemeriksaan rutin di Rumah Sakit dilakukan kira-kira 11 kali pemeriksaan, sebulan sekali sampai pekan ke 20, kemudian dilanjutkan pemeriksaan dua pekan sekali, dan saat memasukin pekan ke 36, pemeriksaan menjadi satu pekan sekali. Setiap periksaan, selalu dicek keadaan janin menggunakan USG. Beberapa jadwal berisi pemeriksaan darah (TORCH test, hormon kelenjar tiroid, gula darah, dll), pemeriksaan urine (kandungan protein, pH, dll), pemeriksaan tensi, berat badan, serta keberadaan bakteri streptokokus grup B.

Nah, menariknya menggunakan asuransi adalah, pembayaran tiap kali pemeriksaan akan mendapatkan potongan, misalkan saat pemeriksaan adanya bakteri streptokokus grup B dikenai sampai 10.000 yen, namun dengan adanya asuransi hanya kena 600 yen Alhmdulillaah 😀

Selain itu perlu diketahui bahwa dokter di jepang sangat jarang memberikan resep obat seperti vitamin, obat penguat dll apalagi susu ibu hamil. Yang saya pernah dapag hanya obat konstipasi dan zat besi, itu pun karena hasil pemeriksaan yang menunjukan kadar Hb yang rendah. Untuk vitamin seperti asam folat, vit.B, kalsium, DHA dan EPA biasanya dibeli sendiri di apotik terdekat tanpa resep dokter. Mungkin mereka sudah pede dengan nutrisi makanan di jepang, heuheu.

image

Dengan ini, catatan-catatan lengkap pemeriksaan perpekan yang diberikan oleh pihak RS akan saya simpan, sebagai referensi jika-jika suatu saat akan melahirkan di Indonesia. Di postingan selanjutnya, saya akan bercerita tentang bertahan hidup di Jepang saat hamil, detik2 menjelang melahirkan, dan satu bulan awal setelah melahirkan yang sesuatu bingits lah.. 😄

Step by Step Kuliah di Jepang #3 (Personal Statement)

Posted on

Saat melakukan pendaftaran untuk program pasca sarjana khususnya di universitas jepang. Beberapa hal menjadi salah satu syarat diterimanya seseorang menjadi mahasiswa universitas tersebut. Salah satunya adalah syarat untuk menulis ‘personal statement’. Personal statement (PS) atau jika diterjemahkan dengan Bahasa yang mudah dimengerti menjadi ‘Jelaskan mengenai diri anda dalam sebuah tulisan’ hehe. PS biasanya dituliskan di salah satu kolom didalam berkas aplikasi yang akan dikumpulkan. Terkadang PS diminta sebagai ‘Carrier Plan’, ‘Future Plan’, dll. Jadi jangan bingung jika ada pertanyaan demikian.

Untuk menulis PS, banyak hal yang perlu dipersiapkan. Berdasar dari pengalaman pribadi, pengalaman teman-teman, dan informasi dari berbagai tulisan, saya rangkum step by step penulisan PS dalam poin-poin serta penjelasannya dibawah ini. Check this out! 😉

  1. Mengenali diri sendiri

Hal pertama kali yang paling utama adalah: yup! Mengenali diri sendiri, karena jika kita belum mengenal diri sendiri, maka kita akan sulit dalam menemukan apa yang akan kita tuliskan. Jadi, untuk tahap ini perlu perenungan mendalam tetang pengalaman apa yang telah dilakukan, kegiatan yang sedang dikerjakan, dan juga hal-hal apa yang ingin dicapai di masa depan.

  1. Menyampaikan informasi yang benar

Jangan pernah gunakan atau melakukan co-paste PS yang sudah dibuat oranglain, karena plagiarisme adalah hal yang paling harus dihindari di dunia akademis. Hindari juga menyampaikan informasi yang tidak benar mengenai prestasi, pengalaman organisasi, dan lainnya. Dan usahakan agar membuat tulisan yang seimbang untuk menjelaskan prestasi dan potensi, tidak terlalu rendah diri atau pun arogan.

  1. Menjelaskan mengenai kegiatan dan pengalaman.

Kegiatan dan pengalaman bisa berupa, pekerjaan, hobi, ketrampilan, organisasi, dan prestasi, Penjelasan ini sebisa mungkin sesuai dengan jurusan atau program disediakan oleh universitas, Misalkan jelaskan pengalaman kita saat mengikuti organisasi yang berkaitan dengan tema jurusan yang akan dimasuki, seperti Himpunan Jurusan, UKM, dan NGO lainnya. Sama halnya dengan prestasi, jelaskan prestasi-prestasi terbaik yang pernah dicapai. Selain itu pengalaman kerja sebagai asisten praktikum, asisten dosen, karyawan, atau wirausaha juga bias menjadi infomasi yang menarik jika memang sesuai dengan jurusan yang akan didaftarkan.

  1. Ketertarikan terhadap program/jurusan.

Berikan alasan terbaik mengapa kita ingin sekolah di jurusan, universitas, kota, juga negara tujuan kita. Jelaskan juga ketertarikan kita terhadap riset yang telah dilakukan oleh calon pembimbing dan promosikan bahwa kita adalah orang yang sesuai yang calon pembimbing cari.

  1. Rencana masa depan

Tunjukkan pada para penyeleksi bahwa kita memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar. Jelaskan jika rencana masa depan akan tercapai jika kita bias menggunakan pengetahuan yang didapat dari sekolah di program tersebut. Rencana masa depan bisa diperkaya juga dengan kontribusi kita untuk negara, dunia dan untuk perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri.

Setelah mengetahui kerangka untuk pembuatan PS, selanjutnya adalah merancang tulisan yang tidak terlalu banyak atau sedikit, kira-kira 500/700 words banyaknya.. Sehabis menulis, biasanya kita perlu waktu untuk melihat kembali apakah ada yang harus ditambah atau kurangi dari tulisan tersebut sehingga bisa menjadi PS yang menarik untuk calon pembimbingmu, gudlak! :))

Step by Step Kuliah di Jepang #2 (Research Plan)

Posted on Updated on

Setelah pada postingan sebelumnya kita membahas tentang perkuliahan di Jepang yang didominasi oleh sistem study by research, disini mari kita coba telaah persiapan untuk terjun kedalamnya #tsah 😀 Master by research merupakan sebuah program master yang memiliki proporsi riset yang dominan dibandingkan mata kuliah di kelas. Biasanya mahasiswa akan menghabiskan semester pertama dan kedua untuk kuliah dan dua semester berikutnya full riset dan menulis tesis. Untuk mengikuti perkuliahan yang didominasi riset ini diperlukan rencana penelitian yang matang dari mahasiswa saat mencoba mendaftar pada program yang diinginkan.

  1. Hal awal yang harus dipersiapkan adalah, tema riset yang sesuai dengan sensei tujuan, laboratorium, juga sesuai dengan keahlian yang kita sudah atau ingin dikuasai. Cara mudahnya adalah dengan mencari tema riset yang sering dilakukan oleh sensei dan labratorium yang dituju. Mencari keyword tentang penelitian yang akan dilakukan akan memudahkan kita menyesuaikan tema apa yang akan dipilih dan yang akan kita dalami.
  2. Judul/tema yang menarik. Judul atau tema sebaiknya menunjukkan isi penelitiannya sendiri, sebaiknya dibuat menarik dan mencakup keseluruhan isi dari proposal penelitian.
  3. Latar belakang harus jelas dan mendukung. latar belakang penelitian pada pokoknya menyampaikan alasan-alasan dilakukannya penelitian tersebut. Alasan tersebut muncul biasanya disebabkan oleh adanya permasalahan yang terjadi baik skala mikro dan makro, dirasakan langsung oleh masyarakat atau pun tidak.
  4. Problem statement dan tujuan penelitian yakni penjelasan lebih jelas mengenai permasalahan yang muncul yang akan diangkat sebagai topik penelitian. Sehingga permasalahan tersebut akan dijawab melalui tujuan penelitian. 
  5. Metode penelitian secara gari besar bias dibagi menjadi dua bagian yakni kualitatif dan kuantitatif. Bagian inilah yang terpenting untuk disesuaikan dengan model lab/grup penelitian yang akan teman-teman masuki. Metode akan mempengaruhi hasil suatu penelitian dan bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya apabila didukung oleh kebenaran data yang didapatkan serta proses yang dilakukan.
  6. Keunikan penelitian (novelty). Inti dari sebuah penelitian adalah melengkapi yang sudah ada atau melakukan apa yang belum dilakukan. Sederhananya, kita tidak akan melakukan hal yang persis sama dengan apa yang sudah pernah dilakukan orang lain. Keunikan itu bisa ditegaskan dengan menyatakan bahwa riset kita akan menggunakan metode baru yang belum pernah dilakukan, menggunakan pendekatan baru, membahas kasus yang sama sekali baru, atau menggabungkan beberapa metode di bidang lain yang belum pernah diuji.
  7. Daftar pustaka yang mencakup juga hasil-hasil publikasi dari sensei yang kita tuju. Tentu, hal ini menjadi kebanggaan tersendiri jika calon pembimbing mengetahui bahwa calon mahasiswa-nya sudah berusaha untuk mempelajari tema riset yang selama ini dilakukan. Hal ini juga menunjukkan ketertarikan kita terhadap tema riset yang ditawarkan, sehingga taka da salahnya kita mempelajari tentang riset melalui publikasi sensei tujuan.

Okey, kira-kira mungkin itulah beberapa step yang sebaiknya dopersiapkan sebelum menyusul rencana riset kita. See you di postingan selanjutnya. Goodluck! 🙂

“Research is creating new knowledge” -Neil Amstrong

Step by Step Kuliah di Jepang #1 (Curriculum Vitae)

Posted on Updated on

Perlu diketahui bahwa, memulai perkuliahan di jepang sedikit berbeda dengan perkuliahan di Negara lainnya. Di jepang hampir semua kampus menerapkan study by research di pada jenjang pascasarjana. Oleh karena itu seringkali kita mendengar tentang mahasiswa research student (atau mahasisnya yang mengikuti program persiapan, baik riset atau Bahasa) sebelum resmi menjadi mahasiswa S2 atau S3. Study by research inilah yang merupakan salah satu kelebihan teman-teman yang berkuliah di Jepang, karena memiliki meneliti baik ilmu eksak atau sosial.

Dan uniknya, untuk mendapatkan Letter of Acceptance (LOA) dari professor, kita harus berinteraksi ke professor/sensei yang spesifik pada satu lab. Nah pembuatan Curriculum Vitae (CV) untuk kuliah di jepang, adalah salah satu cara untuk PDKT ke prof/sensei tersebut.

Pembuatan Curriculum Vitae atau yang lebih dikenal dengan resume memang cukup unik. Kita diharuskan menulis tentang diri kita sendiri. Jika terlalu sederhana kita akan dicap sebagai orang yang tidak memiliki kompetensi. Tapi jika terlalu bagus kita akan dicap sebagai orang yang sombong #eh.

Sebelum membuat CV kita harus memahami apa yang dicari oleh orang yang membaca CV kita. Dengan memprediksi hal tersebut, kita bisa membuat CV dengan lebih terarah. Apa saja poin-poin penting yang harus kamu persiapkan dalam membuat CV, berikut daftarnya:

  1. Data Diri
  2. Jurusan, fakultas, univ dan minat serta kompetensi
  3. Durasi kuliah
  4. IPK
  5. Organisasi
  6. Prestasi
  7. Pengalaman kerja
  8. Publikasi karya ilmiah
  9. Arah penelitian
  10. Komitmen dan kepribadian

Perlu diketahui juga, di Jepang, ada beberapa universitas yang menyediakan program bahas inggris, namun ada juga yang perkuliahannya full dalam Bahasa jepang. Cara mempersiapkannya, jika ingin masuk program yang bahasa jepang, kalau bisa gunakan beasiswa yang dari pemerintah/institusi/company jepang seperti MEXT, Inpex, Panasonic, Hitachi. Karena biasanya calon mahasiswa diwajibkan untuk mengikuti research student yang mendapatkan intensif pelajaran Bahasa jepang.

Tapi jika mendapatkan beasiswa dari LPDP dan Dikti, kalau bisa cari yang kuliah dalam Bahasa inggris, karena akan sulit jika pengetahuan Bahasa jepang masih sedikit untuk mengikuti perkuliahan.

Jadi bisa disimpulan oleh teman-teman sendiri, kemampuan Bahasa jepang-nya harus ditingkatkan atau tidak. Tetapi saran saya, menguasai Bahasa jepang akan menjadi nilai tambah di mata professor, dan nilai tambah agar kita bisa bertahan hidup di jepang hehe (especially for daily life). So, mulai siapkan CV terbaikmu, dan mulai berburu professor! 🙂

Rancang Bangun Informasi Sistem Pangan Lokal

Posted on Updated on

Beberapa langkah dalam mendukung konsep ketahanan pangan diantaranya meningkatkan diversifikasi pangan, meningkatkan nilai tambah, daya saing dan ekspor, serta meningkatkan kesejahteraan petani. Pengembangan pangan lokal terkait dengan upaya untuk meningkatkan kecukupan pangan dan diversifikasi pangan, terutama di tingkat masyarakat. Ketahanan pangan adalah kesetaraan akses setiap masyarakat terhadap makanan untuk dapat hidup sehat dengan gizi yang baik. Sehingga, kerawan pangan dapat diartikan dengan minimnya akses informasi masyarakat terhadap ketersediaan pangan dan kurangnya kemampuan untuk menjangkau makanan yang sehat dan bergizi.

Pangan lokal dapat membantu meningkatkan ketersediaan makanan sehat, terutama daerah dengan akses yang terbatas. Untuk itu, keberlanjutan (sustainability) penting bagi sistem pangan lokal (Feenstra 1997). Keberlanjutan adalah kapasitas dari setiap sistem atau proses untuk mempertahankan jalannya sistem itu sendiri. Konsep berkelanjutan memiliki tiga dimensi yakni Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan (Hak et al 2007.).

Ada sejumlah hambatan untuk mengembangkan sistem pangan lokal. Salah satunya adalah informasi geografis (Fenstra 1999; Watts et al. 2005). Mengingat Indonesia memiliki komposisi geografis yang bereneka ragam dengan 17.000 pulau yang berbeda. Hal ini menimbulkan tantangan untuk distribusi pangan nasional dalam memenuhi permintaan kebutuhan pangan dengan harga yang dapat diakses oleh seluruh masyarakat Indonesia.

Informasi geografis berkaitan dengan keberlanjutan sistem pangan lokal yang meliputi dimensi ekologi, ekonomi dan sosial dari sistem pangan (Gatrell et al. 2011). Proses pemasaran yang melibatkan rantai pasok lebih pendek memungkinkan petani untuk meraih keuntungan yang lebih besar sehingga mencapai kelayakan ekonomi yang memadai untuk pertanian dan masyarakat pedesaan (Tregear 2007). Selain itu, hubungan yang lebih dekat antara petani dan masyarakat dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya memilih pangan lokal. Adapun, keberlanjutan sistem pangan lokal tergantung pada kualitas produksi makanan lokal, aksesibilitas pangan lokal dan keterjangkauan pasar oleh masyarakat (Eckert, 2011; Moore, 2008).

Pengumpulan informasi mengenai data yang mencakup data geografis, akses jalan, kondisi lahan, populasi, serta kondisi petani, pengusaha, pasar dan masyarakat menjadi informasi berbasis potensi kearifan lokal dari suatu daerah yang dianalisi menggunakan analisis spasial. Analisis spasial dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan, mendukung keputusan, dan mengungkapkan pola sistem pangan yang terintergrasi. Analisis spasial melalui GIS dapat melakukan transformasi, manipulasi, dan metode yang dapat diterapkan pada data geografis untuk diubah menjadi informasi yang berguna. Integrasi beberapa informasi melalui proses pengambilan keputusan dapat menentukan titik terbaik untuk memproduksi dan mendistribusi makanan lokal. Integrasi informasi spasial tersebut disesuaikan dengan indikator-indikator keberlanjutan seperti ketersediaan (availability), aksesibilitas (accessibility), keterjangkauan (affordability), dan profitabilitas (profitability).

gopanglok

 Gambar 1. Pengembangan Model Sistem Pangan Lokal Terintegrasi

Pengambilan keputusan menggunakan metode multikriteria analisis (Multi Criteria Decision Analysis) mampu memilih pemilihan yang paling efisien dari sistem pangan lokal melalui multifaktor seperti ketersediaan, aksesibilitas, keterjangkauan, dan profitabilitas. Metode tersebut mampu menganalisis secara holistik sistem pangan lokal menggunakan analisis proses jaringan (Analytical Network Process).

Multi kriteria analisis keputusan (MCDA) adalah serangkaian prosedur sistemik untuk menganalisis masalah keputusan yang kompleks (Malczewski 1999), MCDA terdiri dari serangkaian teknik yang memfasilitasi penilaian, peringkat, atau pembobotan kriteria pengambilan keputusan berdasarkan preferensi stakeholder. Teknik ini berasal lebih dari tiga dekade lalu di bidang matematika dan penelitian operasi. MCDA biasanya melibatkan lima langkah: (1) menentukan tujuan dan sasaran; (2) mengidentifikasi pilihan-pilihan keputusan; (3) memilih kriteria yang mengukur kinerja relatif terhadap tujuan; (4) menentukan bobot untuk berbagai kriteria; dan (5) menerapkan prosedur dan melakukan perhitungan matematika untuk opsi peringkat.

Sedangkan Analytic Network Process (ANP) adalah kerangka paling komprehensif untuk analisis keputusan masyarakat, pemerintah dan korporasi yang tersedia saat ini untuk pembuat keputusan. Metode ANP memungkinkan interaksi masing-masing indikator yang saling mempengaruhi contohnya dengan menggunakan indikator ketersediaan (availability), aksesibilitas (accessibility), keterjangkauan (affordability), dan profitabilitas (profitability).

GIS (Geography Information System) telah digunakan dalam sejumlah penelitian untuk meneliti ketersediaan pangan di suatu daerah. Ada sejumlah studi yang mengasilkan hasil berupa pemetaan (mapping) (Bosona et al 2013; Eckert et al 2011). GIS menggunakan kombinasi kartografi dan citra data untuk membuat representasi lengkap daerah yang sedang dipelajari. Data berbentuk titik dan polygon digunakan untuk mewakili citra data.

Data informasi GIS digunakan untuk menghasilkan matriks hasil integtrasi informasi menunjukkan lokasi yang cocok untuk pengembangan pangan lokal berdasarkan indikator ketersediaan, aksesibilitas, keterjangkauan, dan profitabilitas. Data indormasi GIS memiliki manfaat yang mampu mengumpulkan data untuk semua data geografis berupa fitur, gambar, dan permukaan. Dalam distribusi geografis, GIS mampu mengintegrasikan database yang berkaitan dengan produksi dan distribusi pangan lokal. Perancangan model sistem pangan lokal disesuaikan dengan titik atau daerah terbaik untuk memproduksi dan mendistribusi pangan lokal dengan keuntungan optimum dengan jarak terdekat. Dengan demikian, perancangan informasi dari data spasial sangat penting untuk dikembangkan untuk berbagai keperluan salah satunya untuk model sistem pangan lokal yang ideal untuk diterapkan di suatu daerah.

Penggunaan kedua metode MCDA dan GIS dapat dilakukan untuk mendapat hasil lebih optimal. GIS melibatkan integrasi data spasial dan MCDA menyediakan analisis untuk masalah keputusan penataan, merancang, mengevaluasi dan memprioritaskan keputusan alternatif (Malczewski 2006).Dengan demikian, sistem pangan lokal berkelanjutan mampu dicapai dengan penentuan lokasi paling tepat untuk memproduksi dan mendistribusi pangan lokal.

Referensi:

1. Eckert J, Sujata S. 2011. Food systems, planning and quantifying access: Using GIS to plan for food retail. Applied Geography 31: 1216-1223.

2. Feenstra Gail. 1997. Local Food Systems and Sustainable Communities. American Journal of Alternative Agriculture: 28-36.

3. Feenstra Gail. 1999. Growing a community food system. Partnerships in education and research.

4. Gatrell JD, Neil R, Paula R. 2011. Local food systems, deserts, and maps: The spatial dunamics and policy implications of food geography. Applied Geography 31: 1195-1196.

5. Hák T, B Moldan, AL Dahl. 2007. Sustainability Indicators: A scientific assessment. The Scientific Committee on Problems of Environmental, of the International Council for Science: London.

6. Tregear A, Fillipo A, Giovanni B, Andrea M. 2007. Regional foods and rural development: The role of product qualification. Journal of Rural Studies 23: 12-22.

7. Watts DCH, Ilber B, Maye D. 2005. Making reconnections in agro-food geography: alternative systems of food provision. Progress in Human Geography 29, 1 (2005): 22-44.

Sumber: Beranda MITI