Blessing

Alhmdulillah, Hampir dua tahun sudah! berjibaku hidup di negeri seberang. Banyak hal yang terjadi dalam kurun setahun ini (setelah lama gak apdet blog wkw), beberapanya adalah menyempurnakan data tesis dan menyempurnakan hidupku dengan kehadiranmu (#ea #apasihris XD). Yup insyaAllah dalam waktu dekat saya akan melaksanakan sidang akhir untuk perkuliahan master dan Alhmdulillah dalam waktu dekat (bulan maret kemarin) status saya telah berubah menjadi lebih berat dari sebelumnya. Menjadi seorang istri (ganbarimashou!)

Banyak hal yang saya dapatkan, baik susah maupun senang, suka dan duka, gundah gembira dan banyak lagi hehe. Yup, apapun keadaannya, semuanya adalah nikmat dari Allah, yang terbaik dari Allah. Nikmat mengenyam pendidikan, melanjutkan kuliah apalagi di Luar Negeri dengan bekal beasiswa dari negara sendiri (Nikmat Mana Lagi Yang Kau Dustakan (Ris) T_T maka tidak sepatutnya mengeluh dengan kesempitan-kesempitan yang pernah ada mewarnai perjalanan ini (#tsah) –walau-kadang-tetep-sih-syedih-.

Suatu ketika saat berbarengan dengan Tsukuba sister (mahasiswi2 tsukuba univ) bertandang ke acara di SRIT (Sekolah Republik Indonesia-Tokyo) dalam suatu seminar kemahasiswaan, ada salah satu materi yang cukup menohok yang dibawakan oleh salah satu mahasiswa yang juga memiiki kedalaman ilmu agama yang cukup luas. Ialah ust. Abdurrahman, beliau menyampaikan tentang hal yang tidak asing bagi kami, yakni mengenai nikmat dalam mengelola kehidupan di jepang sebagai seorang mahasiswa.

Nah, materi yang dibawakan kurang lebihnya seperti yang telah saya rangkumkan dibawah ini, semoga berkenan! 🙂

Salah satu nikmat adalah nikmat menuntut ilmu di luar negeri. Berdasarkan data BPS, rasio penduduk Indonesia yang mengenyam pendidikan di Luar Negeri adalah 13 dari 10.000 orang.

Bagaimana mengelola nikmat yang telah diberikan Allah? Ketika mendapat beasiswa dan mengenyam pendidikan di tempat yang memiliki fasilitas lengkap dan kemudahan lainnya. Jangan sampai dengan nikmat yang diberikan Allah kita malah lalai untuk beribadah kepada Allah.

Nikmat yang diberi dapat menjadi ujian jika kita keliru mengelolanya. Saat menggap nikmat yang datang adalah balasan dari kebaikan dan keshalehan yg sudah kita lakukan, maka hal itu bisa menjadi potensi kelalaian. Sifat ingkar, bangga yang berlebihan, pamer merupakan salah satu sikap yang menyalahgunakan nikmat.

Salah satu kisah mengenai sikap yang penyalahgunaan nikmat adalah kisah tentang Qarun yang Allah abadikan di surat Al-Qasas sebagai pelajaran untuk manusia.

Qarun termasuk kaum Musa. Namun dia bertindak melampaui batas terhadap nikmat yg diberi kepadanya. Ia sudah diingatkan bahwa “Janganlah kamu terlalu bangga, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri”.

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu lupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melakukan kerusakan. (76-77)

Namun Qarun, lalai terhadap hartanya, Ia berbangga akan nikmat yang diberi Allah karena ilmu dan kesalehan yang ia punya. Dan Allah membantahnya bahwa sudah banyak umat-umat sebelumnya yang diberi nikmat lebih banyak namun dibinasakan karena tidak bersyukur. (78)

Namun, celakalah Qarun, karena pahala Allah lebih baik dari orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan dan pahal itu diperoleh oleh orang-orang yang sabar. Dan Allah benamkan Qarun bersama rumahnya kedalam bumi. (80-81)

Lalu bagaimana menyikapi nikmat yang diberi Allah? Yakni memahami bahwa kenikmatan adalah ujian dari Allah sehingga berhati-hati menyikapinya, dengan syukur dan sabar.

Dalam surat An-naml 19, Seperti doa Nabi Sulaiman, Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yg telah engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang engkau ridhai dan masukanlah aku kedalam golongan orang-orang sholeh.

Selain itu, cara-cara mensyukuri nikmat lainnya adalah, beramal sholeh dengan maksimal, menjaga shalat pada waktunya, menutup aurat dan meninggalkan yang syubhat serta taklupa juga membalas kebaikan dengan kebaikan, membantu kesulitan oranglain, dan menjaga hubungan baik. Karena, dengan senantiasa menjaga ketaatan terhadap Allah, nikmat yang telah ada akan terus Allah tambah keberkahannya. InsyaAllah 😉

May Allah bless us. Cheers! 😉

Iklan

Sacrifice

On the blessed day of Adha, we are ready to sacrifice everything, for the ONE who gave us everything

Sesungguhnya, Allah ingin manusia bahagia. Dan islam adalah panduan kebahagiaan yg Allah ciptakan untuk manusia.

Untuk mencapai kebahagiaan, caranya adalah dengan mengikuti apa kata Allah. Maka kebahagiaan di dunia dan di akhirat akan dicapai.

Saat di dunia, Allah berikan dua hari raya, yakni hari raya idul fitri dan hari raya idul qurban. Dalam idul fitri, Allah mengkondisikan kita menahan hawa nafsu dan mengkhususkan diri hanya pada Allah SWT.

Sedangkan, dalam idul adha, Allah mengumpulkan hamba Nya di satu tempat dengan pengorbanan harta, waktu, dan tenaga. Ini lah hari dimana hamba Allah menunjukan bahwa islam di seluruh dunia adalah satu.

Hari raya idul fitri merupakan hari dimana manusia kembali suci. Dan hari raya idul adha merupakan hari kesiapan seorang hamba untuk berkorban, mengikuti Allah seberat apapun ujiannya.

Diteladankan oleh Ibrahim dan Ismail tentang ketaatan kepada Allah, saat Ibrahim yang telah lama menunggu seorang anak, ia berdoa kepada Allah (As-Saffat: 100), maka Allah berikan kabar gembira dengan adanya seorang anak (Ismail) (As-Saffat: 101), saat Ismail beranjak remaja Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih Ismail (As-Saffat: 102). Keduanya pun patuh akan perintah Allah. Atas kepatuhan Ibrahim dan Ismail akan perintah Allah, Allah tebus dengan seekor sembelihan yg besar, Allah abadikan teladan Ibrahim dengan perintah kurban yg dilakukan oleh hamba setelahnya… (As-Saffat: 103-111)

Kemuliaan Ibrahim dan Ismail Allah abadikan untuk kita teladani. Belajar dari Ibrahim, akan takwa dan dan cinta pada Allah. Semoga amal dan pengorbanan kita diterima oleh Allah SWT. Selamat Idul Adha!

 

Menjadi Pertengahan

Sebagaimana kita pahami bahwa islam adalah agama pertengahan, yang tidak memberatkan namun juga tidak menggampangkan. Yang tidak tidak berlebihan namun juga tidak kekurangan.

Sebagaimana halnya kita yg tidak dianjurkan untuk berbangga diri sebagaimana kita tidak dianjurkan untuk merendah diri.

Seperti yang pernah Rasulullah katakan:
“Sungguh menyenangkan orang mukmin itu, Segalanya serba baik, Jika dia mendapat kesenangan dia bersyukur, dan jika dia mendapat kesengsaraan dia bersabar, sehingga apa yang dihadapinya selalu mendatangkan kebaikan baginya” (HR Muslim)

Dalam syukur dan sabar yang bagai mata uang, tidak dapat dipisahkam. Semenit kita bersyukur semenit kemudian mungkin kita diminta untuk bersabar. Fluktuasi perasaan yg membuat kita seimbang. Jika dianalogikan, hidup itu tidak datar, namun rata-rata dari lonjakan dan penurunan perasaan akan membuat jadi terbiasa dan akhirnya ikhlas dalam menjalankan semuanya… Posisi ikhlas adalah posisi pertengahan yg seimbang.

Kita dianjurkan untuk bersyukur dan syukur berbeda dengan berbangga. Sementara itu, kita dianjurkan untuk sabar dan sabar berbeda dengan putus asa.

“Sungguh jika kamu tidur di malam hari dan berpagi hari dalam keadaan menyesal (karena tidak qiyamul lail), itu jauh lebih baik daripada kamu bermalam lalu bangun untuk melaksanakan qiyamul lail namun berpagi hari dalam keadaan bangga diri. Karena sesungguhnya orang yang ujub amalnya tidak diangkat (tidak diterima) atasnya.”
(Ibnul Qoyyim, Madarijus Salikin 1/177)

Maka, bersyukurlah atas nikmat iman dan islam yg kita punya, nikmat qiyamulail, puasa, tilawah, jihad dan ibadah lainnya. Dan janganlah memandang rendah orang2 yg tertidur, yg tidak berpuasa, yg berdiam diri. Karena boleh jadi orang yang tidur, orang yang makan (tidak berpuasa), dan orang yang berdiam diri (tidak ikut jihad) itu lebih dekat kedudukannya di sisi Allah.

Dan, bersabarlah atas keterbatasan-keterbatasan kita miliki sehingga kita tidak bs banyak berbuat, beribadah, berjihad. Terus berusahalah sekuat yg kita mampu, tidak mengampangkan dan tidak meringankan. Karena boleh jadi kita tidak punya waktu lagi untuk berbuat terbaik yg bisa kita perbuat.

Healing The Emptiness

What is emptiness and what caused the emptiness of heart?

The heart is made from Allah and Allah made the empty place to fill with the proper things. Such as love to Allah, near to Allah, and remember Allah.

If it’s not fill with the proper things, the heart will broken and feel something missing in heart.

We cannot fulfill the heart with the money, popularity, power and the things that related with dunya.

We have to remember this life is very short and we will GO BACK HOME. Where is the home? The next life, the hereafter. So, in this life we looking for the right way to go back home. When we realize that we just a traveler in this world, we will not take them in our heart, not make them our goal.

In this life, we will face two things, the good things and the bad things. For muslims, matter of everything is good for him. Goodship or hardship we respond with the understanding to get closer to home with Sabr and Syukr.

Sabr in Al-Baqarah 153 means we prevent our body to do ma’siat, prevent our mouth not complained, speak for bad, and the most difficult is prevent the heart to not lose hope to Allah

Yafzah ila shalah.. If you are afraid of something.. Go firstly for shalah.
And Allah will give sabr in your heart. Sabr for to be patient and to be taat for do the worship. Do prayer on time, read quran, do fasting, and dzikr.

And rememeber, This world cannot break you, unless you give it permission. And it cannot own you unless you hand it the keys, unless you give it your heart. And so, if you have handed those keys to dunya for a while—take them back. This isn’t the End. You don’t have to die here. Reclaim your heart and place it with its rightful owner:
God.

Inspired from Yasmin Mogahed Lecturer at Tokyo Camii Masjid- May 2014 🙂

Mata’ul Ghurur

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan itu hanyalah permainan dan sendagurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan dan tanaman yang mengaggumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu/menipu (QS. Al-Hadid: 20)”

Bagimanakah kesenangan yang palsu/menipu (Mataa’ul ghuruur)? Dalam kuliah singkatnya, Ust. Nouman Ali Khan #NAK menjelaskan secara lugas ayat Allah dengan perumpamaan yang kita hadapi saat ini. Saat mendapatkan hal yang paling diinginkan, kita akan merasa senang, namun beberapa waktu kemudian, kita akan mengganggap bahwa apa yang kita inginkan dahulu menjadi tidak menarik lagi, sehingga menginginkan hal yang lain.

“People desires, about play, entertainment, beauty, and pride to show each other. All of the things that we want so badly will be not such interesting in them. So, when we will be satisfied? When we get Maghfirah from Allah, In jannah, we will finally be satisfied, we will not look for the next thing anymore”

Tausyiah Selangkapnya ada disini: https://www.youtube.com/watch?v=QrOXQ2ycU50

Curhat Pascasarjana #LPDP #Story #7 (Habis)

Kita, mungkin tidak pernah tahu apa yang terbaik untuk kita. Kita hanya bisa menerka, menduga, dan mencari celah dimana kita dapat menemukan berkah dan ridha-Nya. Dengan selalu menemukan cara untuk bersyukur.

Bahkan untuk keinginan yang telah kita capai, tidak berarti itu yang terbaik untuk kita, juga untuk keinginan yang kandas dan tergantikan oleh kenyataan, tidak berarti itu yang terburuk untuk kita. Tetapi sekali lagi, kita dapat mencari celah dimana kita dapat menemukan berkah dan ridha-Nya. Dengan cara menemukan alasan untuk bersabar.

Wahai Allah, karuniakan apa yang terbaik menurut-Mu, yang dengan itu hati selalu merasa tentram, walau dengan keadaan yang berpayah dalam kesulitan, namun selalu ada jalan untuk berbaik sangka memahami skenario-Mu.

Alhmdulillah, semenjak ada LOA, perjuangan harus lebih semangat! Saya segera mengecek status pendaftaran beasiswa LPDP di website. Belum ada pengumuman yang lolos seleksi berkas. Saya tunggu beberapa pekan lagi, keluarlah pengumuman seleksi gelombang 4, yang periode submitnya mencakup tanggal dimana saya submit berkas. Hasilnya, cukup membuat sesak, karena tidak ada nama saya.

Saya mulai bertanya, apakah karena tidak ada LOA? atau Essay yang tidak bisa dipahami atau nilai TOEFL yang terlalu kecil? atau atau yang lain, yang membuat saya pusing untuk berasumsi sendiri.

Kalau memang tidak ada LOA, maka saya coba untuk mengabarkan bahwa, hey saya sudah dapet LOA-nya, hiks.

Saya bertanya-tanya pada banyak orang, apa yang harus saya lakukan. Tibalah dimana saya mencoba untuk mendatangi kantor LPDP untuk menjelaskan kondisi saat ini. Tetapi setelah saya kesana, memang prosedurnya adalah harus menunggu pengumuman seleksi beasiswa selanjutnya. Intinya, harus sabar, Riska…

Saat itu, mungkin saya dalam tahap yang, Saya harus dapet beasiswa! Saya mulai mencari jalan lain, beasiswa lain. Dikti dan kemendikbud, menjadi sasaran selanjutnya yakni beasiswa BPLN dan BPKLN, saya sempat melengkapi berkas untuk kedua beasiswa itu.

Dalam sebulan itu saya hampir tiap pekan mendatangi kantor-kantor pemerintahan seperti dikti dan kemendikbud untuk memastikan pembukaan program beasiswa itu. Saya juga hampir mencari rekomendasi dari Universitas untuk merekomendasikan saya sebagai dosen disana, tetapi akhirnya setelah dipertimbangkan lagi, saya urungkan untuk yang dikti. Then, saya coba beasiswa kemendikbud, saya pastikan bahwa memang benar ada beasiswa ini, dengan menelefon dan mendatangi langsung kantornya, namun sekali lagi, saya urungkan untuk mendaftar beasiswa ini.

Juli, seperti bulan yang penuh dengan campur aduk perasaan, di satu sisi saya bersyukur bisa diterima oleh salah satu universitas, di sisi lain, saya harus siap memilih untuk tidak berangkat, jika memang tidak mendapatkan beasiswa.

Rasanya saat melihat nama tidak ada dalam list pendaftar yang lolos seleksi berkas itu, seperti dunia berhenti berputar, isi perut seakan pindah ke ubun-ubun, terbang dan dijatuhkan kembali, sampai akhirnya sadarkan diri, dan adegan kemudian adalah nangis bombay… (Oke ini lebay :p)

Seakan disentil dan diperintahkan untuk mengingat dan melihat kebelakang, “pasti ada yang salah”. Yang buruk dari saya adalah, procrastinator sejati, kerjaannya selalu menunda-nunda pekerjaan, dengan banyak alasan atau cari-cari alasan 😦 saya juga sempat diingatkan sama TIko, “kan riss, aku juga saranin kamu cepet-cepet siapin persyaratannya, siapin ini itu, langsung usaha cari ini itu” dan saya hanya ber-“iyaaa yaa tikoo huhuhu“. Dan penyesalan datang karena usaha yang tidak maksimal.

Saat keasyikan menunda-nunda, seakan terlupa sama nasihat:

“Barangsiapa yang suka melambat-lambatkan pekerjaannya maka tidak akan dipercepat hartanya.”  (HR. Bukhari)
”Jika kamu menyongsong pagi, maka janganlah menunggu waktu sore. Jika kamu berada pada waktu sore, maka janganlah menunggu waktu pagi. (Ibnu Umar)
Padahal Allah senantiasa meminta kita untuk bersegera, tetapi tidak tergesa, baik dalam hal tugas, amanah, dan ibadah.
“Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Robb kalian dan kepada syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imron: 133).
Saat dalam titik, “yasudahlah” dan saya mulai sibuk untuk mengerjakan yang lain. Saya dikabari Tiko, untuk mengecek pengumuman pendaftaran hasil seleksi berkas gelombang 5, dan ternyataaa, tertulis nama saya diantara beratus pendaftar lainnya, Allahu akbar! saat itu, saya bingung harus merasakan seperti apa, karena saat itu sedang di warnet yang sedang ramai…
Kabarnya, saat wawancara LPDP, banyak hal yang ditanyakan terkait dengan nasionalisme, seperti isi panca sila, pembukaan UUD, pahlawan-pahlawan, lagu Indonesia Raya dan lain-lain, sya mencoba untuk mem-Pede-kan diri untuk menghapalkannya lagi. fiuh.
Kenyataannya, saat wawancara dilakukan oleh 3 orang interviewer, 2 berlatar belakang psikologi dan 1 orang berlatar belakang pendidikan (dosen). Saya yang sudah mempersiapkan presentasi dalam bahasa Inggris, jika sewaktu-waktu ditanyakan tentang rencana riset, saya sudah siap (yes!). Dan nyatanya, apa yang saya persiapkan, tidak ada yang ditanyakan (Nah loh ris..). Mereka benar-benar fokus pada pertanyaan: Akan jadi apa kamu setelah 5 dan 20 tahun mendatang. Selain pertanyaan dasar seperti alasan memilih universitas, negara, dan jurusan.
Saya yang random, dan saat itu sulit menjelaskan tentang cita-cita, semakin disadarkan bahwa tujuan memang harus segera ditentukan dan fokus dalam pencapaiannya. Saya yang dahulu saat kuliah sarjana banyak menargetkan cita-cita, bak seorang yang memiliki ratusan list mimpi, seperti hilang arah saat cita-cita itu tidak tercapai, khususnya setelah lulus kuliah, dan akhirnya saya lelah untuk bermimpi. Padahal, sukses itu bukan tanpa hambatan, bukan jalan lurus yang langsung sampai. Pemahaman saya yang keliru akan definisi sukses dan gagal, memepengaruhi pemahaman kehidupan saat itu.
Saya lupa, bahwa Allah selalu menyediakan ruang yang luas untuk berharap, dan saya lupa bahwa apa-apa yang terbaik selalu menjadi hak-Nya untuk kita. Saya lupa… dan saya diingikatkan kembali saat tahap wawancara.
Saya jawab, saya ingin menjadi ini dan itu, sebisa mungkin saya jelaskan, bahwa saya ingin menjadi bla.. bla.. bla.. 😀
Allahu rabbi, sepulang wawancara, saya merasa hilang arah (halah), orang yang saya temui setelah wawancara adalah Atha, dan saya langsung keluarkan perasaan saya yang tidak yakin dengan jawaban, yang menyesal kenapa harus jawab itu gak ini dan lainnya.
Seperti berada di titik yang sama seperti sesaat setelah interview universitas, nama tidak ada di list pendaftar yang lolos seleksi berkas, dan saat ini, selepas wawancara beasiswa, tahap terakhir untuk mendapatkan beasiswa dari LPDP.
Padahal, saat itu saya sedang ribet-ribetnya memikirkan pembuatan Certificate of Eligibility, yang meminta keterangan sudah dapat beasiswa atau belum, saat itu seperti saat -saat tersensitif dalam hidup, karena sering merasa tidak banyak orang yang membantu, tidak banyak diperhatikan, dan lain-lain, Padahal sebenarnya gak selebay itu sih dalam kenyataannya.
Saat itu juga, saya seperti ditampar dengan halus, karena diingatkan bagaimana kedua orangtua saya mendukung penuh. Sampai, seperti tidak adalagi yang mereka pikirkan selain mikirin anaknya. Seperti yang selalu ibu saya bilang: “bersemangat ya teh!”, Padahal saya kadang sok tahu terhadap pendapat ayah dan ibu saya yang ternyata memang lebih benar perkataannya.
Dua bulan sebelum tanggal (seharusnya) keberangkatan. Saya mencoba untuk menata ulang lifeplan, jikalau tiba-tiba saya harus mengisi form withdraw universitas, jika memang tidak menerima beasiswa, jika.. jika..
Sebulan sebelum keberangkatan, tepatnya akhir Agustus, saya menerima email yang berisikan undangan untuk mengikuti pelatihan yang berarti saya hampir lulus program beasiswa LPDP. Allah… Yang Maha Baik… Allah Yang Maha Baik… Ia tahu apa yang terbaik…
Saya pun mengikuti pelatihan 2 pekan sebelum saya berangkat. Pelatihan kepemimpinan LPDP menjadi syarat terakhir untuk menentukan pendaftar menjadi penerima beasiswa LPDP. Bersama dengan 96 calon penerima lainnya. Alhmdulillah, hari terakhir pelatihan kita dinyatakan resmi sebagai penerima beasiswa. Allahu Yubariik Fiik…
Karena keputusan terbaik, ada dalam keadaan terbaik, dan keadaan terbaik ada dalam suasana hati terbaik, suasana hati terbaik itulah, dimana kita mengingat Allah dan Yakin kepada-Nya.

See… tidak ada yang spesial dari curhatan pascasarjana saya… banyak hal dodol, geje, dan gak banget yang mewarnai hari-hari dalam perjalanannya… sekali lagi, bukan karena saya bisa, tetapi hanya karena betapa beruntungnya saya berkat doa-doa orang tua, dan orang-orang yang rela mendoakan saya ditengah kesibukan, yang saya tidak tahu siapa mereka (semoga Allah melipatgandakan doa untuk mereka) dan kelanjutannya.. bagaimana Allah saja, terserah Allah saja 😉

Curhat Pascasarjana #LPDP #Story #6 (LOA)

Dua pekan berlalu semenjak interview. Saya merasa sudah lebih ‘plong’ dan ‘yaudahlah’ sambil terus berdoa meminta hasil terbaik dari Yang Maha Memberi.

Sambil menunggu hasil interview universitas, saya coba untuk submit pendaftaran LPDP, tertanggal 17 Juni 2013, Dengan segenap kumpulan mood, hehe, saya submit tanpa menyertakan LOA, Saya yang awalnya masih ingin menunggu LOA, akhirnya mengirimkan berkas tanpa menyertakan LOA, karena pengumuman hasil interview universitas baru akan diumumkan tanggal 3 Juli 2013.

Let it be…

Setelah submit berkas dan menunggu hasil pengumuman seleksi berkas, akhirnya tanggal 3 Juli tibalah. Saya sempatkan untuk khataman quran malamnya, supaya bisa baca doa khataman yang super keren itu… X) *dan saya baru nyadar kenapa kita dianjurkan untuk khatam quran minimal sebulan sekali, supaya setiap bulan kita bisa memperbaharui niat-niat yang kadang dalam perjalanan suka melipir kemana-mana, atau memperbaharui pilihan-pilihan, agar ridha Allah mengiringi pilihan kita… Agar pilihan kita sesuai dengan pilihan-Nya.

“Ya Allah, hamba memohon kepada-Mu permintaan terbaik, doa terbaik, kesuksesan terbaik, ilmu terbaik, amal terbaik, pahala terbaik, kehidupan terbaik, kematian terbaik, Kuatkanlah hamba, beratkanlah timbangan kebajikan hamba, realisasikan keimanan hamba, tinggikan derajat hamba, terima shalat hamba, ampuni dosa-dosa hamba…”

Sejenak saya, cek email, urutan paling atas dikirimkan oleh pengirim bertuliskan kanji. Biidznillah…

LOA

Mata saya berair, mereka yang pertama mengetahui pengumuman ini tentunya teman-teman sekost dan saya langsung kabari ibu dan bapak saya. Saya sadar, ini bukan akhir perjuangan, tetapi permulaan, permulaan yang kadang mempertemukan saya dengan kata ‘lelah’ atau ‘berhenti’.