Step by Step Kuliah di Jepang #4 (Memilih Kampus)

Setelah niat yang cukup, mengapa harus melanjutkan sekolah, setelahnya adalah mencari negara tujuan, Indonesia atau di Luar Negeri? Benua Asia, Australia, Amerika, Eropa, atau Afrika? Untuk penentuan ini, saya butuh hampir setahun untuk banyak berkonsultasi ke senior-senior yang saya rasa cukup banyak pengalaman di pasca sarjana di dalam dan di luar negeri. Selain senior, saya juga sempatkan untuk banyak bermusyawarah dengan keluarga, khusunya ibu dan bapak.

Akhirnya, di akhir tahun 2012, saya memutuskan benua Asia, sebagai pilihan dengan dua negara Jepang atau Korea. Kenapa Jepang atau Korea? Jepang, bisa dibilang negeri impian, Pertanian dan Sainsnya maju, Dan juga Alhmdulillah sudah pernah merasakan tinggal walau hanya beberapa hari disana Jadi lebih terbayang bagaimana jika tinggal disana dalam waktu yang lama.

Korea, bukan karena korean wave yang lagi happening :p Korea negara yang hampir sama perkembangannya dengan Jepang, dan salah satu negara yang mempunyai banyak Inovasi dengan tetap memberdayakan tenaga kerja dalam negerinya. Seperti Jepang, Ia negara yang sangat menjaga tradisi dan cinta terhadap produk dalam negeri. Ditambah, di tempat tinggal saya kini banyak sekali tenaga kerja dari Korea. Dan jadilah Jepang dan Korea yang menjadi kandidat negara selanjutnya dengan beberapa kandidat Universitas seperti: Kyoto University, Tokyo University of Agriculture and Technology (TUAT), Kyushu University, Tsukuba University, Yonsei University, Korea Advance Institute of Science and Technology (KAIST). dan Pohang University of Science and Technology (POSTECH).

Sekitar dua bulan, saya pun menentukan mana yang akan dipilih dari kedua negara ini. Dengan beberapa pertimbangan, akhirnya diputuskanlah satu negara tujuan yakni jepang. Alhmdulillah ternyata pilihan saya adalah pilihan yang tepat, karena seiring perjalanan saya mulai menemukan kedua perbedaan dari jepang dan korea.

Jepang dan Korea bisa dikatakan selalu bersaing dalam segala hal, keduanya ingin mengungguli satu sama lain, namun bisa dibilang jika perekonomian jepang lebih maju dari Korea, kareanya ritme kerja di korea menjadi lebih keras dari jepang karena mereka merasa harus mengungguli jepang. Istilahnya, no break until drop, karenanya, di korea, jenjang antara senior-junior sangatlah jelas diantara mereka.

Untuk memilih kampus yang baik di jepang ada hal-hal yang perlu diperhatikan, diantaranya:

  1. Jurusan yang ingin digeluti

Hal inilah yang pertama kali harus ditentukan, karena hal ini yang akan membuat semangat kita naik turun, dan yang akan menentukan hal-hal yang akan dilakukan kedepannya. Ketertarikan terhadap riset adalah hal yang penting karena, budaya riset di jepang yang sangat kental, baik untuk ilmu eksak dan ilmu sosial. Jadi, jangan sampai salah jurusan ya! 🙂

  1. Sensei yang diminati

Hal selanjutnya yang menentukan hidup mati kita (oke ini lebay, tapi sangat menjadi pertimbangan hehe), adalah sensei. Banyak macemnya sensei, ada yang prefeksionis, yang aktif ikut seminar, yang gak mengizinkan mahasiswanya memiliki kehidupan selain di kampus hehe, yang gak terlalu suka jika mahasiswanya menikah dan punya anak, sampai ada yang baik banget sampai mau meminjamkan uangnya untuk keperluan mahasiswanya. Tapi overall, sensei disini semuanya bertanggung jawab dan dapat dipercaya akreditasinya.. jadi pilihlah jenis sensei yang tepat untukmu *bukan karena sensei ini mudah atau sulit, Karena setiap orang berbeda mengahapinya. Caranya bisa dilihat dari rekam jejak penelitiannya (menggambarkan bahwa dia orang yang aktif), dari cara korespondensi email (coba tanyakan mengenai perihal keluarga dll, jika kita berniat membawa keluarga), dan lain –lain.

  1. Bahasa Pengantar (English/Japanese)

Hal ini cukup penting untuk dirimu dalam mempersiapkan kemampuan berbahasa di jepang. Kalau memang ingin masuk ke program yang Bahasa jepang baiknya adalah ikut research student dulu, keuntungannya adalah kamu akan lebih gaul dikalangan teman-teman jepang, dan mendapat banyak info yang bisa kamu mengerti (jika info itu dalam Bahasa jepang), tapi jika program yang kamu ikuti berbahasa inggris itu lebih menguntungan sehingga kamu bisa fokus ke peningkatan risetmu, namun kelemahannya ya jd banyak gak ngerti hal-hal sekitar..

  1. Kampus yang memiliki peringkat yang baik

Di Jepang, peringkat satu dan dua adalah Tokyo dan Kyoto, peringkat lainnya berubah-ubah tiap tahunnya. Namun sepuluh besar jepang, biasanya menyediakan program Bahasa inggris. Jadi sebenernya dimanapun kamu belajar insyaAllah setiap kampus memiliki keistimewaannya sendiri.

  1. Lokasi, budaya, dan masyarakat sekitar

Lokasi perkuliahan yang kana mempengaruhi anggaran studimu dan bagaimana cara mengatur keuangan hehe. Jika tinggal di daerah kota seperti Tokyo, Kyoto, dan Nagoya, kemungkinan kamu akan menghabiskan anggaran lebih besar dari kota lainnya. Jadi siap-siap untuk hal ini. Namun, di kota besar akan banyak hal yang akan didapatkan lebih dari kota lainnya.

Curhat Pascasarjana #LPDP #Story #7 (Habis)

Kita, mungkin tidak pernah tahu apa yang terbaik untuk kita. Kita hanya bisa menerka, menduga, dan mencari celah dimana kita dapat menemukan berkah dan ridha-Nya. Dengan selalu menemukan cara untuk bersyukur.

Bahkan untuk keinginan yang telah kita capai, tidak berarti itu yang terbaik untuk kita, juga untuk keinginan yang kandas dan tergantikan oleh kenyataan, tidak berarti itu yang terburuk untuk kita. Tetapi sekali lagi, kita dapat mencari celah dimana kita dapat menemukan berkah dan ridha-Nya. Dengan cara menemukan alasan untuk bersabar.

Wahai Allah, karuniakan apa yang terbaik menurut-Mu, yang dengan itu hati selalu merasa tentram, walau dengan keadaan yang berpayah dalam kesulitan, namun selalu ada jalan untuk berbaik sangka memahami skenario-Mu.

Alhmdulillah, semenjak ada LOA, perjuangan harus lebih semangat! Saya segera mengecek status pendaftaran beasiswa LPDP di website. Belum ada pengumuman yang lolos seleksi berkas. Saya tunggu beberapa pekan lagi, keluarlah pengumuman seleksi gelombang 4, yang periode submitnya mencakup tanggal dimana saya submit berkas. Hasilnya, cukup membuat sesak, karena tidak ada nama saya.

Saya mulai bertanya, apakah karena tidak ada LOA? atau Essay yang tidak bisa dipahami atau nilai TOEFL yang terlalu kecil? atau atau yang lain, yang membuat saya pusing untuk berasumsi sendiri.

Kalau memang tidak ada LOA, maka saya coba untuk mengabarkan bahwa, hey saya sudah dapet LOA-nya, hiks.

Saya bertanya-tanya pada banyak orang, apa yang harus saya lakukan. Tibalah dimana saya mencoba untuk mendatangi kantor LPDP untuk menjelaskan kondisi saat ini. Tetapi setelah saya kesana, memang prosedurnya adalah harus menunggu pengumuman seleksi beasiswa selanjutnya. Intinya, harus sabar, Riska…

Saat itu, mungkin saya dalam tahap yang, Saya harus dapet beasiswa! Saya mulai mencari jalan lain, beasiswa lain. Dikti dan kemendikbud, menjadi sasaran selanjutnya yakni beasiswa BPLN dan BPKLN, saya sempat melengkapi berkas untuk kedua beasiswa itu.

Dalam sebulan itu saya hampir tiap pekan mendatangi kantor-kantor pemerintahan seperti dikti dan kemendikbud untuk memastikan pembukaan program beasiswa itu. Saya juga hampir mencari rekomendasi dari Universitas untuk merekomendasikan saya sebagai dosen disana, tetapi akhirnya setelah dipertimbangkan lagi, saya urungkan untuk yang dikti. Then, saya coba beasiswa kemendikbud, saya pastikan bahwa memang benar ada beasiswa ini, dengan menelefon dan mendatangi langsung kantornya, namun sekali lagi, saya urungkan untuk mendaftar beasiswa ini.

Juli, seperti bulan yang penuh dengan campur aduk perasaan, di satu sisi saya bersyukur bisa diterima oleh salah satu universitas, di sisi lain, saya harus siap memilih untuk tidak berangkat, jika memang tidak mendapatkan beasiswa.

Rasanya saat melihat nama tidak ada dalam list pendaftar yang lolos seleksi berkas itu, seperti dunia berhenti berputar, isi perut seakan pindah ke ubun-ubun, terbang dan dijatuhkan kembali, sampai akhirnya sadarkan diri, dan adegan kemudian adalah nangis bombay… (Oke ini lebay :p)

Seakan disentil dan diperintahkan untuk mengingat dan melihat kebelakang, “pasti ada yang salah”. Yang buruk dari saya adalah, procrastinator sejati, kerjaannya selalu menunda-nunda pekerjaan, dengan banyak alasan atau cari-cari alasan 😦 saya juga sempat diingatkan sama TIko, “kan riss, aku juga saranin kamu cepet-cepet siapin persyaratannya, siapin ini itu, langsung usaha cari ini itu” dan saya hanya ber-“iyaaa yaa tikoo huhuhu“. Dan penyesalan datang karena usaha yang tidak maksimal.

Saat keasyikan menunda-nunda, seakan terlupa sama nasihat:

“Barangsiapa yang suka melambat-lambatkan pekerjaannya maka tidak akan dipercepat hartanya.”  (HR. Bukhari)
”Jika kamu menyongsong pagi, maka janganlah menunggu waktu sore. Jika kamu berada pada waktu sore, maka janganlah menunggu waktu pagi. (Ibnu Umar)
Padahal Allah senantiasa meminta kita untuk bersegera, tetapi tidak tergesa, baik dalam hal tugas, amanah, dan ibadah.
“Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Robb kalian dan kepada syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imron: 133).
Saat dalam titik, “yasudahlah” dan saya mulai sibuk untuk mengerjakan yang lain. Saya dikabari Tiko, untuk mengecek pengumuman pendaftaran hasil seleksi berkas gelombang 5, dan ternyataaa, tertulis nama saya diantara beratus pendaftar lainnya, Allahu akbar! saat itu, saya bingung harus merasakan seperti apa, karena saat itu sedang di warnet yang sedang ramai…
Kabarnya, saat wawancara LPDP, banyak hal yang ditanyakan terkait dengan nasionalisme, seperti isi panca sila, pembukaan UUD, pahlawan-pahlawan, lagu Indonesia Raya dan lain-lain, sya mencoba untuk mem-Pede-kan diri untuk menghapalkannya lagi. fiuh.
Kenyataannya, saat wawancara dilakukan oleh 3 orang interviewer, 2 berlatar belakang psikologi dan 1 orang berlatar belakang pendidikan (dosen). Saya yang sudah mempersiapkan presentasi dalam bahasa Inggris, jika sewaktu-waktu ditanyakan tentang rencana riset, saya sudah siap (yes!). Dan nyatanya, apa yang saya persiapkan, tidak ada yang ditanyakan (Nah loh ris..). Mereka benar-benar fokus pada pertanyaan: Akan jadi apa kamu setelah 5 dan 20 tahun mendatang. Selain pertanyaan dasar seperti alasan memilih universitas, negara, dan jurusan.
Saya yang random, dan saat itu sulit menjelaskan tentang cita-cita, semakin disadarkan bahwa tujuan memang harus segera ditentukan dan fokus dalam pencapaiannya. Saya yang dahulu saat kuliah sarjana banyak menargetkan cita-cita, bak seorang yang memiliki ratusan list mimpi, seperti hilang arah saat cita-cita itu tidak tercapai, khususnya setelah lulus kuliah, dan akhirnya saya lelah untuk bermimpi. Padahal, sukses itu bukan tanpa hambatan, bukan jalan lurus yang langsung sampai. Pemahaman saya yang keliru akan definisi sukses dan gagal, memepengaruhi pemahaman kehidupan saat itu.
Saya lupa, bahwa Allah selalu menyediakan ruang yang luas untuk berharap, dan saya lupa bahwa apa-apa yang terbaik selalu menjadi hak-Nya untuk kita. Saya lupa… dan saya diingikatkan kembali saat tahap wawancara.
Saya jawab, saya ingin menjadi ini dan itu, sebisa mungkin saya jelaskan, bahwa saya ingin menjadi bla.. bla.. bla.. 😀
Allahu rabbi, sepulang wawancara, saya merasa hilang arah (halah), orang yang saya temui setelah wawancara adalah Atha, dan saya langsung keluarkan perasaan saya yang tidak yakin dengan jawaban, yang menyesal kenapa harus jawab itu gak ini dan lainnya.
Seperti berada di titik yang sama seperti sesaat setelah interview universitas, nama tidak ada di list pendaftar yang lolos seleksi berkas, dan saat ini, selepas wawancara beasiswa, tahap terakhir untuk mendapatkan beasiswa dari LPDP.
Padahal, saat itu saya sedang ribet-ribetnya memikirkan pembuatan Certificate of Eligibility, yang meminta keterangan sudah dapat beasiswa atau belum, saat itu seperti saat -saat tersensitif dalam hidup, karena sering merasa tidak banyak orang yang membantu, tidak banyak diperhatikan, dan lain-lain, Padahal sebenarnya gak selebay itu sih dalam kenyataannya.
Saat itu juga, saya seperti ditampar dengan halus, karena diingatkan bagaimana kedua orangtua saya mendukung penuh. Sampai, seperti tidak adalagi yang mereka pikirkan selain mikirin anaknya. Seperti yang selalu ibu saya bilang: “bersemangat ya teh!”, Padahal saya kadang sok tahu terhadap pendapat ayah dan ibu saya yang ternyata memang lebih benar perkataannya.
Dua bulan sebelum tanggal (seharusnya) keberangkatan. Saya mencoba untuk menata ulang lifeplan, jikalau tiba-tiba saya harus mengisi form withdraw universitas, jika memang tidak menerima beasiswa, jika.. jika..
Sebulan sebelum keberangkatan, tepatnya akhir Agustus, saya menerima email yang berisikan undangan untuk mengikuti pelatihan yang berarti saya hampir lulus program beasiswa LPDP. Allah… Yang Maha Baik… Allah Yang Maha Baik… Ia tahu apa yang terbaik…
Saya pun mengikuti pelatihan 2 pekan sebelum saya berangkat. Pelatihan kepemimpinan LPDP menjadi syarat terakhir untuk menentukan pendaftar menjadi penerima beasiswa LPDP. Bersama dengan 96 calon penerima lainnya. Alhmdulillah, hari terakhir pelatihan kita dinyatakan resmi sebagai penerima beasiswa. Allahu Yubariik Fiik…
Karena keputusan terbaik, ada dalam keadaan terbaik, dan keadaan terbaik ada dalam suasana hati terbaik, suasana hati terbaik itulah, dimana kita mengingat Allah dan Yakin kepada-Nya.

See… tidak ada yang spesial dari curhatan pascasarjana saya… banyak hal dodol, geje, dan gak banget yang mewarnai hari-hari dalam perjalanannya… sekali lagi, bukan karena saya bisa, tetapi hanya karena betapa beruntungnya saya berkat doa-doa orang tua, dan orang-orang yang rela mendoakan saya ditengah kesibukan, yang saya tidak tahu siapa mereka (semoga Allah melipatgandakan doa untuk mereka) dan kelanjutannya.. bagaimana Allah saja, terserah Allah saja 😉

Curhat Pascasarjana #LPDP #Story #6 (LOA)

Dua pekan berlalu semenjak interview. Saya merasa sudah lebih ‘plong’ dan ‘yaudahlah’ sambil terus berdoa meminta hasil terbaik dari Yang Maha Memberi.

Sambil menunggu hasil interview universitas, saya coba untuk submit pendaftaran LPDP, tertanggal 17 Juni 2013, Dengan segenap kumpulan mood, hehe, saya submit tanpa menyertakan LOA, Saya yang awalnya masih ingin menunggu LOA, akhirnya mengirimkan berkas tanpa menyertakan LOA, karena pengumuman hasil interview universitas baru akan diumumkan tanggal 3 Juli 2013.

Let it be…

Setelah submit berkas dan menunggu hasil pengumuman seleksi berkas, akhirnya tanggal 3 Juli tibalah. Saya sempatkan untuk khataman quran malamnya, supaya bisa baca doa khataman yang super keren itu… X) *dan saya baru nyadar kenapa kita dianjurkan untuk khatam quran minimal sebulan sekali, supaya setiap bulan kita bisa memperbaharui niat-niat yang kadang dalam perjalanan suka melipir kemana-mana, atau memperbaharui pilihan-pilihan, agar ridha Allah mengiringi pilihan kita… Agar pilihan kita sesuai dengan pilihan-Nya.

“Ya Allah, hamba memohon kepada-Mu permintaan terbaik, doa terbaik, kesuksesan terbaik, ilmu terbaik, amal terbaik, pahala terbaik, kehidupan terbaik, kematian terbaik, Kuatkanlah hamba, beratkanlah timbangan kebajikan hamba, realisasikan keimanan hamba, tinggikan derajat hamba, terima shalat hamba, ampuni dosa-dosa hamba…”

Sejenak saya, cek email, urutan paling atas dikirimkan oleh pengirim bertuliskan kanji. Biidznillah…

LOA

Mata saya berair, mereka yang pertama mengetahui pengumuman ini tentunya teman-teman sekost dan saya langsung kabari ibu dan bapak saya. Saya sadar, ini bukan akhir perjuangan, tetapi permulaan, permulaan yang kadang mempertemukan saya dengan kata ‘lelah’ atau ‘berhenti’.

Curhat Pascasarjana #LPDP #Story #5 (Interview)

4 Juni 2013

Perjuangaaan mencari surat rekomendasi dari Dean of Faculty yang buat saya dag-dig-dug sebelum tanggal 7 Juni, dan tertanggal 4 Juni saya masih corat coret ngisi formulir, dan nunggu kepastian surat rekomendasi dari dosen di IPB. Saya memang gak gaul di Fakultas (Gaulnya tingkat Universitas sih, :p ditimpuk rame2), Nah itu yang buat saya gak deket sama Ibu Dekan yang baru, dan agak sungkan untuk minta rekomendasi beliau. saya juga agak sungkan untuk minta rekomendasi ke Departemen saya, Biokimia, karena studi yang saya ambil agak jauuuh dari apa yang saya pelajari sebelumnya hehe. Maap Pak,Bu. Akhirnya saya beranikan diri untuk meminta rekomendasi ke Dekan Pascasarjana IPB, yang saya baru kenal karena beliau yang membantu menjadi juri opini untuk lomba pangan lokal. Alhmdulillah beliau bersedia 😀

Dodolnya saya, bapak tersebut pasti sibuk luar biasa, harusnya saya meminta jauh-jauh hari. Ya tetapi apa daya, saya coba untuk ke kampus hari itu, saya sudah sms tetapi tidak mendapat balasan, wah beneran sibuk, batin saya. Sebelum ke rekntorat, saya coba ke kantor dekan FMIPA, tapi ternyata ibunya sedang ke luar kota T_T hampir speechless dan nyerah. Saya jalan-jalan lah ke rektorat dengan maksud mentranslet dan legalisir ijazah yg berbahasa Inggris, dan saat sampai disana, tiba-tiba saya melihat sesosok bapak yang berjalan tegap, saya perhatikan… Yatta! itu pak dekan! refleks langsung memanggil si bapak dengan nada setengah teriak (bener-bener gak sopan pemirsah, jangan ditiru :D) dan sambil cengar-cengir, menghampiri si Bapak, “Ohiya, kamu riska ya? maaf ini saya belum sempat balas sms, sini mana saya buatkan suratnya sekarang juga” waks… langsung melting, dan bolak-balik dzikir istigfar sambil hamdalah dalam hati, ya Allah emang kalau jodoh gak kemanaaa :”) doakan bapaknya berkah dunia akhirat.

Akhirnya saya ikut ke ruangan beliau, dan saat itu juga dibuatkan surat rekomendasinya. :”) padahal itu H-4 jam harus dikumpul lewat pos ke Jepang. Selain bapak itu, saya sebelumnya telah meminta ke dosen lainnya, (lagi2 bukan dosen departemen saya)< bapak itu adalah dosen jurusan teknik mesin dan biosistem yang sudi membuatkan surat rekomendasi untuk saya. dan hari itu membatu saya untuk mencari alamat DHL Bogor! Semoga bapak iini juga berkah dunia akhirat :”)

Waktu menunjukkan pukul 14.00 wib. dan itu artinya saya harus cepat-cepat mengirimkan berkas. menuju ke DHL Bogor di jalan Padjajaran. Hal selanjutnya yang selalu saya alami adalah, Nyasar! sampe jam 16.30 wib. Alhmdulillah, sampai juga di DHL, setelah muter-muter :p yang membuat saya bersyukur selanjutnya adalah pengiriman ke jepang yang 2 hari sampai sodara-sodara! Allahu Akbar! dan hari itu ditutup dengan pengiriman berkas, saya pun pulang ke Cilegon dari Bogor ;’)

admission

7 Juni 2013

Saya mendapatkan email dari Ms. Shinoda tentang jadwal interview, Alhmdulillah lolos seleksi berkas. Dalam jadwal yang diberikannya, ada 2 agenda tanggal 12 Juni untuk cek koneksi skype dan tanggal 19 Juni untuk interview. Saat tanggal 12, waktu yang ditentukan untuk cek koneksi yakni jam 11.00 p.m, dan dengan pinjaman laptop dari Mba Intan di kantor saya coba untuk terhubung dengan Ms. Shinoda. Gak nyambung-nyambung, suara yang tidak terdengar dll T_T akhirnya saya memutuskan untuk membeli peralatan seperti web-cam dan head-phone yang ada micro-phonenya (tadinya sih mau ngirit, tapi emang mesti modal juga XD). Tibalah tanggal 19 Juni, kedodolan saya kembali muncul, yang saya ingat adalah jam 11.00 p.m, dengan santainya saya masih siap-siap di kost-an, pilih-pilih jilbab dll XD, tanpa sadar bahwa jam yang saya ingat itu salah! Saat mulai berangkat pukul 08.30 dari kosan, dengan dibonceng motor oleh Atha. Perasaan saya nggak enak, saya coba cek lagi email di perjalanan naik motor, deg. Ternyata jam interview adalah jam 08.45-09.00. Saya tepuk-tepuk pundak Atha, kalau salah jam >.<! Akhirnya dengan kekuatan kebut-kebutan (Saya sunggu percaya pada sahabat saya ini, karena dia sudah pengalaman bermotor ria, sampai ketiduran saat bawa motor :P) perjalanan yang biasanya ditempuh sekitar 45 menit, menjadi sekitar 25 menit saja. Sampai di parkiran motor, ada nomor asing yang menelepon, dan itu suara sensei saya!

Setelah basa-basi di telpon sambil meminta maaf, saya pasang alat-alat untuk sykpe yang baru dibeli tadi malam >_< dan mencoba memulai koneksi. Jreeeng. sudah ada sekitar 5 orang pewawancara. Saya berusaha mengatur napas dan rileks. Thanks berat buat temen2 kantor saya yang ikutan rempong pagi itu, dan akhirnya mereka menonton saya interview… >,<.

“I’m sorry, I’m late, this is my fault.. bla bla bla…” saya bilang itu kesalahan saya, ditambah dengan alasan macet (dan memang macet ^^”) dan interview pun berlangsung…

Pertanyaan yang muncul pertanyaan standar seperti alasan memilih jurusan, cita-cita, rencana study, sponsorship, kenapa memilih Jepang bukan USA, dan banyak lagi. Semua jawaban mengalir, kalau boleh terharu, mungkin saya bakal menitikan air mata saat ditanya mengapa jurusan ini dan mengapa jepang (hihi oke ini lebay :p). Allahu rabb, saat itu datang juga 😉

Sesudahnya interview, teman2 di ruangan senyam-senyum sendiri, hal pertama yang saya tanya:

ngerti gak tadi aku ngomong apaaa? *sambil meringis :p (soalnya jawaban saya yang menurut saya amburadul :p)

“ngertii, hihi,” Alhmdulillah, *doa buat Mba Nuri, Mba Intan, Atha, dan Ka ufuwan yang hadir saat ini 😀

Sesudah interview itu juga, saya naik ke mushola, saya merenung, nangis sebanyak-banyaknya biar semua beban lepas, sambil dhuha-an, karena sebelum interview gak sempet >.

Curhat Pascasarjana (TOEFL IBT) #LPDP #Story #4

Abu Darda Radliyallahu ‘anhu berkata, “Siapa yang beranggapan bahwa pergi menuntut ilmu bukan jihad maka telah berkurang akalnya.”

Mu’adz bin Jabal berkata, “Pelajarilah ilmu, karena mempelajarinya karena Allah adalah hasanah, menuntutnya adalah ibadah, mempelajarinya adalah tasbih, dan membahasnya adalah jihad.”

Persiapan selanjutnya adalah test TOEFL IBT, berbeda dengan TOEFL ITP (Institutional Test Program) atau PBT (Paper Based Test), TOEFL IBT (Internet Based Test) menjadi persyaratan masuk Universitas yang harus dilampirkan. Mungkin ada beberapa yang menerima dalam bentuk ITP atau PBT, teteapi lebih banyak yg menerima IBT (saat akan apply ke universitas, mohon ditanyakan mengenai persyaratan TEOFL ini). *FYI: TOEFL hanya diperuntukan untuk negara seperti Asia dan Amerika, kalau Eropa dan Australia yg diperlukan adalah IELTS (jangan tanya saya, soalnya belum pernah XD)

Untuk mengikuti TOEFL IBT hal pertama yang harus dilakukan adalah membuat akun di www.ets.org nanti akan ada kolom Sign Up untuk register.

ets ets2

As always, saya curcol sama Tiko (yang selalu selangkah lebih maju.. eaa :D). Apa saja yang dibutuhkan, dipersiapkan, dll. Jujur, kami belum pernah ikut les persiapan untuk TOEFL dan semacamnya, dan langkah ini pun kami nilai sebagai langkah yang Nekat! :p Bismllahi tawkkaltu, laa hawla wa laa quwwata ila biLlah…

Seelum Tes TOEFL IBT, saya dua kali mengikuti Tes TOEFL ITP, yg pertama yang saya ceritakan sebelumnya, yakni di LIA Pramuka, dengan hasil yang gak banget, saya gak ambil deh hasil tesnya. hehe. Dan yang kedua bertempat di LIA Veteran (test TOEFL ini saya ambil bersama dengan Tiko). Untuk tes TOEFL IBT itu jadwal tes saya berselang seminggu dengan jadwalnya Tiko.

Oke-nya, pendaftaran IBT ini adalah untuk daftar minimal sebulan sebelumnya, hal ini mencegah saya yg deadliner ini untuk tergesa, dan gak belajar untuk persiapan test :p. Yah namanya juga riska, dengan alasan masih mikir, ngumpulin uang, dan sok sibuk dengan kerjaan (ya karena utama adalah kerjaan bukan? hihi), saya kena denda juga, karena telat sehari pendaftaran. #tepokjidat. Sehingga sistem belajar kebut 2 minggu pun saya lakukan.

Buku yang saya baca untuk persiapan test adalah buku dari KAPLAN, dengan dilengkapi CD-ROM untuk latihan. Ada empat bagian test yakni, Reading, Listening, Speaking, dan Writing. Yang nge-buat keki dan gak pede adalah bagian Speaking hehe. Jadi saya maksimalin untuk latihan speak-speak :p

kaplan

Tantangannya, dibandingkan TOEFL IBT yang hanya Reading dan Listening, IBT memang lebih kompleks dan lengkap. Semua kemampuan ditest disana. Seperti dua tahun lalu saya saya berkesempatan course english selama 2 bulan di US, 4 hal itulah yang dititikberatkan untuk dilatih. Then, selama di Indonesia, menguap sudah ilmunya, karena gak pernah dipake, wkwk. Wallahu’alam 😉

Jeng jeng, kenapa saya terburu mengambil test pada bulan Mei ini? Karena oh karena deadline berkas Admission adalah 7 Juni 2013, dan waktu terakhir untuk ikut test IBT adalah saat itu juga. Hoho. Ya begitulah pemirsah. itu pun saya masih harus izin untuk bilang bahwa hasil test yang akan langsung dikirim ke kempus Tsukuba dari US (tempat penilaian test) akan telat sepekan dari yang sudah dijadwalkan. Alhmdulillah diperbolehkan. Yap, jadi ingat-ingat, untuk test TOEFL IBT harus sebulan sebelum (minimal dua pekan, klo telat denda skitar 47$ atau sekitar Rp.500.000 lumayan kan T_T), sedangkan testnya sendiri seharga 175$ atau sekitar Rp. 1.850.000. Dan hasilnya akan dikirim langsung ke Universitas Tujuan, dalam durasi sekitar 15 hari.

Hasil nilai bisa dilihat langsung di web ets.org, dan dengan hasil itu saya pastikan lagi ke kampus, sehingga mereka percaya bahwa saya telah ambil test IBT hehe. ALhmdulillah dengan nilai sekian-sekian, saya memberanikan diri untuk menyertakan nilai itu dalam aplikasi pendaftaran saya ke University of Tsukuba. Aplikasi lainnya berupa form pendaftaran, CV, dan Reserach Plan. Yosh! 😀

Curhat Pascasarjana #LPDP #Story #3

Terpilihlah satu negara, yang pada awal tahun saya sempatkan untuk mengikuti pameran pendidikan negara itu yang diselenggarakan di Universitas Atmajaya Jakarta (Benhil, Depan Kost-nya Tiko, pemirsah, nama: Tiko, akan beberapa kali di-mensyen, mohon jangan bosan :D)

Global 30 program pengajaran dengan bahasa Inggris, yang membuat saya memberanikan diri untuk mengambil sekolah di Jepang. Ya Jepang, tanpa harus menguasai bahasa Jepang secara keseluruhan (yang selama ini menjadi kendala saya untuk maju sesegera mungkin) akhirnya saya bisa sekolah di Jepang hehe. Tentunya, bahasa Jepang harus tetap dipelajari, sebagai bahasa keseharian. Akhirnya setelah tanya-tanya dan bertemu beberapa sensei yang datang di pameran pendidikan itu, saya memantapkan diri untuk mengambil kuliah di sana.

Tersebutlah beberapa Universitas yang menyediakan beberapa jurusan yang berhubungan dengan sains, biokimia, dan pertanian. Sambil mencoba menentukan universitas, saya pun mencoba mencari peluang-peluang beasiswa yang ada, pertama kali yang saya coba adalah beasiswa kominfo. Saya pun menyesuaikan jurusan yang saya ambil, yang berhubungan dengan informatika, jreeng, saya akan mencoba mengambil Bioinformatika di Tokodai. Saya mulai mempersiapkan persyaratan seperti berkas-berkas, formulir, TPA dan TOEFL ITP.

Bulan Januari pekan ke 2 saya mengambil test TOEFL ITP di LIA Pramuka Jakarta (TOEFL saya yang dulu ternyata sudah expired hihi XD), pekan ke 3 nya saya mengambil test TPA di Bappenas Jakarta (Pertama kalinya ambil test TPA). Mepeett, sungguh mepet karena deadline berkas untuk beasiswa kominfo adalah tanggal 5 Februari. So, hasil test haruslah sesuai dengan syarat yakni 550 untuk TOEFL dan 450 untuk TPA. Alhasil TPA dengan nilai cukup bagus (walau di kemampuan matematika yang pas-pasan wkwk), namun TOEFL saya ternyata turun hiks hiks, saya tidak jadi apply untuk beasiswa kominfo. Dadaahh bioinformatikaaa… 😀

Target beasiswa selanjutnya adalah Monbugakusho (atau MEXT yakni beasiswa dari pemerintah Jepang), yang bikin cupu buat ikut beasiswa ini adalah kemampuan bahasa Jepang yang “ahsudahlah” :p saya cuma bisa baca hiragana sama katakana, kanji mesti merem-melek buat bacanya XD. Dan proses aplikasi yang cukup panjang yakni setahun.

Beasiswa lain yang lagi marak adalah LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) dari kementrian Keuangan yang berkoordinasi dengan Kementrian Pendidikan dan Kementrian Agama. Tahun ini adalah tahun pertama untuk beasiswa LPDP. Tiko menyarankan untuk coba monbusho dan LPDP, saya yang tukang ngeyel dan sok banyak kerjaan ini, masih maju mundur untuk memperjuangankan kedua beasiswa itu. Jadilah dalam tahap itu saya mencoba untuk mencari LOA (Letter of Acceptance) dulu.

Dari hasil pertimbangan yang mendalam, saya list 3 universitas yakni Kyoto, Kyushu, dan Tsukuba sebagai target. dan diantara ketiga itu, saya mencoba mencari sensei dan jurusan yang sesuai, ada beberapa yang menarik hati di Kyoto, misalnya Global Frontier Bioscience, tetapi saat dipertimabangkan kembali, saya gak mau ambil yang bioscience banget hehe, ingin yang lebih aplikasi dan mengarah ke social science tapi yang gak sosial banget (hadeeh banyak maunya). Then, saya akhirnya jatuh cinta pada sebuah program post-graduate di University of Tsukuba, sebut saja ia: Professional Training Program in International Agriculture Research, saya coba SKSD dengan menanyakan beberapa mata kuliah yang ditawarkan. Sambil tanya-tanya juga ke alumni Tsukuba Daigaku seperti Ka Ikono dan Mba Nur Hasanah. Selang sehari kemudian, saya mendapat beberapa jawaban langsung dari sensei yang bersangkutan, Happy to hear that! Saya kepo-in deh riwayat sensei tersebut, yap dengan mantap saya memintanya untuk jadi prospective supervisor atau dosen pembimbing saya.

Saat itu, saat bulan Mei, dimana saat pertengahan April saya sudah menyerah dengan berkas monbugakusho saya, akhir April saya berangkat ke Taiwan untuk presentasi, sehingga berkas itu benar-benar tidak terkirim hehe. Kabar baiknya, ternyata LPDP dibuka sepanjang tahun, ALhmdulillah secercah harapan sedikit terlihat. Bulan Mei, selain sibuk persiapan kampanye pangan lokal, saya juga menyempatkan untuk menulis proposal riset dan mengikuti test TOEFL IBT. Ganbaru! 😉

to be continued…

Curhat Pascasarjana #LPDP #Story #2

Hari ini kabarnya pengumuman penerima beasiswa LPDP gelombang ke-6 tahun 2013 keluar, sambil nunggu pengumuman yang semenjak bulan lalu saya tunggu ini, saya akan lanjutkan curcolan gakjelas tentang perjalanan melanjutkan sekolah. Wallahu’alam, entah dapat atau tidaknya beasiswa, semoga curhat ini bermanfaat hihi.. 😉

Okey, setelah niat yang cukup, mengapa harus melanjutkan seokalh, kemudian kita mencari negara tujuan, Indonesia atau di Luar Negeri? Benua Asia, Australia, Amerika, Eropa, atau Afrika? Untuk penentuan ini, saya butuh hampir setengah tahun untuk banyak berkonsultasi ke senior-senior yang saya rasa cukup banyak pengalaman di pasca sarjana di dalam dan di luar negeri. Tepatnya, dari bulan Juli 2012 sampai November 2012. Selain senior, saya juga sempatkan untuk banyak bermusyawarah dengan keluarga, khusunya ibu dan bapak. Yup. jangan sampai mereka tidak tahu rencana anak perempuan pertama satu-satunya, yang ternyata ingin ‘meninggalkan-rumah-lagi’ hiks.

Saya timbang-timbang, saya pun melihat beberapa peluang, dan juga jadal-jadwal perkuliahan yang tidak boleh terlewatkan. Saya sempat membuat akun penerimaan mahasiswa UI, dengan pilihan jurusan antara Ilmu Herbal dan Biomedis (Karena UI adalah kampus yang sering di-mensyen oleh Bapak saya agar bisa lanjut disana, semacam impian bapak saya yang belum tercapai hehee…), dan hampir ikut seleksinya di bulan April 2013 kemarin, tetapi tidak jadi karena saya harus berangkat presentasi di Taiwan. hehehe…

Akhirnya, di akhir tahun 2012, saya memutuskan benua Asia, sebagai pilihan dengan dua negara Jepang atau Korea. Kenapa Jepang atau Korea? Jepang, bisa dibilang negeri impian, hoho. Pertanian dan Sainsnya maju, Dan juga Alhmdulillah sudah pernah merasakan tinggal walau hanya beberapa hari disana :p Jadi lebih terbayang bagaimana jika tinggal disana dalam waktu yang lama.

Korea, bukan karena korean wave yang lagi happening :p walau sejujurnya saya juga pernah sih ngikutin kabarnya super junior, duluu waktu awal kuliah di tahun 2007 hahah :p. Korea negara yang hampir sama perkembangannya dengan Jepang, dan salah satu negara yang mempunyai banyak Inovasi dengan tetap memberdayakan tenaga kerja dalam negerinya. Seperti Jepang, Ia negara yang sangat menjaga tradisi dan cinta terhadap produk dalam negeri. Ditambah, di tempat tinggal saya kini banyak sekali tenaga kerja dari Korea. Semenjak Krakatau-Posco berdiri di Cilegon, jadilah buanyak sekali pekerja yang didatangkan dari negara asalnya, untuk memegang pabrik industri baja patungan PT. Krakatau Steel dan Posco dari Korea (Kapa-kapan saya akan cerita tentang ini). Jadi, ceritanya, kalau saya bisa bahasa korea kan saya bakal ngerti apa yang bakal mereka lakukan di kota saya ini :p

Dan jadilah Jepang dan Korea yang menjadi kandidat negara selanjutnya dengan beberapa kandidat Universitas seperti: Kyoto University, Tokyo University of Agriculture and Technology (TUAT), Kyushu University, Tsukuba University, Yonsei University, Korea Advance Institute of Science and Technology (KAIST). dan Pohang University of Science and Technology (POSTECH).

Sekitar dua bulan, saya pun banyak berdiskusi dengan teman seperjalanan seperjuangan (Tiko) untuk menentukan mana yang akan dipilih dari kedua negara ini. Dengan beberapa pertimbangan, akhirnya diputuskanlah satu negara tujuan… Bismillah 😉