Formosa #2

Hari Kedua, 28 April 2013.

Serius, pagi itu saya masih ngantuk ;p padahal begadang juga enggaa, karena slide presentasi sudah dikumpulkan saat hari pertama, sistem kebut se-siang.. 😀 sebelum sorenya harus dikumpulkan. Ini adalah pengalaman presentasi di konferensi intl yang kedua, dengan sejarah persiapan slide yang lebih baik dari konferensi yang pertama, Alhmdulillah (bisa bayangin kan, betapa rempongnya saat pengalaman prensentasi pertama kali, yah namanya juga mahasiswa :D).

Masih dengan kosa kata yg sama dengan hari kemarin: Me you pyou, lianke (Artnya: kami tidak punya kartu -untuk bis-, dua orang), itu lah kata-kata sakti yang diajarkan oleh Mbak Chiku, untuk naik bis dari penginapan ke tempat acara di Asia University. Mbak Chiku idola dan inspirasi kami, ihiy 😀 Alhmdulillah semenjak pertemuan Januari lalu saat ia pulang ke Indonesia, kami bisa menjumpainya di negara seberang tempat Mbak Chiku merantau…  😉

Saya dan Mbak Ummy mendapat kesempatan untuk memberikan presentasi di Cluster 1, Cluster Culture and Social Change. Dengan berbekal pengalaman lapangan yang sangat berbeda sekali dengan background kami berdua (Saya Biokimia dan Mbak Ummy Biologi :D) kami mencoba berbagi tentang, SosioTeknopreneuship! 😉 8 Daerah yang menjadi pilot project menjadi bahan bagi riset sosial tentang aplikasi konsep sosioteknprener dalam pengembangan masyarakat di masing-masing wilayah. Alhmdulillah misi presentasi selesai sudah… hehehe.

320714_10201182941562593_243830174_n
Peserta di Cluster 1

Akhirnya dua hari acara konferensi AISC Taiwan 2013 berjalan lancar, semoga berkah untuk para peserta dan panitia, dan semoga silaturahim tetap terjalin 😉

Dalam acara tersebut, kami banyak menemui saudara-saudara lama, alumni IPB, dan teman sekelas SMA saya, alumni UGM, dan teman-teman mbak Ummy saat SMA. Selain itu kami juga bertemu teman-teman baru dari keluarga besar FORMMIT, IC3T, dan mahasiswa-mahasiwa Indonesia yang sekolah disana 😉 (Thanks to: Mba Chiku, Kiswah, Arian, Cahyo, Adil, Mas Zucha, Defa, Mba Tati, Mbak Siwi, Krisna, -Panitia yang udah dirempongin saat kami disana-  Vita, Fajri, Muna, Ka Eksa, Atin, Endang, Geng Biologi UGM, Geng Unair, Ridho galau, Adik2 Brawijaya, dll- Yang sama-sama rempong sebagai peserta :D-)

942359_10200462006571164_1913923438_n
Ada Indonesia di Taiwan 😀

Malam hari setelah penutupan, kami menyempatkan untuk berjalan-jalan disekitar pasar malam. Awalnya kami kira dapat menjumpai beberapa souvenir khas yang bisa dijadikan oleh-oleh, selain makanan, karena makanan khas disana didominasi makanan tidak halal :(, tetapi ternyata pasar malamnya persis seperti pasar malam di Indonesia hehe. Alhasil kita hanya sempat berfoto-foto saja. :p

935645_10201182949682796_207716180_n
Narsis di Pasar Malam

Dan sampailah di hari ketiga… Jalan-Jalaaan… Yeay.. 😀

Hari Ketiga, 29 April 2013.

Lokasi  tujuan perjalanan hari ini adalah ke Industri Mesin Jhonford dan Sun Moon Lake. Jhonford adalah sebuah pengelola industri mesin yang ada di Taiwan. Saya salut dengan industri yang mengelola industri hulu untuk supply bahan ke industri menengah ini karena merekahanya memiliki beberapa pekerja dan masih skala menengah namun sudah mampu mengekspor bahan-bahan ke luar negeri.

foto1
Industri Mesin di Taiwan
603517_10201182957482991_669202034_n
Cewek yang Teknik itu Kereeen 😀
942961_10201182956922977_1160885030_n
Setumpuk Gambar Teknik…

Perjalanan dimulai kembali. Dimanapun, dengan apapun, harapan saya. Duduk dekat jendela! walaupun terkadang sering diledekin karena kayak bocah, tetapi saya akan berusaha terus supaya bisa duduk dekat jendela 😀 Dan inilah hasilnya… Taraaa…

944566_10201182953882901_1225781207_n
“Fly Over”
946863_10201182955722947_2087869111_n
Efek Miniatur 🙂

Perjalanan dilanjutkan ke Sun Moon Lake, yang terletak di Nantaou, Taiwan Tengah. Kalau tidak salah di daerah ini kita akan menemui suku asli Taiwan, karena saya sempat melihat plang bertuliskan Formosan Aboriginal Village, sayang sekali karena durasi waktu kunjung yang terbatas, kami belum berkesempatan untuk mengunjunginya. Perjalanan di Sun Moon Lake dilakukan menggunakan kapal kecil yang bermuatan sekitar 10-20 orang. Saya selalu suka mengadakan perjalanan melewati perairan, mendengar mesin kapal bercampur dengan percikan air… 😉

945377_10201182963563143_87597115_n
Peta Sun Moon Lake
935733_10201182966083206_186408194_n (1)
Berlayar untuk Kembali 😀
945404_10201182973003379_722048421_n
Kebahagian itu dekat, triknya menemukan sudut yang tepat 🙂

Menjelang petang kami beranjak pulang, sebenarnya bagi saya pecinta senja, masih penasaran dengan senja di Sun Moon Lake apakah terlihat mataharinya atau tidak? *Mbak Chiku mesti jawab karena saya yakin beliau sudah pernah menangkap senja disana yak kan? 😉

Usai sudah perjalanan, kembali ke Asia University. Saya dan Mbak Ummy bergegegas capcus ke Terminal U-Bus karena malam itu juga kami akan langsung ke Taipei untuk bermalam disana (dan jalan-jalan di Shilin night market- Janjinya Arian sih gitu :p *Arian adalah seorang temen saya sedari SMP-SMA yang sedang ditunggu kepulangannya oleh teman saya sedari SD-Kuliah Renny –Penting gak sih keterangan ini :p). Tetapi karena sampai di Taipe terlalu malam yakni jam 23.00 kami akhirnya mengurungkan niat untuk jalan-jalan ke night market. Kami langsung bergegas istirahat ke tempat Mbak Chiku dan berpisah dengan Arian yang sudah rela menjemput di Taipei Main Station (TMS) tetapi akhirnya ia harus mengantarkan rombongan anak Unair yang ‘nekat’ untuk ke Taipei tanpa rencana 😀

375023_10201182982803624_283847729_n

Sampai di tempat Mbak Chiku… Alhmdulillah ketemu kasurrr tidurrr (lagi 😀 setelah tidur sepanjang perjalanan di U-Bus)… Zzzz. Keesokan harinya, Mba Chiku mengantarkan kami ke TMS untuk naik HSR (Horee, Akhirnya ngerasain juga :D). Yang berarti itu adalah saat-saat terakhir di Taipei 😉

Alhamduillah, sekelebat saat menyebrang jalan menuju TMS, saya menemukan pemandangan ini! Walau belum sempat kesana, tetapi memandang dari jauh itu sudah cukup 😉

foto3
Taipei 101 Tower in Taipei 🙂
922925_10201182983283636_1152756337_n
Naik Kereta Api Tut tut tut… ;D
216312_10201182985723697_2141602042_n
Biowall di Bandara Taoyuan

Thanks to Mbak Intan dan Atha yang sempet ingetin saya untuk memfoto nama mereka di ‘Taiwan’. Ampuuun saya lupa foto nama kalian disana, jadi saat di pesawat saya sempatkan untuk foto ini hehehe *minta ditimpuk 😀

577610_10201182984363663_545699376_n
Titipan Atha 😀 😀
183100_10201182986163708_1821426309_n
Titipan Mbak Intan ‘Che Lei’

Selesai sudah perjalanan di Negeri Formosa, yup Formosa means Beautiful 😉 Sayonara, Kitto Mata itsuka (ini bahasa mandarinnya apa yak? :D)

Mengapa kita selalu suka pada perjalanan? Karena perjalanan itu menyembuhkan. Saat kita mencari kebahagiaan dalam perjalanan, saat itu juga kita menyadari bahwa bahagia itu diciptakan, dari hati, bukan dicari 😉

Formosa #1

Jadwal full yang menyebabkan saya menjadi sok sibuk ini :p membuat saya kurang meluangkan waktu untuk meng-kepo tentang siapa #eh apa yang saya bisa temui di Taiwan. Entah itu adalah perjalanan dari bandara ke tempat acara atau tentang destinasi wisata disana #eehh (harusnya kan termasuk persiapan paper dan presentasi juga ris… –“) ya sepertinya seperti itu lah ya. Simpulannya it’s very unprepared banget sekali…

Mood saya saat berangkat memang agak kurang enak… Entah karena banyak pekerjaan yang ditinggalkan atau entah karena harus meninggalkan berkas beasiswa yang sudah rapi (tapi masih kurang beberapa berkas seperti abstrak penelitian yang bernah dibuat, dengan mencantumkan asal prosidingnya, itumah berarti masih kurang ris… serta ditambah adegan kehilangan nilai toefl yang asli, padahal itu nilai tertinggi yang bernah saya dapat… Ya Allah) Saya urungkan niat saya untuk mengirim berkas yang ber-deadline tanggal 30 April itu.

Dalam prosesnya, saya disertai seorang teman seperjalanan, seperjuangan, saat kami memutuskan untuk meng-apply disalah satu univ. di jepang. Kami telah mengikuti beberapa step seperti hadir pada workshop kampus jepang yang termasuk kampus G 30, tes toefl supaya mencapai angka 550 di ILP Veteran, dan akan ikut dalam tes toefl ibt dalam bulan mei ini (dan pun saya akhirnya masih galau mengambil tes ini hehehe).

Ialah -ia yang tidak mau disebut namanya- 😀 semoga ia bisa sampai terlebih dahulu di kampus yang telah kami impikan sejak lama, semenjak kami pertama kali menginjakkan kaki disana saat tahun 2010, kami bertekad akan kembali kesana, kembali ke Kyoto untuk kembali lagi ke Indonesia.. dan sampai akhirnya benar-benar kembali ke tempat kembali.. :”) (kebanyakan kata ‘kembali’ deh). Seandainya pun saya tidak penah kembali ke Kyoto, biarkan dia yang membawa mimpi saya, membawa harapan, dan semangat saya berjuang di negeri seberang untuk menuntut ilmu disana (nah bagian ini saya mulai melow :p). Yes She is… teman seperjalanan saya 😉

Balik ke Formosa,

Akhirnya saya sampai di sebuah pulau kecil yang ternyata masih masuk ke dalam RRC ini, kabar dari Indonesia yang saya terima setibanya di sana adalah.. ustadz Jefry meninggal dunia… Innalillahi wa inna ilaihi raajiun… (Edisi melow kedua, karenanya diingatkan kembali tentang kematian.. Dzikrul maut, tentang persiapan, tentang keberkahan akan apa-apa yang telah dilakukan… tentang… tentang…tentang…)

Dari Bandara Taoyuan, saya dan mba ummy (teman dari MITI yang bersama berangkat dari Indonesia) menggunakan bus menuju Taichung, perjalanan yang cukup jauh yakni sekitar 3 jam. Sesampainya di Taichung, kami istirahat sejenak di penginapan yang telah kami pesan sebelumnya, Hotel Chance namanya.

Ketidak mood-an saya berlanjut karena saya tidak paham bahasa mandarin.. huks. Kalau bahasa jepang ya lumayan lah, walau hanya bisa Ohayou, Arigatou, Doko desu ka?, Hontou ni, Ikura desu ka?, Ichi, Ni, San… dll :p Setidaknya saya bisa bersenyum-senyum dan berbasa basi dengan warga setempat disana. Tetapi mandarin… saya menyerah.

Se-menyerah saat membaca tulisan dimanapun saya berada (terkecuali kalau itu ada englishnya), se-menyerah saat menonton televisi yang subtilenya mandarin semua, namun se-menyerahnya saya mengahadapi kendala bahasa disana, saya harus tetap bertahan, yaiyalah, udah sampe taiwan bo, masa nyerah gitu aja.. :p kendala bahasa pun saya enyahkan… dengan bermodalkan xie xie ni.. mae you pyou, lianke…  (bener gak tuh tulisannya? hihi) Go go go, semangat presentasi, semangat buat slide yang belum selesai! #eh

Malam hari sebelum hari konferensi, kami menyempatkan untuk melihat-lihat tempat kegiatan yang ternyata berjarak 45 menit (tepat) dari penginapan kami. Adalah Asia University tempat kegiatan Konferensi Internasional AISCT 2013 diadakan. Sesampainya disana kami berkenalan dengan teman-teman panitia yang merupakan mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Taiwan (mupeng.com).

Hari Pertama (27 April 2013)

Pembukaan dan sambutan. Dilanjutkan dengan beberapa kegiatan acara seperti seminar oleh para keynote speaker. Ada dua keynote speaker yang sangat menarik perhatian saya, antara lain, Mr. –yang saya lupa namanya– =D perwakilan dari ITRI (Industrial Technology Research Institute) di Taiwan. Saya merasa sangat mengenal dengan apa yang ia paparkan, tentang transfer teknologi, aplikasi teknologi, dan inkubasi bisnis, karena hal-hal itu yang saya pelajari selama hampir satu setengah tahun di kantor MITI :’) Saya berangkat dari nol untuk mempelajari itu semua, ditambah dengan ketidaktertarikan saya terhadap dunia bisnis dan aplikasinya (padahal ilmuwan, bisnis, dan pemerintah memiliki keterkaitan yg dinamakan triple helix), karena basis keilmuan saya yang mengajarkan untuk berpikir mikro, dan saat saya kerja saya harus berpikir makro serta manajerial. Dan sepertinya saya mulai menemukan passion saya di sana… 😉

946591_10201182936002454_1604414691_n

Kemudian, ada pembicara kedua, yang sehari-harinya beraktifitas di seberang gedung kantor saya 😀 *jadi jarang ketemu hehe, ialah Bapak Warsito. Salah satu sumber inspirasi negara ini. Tidak bisa tidak terharu jika ingat perjalanan hidup beliau, saya banyak belajar dari istri beliau yang tangguh dan anak-anak beliau yang unik-unik :D. Dan ke-melow-an tahap selanjutnya terjadi saat mendengar seminar dari beliau saat itu. Karena, saya sedang tahu bagaimana kondisi beliau saat mengisi seminar tersebut, kondisi yang jika saya berada pada posisinya mungkin saya tidak bisa setegar ia. Ketegaran ditengah berbagai tantangan yang ia hadapi di negaranya sendiri.

303006_10201182937282486_726244093_n

Selama lebih dari sepuluh tahun mengenyam pendidikan di Jepang kemudian dilanjutkan di USA, siapa yang tidak betah dengan fasilitas penelitian yang memadai dan memenuhi kebutuhan sebagai peneliti? Namun, ia keluar dari zona nyaman untuk kembali ke negaranya sendiri, Indonesia. Spirit itulah yang  saya pegang kuat-kuat, jika nanti saya berkesempatan untuk mengenyam pendidikan di luar, pergi untuk kembali ;). Apa sebenarnya yg ia cari di Indonesia yg penuh dengan keterbatasan ini? Happiness jawabnya. Kebahagiaan berada ditengah masyarakat yang membutuhkan kebermanfaatan ilmunya, kebahagiaan berada ditengah-tengah keluarga, dan kebahagiaan untuk dapat selalu pulang ke Indonesia, rumah kita.

Tiga hal pesan dari beliau sebagai penutup seminarnya, keilmuan, inovasi, dan enterpreneur (kemandirian), tiga hal yang akan membuat kita menjadi pribadi yang tangguh, memiliki ketahanan untuk bertahan ditengah gelombang ujian #tsah ;D. No matter how hard it is… I trust you Pak! :’)

Membadai

Wa laa tahinuu, wa laa tahzanuu, wa antumul a’lauwna inkuntummu’minin… (Q.S 3:139) –  Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.

Aku lebih suka lukisan. Samudera yang gelombangnya memukul-mukul, menggebu-gebu, dari pada lukisan sawah yang adem-ayem-tentrem (Bung Karno 1965).

brave waves 2

Be brave as waves… It is because they never be afraid to smash the stone, And we will never be afraid to face the challenge.

*Sungguh ini lebih dari sekedar, ulala cetar membahana badai~ :p

Jangan takut! Fight-too!

Renai Shashin

150409_10200941673492180_505390293_n

Sesungguhnya, kebahagiaan itu dekat, triknya adalah menemukan sudut yang tepat 😉

Pekan kemarin saya mulai mengajak kembali Niki-Chan (Nikon D3100) yang kali ini ditemani adiknya, Niki-Kun (Nikon D5100). @athakazhimi, sahabat yang saya daulat untuk menjaga Niki-Chan -yang pernah saya ceritakan sebelumnya, bahwa ia telah hampir 2 tahun menemani saya dalam suka dan duka, saat jalan-jalan, saat bengong sendirian di jalan, saat naik gunung sampai nyungsep di pantai, juga di acara sakral sidang dan wisuda kelulusan sarjana :’)- . Sedangkan saya sendiri bertekad untuk menjaga Niki-Kun yang sebenarnya adalah milik adik saya, @DanuPangestu 😀 (Tengkyu braderr)

Perjalanan kali ini sedikit berbeda, karena ternyata Niki’s tidak hanya berdua, tetapi akan bertemu teman-teman seperjuangan yang terdiri dari Nikon, Canon, Sony, sampai Olympus. Yap, pemilik-pemilik mereka adalah orang-orang yang akhirnya bisa saya temui saat perjalanan kemarin ke Yogyakarta. Pemilik-pemilik kamera yang sebelumnya hanya saya bisa lihat lewat karya hebat mereka 😉

Ialah, @tOekangPoto, sebuah komunitas ajaib yang saya temukan dari dua teman seperjuangan republik rakyat cilegon yang sudah melang-lang buwana bersama kameranya, @addura_izzati dan @NisshaDianty. Bersama para @tOekangPoto, petualangan pun dimulai…

Pasar Beringharjo

Hiruk pikuk pasar menjadi tantangan tersendiri bagi kami. Diawali dengan menyambangi bagian pasar yang menyediakan berbagai macam panganan. Kami memilih salah satu tempat yang kabarnya menjual soto paling enak se-Beringharjo (Uyey :D). Dan kenyataannya memang sesuai dengan kabarnya. Terbukti bahwa untuk menikmati soto tersebut, pengunjung rela untuk menunggu antrian demi mendapatkannya. Pun juga kami.

Setelah sarapan, kami berpencar untuk menemukan sudut masing-masing.

Sudut-sudut tempat kami menemukan, menangkap, dan menyimpan kebahagiaan

Sebagaimana kita tahu, pasar tradisional memiliki kesan kotor, becek, dan gak ada ojek. Namun, berbeda dengan Beringharjo, pasar ini memiliki slogan tersendiri,

bringharjo

Dengan kekuatan slogan yang diletakan dibeberapa sudut pasar, kebersihan pasar pun tetap terjaga, karena setiap orang akan paham, bahwa kebersihan pasar akan mempengaruhi rezeki mereka. Kiranya setiap pasar tradisional di Indonesia perlu menggunakan media edukasi sebagai penyadaran pentingnya kebersihan di pasar. Karena pasar yang bersih akan mempengaruhi perilaku konsumsi masyarakat sehingga lebih memilih pasar tradisional sebagai tempat berbelanja yang nyaman, bersih, ramah lingkungan, dan mendukung pengembangan potensi lokal daerah 😀

Dengan begitu, setiap penghuni dan pengunjung pasar akan selalu merasa bahagia…

480727_4727894711552_1300455324_n
Senyum Si Mbah (Foto oleh: Hesty Ambarwati)
45333_10200403693689402_623953129_n
Foto oleh: Imam Saefudin
537335_10200996545862817_1756707433_n
Penjual Beras (Foto oleh: Riska Ayu)

bringharjo2

Sarapan Sehat (Foto oleh: Riska Ayu)

Beringharjo, Pasar yang sederhana, namun kaya makna.

Pantai Siung, Gunung Kidul

Bahagia itu pilihan, bisakah kita tetap memilih bahagia walaupun dalam keterbatasan, dalam kehilangan, dalam ketidak sempurnaan?

Pantai Siung, perjalanan yang memakan waktu yang cukup lama dan medan perjalanan yang cukup terjal. Malam hari saat akhirnya kami menjejakan kaki di pasirnya. Riuh rendah suara tawa kami ikut menyemarakkan malam itu.

“Tidur yuuuk, besok kita lihat sunrise”  *Pada gak nyadar apa ye, ini di pantai selatan, jadi mana ada sunrise –“

Tukas beberapa wanita-wanita yang belum juga tidur, padahal waktu hapir menunjukan tengah malam.

“Iya ayo tidur, eh bisa gak itu suara ombaknya dikecilin dulu”

“Menurut loo… wkwkw”

Kebersamaan yang hangat dan penuh persaudaraan dan canda tawa kami lewati sebelum pada keesokan harinya, pada detik yang singkat kami ‘diminta’ untuk menyadari, bahwa semua hanya titipan :’)

Subuh baru saja berlalu, namun, matahari masih malu untuk menampakkan sinarnya. Debur ombak yang sedari malam kami dengar pun tak kan surut untuk berhenti menabrak karang. Berani dan tangguh, itulah ombak.

Pencarian sudut kebahagiaan pun kami mulai, dengan menyusuri bibir pantai, melangkah jauh menerjang gemericik ombak untuk mencapai karang, hingga menaiki karang-karang terjal yang ‘mungkin’ ia telah kalah oleh ombak.

siung
Pantai Siung, Pagi Hari (Foto oleh: Riska Ayu)
waves
Tak Gentar Hantam Karang (Foto oleh: Riska Ayu)
siung2
Hunting di Atas Karang (Foto oleh: Riska Ayu)
akhwat
tOekang (di)Poto 😀 (Foto oleh: Pak Sukiswo)

Masing-masing melakukan kegiatan hunting fotonya, ada ber-lansdcape, ber-human interest, ber-candid, ber-macro, dan yang lainnya. Pelajaran yang saya dapat saat akan hunting foto, biasakan untuk melakukan riset foto yakni riset yang terdiri dari beberapa pengenalan mengenai tempat, budaya, kegiatan, dan budaya di tempat yang akan di ambil fotonya. Supaya, foto adalah hasil dari suatu riset yang telah dinarasikan, bukan sebaliknya. Dan foto menjadi benar-benar hidup, A pictures say thousand words.

Kira-kira seperti ini, foto hasil riset tersebut 😀

529143_4700486758651_1587026189_n
Sejumlah nelayan menerobos ombak besar untuk melaut di Pantai Siung, Kabupaten Gunungkidul,Yogyakarta (Foto: Khairuddin Safri)

Dan sesaat setelah itu…

Tragedi terjadi saat akmi berkumpul di pantai. Pak Dudi Iskandar (@AbuSyamil2004) mengalami musibah hampir terseret ombak saat melakukan hunting di sela-sela karang. Semua perlengkapan, mulai dari kamera, berbagai lensa, dompet, uang, dan lain-lain, basah tersiram ombak, syukurlah Pak Dudi terselamatkan.

155743_10200359493862725_330806902_n
Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (Foto oleh: Achmad Komaruddin)
17195_10200983131443887_2099580552_n
Foto Terakhir Sebelum Datang Ombak (Foto oleh: Pak Dudi Iskandar)
72902_10200996647145349_225782605_n
‘Amunisi’ Pak Dudi (Foto oleh: Riska Ayu)
531846_4936544848550_2119759099_n
Pak Dudi yang tetap ceria walau musibah melanda 😀 (Foto oleh: Tuti Azizah)

Kemudian, sampailah pada adegan dimana semua @tOekangPoto berkumpul untuk mengambil foto bersama. Diawali dengan meletakkan beberapa ‘senjata’ masing-masing di spanduk…

69486_503211009741730_1317627735_n
Sesaat Sebelum #TragediSiung (Foto oleh: Hasna Puri)
392803_4022844827976_1574307670_n
Toekang Poto: Para Pelukis Kebahagiaan dengan Cahaya 😀 (Foto oleh: Ihsanudin Mahfud)

Terdengar riuh celoteh kami…

“Ayo foto bareng, bareeeng… “

“Yuk, yukk…”

“Spaduk nya, name tagnyaa”

“Eh eh, gak kena ombak kan?”

“Engga masih jauuuhhh”

Dan saya masih ingat percakapan dengan Hesty saat ia berkata:

“Ris, gue baru sadar kenapa ombak bisa nyeret orang ya, itu ombaknya gede banget deh..”

Saya, sambil melihat ke belakang, melihat ombak yang terlihat lebih besar dari sebelumnya, “Iyaa ya tiii…”

Dan…

“Aaaawas itu ombaknya mendekaaatt!!”

Saya berbalik dan mencoba mencerna kalimat barusan, otak saya menyuruh tangan untuk segera mengambil apapun benda yang dalam pandangan saya hampir tersapu oleh ombak yang tiba-tiba sudah berada didepan saya. Saya meraba pasir yang sudah bercampur dengan air untuk menyelamatkan kamera siapapun itu. Tetapi, tidak ada yang terpegang, takut-takut saya menyimpulkan, apakah kameranya terseret ombak? Rabb…

Lutut saya lemas, saya trauma karena pernah merasakan hal yang sama setahun yang lalu, saat terjungkal di sisi pantai di daerah Anyer. Saya tidak menyadari ada ombak yang menghantam dari belakang, saya pegang kamera tinggi-tinggi, namun Niki-Chan tetap terimbas ombak, bersama saya yang kuyup bersamanya. Semenjak itu -walau sudah diguyur dengan air mineral (penyelamatan pertama pada kamera yang terkena air laut yang bersifat korosif)- Nikichan kehilangan kemampuan untuk mem-blitz. Mode Automatic-nya tidak bisa digunakan lagi. How poor you are Niki-Chan…

Dan saya sangat khawatir itu terjadi lagi, Kakak beradik Niki, tiba-tiba… Nikon siapa inii? Dan ternyata, Alhamdulillah mereka selamat.. :’)

Terngiang pesan…

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” Al-Baqarah: 216.

Musibah, boleh jadi adalah berkah yang tersembunyi, dan Kesenangan, boleh jadi adalah keburukan yang tersembunyi. Kami, diingatkan kembali tentang itu dengan sangat halusnya, seperti sapaan, hey, kalian ini.. janganlah berlebihan ya :’) Ya, hanya dengan sapuan ombak yang tiba-tiba mampir, sapuan ombak yang halus dan tenang… Rabb, terimakasih karena itu bukan sapuan gemuruh ombak yang berupa badai cetar membahana :’)

Setelahnya, kami menjadi lebih jinak (?), tidak bercanda berlebihan, dan banyak-banyak mengingat nikmat-Nya. Semoga dalam Barokah, walau saat musibah pun, selalu ada kebaikan yang bertambah-tambah.

69458_10200333471852191_1213075896_n
Kamera Korban #TragediSiung (Foto oleh: Achmad Komaruddin)

Sepuluh kamera menjadi korbang dalam #TragediSiung tersebut, dan harus melanjutkan perjalanan tanpa kamera.. Toekang Poto tanpa kamera apa jadinya?

Dan Jreeeng…

531893_10151501982221855_140427407_n
Smileeeee 😀 (Foto oleh: Hermawan Wicaksono)
524621_608050385890519_1124028037_n
Expresi ketika mendengar bahwa ternyata Fotografer lagi Macro-wan (Foto oleh: Umar Rosyadi)

Do you see?

Keep smile… Whatever and Wherever we are…

Sepulang dari sana, saya yakin, kami, semakin cinta dengan fotografi. Semakin ingin menemukan sudut kebahagiaan lainnya, menangkap, menyimpan, dan membagikan cinta, bahagia, syukur lewat foto, hingga siapapun yang melihat menjadi merasa tentram dan damai serta lebih cinta dan dekat dengan-Nya, lebih mengagungkan ciptaan-Nya… Kore wa… ‘Renai Shashin’ desu(The picture of love) 

Anyway…

I have captured the miracle… have you? 😉

Langit Nusantara #2 (De Smeroe)

Lumajang, 15-18 November 2012

Terkadang, bukan puncak yang dibutuhkan, tetapi keseimbangan kiri dan kanan 🙂

“Tahun depan, pas kesini lagi insyaAllah sampai puncak ya…”

“Aamiin..” Kami serempak mengaminkan pernyataan sekaligus doa tesebut. 

Ya, walaupun saya tak sampai puncak, tetapi semenjak itu saya paham mengenai “Membawa ikut serta semuanya”, “Mimpi pun harus dimusyawarahkan”, “Mengayuh mimpi bersama”, “Kita tak hidup sendiri”, dan lain-lain yang menegaskan bahwa ‘menggapai mimpi’ bukan hanya ‘aku’, tetapi ‘kita’. Yang dalam konteks ini merupakan kepedulian terhadap ‘teman seperjalanan’.

Di sana saya juga takjub dengan teman-teman yang  saya rasa mampu untuk melanjutkan perjalanan ke puncak, tetapi urung melanjutkan karena berusaha untuk tetap bersama dengan teman-teman yang lainnya. Padahal mungkin saja apabila sudah mempunyai ambisi untuk muncak, akan terus melanjutkan perjalanan bagaimanpun caranya. Dan bagaimanapun akibatnya.

Perjalanan kami menuju Lumajang tak kalah banyak hikmahnya, bus yang kami tumpangi mengalami mogok dua kali, yang berarti kami harus mengabiskan hampir dua malam dalam perjalanan, dan itu juga artinya durasi kami untuk muncak menjadi bertambah sempit.

Sesampainya di Desa Tumpang (18.00 yang seharusnya jika perjalanan lancar kami sampai jam 08.00 pagi), pendaftaran dilakukan dan siap-siap menuju Desa Ranu Pane. Sayang sekalinya juga, perjalanan ke Ranu Pane yang menggunakan truk, harus dihabiskan dalam kegelapan. Padahal jika terang, pemandangan puncak-puncak di sekitar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru akan terlihat indah, khususnya melihat Gunung Bromo dari jauh.

Sampai di Ranu Pane (20.30) kami melakukan istirahat sejenak, dan rencana awal kami akan mulai melakukan pendakian sehabis itu. Setelah meminta izin kepada panitia penyelenggara, kami tidak diperbolehkan jalan dalam kondisi gelap malam itu juga karena jalan yang licin sehabis hujan.  Akhirnya kami beristirahat di mushala setempat sampai besok pagi.

Keesokan harinya, kami bersiap untuk memulai perjalanan. Tepat pukul 09.00 waktu setempat, kami pun mulai berjalan ke arah yang sama, “Puncak Mahameru”. Dalam hati saya berujar, Ya Allah, seriusan nih mau naik gunung beneraann >.< padahal terakhir saya merasakan suasana hidup di alam bebas adalah saat saya masih SMP, bayangkan sodara-sodaraa, dan saat itu pun saya hanya kemping-kempingan di kaki Gunung Pinang di Serang.. hehe. Dan sekarang, jreeng, bersama dengan Ayu Arthur, partner in crime dimanapun berada. Disini kami ingin mewujudkan mimpi lain dalam kehidupan kami, berdiri di antara langit dan bumi,

“Menyentuh langit, menembus awan, namun, kaki masih berpijak di bumi :’)”

Yak, sebelum berangkat, saya dan ayu, rada-rada ngerasa belaga juga nih, karena sekalinya naik gunung langsung ke Semeru. hehe. Ya gapapalah ya. 😀 Bismillah, laa hawla wa laa quwwata ila billah 😉

DSC_0378 edit
Memulai Pendakian

Oke, lanjut lagi cerita dalam perjalanan melalui beberapa pos sebelum akhirnya sampai di pemberhentian pertama untuk nge-camp. Ranu Kumbolo. Hey, kalian tahu apa yang saya rasakan selama dalam perjalanan ke Ranu Kumbolo? Beruntung saya menyempatkan diri untuk olahraga kecil setiap pagi dan joging setiap pekan (Gak tiap pekan juga sih :D) karena apabila tidak, gak kebayang gimana nasibnya di sana O_o. Yang saya rasakan, adalah ya Allaaahh, kapan sampe, huks huks, punggung sakit, pinggang encok, (dengan beban akomodasi, ransum, dan tenda), kaki pegel, dan ujan-ujanaann booo. Pengeeen pulaang… 😦 tapi ada satu suara lagi yang menyemangati. heh kalau kamu nyerah dan baik lagi turun, kamu kalah ris! dan emang gak ada yang mau nemenin juga kalii.. Hehe.  Dan akhirnya saya dengan sepenuh tenaga sisa, minimal harus sampai ke ranu Kumbolo! Osh! 😀

Bener kata orang, kalau naik gunung itu, sifat asli kita akan tampak, tak ada yang ditutupin, aseeeli keliatan jeleknya, kaga ada jaim-jaiman deh. Dan saya berterimakasih kepada kalian yang masih tahan buat terus bareng-bareng sama saya hehehe. Karena kalian bisa tahan sama sifat asli saya yang keluar. Haha. Jazakumullah ya, semoga Allah balas dengan yang lebih baik atas kebaikan kalian semua :’). Perjalanan menuju Ranu Kumbolo melewati beberapa tanjakan landai, dan sesekali terjal. Jalan setapak pinggir tebing yang membuat, harus berhati-hati dalam melewatinya, karena kepeleset sedikit, bisa jatuh ke jurang 😦

DSC_0694
Di Tepi Jurang

Terngiang dalam benak saya, sederet bait awal dalam lagu “Mahameru-nya Dewa 19” yang dipesankan oleh kakak kelas saya sebelum mendaki,

Mendaki melintas bukit

Berjalan letih menahan menahan berat beban

Bertahan didalam dingin

Berselimut kabut `Ranu Kumbolo`

Menatap jalan setapak

Bertanya-tanya sampai kapankah berakhir

Mereguk nikmat coklat susu

Menjalin persahabatan dalam hangatnya tenda

Bersama sahabat mencari damai

Indeed! Ya Allah, sungguh dalam perjalanan ini banyak hikmah yang bisa didapat, “berjalan letih menahan berat beban”, Dalam hidup, teranalogikan beban yang masing-masing kita pikul sendiri, Laa yulaifullahu nafsan ila wus’aha… Allah memberikan beban yang sesuai dengan kesanggupan kita, maka jikalau dirasa beban yang dipanggul bertambah berat karena banyaknya amanah, maka mintalah pada Allah, pundak yang semakin kuat. Dan suatu beban, apabila kita bersama dengan teman seperjalanan, beban yang dipikul bersama, beban yang didelegasikan, akan semakin mudah untuk dibawa sampai ke ujung perjalanan. Kuncinya kerja bersama, delegasi, dan saling percaya 🙂 maka beban akan terasa ringan.

“bertanya-tanya sampai kapan kah akan berakhir” Dan saat jenuh kita bertanya, Ya Allah kapan sih ujian ini berakhir. saya capek, saya lelah. Tapi kita menyadari bahwa beban atau amanah yang diberikan kepada kita adalah untuk menungkatkan kapasitas, meningkatkan jejang, dan manaikkan kelas kita ke tempat yang lebih baik, lebih indah. Maka keep moving forward, terus berjalan tak kenal lelah, Allah bersama kita 😉

Sampai akhirnya, satu beban dan satu ujian terlewati, kita sampai di tempat yang luar biasa indah, ialah Ranu Kumbolo. Seperti kebaikan yang akhirnya kita dapatkan setelah kita bekerja keras… Speechless, pokoknya Ranu Kumbolo itu… Masya Allah, indahnya >.< Allahu Akbar… :")

Telaga indah Ranu Kumbolo dan Padang kerennya Oro-Oro Ombo, menjadi bayaran yang sungguh luar biasa atas kerja keras kita sampai ke sana. Kalian keren-keren. Sungguh 🙂

DSC_0683
Kalian Keren Banget Oyy 😀
DSC_0507
Ranu Kumbolo :”)
DSC_0511
Menanti Matahari Terbit
DSC_0637
Oro-Oro Ombo, dibaliknya tersembunti puncak Mahameru 🙂
DSC_0609
Akhirnya, sampai sini Alhmdulillah 🙂
DSC_0625
Semeru 17.5 Meter Lagi

Sekali lagi,

Terkadang, bukan puncak yang dibutuhkan, tetapi keseimbangan kiri dan kanan

Menyeimbangkan impian yang tersimpan di sayap kiri dan kanan

Mengepak sayap bersama-sama, menuju gapaian langit namun masih berpijak di bumi

Thanks to: Semua anak gunung ragunan :D, semua yang telah membantu, mendukung, dan meminjamkan barangnya 😀 hehe. Jazakumullah khairr, karena kalian, kami bisa menatap langit nusantara di semeru :’)

Langit Nusantara 2012 #1

Say Hello, Salam.

The first page of 365.

Semoga selalu ada berkah diawal kita memulai hari ya. Hari ini perhitungan tanggal baru dimulai untuk kita mengelilingi matahari. Kenapa matahari? Ya mungkin karena ia pusat di galaksi Bimasakti, jadi yang umum dipakai oleh ‘dunia’ ya tanggal masehi seperti demikian adanya. Terlepas dari konspirasi atau engga. he :D. Oke. Bulan Desember kemarin, bakal jadi bulan tanpa postingan karenaaa, saya hanya posting 1 tulisan dalam sebulan. Begitulah saya yang sedang malas dan gak mood buat nulis hehehe.

Di Oktober, November dan Desember, Alhmdulillah, banyak hal-hal yang didapat dalam kesempatan saat perjalanan. Melihat jadwal yang lumayan padat, kalau tidak diselingi oleh hal-hal yang ‘menurut’ saya itu menyenangkan, tenaga dan pikiran mungkin bakal terkuras habis. So, harap maklum ya kalau suka #salahfoku hihi. My lovely honey Niki-chan, Nikon D3100 yang sudah hampir 2 tahun menemani (dan mengrobankan dirinya #eh, soalnya pernah kejebur laut, kena suhu sedingin salju, dan ancur-ancuran ikuat mendaki gunung :D) akan selalu jadi solmet perjalanan 🙂

Solo

Kota ini, menjadi sarana penghibur dikala jenuh dan geje (karena saya sendiri sih hehe) saat awal-awal bulan Oktober, Solo membuat saya bertemu dengan teman-teman yang semangatnya bisa bikin semangat saya balik lagi. Sudah cukup dengan liat mereka ketawa-ketiwi, plus pulang berdesak-desakan di kereta Solo-Jogja. Saya bahagia.

Mengapa kita selalu suka pada perjalanan? Karena perjalanan itu menyembuhkan. Saat kita mencari kebahagiaan dalam perjalanan, saat itu juga kita menyadari bahwa bahagia itu diciptakan, dari hati, bukan dicari.

Aceh

Allah haidoo do da ida… (sepertinya lirik awalnya sih seperti ini :D) (Panglima Prang by Izzis) Ini jadi lagu backsound entah saat berangkat ke Aceh sampai pulang lagi ke Jakarta. Terharu. Selain bertemu dengan temen-temen yang gak kalah semangatnya sama yang di Solo, saya juga sempatkan untuk reuni dengan sesosok sahabat yang telah saya kagumi lama, Khatijatusshalihah Hanafiah alias Shellyyy! yay. Sahabat, yang dengannya, saya selalu bisa satu frekuensi saat berdiskusi dan bersama bertahan di negara paman sam 2 tahun yang lalu.

Nah, oleh karena itu saya juga sempatkan untuk menginap di tempat tinggalnya yang bertempat di perumahan dosen di Unsyiah. Menarik, karena dia di ‘daulat’ tinggal disana oleh dosennya untuk menemani dosen yang berasal dari USA. Great! Mbak dosen bule yang bernama Sarah Kadi ternyata tak berbeda jauh usianya dari kami, mungkin hanya terpaut 3 tahun. Keren kan, usia yang muda sudah jadi dosen.

Dalam girls talk yang dilakukan saat shelly sedang menyelesaikan tugas akhirnya (maap ya neng hehe), kami banyak menyimpulan tentang bermacam hal, dari mulai daerah tempat kami tinggal (shelly cerita tentang masa-masa dia kecil yang dipenuhi oleh ketakukan karena GAM sampai pada kisah Tsunami Aceh dan saya cerita tentang Jawara Banten dan lainnya, heu), masa depan, karir, keluarga, kontribusi dan banyak lagi. And you know, Those things make me wake up! Really, Thank you dear. Yap, pembahasan seperti itu yang akan selalu buat kita mikir lagi kan? dan dari situ semoga kita bisa meneruskan hidup dengan lebih baik. Life to the fullest!

Gorontalo

Hal pertama yang membuat saya bahagia adalah: Saya tidak lupa untuk menenteng Niki-chan untuk ikut serta ‘duduk’ bersama saya yang selalu memilih posisi dekat jendela pesawat hehe. Dengan begitu kita bisa sama-sama menikmati pemandangan dari atas. Horeee! karena dalam perjalanan sebelumnya, Niki-chan selalu terlupa untuk dibawa karena ikut dalam ransel yang diletakan di lemari kabin.

Hal kedua, ini kali kedua saya ke pulau Sulawesi, yang dalam pikiran saya hanya satu yakni makan ikaan. Yoi. Alhmdulillah, dalam kesempatan itu saya bisa merasakan ikan dengan sambal khas yang dicampur minyak kelapa :9

Then, kalian tau gak, saat mengamati kehidupan di Gorontalo, saya menyimpulkan bahwa Kota ini sungguh nyaman, tentram, damai tanpa ada gangguan apapun. Kalian bisa melihat sapi yang dengan santainya ‘sun bathing’ di pinggir jalan. Tanpa khawatir dia bakal diculik. Tidak ada macet, polusi, dan sebagaimacamnya yang selalu kita temukan di Jakarta. Perjalanan kemanapun kita bisa lalui hanya dalam beberapa menit. Dari kantor Gubernur Gorontalo yang berada di ujung bukit, kemudian dilanjutkan perjalanan ke pantai di teluk Gorontalo, hanya memakan waktu tidak sampai satu jam. Cukup untuk membuat gembira ria, tapi lama kelamaan terasa ‘slow motion’ nya hehe. Anyway, pengalaman yang didapat disini tak kalah menyenangkan dengan kota-kota sebelumnya. Bertemu dengan seorang ibu yang luar biasa dalam memberdayakan masyarakatnya, membuat saat ingin mengikuti jejak ibu tersebut, multitalenta dan peduli terhadap daerah asalnya. #eaa :p

Sama halnya dengan di Aceh, di Gorontalo, saya sempatkan untuk bertemu teman lama saya sewaktu beasiswa, ialah Rahman Imran, pemuda yang menjadi idola di daerahnya, seorang Anchor dan Foto Model. Uhuy. Darinya juga saya banyak belajar tentang bagaimana mengorbankan keinginan pribadi demi memenuhi keinginan keluarga. Yang saya simpulkan. Rahman sangat sayang kepada ibunya. Good boy 😀

Sepulang dari Gorontalo, yang saya ingat adalah mengenai Al-Hajj Ayat 77, kontribusi dan kebajikan untuk sesama. A man and his contribution.

“Yaa ayyuhaa alladziina aamanuu irka’uu wasjuduu wa’buduu rabbakum waf’aluulkhayra la’allakum tuflihuuna”

Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.

Dalam ayat itu Allah meminta kita selain ruku dan sujud, buatlah kebajikan kepada sesama, kebaikan, dan kontribusi. Kebajiakan dan kontribusi seperti apa? Apapun yang menjadi kompetensi kita saat ini. Menjadi kompeten, profesional , dan akhirnya mampu berkontribusi untuk sekitar. Haikk. Dari situ saya menjadi lebih paham tentang arah gerak dan tujuan kedepannya. Arigatou sensei-sama 🙂

Di ibukota atau di daerah, semuanya selalu punya kebaikan, tergantung bagaimana memaknainya, dan seberapa besar manfaatnya untuk sekitar – Hari terakhir di Gorontalo 🙂

Serang dan Banjarmasin

Sama halnya dengan perjalanan sebelumnya, saya sangat berterimakasih telah diberikan kesempatan untuk merasakan perjalanan tersebut. Arigatou minna san, karena itu saya terus bisa berinteraksi dengan para pemuda unyu-unyu yang masih pada semangat untuk berprestasi, berkarya, dan berkontribusi. Salam Inovatif dan kontributif!

Jeng jreeeeeng…

Dan akhirnya kota di Nusantara terbahana ulala yang saya sambangi selama tahun 2012 adalah… Lumajang, Jawa Timur ada apa disana? Tunggu cerita selanjutnya yak 😀

Je Crois En Toi

Issyahdu bi ana muslimun, saksikan bahwa saya seorang muslim.

Sungguh sedih saat mengetahui seseorang yang dulu melindungi diri dengan hijabnya, kini meninggalkannya. Banyak alasan yang mereka kemukakan, salah satu diantaranya, karena mereka tinggal di negara dimana muslim menjadi minoritas.

“Waktu memutuskan tinggal di Australia kebetulan suasananya lagi hangat2nya penduduk lokal (anglo saxon/ kulit putih) menyerang penduduk muslim (boleh baca di wikipedia “Cronulla Riot 2005”). Penyebabnya karna (dan sangat disayangkan) remaja2 muslim keturunan libanon (middle-east) terkenal dg criminal record yg tinggi (bahkan sampe skrg) mulai dari narkoba, tawuran, KDRT,pelecehan, sampe dg pemerkosaan. Puncaknya dimana salah satu kelompok remaja tsb menyampaikan bahwa semua orang kulit putih sampah dan perempuannya adalah pelacur.Akhirnya sentimen atas penduduk muslim muncul salah satunya tindakan rasisme termasuk melecehkan wanita berjilbab. Keputusan saya untuk melepas jilbab (and it is my personal choice) atas dasar keamanan, kenyamanan dan pembuktian bahwa islam agama cinta damai dan tidak memberatkan kaumnya. Saya yakin Allah selalu melindungi umatnya tapi saya merasa saya juga harus berusaha untuk melindungi diri saya sendiri dan terus berbuat yg terbaik khususnya di negara dimana islam adalah agama minoritas. Let’s show to the world that we as individual and as muslim women have good achievements to be proud of :)”

Saya pun tak bisa tidak untuk meninggalkan komentar di foto ibu tersebut,

“In my opinion, kemanusiaan berbanding lurus dengan keimanan.. ^_^ jadi tidak ada alasan demi kemanusiaan lantas meninggalkan keimanan. Saya termasuk yg mengaggumi ibu, dan sebenarnya sedih meilhat ibu yang berhijab dan skrng menampakkan foto yg tidak berhijab. May Allah always bless you bu. :)”

Pyuhh, pagi-pagi sudah banyak pelajaran yang didapat. Kita yang yakin dan percaya bahwa Allah berada dimanapun, termasuk di negara yang muslimnya minoritas, mengapa harus khawatir atas keamanan diri kita disana, toh dimanapun berada, saat takdir menyapa, kita tidak akan bisa mengelaknya, yang berbeda adalah, bagaimana kondisi kita saat menghadapi takdir tersebut, (entah musibah, kejahatan, penganiayaan, dan sebagainya) apakah kita menghadapinya dengan percaya dan yakin terhadap kuasa-Nya, atau kita hanya bergantung pada makhluk yang sama-sama akan binasa. Walla’hu alam, hidup memang pilihan. Pilihan hanya untuk dunia, atau setelahnya.

Laa ikraaha fiddin… qattabayyanarrusdu minal ghaiy… (Al-Baqarah:256)

Ya muqalibalqulub, tsabits qalbi alaa dinik, subhanaka inni kuntumminadzholimin…

Iman itu adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang (Imam Syafi’i)