Menjadi Manajer Rumah Tangga #NHW 6

“Sejatinya semua ibu itu bekerja. Baik di ranah domestik atau biasa kita sebut pekerjaan rumah tangga atau di ranah publik yang mencakup pekerjaan di luar rumah. Dan kedua ranah itu adalah pekerjaan mulia yang memerlukan profesionalitas dalam pengelolaanya.”

Sekelumit intisari dari materi pada pekan ke-6 kelas matrikulasi IIP.  Semakin menyadari bahwa, saya dibesarkan oleh generasi yang sangat ingin menjadikan anaknya bisa berkiprah di ranah publik. Tidak salah memang, namun kadang ada hal yang sedikit terlewat kiranya. Saya jarang sekali dibebankan permasalahan domestik oleh orang tua saya, karena menurut mereka kita harus fokus dalam menuntut ilmu agar masa depan semakin gemilang.

Saya memang merasa sangat berterimakasih kepada orangtua, yang telah membesarkan sedemikan rupa, sehingga tanpa tuntutan mereka, saya menjadi ingin mengeyam pendidikan sampe jenjang yang membuat saya selayaknya, semakin merenungi kembali tujuan saya menuntut ilmu serta mengaplikasikan ilmu tersebut.

Kemudian, fase berumahtangga pun datang. Saya tahu betul, banyak hal-hal yang perlu dipelajari sebelumnya. Pengalaman perantauan pun kita jadikan dasar pijakan. Namun ternyata itu tidak juga cukup sebagai persiapan, karena mungkin saya tidak akan pernah siap tanpa benar-benar langsung menyelam kedalam lautan perumahtanggan.

Saya pun mencoba beradaptasi dengan ritme kehidupan berumah tangga apalagi setelah adanya anak, yang mewajibkan saya mampu mengatur semuanya.

Beberapa kejadian yang membuat saya akhirnya merenung tentang peran saya sebagai manajer rumah tangga. Dan akhirnya terjawab setelah memahami materi tentang “Menjadi Manajer Handal” dipekan ke 6 ini.

Saya tersadar bahwa, baik ranah domestik atau publik, sejatinya selalu didasari oleh motivasi mengapa kita melakukan ini? Karena tuntutan, kompetisi, atau panggilan hati?

Bekerja hanya karena tuntutan dan kompetisi menjadikan kita tidak sepenuh hati untuk mengerjakannya. Namun jika didasari panggilan hati, maka kita akan bekerja dengan ikhlas dan tanpa banyak mengeluh.

Sehingga agar tidak jenuh dan terjebak pada rutinitas, untuk menjadi manajer handal, perlu kita pahami, mengenai makna dari aktivitas kita. Misalkan,  3 aktivitas yang paling penting, dan 3 aktivitas yang paling tidak penting saya diantaranya;

Yang penting; Mengurus rumah tangga (bersih-bersih, mengatur keuangan, memasak), Membersamai dan mendidik anak, serta Melakukan riset doctoral.

Yang tidak penting; Terjebak dalam media sosial, terlalu banyak ngobrol, dan melamun T__T ga jelas banget kan huhu.

Untuk itu, saya harus berazam dalam hati agar waktu-waktu yang penting tidak terrenggut oleh waktu-waktu untuk aktifitas tidak penting. Apalagi saat ini, yang ternyata waktu banyak habis di kampus, sehingga seharusnya saat pulang ke rumah adalah fokus kepada pekerjaan rumah tangga. Namun, ternyata masih kurang dari yang diharapkan, masih suka fokus ke hape atau pekerjaan kampus yg belum selesai. Semoga, setelah ini, saya mampu untuk semakin memaksimalkan peran menjadi manajer handal rumah tangga.

Iklan

One thought on “Menjadi Manajer Rumah Tangga #NHW 6

  1. Nice post kaak, jadi bahan perenungan bgt ini. Akhir2 ini dapet cerita tentang gimana menjadi istri dan ibu, aak ternyata ga mudah ya, dan kaya yg ka Riska bilang, ikhlas kuncinya. Huhaaah, syemangat selaluu ka Riskaa, aku menunggu postingan selanjutnyaa hihi 😘

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s