Ibu Sebagai Agen Perubahan #NHW 9

Perempuan khususnya seorang ibu adalah instrumen utama yang sangat berperan sebagai agen perubahan. Dari sisi individu untuk menjadi agen perubahan adalah hak semua orang tidak berbatas gender. Karena semua memiliki potensi dasar yang sama berupa akal, naluri dan kebutuhan fisik. Sedangkan dalam konteks masyarakat, keberadaan ibu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan keluarga, dimana keduanya memiliki porsi prioritas yang sama (Matrikulasi IIP pekan ke 9).

Akhirnya sampai juga pada materi terakhir pada program matrikulasi IIP batch 8 ini. Banyak hal yang menjadi pembelajaran bagi saya pribadi, karena ternyata hal-hal yang menjadi sumber galau saya, saya temukan jawabannya pada setiap materi per pekannya.

Bahwa, sesungguhnya membangun peradaban bersumber dari diri sendiri, pasangan, keluarga, dan akhirnya masyarakat. Saya pun setuju pada akhirnya kita harus tetap ikut perpartisipas dalam perubahan masyarakat dengan ditopang oleh kemandirian finansial yang ditawarkan melalui proses pembentukan social venture atau enterprise. Sehingga untuk melakukan perubahan tidak perlu menunggu dana dari luar, tapi cukup tekad kuat dari dalam.

Social venture adalah suatu usaha yang didirikan oleh seorang social enterpreneur baik secara individu maupun organisasi yang bertujuan untuk memberikan solusi sistemik untuk mencapai tujuan sosial yang berkelanjutan. Sedangkan social enterpreneur adalah orang yg menyelesaikan isu sosial di sekitarnya menggunakan kemampuan enterpreneur.

Saat kita telah menemukan passion (ketertarikan minat) ada di ranah mana, mulailah lihat isu sosial di sekitar kita, maka belajar untuk membuat solusi terbaik di keluarga dan masyarakat.

Rumus yang kita pakai :

PASSION + EMPHATY = SOCIAL VENTURE

IMG_5595.PNG

Sehingga kita bisa membuat perubahan di masyarakat diawali dari rasa empati, dan membuat sebuah usaha yang berkelanjutan diawali dari proses menemukan passion. Sehingga, mampu menjadi orang yang merdeka menentukan nasib hidupnya sendiri.

Tentu saja semuanya diawali dengan ketahanan keluarga yang kuat, saat kita sudah selesai dengan ranah domestik, serta membangun keluarga yang memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Kemudian kita bisa menyelesaikan permasalahan sosial di sekitar kita dengan kemampuan enterpreneur yang kita miliki. Bismillah

Iklan

Misi SpesifiK Hidup dan Produktifitas #NHW 8

Dulu saat masih menjadi aktipis mahasiswa tentu kita banyak berkutat dengan perancangan visi dan misi organisasi. Apalagi kalau pernah ikut seminar tentang merancang masa depan, rajin deh bikin visi misi untuk diri sendiri. Namun, wahai wanita-wanita di segala penjuru Indonesia, hal inilah yang suka terlupa saat ini, apalagi sudah bersuami dan beranak, huhu, saya sih iyes, ga tau deh mas anang.

Pada materi ke 8 matrikulasi, dijelaskan, dalam merancang misi hidup dan produktivitas ada tiga elemen yang harus diperhatikan.

a. Kita ingin menjadi apa (be)

b. Kita ingin melakukan apa (do)

c. kita ingin memiliki apa (have)

Dari aspek dimensi waktu ada 3 periode yang perlu kita perhatikan :

a. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose)

b.Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahunke depan (strategic plan)

c. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun (new year resolution)

Untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan tersebut ternyata tidaklah mudah. Mungkin karena sudah terbiasa hidup mengalir sampi jauh dan terbiasa dengan manajemen waktu yang salah. Oleh karenanya, saya harus menemukan jawaban sebelum semua terlambat *oke ini lebay sih*.

Pertama adalah menentukan aktifitas yang disukai. Aktivitas yang disukai adalah terus mempelajari tentang pertanian dan literasi sampai mamu membagi ilmu kepada masyarakat.

Kedua menentukan tiga elemen dalam penentuan misi hidup dan produktivitas.
1. Kita ingin menjadi apa ? (BE)
Say ingin menjadi pendidik, sekaligus penggerak masyarakat yang berkaitan dengan pertanian dan literasi terlebih yang berhubungan dengan dunia anak-anak.

2. Kita ingin melakukan apa ? (DO)
Saya ingin melakukan proses pembelajaran yang dimulai dari diri sendiri, keluarga sampi kepada masyarakat.

3. Kita ingin memiliki apa? (HAVE)
Ingin memiliki social enterprise yang berhubungan dengan pertanian, memiliki rumah baca dan perpustakaan umum.

Ketiga, memperhatikan 3 aspek dimensi waktu di bawah ini:
1. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose)
– Meningkatkan ketahanan keluarga dengan mengaplikasikan manajemen kerumahtanggan yang baik.
– Menjadikan anak menemukan fitrah tumbuh kembangnya, serta tumbuh menjadi anak yang sholeh, sehat, aktif, dan cerdas.
– Memiliki social enterprise yang berhubungan dengan pertanian, memiliki rumah baca dan perpustakaan umum.

2.Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan (strategic plan)
– Lulus Doktoral
– Meluaskan networking untuk membangun social enterprise dan rumah buku.

3. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun (new year resolution)
– Membuat kurikulum untuk anak yang sudah memasuki usia satu tahun
– Mempublikasi hasil riset
– Merancang social enterprise dan rumah buku

Setelah mendapatkan jawaban-jawaban dari pertanyaan di atas, maka mulailah berkomitmen untuk “BERUBAH” dari kebiasaan-kebiasaan yang kita pikir memang harus diubah.

Tahapan Menjadi Bunda Produktif #NHW 7

Untuk menjadi ibu profesional, Bu Septi Peni membagi tahapan menjadi Bunda Sayang, Bunda Cekatan, dan Bunda Produktif.

Pada sesi materi di pertemuan ke 7 ini, Bunda Produktif di Ibu Profesional tidak selalu dinilai dengan apa yang tertulis dalam angka dan rupiah, melainkan apa yang bisa dinikmati dan dirasakan sebagai sebuah kepuasan hidup, sebuah pengakuan bahwa dirinya bisa menjadi Ibu yang bermanfaat bagi banyak orang.

Berkaitan dengan rezeki adalah ketetapan dari Allah, dan ikhtiar kita adalah bagian dari ibadah. Maka, sebagai ibu kita bisa berikhtiar menjemput rejeki, tanpa harus meninggalkan amanah utamanya yaitu anak dan keluarga.

Dalam sesi diskusi, saya pernah melayangkan pertanyaan, karena bagi seseorang yang memiliki kecenderungan untuk bekerja di ranah publik saya menjadi tertarik bagaimana caranya untuk menyeimbangkan porsi publik dan domestik.

Dan sekali lagi, jawabannya adalah ada pada manajemen waktu, dan menyelesaikan seluruh hak keluarga serta urusan domestik. Sehingga ikhtiar perlu dilipat gandakan menjadi berkali-kali, tentu dengan mengurasi porsi mengeluh, walau kini masih tertahan dalam hati, dan dikeluarkan dalam bentuk cemberut wkwk.

Salah satu tahapan untuk menjadi Ibu Produktif adalah dengan semangat untuk mengenalk bakat diri. Salah satunya melalui tools talents mapping yang dibuat oleh Abah Rama di temubakat.com. Teman-teman juga bisa untuk mengecek kecenderungan bakat disana.

Setelah menjawab pertanyaan, jeng jreeng, berikut ini penjelasan bakat seorang riska..

IMG_5550.PNG

Setelah itu, sebagai catatan kita perlu membuat kuadran aktifitas yang berkaitan dengan aktifitas yang disuka/tidak, dan aktifitas yang bisa/tidak. Kuadran ini diambil dari konsep Gino Wickman dan Rene Boer pada buku karya mereka “How to be a Great Bos”.

IMG_5551

Setelah melakukan tes bakat dan merincinya dalam kuadran, saya melalukan konfirmasi kepada suami. Yakk.. Beliau pun menyetujuinya, memaklumi, namun tetap menyemangati agar tetap bisa memperbaiki diri pada hal-hal yang masing kurang apalagi bagian administrasi, planning, dan manajerial. Hmm, Ayo semangat ibuk riska!

 

Menjadi Manajer Rumah Tangga #NHW 6

“Sejatinya semua ibu itu bekerja. Baik di ranah domestik atau biasa kita sebut pekerjaan rumah tangga atau di ranah publik yang mencakup pekerjaan di luar rumah. Dan kedua ranah itu adalah pekerjaan mulia yang memerlukan profesionalitas dalam pengelolaanya.”

Sekelumit intisari dari materi pada pekan ke-6 kelas matrikulasi IIP.  Semakin menyadari bahwa, saya dibesarkan oleh generasi yang sangat ingin menjadikan anaknya bisa berkiprah di ranah publik. Tidak salah memang, namun kadang ada hal yang sedikit terlewat kiranya. Saya jarang sekali dibebankan permasalahan domestik oleh orang tua saya, karena menurut mereka kita harus fokus dalam menuntut ilmu agar masa depan semakin gemilang.

Saya memang merasa sangat berterimakasih kepada orangtua, yang telah membesarkan sedemikan rupa, sehingga tanpa tuntutan mereka, saya menjadi ingin mengeyam pendidikan sampe jenjang yang membuat saya selayaknya, semakin merenungi kembali tujuan saya menuntut ilmu serta mengaplikasikan ilmu tersebut.

Kemudian, fase berumahtangga pun datang. Saya tahu betul, banyak hal-hal yang perlu dipelajari sebelumnya. Pengalaman perantauan pun kita jadikan dasar pijakan. Namun ternyata itu tidak juga cukup sebagai persiapan, karena mungkin saya tidak akan pernah siap tanpa benar-benar langsung menyelam kedalam lautan perumahtanggan.

Saya pun mencoba beradaptasi dengan ritme kehidupan berumah tangga apalagi setelah adanya anak, yang mewajibkan saya mampu mengatur semuanya.

Beberapa kejadian yang membuat saya akhirnya merenung tentang peran saya sebagai manajer rumah tangga. Dan akhirnya terjawab setelah memahami materi tentang “Menjadi Manajer Handal” dipekan ke 6 ini.

Saya tersadar bahwa, baik ranah domestik atau publik, sejatinya selalu didasari oleh motivasi mengapa kita melakukan ini? Karena tuntutan, kompetisi, atau panggilan hati?

Bekerja hanya karena tuntutan dan kompetisi menjadikan kita tidak sepenuh hati untuk mengerjakannya. Namun jika didasari panggilan hati, maka kita akan bekerja dengan ikhlas dan tanpa banyak mengeluh.

Sehingga agar tidak jenuh dan terjebak pada rutinitas, untuk menjadi manajer handal, perlu kita pahami, mengenai makna dari aktivitas kita. Misalkan,  3 aktivitas yang paling penting, dan 3 aktivitas yang paling tidak penting saya diantaranya;

Yang penting; Mengurus rumah tangga (bersih-bersih, mengatur keuangan, memasak), Membersamai dan mendidik anak, serta Melakukan riset doctoral.

Yang tidak penting; Terjebak dalam media sosial, terlalu banyak ngobrol, dan melamun T__T ga jelas banget kan huhu.

Untuk itu, saya harus berazam dalam hati agar waktu-waktu yang penting tidak terrenggut oleh waktu-waktu untuk aktifitas tidak penting. Apalagi saat ini, yang ternyata waktu banyak habis di kampus, sehingga seharusnya saat pulang ke rumah adalah fokus kepada pekerjaan rumah tangga. Namun, ternyata masih kurang dari yang diharapkan, masih suka fokus ke hape atau pekerjaan kampus yg belum selesai. Semoga, setelah ini, saya mampu untuk semakin memaksimalkan peran menjadi manajer handal rumah tangga.