Indikator Ibu SMART dan Profesional NHW#2

Memasuki materi kedua di pekan kedua kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional (IIP) saya semakin menyadari bahwa banyak hal yang harus dibenahi dari diri saya, jleb deh rasanya, langsung mengena di relung jiwa, ea oke ini lebay.

Tapi saya kembali merenungi, kenapa selama ini, apalagi setelah memiliki anak, sering banget bad mood, muka ditekuk, cemberut, pusing sendiri. Ternyata jawabannya adalah, manajemen diri dan waktu yang acakadut.

Lagi-lagi, yang menjadi korban adalah suami saya, mungkin juga anak saya yang walau masih belum setahun pasti merasakan rasa hati ibunya hiks, maaf ya.

Dalam materi kedua, untuk menjadi profesional, kita harus mamahami peran sebagai seorang individu, istri, dan ibu. Sehingga mampu melaksanakan ketiga tugas tersebut dengan baik. Caranya, dengan menanyakan pada diri, suami, dan anak (sebenernya ini yang masih bingung, bagaimana mendapat respon dari bayi berumur 6 bulan hehehe, namun akhirnya saya buat berdasar asumsi dan beberapa sumber tumbuh kembang anak), selain itu, memasang indikator dalam setiap capaian. Berikut inilah indikatornya,yakni SMART.

Specific: unik/detail
Measurable: terukur
Achiveable: bisa diraih, tidak terlalu susah dan tidak terlalu mudah
Realistic: berhubungan dengan kondisi sehari-hari
Timebond: berikan batas waktu

Saya diingatkan kembali, kapan ya terakhir bikin target, time table, dan list-list seperti itu, huhu, a long time ago…

and then, here we go, inilah targetan yang sekiranya saya mampu lakukan sebagai individu, istri, dan ibu, semoga istiqomah!

IMG_5125
Targetan Menjadi Ibu Profesional

Jadilah, semoga di momen yang bertepatan dengan Ramadhan ini, bisa menjadi titik balik dan momen perubahan menjadi seorang wanita, istri, dan ibu yang lebih baik. Aamiin 😉

 

Iklan

Aliran Rasa #1

Merasakan bergabung dengan komunitas Institut Ibu Profesional Batch#4 menjadikan saya banyak merenung, belajar, dan mengambil hikmah dari sesi materi, sesi tanya jawab, dan sesi penugasan yang membuat saya mengukur kembali kapasitas diri. Mengenai adab menuntut ilmu yang terlebih dahulu disampaikan sebelum materi lainnya membuat proses pembelajaran menjadi lebih efektif. Karena, setiap peserta menyadari bahwa sebagai seorang ibu, tidak ada yang merasa paling baik, tidak ada yang merasa sudah cukup ilmu, semuanya memiliki semangat belajar sehingga kita mampu mendapatkan inspirasi dan juga memberikan inspirasi kepada ibu lainnya. Saya bersyukur karena dengan sistem seperti ini, saya merasa aman untuk curhat permasalahan keluarga, parenting, pembagian waktu khususnya sebagai ibu yang menyambi mahasiswa huhu… tak ada penghakiman yang didapat seperti jika kita curhat di medos #eh.. karena dalam diskusi kelas semua peserta saling menyemangati ;’)

Mengenai ilmu yang ingin dipelajari pun, setelah review tugas diberikan, saya menelaah kembali apakah ilmu yang saya ingin tekuni sudah tepat? Dan akhirnya akan kembali kepada pengukuran kapasitas diri, menentukan prioritas, serta pengaturan waktu agar keluarga mendapat hak yang semestinya. Semoga, semoga terus-menerus bisa melakukan perbaikan diri, membersihkan hati, mengatur waktu agar waktu-waktu menjadi berkah. Bismillah… semangat!

Nice Homework #1 Adab Menuntut Ilmu

Berkaitan dengan materi pertama matrikulasi mengenai Adab Menuntut Ilmu, untuk menguatkan kembali materi tersebut ada beberapa pertanyaan yang menjadi renungan untuk dipahami lebih lanjut tentang peran kita sebagai ibu. Diantaranya adalah pertanyaan sebagai berikut ini:

  1. Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini.
  2. Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut?
  3. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut?
  4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut?

Mengenai jurusan ilmu yang akan ditekuni, sejujurnya saya perlu beberapa lama untuk memikirkannya, kurang lebih dalam sepekan ini, direnungi secara dalam, apalagi jika dikaitkan kontribusi apa nanti yang akan saya lakukan selepas mengenyam pendidikan di Jepang, oleh Karena banyak hal yang ingin dipelajari sehingga sulit menentukan prioritas. Akhirnya setelah saya berkonsultasi dengan suami (yang paling tau keadaan kalau saya ini maunya banyak tapi sukar konsistennya ehehe…) maka jurusan yang menjadi prioritas untuk dipelajari adalah pemberdayaan wanita. Ibaratnya jurusan dalam perkuliahan yang terdiri dari ilmu pendukung, saya pun merancang beberapa ilmu yang akan mendukung jurusan yang akan saya pelajari diantaranya parenting, literasi, dan pertanian.

Banyak hal yang menjadi alasan mengapa saya memilih pemberdayaan wanita sebagai jurusan jangka panjang yang saya ingin tekuni. Selain karena keinginan saya berkontribusi untuk masyarakat, saya juga menginginkan kondisi lingkungan dan masyarakat yang baik dan kondusif untuk keluarga dan pertumbuhan anak-anak. Hal ini menjadikan kita tidak hanya mengedukasi keluarga dan anak-anak kita sendiri namun juga masyarakat khususnya wanita sebagai istri dan ibu. Disamping itu, saya menyadari bahwa beragamnya kondisi sosial masyarakat di Indonesia membuat informasi yang penting untuk diketahui tidak merata khususnya di daerah pedesaan, dari kondisi tersebut banyak sekali hal yang dilakukan untuk memberdayakan dan menguatkan wanita di sekitar kita. Ada yang bilang zaman sekarang, wanita lebih sering saling melemahkan, menganggap apa yang dilakukan dirinya lebih baik dari yang dilakukan orang lain. Semoga kita terhindar dari yang demikian, sehingga mampu mengkondisikan diri untuk belajar dari siapa saja dan dimana saja.

Memberdayakan masyarakat apalagi wanita memiliki tantangan tersendiri, perlu strategi dan juga tahapan untuk menekuninya. Saat terjun langsung ke masyarakat, tentu kita tidak boleh melupakan hak diri dan keluarga untuk menjadi prioritas utama dan motor penggerak di masyarakat. Strategi yang dilakukan mulai dari mengedukasi diri, suami, serta anak, sehingga pengetahuan seperti manajerial rumah tangga dan pendidikan untuk anak diperlukan sebagai strategi awal menuntut ilmu. Selanjutnya ilmu pendukung seperti parenting, literasi, dan pertanian sesungguhnya menjadi passion saya semenjak lama, dan pemberdayaan wanita yang akan dilakukan akan terkait dengan ilmu-ilmu tersebut.

Dengan demikian, proses menuntut ilmu yang saya dahulukan terkait adab menuntut ilmu adalah dengan terus menerus memperbaiki diri, mengatur waktu serta komunikasi dengan keluarga. Perbaikan diri yang dilakukan mencakup pembersihan hati dari penyakit-penyakit hati, kemudian pengaturan waktu agar hal-hal wajib seperti ibadah lebih diprioritaskan agar waktu-waktu menjadi berkah, tidak lupa belajar dari sumber-sumber ilmu yang terpercaya, dan pada akhirnya mengamalkan ilmu tersebut kepada masyarakat.

Tsukuba, 19 Mei 2017

Riska Ayu Purnamasari

Adab Menuntut Ilmu

Senin, 15 Mei 2017
Disusun oleh Tim Matrikulasi- Institut Ibu Profesional
Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mengubah perilaku dan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya ilmu menunjukkan kepada kebenaran dan meninggalkan segala kemaksiatan.
Banyak diantara kita terlalu buru-buru fokus pada suatu ilmu terlebih dahulu, sebelum paham mengenai adab-adab dalam menuntut ilmu. Padahal barang siapa orang yang menimba ilmu karena semata-mata hanya ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya, namun barangsiapa yang menuntut ilmu karena ingin mengamalkan ilmu tersebut, niscaya ilmu yang sedikitpun akan sangat bermanfaat baginya.
Karena ILMU itu adalah prasyarat untuk sebuah AMAL, maka ADAB adalah hal yang paling didahulukan sebelum ILMU
ADAB adalah pembuka pintu ilmu bagi yang ingin mencarinya. Adab menuntut ilmu adalah tata krama (etika) yang dipegang oleh para penuntut ilmu, sehingga terjadi pola harmonis baik secara vertikal, antara dirinya sendiri dengan Sang Maha Pemilik Ilmu, maupun secara horisontal, antara dirinya sendiri dengan para guru yang menyampaikan ilmu, maupun dengan ilmu dan sumber ilmu itu sendiri. Mengapa para Ibu Profesional di kelas matrikulasi ini perlu memahami Adab menuntut ilmu terlebih dahulu sebelum masuk ke ilmu-ilmu yang lain?
Karena ADAB tidak bisa diajarkan, ADAB hanya bisa ditularkan. Para ibulah nanti yang harus mengamalkan ADAB menuntut ilmu ini dengan baik, sehingga anak-anak yang menjadi amanah para ibu bisa mencontoh ADAB baik dari Ibunya
ADAB PADA DIRI SENDIRI
a. Ikhlas dan mau membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk. Selama batin tidak bersih dari hal-hal buruk, maka ilmu akan terhalang masuk ke dalam hati.Karena ilmu itu bukan rentetan kalimat dan tulisan saja, melainkan ilmu itu adalah “cahaya” yang dimasukkan ke dalam hati.
b. Selalu bergegas, mengutamakan waktu-waktu dalam menuntut ilmu, Hadir paling awal dan duduk paling depan di setiap majelis ilmu baik online maupun offline.
c. Menghindari sikap yang “merasa’ sudah lebih tahu dan lebih paham, ketika suatu ilmu sedang disampaikan.
d. Menuntaskan sebuah ilmu yang sedang dipelajarinya dengan cara mengulang-ulang, membuat catatan penting, menuliskannya kembali dan bersabar sampai semua runtutan ilmu tersebut selesai disampaikan sesuai tahapan yang disepakati bersama.
e. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas yang diberikan setelah ilmu disampaikan. Karena sejatinya tugas itu adalah untuk mengikat sebuah ilmu agar mudah untuk diamalkan.
ADAB TERHADAP GURU (PENYAMPAI SEBUAH ILMU)
a. Penuntut ilmu harus berusaha mencari ridha gurunya dan dengan sepenuh hati, menaruh rasa hormat kepadanya, disertai mendekatkan diri kepada DIA yang Maha Memiliki Ilmu dalam berkhidmat kepada guru.
b. Hendaknya penuntut ilmu mendahului guru untuk menjelaskan sesuatu atau menjawab pertanyaan, jangan pula membarengi guru dalam berkata, jangan memotong pembicaraan guru dan jangan berbicara dengan orang lain pada saat guru berbicara. Hendaknya penuntut ilmu penuh perhatian terhadap penjelasan guru mengenai suatu hal atau perintah yang diberikan guru. Sehingga guru tidak perlu mengulangi penjelasan untuk kedua kalinya.
c. Penuntut ilmu meminta keridhaan guru, ketika ingin menyebarkan ilmu yang disampaikan baik secara tertulis maupun lisan ke orang lain, dengan cara meminta ijin. Apabila dari awal guru sudah menyampaikan bahwa ilmu tersebut boleh disebarluaskan, maka cantumkan/ sebut nama guru sebagai bentuk penghormatan kita.
ADAB TERHADAP SUMBER ILMU
a. Tidak meletakkan sembarangan atau memperlakukan sumber ilmu dalam bentuk buku ketika sedang kita pelajari.
b. Tidak melakukan penggandaan, membeli dan mendistribusikan untuk kepentingan komersiil, sebuah sumber ilmu tanpa ijin dari penulisnya.
c. Tidak mendukung perbuatan para plagiator, produsen barang bajakan, dengan cara tidak membeli barang mereka untuk keperluan menuntut ilmu diri kita dan keluarga.
d. Dalam dunia online, tidak menyebarkan sumber ilmu yang diawali kalimat “copas dari grup sebelah” tanpa mencantumkan sumber ilmunya dari mana.
e. Dalam dunia online, harus menerapkan “sceptical thinking” dalam menerima sebuah informasi. jangan mudah percaya sebelum kita paham sumber ilmunya, meski berita itu baik.
Adab menuntut ilmu ini akan erat berkaitan dengan keberkahan sebuah ilmu, sehingga mendatangkan manfaat bagi hidup kita dan umat
Referensi :
Turnomo Raharjo, Literasi Media & Kearifan Lokal: Konsep dan Aplikasi, Jakarta, 2012.
Bukhari Umar, Hadis Tarbawi (pendidikan dalam perspekitf hadis), Jakarta: Amzah,
2014, hlm. 5
Muhammad bin sholeh, Panduan lengkap Menuntut Ilmu, Jakarta, 2015

Program Matrikulasi Institut Ibu Profesional (IIP)

Bagi seorang wanita, sesekali mungkin kita akan masuk dalam perenungan, “Bagaimana agar menjadi wanita, istri dan ibu yang baik?” Jujur, ditengah banyaknya arus informasi, tak jarang kita pun tersesat untuk menemukan maknanya. Karena, menjadi wanita, menurut saya tidak lah mudah, padahal pria juga akan berkata sama sih hehe. Ya intinya saat kita tertakdir untuk menjadi manusia dan hidup di bumi memang tidaklah mudah.

Memahami bahwa wanita dan pria diciptakan saling melengkapi dengan kondrat masing-masing, serta dilengkapi dengan hak dan kewajiban, membuat saya menggali kembali, apa saja peran, hak, dan kewajiban wanita itu sendiri.

Dari berbagai literatur, baik konvensional ataupun kontemporer, konsep yang menurut saya paling mendekati dengan kebutuhan wanita adalah konsep yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, yang terangkum dalam Al-Quran. Al-Quran sendiri diturunkan langsung oleh Allah Yang Maha Pencipta sehingga Dia-lah yang memahami betul kebutuhan ciptaan-Nya. Dalam Islam sendiri, wanita dimuliakan dengan banyak hal, seperti misalnya; menjadi sebab orang tua masuk surga saat tumbuh menjadi wanita shalihah, boleh memasuki pintu surga mana saja saat taat kepada suaminya, didoakan malaikat dan dihapus dosa-dosannya saat mengandung dan melahirkan, diberi pahala jihad saat meninggal dalam melahirkan, dan saat menjadi ibu, anak-anak diminta menghormatinya tiga kali lipat dibanding menghormati ayahnya. Lalu bagaimana jika belum menikah dan belum punya anak? Saya selalu menyemangati kawan-kawan dengan kisah-kisah wanita-wanita yang utama dalam Islam seperti Maryam Ibu Nabi Isa, Asiyah Istri Firaun, Khadijah istri Nabi Muhammad, dan Fatimah anak Nabi Muhammad. Keempat wanita yang dijamin surga tersebut seakan menjadi jawaban bahwaw wanita dalam kondisi apapun mampu menjadi mulia, insyaAllah. Dengan demikian keutamaan-keutamaan yang ada pada wanita yang menjadikan hal-hal lain yang kita anggap sebagai “penghambat gerak wanita” tidak menjadi momok yang amat menakutkan.

Misalnya jika kita sebutkan beberapa yang kita anggap menjadi penghambat (?) Harus menutup aurat, yang ternyata untuk memuliakan wanita itu sendiri agar meminimalisir gangguan dari lawan jenis. Tidak boleh sekolah tinggi, sepertinya zaman sekarang sudah tidak berlaku ya, karena dalam Islam setiap individu diwajibkan menuntut ilmu sampai akhir hayat. Mendapat warisan lebih sedikit dari pria, ini jelas karena wanita tidak wajib mencari nafkah sehingga prioritas ada pada pria. Apa lagi ya, mungkin ada yang bias menambahkan? Namun intinya, jika kita merasa, perempuan terlalu dibatasi geraknya, pahamilah karena memang begitu adanya, dengan memahami insyaAllah kita bisa menerima hakikat kita menjadi wanita…

Selain itu, semakin menyadari, mengapa terkadang wanita banyak mengalami hal-hal rumit dan galau terkait keputusan hidupnya. Dalam konteks pendidikan, perempuan sudah memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki, namun dalam kiprah karirnya mungkin belum sepenuhnya.

Wanita lebih mudah mendapat prestasi cemerlang ketika mengenyam pendidikan, lalu ada titik dimana perempuan harus memilih melanjutkan pendidikan dan karir sampai titik tertinggi atau mengurus penuh rumah tangga. Terlebih saat paska menikah, mengandung, dan melahirkan.

Memilih karir atau rumah tangga, keduanya, merupakan keputusan yang sama pentingnya, apalagi akan selalu ada pandangan-pertanyaan yang menjadi hambatan, sehingga apapun pilihan diantara keduanya, haruslah didukung dengan persiapan diri dan kuatnya mental menghadapi hambatan-hambatan.

Mengingat dalam Islam pun wanita memiliki hak mendapatkan balasan yang sama dengan laki-laki atas amal yang dikerjakan. Sehingga, akhirnya dapat disimpulkan, perempuan memiliki hak untuk membuat pilihan dan kesepakatan, baik sebelum menikah atau sesudah menikah. Pilihan dan kesepakatan yang telah dibuat atas izin suami itu perlu dihargai bahkan oleh kalangan wanita sendiri, sehingga semoga ga ada lagi perang-perangan (#eh) antara ibu kerja atau ibu rumah tangga, ibu yang ini atau ibu yang itu karena dalam masyarakat sosial semuanya itu akan saling terkait, saling membutuhkan dan saling memberi manfaat, jadi buat apa mencari siapa yg lebih baik? Karena yang paling baik adalah mampu melakukan yg terbaik dalam peranannya masing-masing.

Akhirnya, dalam rangka menuntut ilmu lebih lanjut, sampailah saya pada forum yang disebut Intitut Ibu Profesional, yang merupakan forum bagi para ibu dan calon ibu untuk belajar meningkatkan kualitas diri dan profesi agar menjadi ibu kebanggan bagi keluarga, sehingga minimal suami dan anak-anak gak nyesel dan bersyukur memiliki ibu yang seperti kita walaupun banyak kurangnya wkwkwk….

Tsukuba, 19 Mei 2017

Riska Ayu Purnamasari

Mengandung dan Melahirkan di Jepang #5 (ASI VS Sufor)

Maraknya berita mengenai ibu yang kehilangan anaknya karena menyusui esklusif mengingatkan saya kembali untuk melanjutkan kisah pasca persalinan yang kemarin belum selesai hehe.

Agak kontroversial memang judul artikel tersebut, “karena ASI ekslusif bayi meninggal”, tentu saja segera disambut keriuhan dari para ibu-ibu baik yang pro maupun kontra. Jadi semakin meruncingkan perselisihan di kalangan para ibu muda yang sedang berjuang di awal-awal pengasuhan anaknya. Padahal mungkin bisa kita sikapi dengan lebih moderat dan bijak. Yuk kita urai satu-satu benang kusutnya.

Kalau dibaca secara seksama judul tersebut memang terlalu berlebihan, karena kenyataannya, dalam artikelnya, bayi meninggal bukan karena ASI ekslusif tetapi bayi meninggal karena dehidrasi. Manajemen pemberian ASI dan penyusuan serta kondisi bayi itulah yang menjadi titik permasalahannya.

Jika disimpulkan secara individualis, mungkin kita bisa menggunakan prinsip ‘bodo amat‘ ‘yang penting anak saya sih gini gitu begini begitu‘ namun jika dilihat secara statistik, sosial, dan kemasyarakatan kita sebaiknya peduli terhadap permasalahan ini. Karena kita ingin anak-anak Indonesia tumbuh menjadi anak-anak yang sehat, kuat, cerdas.

Nah, saya ingin mengawali kisah ini dengan pengalaman saya, kalau dirasa kurang penting, bisa di-sekip kok bu ibu.. wkwk.

Setelah proses lahiran di ruangan melahirkan, saya dibantu perawat dibawa ke kamar inap menggunakan kursi roda. Bersama dengan bayi saya yang sudah mulai tertidur lelap dalam tempat tidurnya. Perawat memberi kami waktu untuk istirahat sambil berpesan, tiga jam lagi latihan untuk buang air kecil ya, setelah itu bayinya dibangunkan dan disusui ya. Saya pun tidur, tiga jam berselang, saya yang masih takut-takut terpaksa untuk berlatih buang air kecil, ya gitu deh rasanya. Setelah mencuci tangan dan bersih-bersih, saya mencoba membangunkan bayi saya dan menyusuinya dengan percaya diri, juga dalam kesempatan-kesempatan berikutnya. Saat nangis, saya coba susui, sempat terdiam dan tertidur. Namun ternyata lebih banyak masih menangisnya setelah disusui.

Satu, dua hari terlewati, saya sudah menyiapkan diri kalau-kalau beratnya turun. Namun, ternyata turunnya melebihi skala yang dianggap normal. Berat yang turun dibawah 10% ditambah dengan kulit yang mulai menguning. Saya lupa persisnya kadar kuningnya, namun ada saran untuk menambah susu tambahan yang mana itu adalah susu formula.

Dokter bilang kalau ASI saya masih sedikit, dan itu daijyoubu, tidak apa-apa, jangan dikhawatirkan, namun saya keburu sudah stres dan saya bersikeras tidak akan memberikan sufor karena sepengetahuan saya dari beberapa artikel, bayi bisa bertahan tiga hari tanpa makan. Saya mencoba mengingat-ingat teknik apa yang harus dilakukan untuk melancarkan ASI. Saat itu seakan apa yang telah saya pelajari meluap, karena ternyata menyusui itu memanglah tidak mudah. Saya pun menyadari, sedikit sekali yang saya ketahui tentang perlekatan yang baik, sehingga bayi dapat minum dengan baik, juga puting tidak lecet. Karena banyak yang bilang bahwa menyusui itu mudah, natural, nanti juga bisa sendiri, ASI pasti akan keluar, sehingga pada akhirnya saat hamil, hal utama yang selalu saya pelajari adalah bagaimana teknik melahirkan, mengatur pernapasan, biar jahitannya sedikit dan lainnya.

Di titik itu, saya menjadi tambah stres karena menghadapi kenyataan bahwa saya kesulitan untuk menyusui, ditambah lagi setiap orang yang datang pasti akan bertanya; gimana ASInya keluar kan? Saya hanya mengangguk sambil tersenyum, padahal setelah para tamu pulang, saya harus menahan sakit untuk menyusui dikarenakan puting lecet dan luka. Walau pun ada juga beberapa sahabat yang menenangkan, mamahami kondisi saat itu, memberi masukan yang tidak men-judge, dan memberi support.

IMG_3745
Hasil pompa selama 3 jam T_T

Selain itu,  kegalauan berlipat karena ada kabar jika semua susu formula baik yang susu sapi maupun kedelai tidak halal di Jepang, atau bisa dikatakan syubhat. Pengen nangis rasanya jika mengingat ini, ibu macam apa saya yang tega memberi makan anak dengan hal yang syubhat?

Namun setelah hari ketiga saya pun menyerah, karena melihat kondisi bayi yang semakin mengkhawatirkan. Setelah berbekal konsultasi kesana kesini, menanyakan ke produsen atau customer service bahwa susu kedelainya tidak ada campuran hewan (dalam hal ini kandungan taurin, yang dijawab cs nya bahwa tidak ada kandungan hewani), dengan pegangan bahwa cakupan pendapat kehalalan yang sangat lebar dan mengingat ini kondisi darurat. Saya pun mengizinkan dokter memberikan sufor dengan takaran 20 ml per 3 jam. Sambil terus menyusui walau dalam keadaan puting masih luka, perawat tetap mempersilakan saya untuk mencoba menyusui langsung dengan beberapa teknik. Selang seling dengan pemberian sufor di hari itu. Perawat pun bilang, kalau besok berat badan sudah naik, sudah gak perlu tambahan sufor lagi.

Begitu seterusnya dalam kurun waktu sekitar 5 hari rawat inap, pemberian sufor ditakar dengan kecukupan berat badan dan banyaknya buang air kecil dan besar. Dan Alhmdulillah, setelah 5 hari yang berasa training yang melebihi ospek di rindam jaya TNI kali yaak, saya pun diperbolehkan pulang dengan tidak perlu lagi memberikan sufor karena cukup dengan ASI saja. Namun, setelah dua minggu paska kepulangan dari rumah sakit, saat dicek kembali kondisi kesehatan, Ikyu tidak mengalami peningkatan berat badan, seharusnya beratnya kembali semula saat dilahirkan, tapi ternyata tidak. Kembali, ASI campur sufor disarankan oleh dokter, dan Alhmdulillah dibulan ke empat Ikyu sudah mulai full ASI lagi.

IMG_3758
Kamar rawat Inap
IMG_3754
Kangen Makanan RS 😀

Dari pengalaman ini saya melihat bahwa Jepang, bisa dibilang pro keduanya antara sufor dan asi, tergantung dengan kondisi ibu dan anak. Kenapa Jepang pro sufor pun karena melihat depresi yang ibu-ibu Jepang rasakan paska melahirkan, mungkin kalau dibiarkan, ga mau lagi kali punya anak. Mengingat populasi yang semakin menurun, maka kesejahteraan ibu pun diperhatikan.

Lain halnya dengan Indonesia, kita perlu memperhatiakn tingat ekonomi, tingkat higienis, tingkat literasi, tingkat edukasi, cakupan vaksinasi, tingkat KDRT, angka perokok, penerapan kode etis dan promosi sufor, pemberian makanan sesuai rekomendasi WHO, karena bisa dibilang ibu-ibu yang ASIx hanya mencakup 27% sehingga harus serius mengkampanyekan ASI agar ibu-ibu bersemangat menyusui anaknya. (Data diambil dari penjelasan dr. Anissa Karnadi) Saya salut sama beliau, yang memiliki pengalaman gagal menyusui namun tetap rajin mengakampanyekan ASI (cerita di dalam blog beliau, Saya Gagal Menyusui dan Saya Merayakan World Breastfeeding Week).

Jujur, saya sempat malu bahwa bisa dibilang saya pun gagal menyusui ekslusif. Namun, ada perkataan suami yang bikin saya meleleh dan mengakui kekurangan diri. “Ikyu itu jatah rezekinya sudah dijamin Allah, bisa lewat ASImu atau lewat susu fomula itu udah ditentukan, yang penting sekarang terima apa adanya, sambil terus berusaha meningkatkan ASI nya ya, rajin pumping juga, semangat ibookk!” T___T maacih ayaah.

Jadi teringat, sebelum menikah saya sempat rajin membaca-baca artikel mengenai kehidupan paska pernikahan, mengandung, melahirkan, menyusui adalah hal yang membuat wanita ‘syempurna’ #eaaa.. pun dalam kajian-kajian, dijelaskan bahwa peran istri di rumah hanyalah mengandung, melahirkan, dan menyusui. Selebihnya adalah tugas laki-laki sebagai pencari nafkah, pendidik, dan pemenuh kebutuhan keluarga. Weiiss, atulah enak yah jadi istri yak mihihi…

Namun kini, setelah melewati fase-fase yang Allah kasih untuk perbaikan diri, saya seakan mendapat pandangan baru, dan saya bersyukur atas itu, karena Alhmdulillah diberi pemahaman yang semoga lebih baik dari sebelumnya.

Saya jadi belajar bahwa menjadi ibu tentulah tidak mudah, harus terus belajar. Saya saat saya belum menikah dan punya anak, saya mungkin bisa bilang, ih kok dikasih sufor sih, kan gak bagus buat bayi, namun ketika merasakan sendiri bagaimana ada kasus tertentu yang mau tidak mau kita harus memilih itu, maka saya lebih-lebih harus banyak istigfar, mengurangi menghakimi orang lain, karena setiap orang pasti punya cerita perjuangan sendiri. Mungkin saya juga bisa bilang kalau, ih pake sufor pun tetep bisa pinter dan cerdas koooq… tapi lagi-lagi hati dan lisan harus dijaga, agar sesama ibu-ibu tidak saling melemahkan. Namun, saling menyemangati dengan cara yang baik, untuk anak Indonesia yang cerdas dan sehat. Merdeka!! semangat mengASIhi anak-anak kitaaa…