Bulan: November 2016

Mengandung dan Melahirkan di Jepang #1

Posted on Updated on

Setelah menikah pada Maret tahun 2015, kami memang menjadi salah satu pejuang LDR karena saya harus kembali melanjutkan studi di Jepang dan suami harus menyelesaikan kontrak kerja dan mempersiapkan hal-hal yang perlu dipersiapkan sebelum ia terbang menemani saya di jepang. Keluarga kami pun tidak terlalu terburu menuntut harus cepat punya anak, pun Alhmdulillah dengan kami yang juga memiliki motto “let it flow” plus sedang menikmati waktu-waktu pacaran setelah nikah mehehe..
Selang setahun setelah menikah, akhirnya kami memulai hidup bersama tepatnya di bulan Februari 2016. Suami sudah menetap di Jepang dan sudah memulai rutinitasnya. Saat bersama itu kamipun mulai terpikir untuk melakukan program hamil, beberapa rencana saya lakukan seperti ikut kelas Online Promil, cek kesehatan reproduksi dll. di bulan Maret 2016, Alhmdulillah saya dinyatakan positif hamil.
Diawali dengan “feeling” hmm koq belum dapet-dapet yah. Biar gak kege-eran hehe, setelah yakin telat sekitar 2 pekan, maka saya memberanikan diri untuk cek dengan testpack. Reaksi pertama saya saat mengetahui dua garis positif adalah… Nangis! Wkw. Antara terharu, khawatir, seneng, dan juga langsung mikir bahwa akan bertambah amanah dan tanggung jawab. Sedangkan suami, senyam-senyum cengar cengir sambil bilang, selamat yaa! 😄

Si Utun dan Sakura

 

Setelah itu, saya pun memberi kabar keluarga di rumah. Alhmdulillah, insyaAllah cucu pertama dari dua keluarga pun akan hadir. Selang beberapa hari, saya mencari klinik untuk melakukan pemeriksaan. Di Tsukuba, ada beberapa klinik yang biasanya memberi rujukan sebelum kita berobat ke Rumah Sakit, diantaranya,

1. Shoji Clinic (Obsetrics&Gynecolog)

2. Nanairo  (Obsetrics&Gynecolog)

3. Maejima (Gynecolog)
Saya pun memilih Shoji. Yang perlu dilakukan saat pertama periksa adalah membuat janji, datang saat jadwal pemeriksaan, membayar dan membuat kartu pendaftaran. Untuk semua klinik, biaya pembayarannya hampir sama, berkisar antara 5000-6000 yen.
Aksesnya dari kampus memang agak jauh, tetapi alhmdulillah klinik tersebut memiliki dokter wanita yang juga bisa berbahasa inggris selain bahasa jepang. Buat saya yang masih ‘membaca saja sulit’ 😀 itu sangat membantu sekali.
Di postingan berikutnya insyaAllah saya akan berbagi pengalaman hal yg sangat penting hihi, yakni saat mengurus asuransi untuk kehamilan di Jepang… ^_^