Kehidupan Riset di Jepang

Sudah hampir memasuki tahun ketiga saya bergabung dalam kelompok riset dimana saya belajar di University of Tsukuba. Seperti yang telah saya ceritakan pada cerita sebelumnya, bahwa mayoritas sistem pendidikan lanjutan di Jepang adalah based on research dibandingkan course work. Jadi, jika dibandingkan dengan pendidikan yang based on course work yang dialami teman-teman di belahan bumi Eropa atau Australia, memang agak sedikit berbeda. Kalau disana, banyak sekali saya mendapati cerita mengenai penuhnya kelas dan SKS yang harus diambil, begadang mengerjakan report, ujian tertulis, dan banyak lagi. Saya kadang sempat terpikir…

‘’Wah sampai segitunya ya, kaya disini ngerjain laporan kuliah ga pake begadang, -ya itumah elu aja ris yang kesantean… wkw.’’

Tapi tenang saudara-saudara, begadangnya kami di Jepang, bukan karena tugas, tetapi karena riset yang harus dikerjakan, apalagi jika berkewajiban untuk melakukan publikasi riset (jurnal). Yap, balik lagi ke pendidikan yang berbasis riset. Hampir selama pendidikan, yang kita kerjakan adalah riset, riset, dan riset. Walau memang bergantung kepada jurusan yang diambil, namun mayoritas mahasiswa di jepang akan memiliki study room/laboratory tempat untuk ‘berkarya’ siang dan malam hehe.

Sistem pendidikan yang menekankan pada riset membuat persiapan untuk melanjutkan pendidikan di Jepang menjadi unik. Hal pertama yang paling penting adalah, mencari calon supervisor, atau dengan kata lain, sensei yang berkenan untuk membimbing kita. Nah, dibagian ini adalah yang paling penting, karena bisa dibilang sensei adalah titik penentuan kehidupan kita di Jepang akan berjalan bahagia atau sebaliknya (agak lebay ya, tapi memang itulah kenyataanya hiks).

Mengapa peran sensei sangatlah penting? Karena, sebagai supervisor beliaulah yang akan menjamin hidup kita di Jepang, yang menjadi penanggung jawab di setiap form yang kita isi, yang memberikan rekomendasi untuk berbagai hal dan banyak lagi. Oleh karenanya, peran dan tanggung jawab beliau sangat penting, wajib untuk kita menjaga hubungan baik, saat menempuh pendidikan dan juga setelahnya.

Ada teman yang bertanya,

‘’Jadi parameter sensei yang baik itu kayak gimana ris?’’

Hm, memang agak sulit, karena dalam komunikasi tulisan, yakni yang kita lakukan saat berkirim email pertama kali, hal itu sulit ditentukan. Cara lain adalah dengan bertanya kepada senior atau memang belum ada senior disana, berdoalah supaya senseinya memang baik. Atau memang terlanjur mendapat sensei yang agak kurang baik (nah ini juga parameternya bias sih), cara paling akhir adalah selalu bersabar mengahadapinya. InsyaAllah selalu ada jalan.

Selain itu, penting juga untuk mengetahui riset apa yang digeluti oleh sensei yang kita tuju. Banyak cara kepo-in sensei, lewat google scholar, web universitas, atau linkedin. Dari situ dapat tergambar mengenai apa yang akan kita lakukan dalam riset dibawah bimbingan beliau.

Setelah semua proses dilakukan, sampailah kita dalam kehidupan riset di Jepang. Setiap mahasiswa yang sudah memasuki masa riset (tahun keempat undergraduate, graduate baik master atau doctor) akan mendapat study room/laboratory yang hampir semua kegiatan riset akan dikerjakan sedari pagi sampai sore bahkan malam. Seluruh fasilitas yang mendukung riset sudah tersedia, jikapun tidak, kita diberikan kesempatan untuk mengajukannya. Study room/laboratory menjadi tempat untuk belajar secara mandiri, maupun berdiskusi dengan teman satu ruangan. Agenda wajib lain di setiap lab adalah mengikuti konferensi, serta menghadiri dan persentasi pada diskusi pekanan atau yang kami sebut zemi (asal kata dari seminar).

konfrens
Presentasi dalam Konferensi
IMG_2112
Teman-teman satu ruangan study room
zemi
Kegiatan Zemi

Nah, menariknya, kegiatan di kelompok riset bukan hanya tentang penelitian semata. Dalam beberapa kesempatan, kegiatan lain seperti bersilaturahim ke rumah sensei, study trip, welcome party, farewell party, dan juga end year party. Kegiatan-kegiatan ini yang menjadi media komunikasi antar sensei, mahasiswa jepang, dan juga mahasiswa luar negeri. Harapannya, kegiatan-kegiatan tersebut dapat skill dalam berkomunikasi, dan juga wawasan antar negara. Jadi jangan takut riset di Jepang ya. Hidup riset! *menyemangati diri sambil ngolah data yang gak kelar-kelar ><

IMG_2182
Farewell Party