Bulan: Juni 2015

Blessing

Posted on Updated on

Alhmdulillah, Hampir dua tahun sudah! berjibaku hidup di negeri seberang. Banyak hal yang terjadi dalam kurun setahun ini (setelah lama gak apdet blog wkw), beberapanya adalah menyempurnakan data tesis dan menyempurnakan hidupku dengan kehadiranmu (#ea #apasihris XD). Yup insyaAllah dalam waktu dekat saya akan melaksanakan sidang akhir untuk perkuliahan master dan Alhmdulillah dalam waktu dekat (bulan maret kemarin) status saya telah berubah menjadi lebih berat dari sebelumnya. Menjadi seorang istri (ganbarimashou!)

Banyak hal yang saya dapatkan, baik susah maupun senang, suka dan duka, gundah gembira dan banyak lagi hehe. Yup, apapun keadaannya, semuanya adalah nikmat dari Allah, yang terbaik dari Allah. Nikmat mengenyam pendidikan, melanjutkan kuliah apalagi di Luar Negeri dengan bekal beasiswa dari negara sendiri (Nikmat Mana Lagi Yang Kau Dustakan (Ris) T_T maka tidak sepatutnya mengeluh dengan kesempitan-kesempitan yang pernah ada mewarnai perjalanan ini (#tsah) –walau-kadang-tetep-sih-syedih-.

Suatu ketika saat berbarengan dengan Tsukuba sister (mahasiswi2 tsukuba univ) bertandang ke acara di SRIT (Sekolah Republik Indonesia-Tokyo) dalam suatu seminar kemahasiswaan, ada salah satu materi yang cukup menohok yang dibawakan oleh salah satu mahasiswa yang juga memiiki kedalaman ilmu agama yang cukup luas. Ialah ust. Abdurrahman, beliau menyampaikan tentang hal yang tidak asing bagi kami, yakni mengenai nikmat dalam mengelola kehidupan di jepang sebagai seorang mahasiswa.

Nah, materi yang dibawakan kurang lebihnya seperti yang telah saya rangkumkan dibawah ini, semoga berkenan! 🙂

Salah satu nikmat adalah nikmat menuntut ilmu di luar negeri. Berdasarkan data BPS, rasio penduduk Indonesia yang mengenyam pendidikan di Luar Negeri adalah 13 dari 10.000 orang.

Bagaimana mengelola nikmat yang telah diberikan Allah? Ketika mendapat beasiswa dan mengenyam pendidikan di tempat yang memiliki fasilitas lengkap dan kemudahan lainnya. Jangan sampai dengan nikmat yang diberikan Allah kita malah lalai untuk beribadah kepada Allah.

Nikmat yang diberi dapat menjadi ujian jika kita keliru mengelolanya. Saat menggap nikmat yang datang adalah balasan dari kebaikan dan keshalehan yg sudah kita lakukan, maka hal itu bisa menjadi potensi kelalaian. Sifat ingkar, bangga yang berlebihan, pamer merupakan salah satu sikap yang menyalahgunakan nikmat.

Salah satu kisah mengenai sikap yang penyalahgunaan nikmat adalah kisah tentang Qarun yang Allah abadikan di surat Al-Qasas sebagai pelajaran untuk manusia.

Qarun termasuk kaum Musa. Namun dia bertindak melampaui batas terhadap nikmat yg diberi kepadanya. Ia sudah diingatkan bahwa “Janganlah kamu terlalu bangga, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri”.

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu lupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melakukan kerusakan. (76-77)

Namun Qarun, lalai terhadap hartanya, Ia berbangga akan nikmat yang diberi Allah karena ilmu dan kesalehan yang ia punya. Dan Allah membantahnya bahwa sudah banyak umat-umat sebelumnya yang diberi nikmat lebih banyak namun dibinasakan karena tidak bersyukur. (78)

Namun, celakalah Qarun, karena pahala Allah lebih baik dari orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan dan pahal itu diperoleh oleh orang-orang yang sabar. Dan Allah benamkan Qarun bersama rumahnya kedalam bumi. (80-81)

Lalu bagaimana menyikapi nikmat yang diberi Allah? Yakni memahami bahwa kenikmatan adalah ujian dari Allah sehingga berhati-hati menyikapinya, dengan syukur dan sabar.

Dalam surat An-naml 19, Seperti doa Nabi Sulaiman, Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yg telah engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang engkau ridhai dan masukanlah aku kedalam golongan orang-orang sholeh.

Selain itu, cara-cara mensyukuri nikmat lainnya adalah, beramal sholeh dengan maksimal, menjaga shalat pada waktunya, menutup aurat dan meninggalkan yang syubhat serta taklupa juga membalas kebaikan dengan kebaikan, membantu kesulitan oranglain, dan menjaga hubungan baik. Karena, dengan senantiasa menjaga ketaatan terhadap Allah, nikmat yang telah ada akan terus Allah tambah keberkahannya. InsyaAllah 😉

May Allah bless us. Cheers! 😉