Menjadi Pertengahan

Sebagaimana kita pahami bahwa islam adalah agama pertengahan, yang tidak memberatkan namun juga tidak menggampangkan. Yang tidak tidak berlebihan namun juga tidak kekurangan.

Sebagaimana halnya kita yg tidak dianjurkan untuk berbangga diri sebagaimana kita tidak dianjurkan untuk merendah diri.

Seperti yang pernah Rasulullah katakan:
“Sungguh menyenangkan orang mukmin itu, Segalanya serba baik, Jika dia mendapat kesenangan dia bersyukur, dan jika dia mendapat kesengsaraan dia bersabar, sehingga apa yang dihadapinya selalu mendatangkan kebaikan baginya” (HR Muslim)

Dalam syukur dan sabar yang bagai mata uang, tidak dapat dipisahkam. Semenit kita bersyukur semenit kemudian mungkin kita diminta untuk bersabar. Fluktuasi perasaan yg membuat kita seimbang. Jika dianalogikan, hidup itu tidak datar, namun rata-rata dari lonjakan dan penurunan perasaan akan membuat jadi terbiasa dan akhirnya ikhlas dalam menjalankan semuanya… Posisi ikhlas adalah posisi pertengahan yg seimbang.

Kita dianjurkan untuk bersyukur dan syukur berbeda dengan berbangga. Sementara itu, kita dianjurkan untuk sabar dan sabar berbeda dengan putus asa.

“Sungguh jika kamu tidur di malam hari dan berpagi hari dalam keadaan menyesal (karena tidak qiyamul lail), itu jauh lebih baik daripada kamu bermalam lalu bangun untuk melaksanakan qiyamul lail namun berpagi hari dalam keadaan bangga diri. Karena sesungguhnya orang yang ujub amalnya tidak diangkat (tidak diterima) atasnya.”
(Ibnul Qoyyim, Madarijus Salikin 1/177)

Maka, bersyukurlah atas nikmat iman dan islam yg kita punya, nikmat qiyamulail, puasa, tilawah, jihad dan ibadah lainnya. Dan janganlah memandang rendah orang2 yg tertidur, yg tidak berpuasa, yg berdiam diri. Karena boleh jadi orang yang tidur, orang yang makan (tidak berpuasa), dan orang yang berdiam diri (tidak ikut jihad) itu lebih dekat kedudukannya di sisi Allah.

Dan, bersabarlah atas keterbatasan-keterbatasan kita miliki sehingga kita tidak bs banyak berbuat, beribadah, berjihad. Terus berusahalah sekuat yg kita mampu, tidak mengampangkan dan tidak meringankan. Karena boleh jadi kita tidak punya waktu lagi untuk berbuat terbaik yg bisa kita perbuat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s