Bulan: Februari 2014

Seven Samurai

Posted on

Ketersediaan pangan sangat berkaitan dengan keberlangsungan hidup manusia. Tidak tersedianya pangan yang mencukupi kebutuhan masyarakat dalam suatu negara akan mengakibatkan menurunya kesejahteraan hidup, penyakit dan kelaparan. Ketersediaan pangan mencakup tiga konsep utama, kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan pangan.

Ketahanan, kemandirian, dan kedaulatan pangan memiliki definisinya sendiri. Kemandirian pangan adalah kemampuan negara dan bangsa dalam memproduksi pangan dari potensi yang dimiliki. Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya Pangan bagi negara sampai dengan perseorangan yang tercermin dari tersedianya Pangan yang cukup. Sementara Kedaulatan Pangan adalah hak negara dan bangsa yang secara mandiri menentukan kebijakan Pangan yang menjamin hak atas Pangan bagi rakyat.

Jepang sebagai salah satu Negara maju, mengakui bahwa statusnya belumlah berdaulat pangan. Jepang masih dalam tahapan untuk mencapai ketahanan pangan yakni berusaha untuk memenuhi kebutuhan pangan salah satunya dengan melakukan impor pangan. Saat ini Jepang mengimpor kebutuhuan pangan dari luar negeri hampir sekitar 60% bahan makanan dan hanya 40% yang diusahakan dari dalam negeri. Bukan tidak menghargai produk sendiri, hal ini dikarenakan kebutuhan pangan semakin meningkat namun tidak diimbangi dengan ketersediaan sumber daya yang cukup. Kondisi inilah yang menjadikan keputusan untuk bergantung pada Negara lain harus diambil.

Jepang hanya memiliki 12% lahan yang digunakan untuk pertanian yang sangat dimaksimalkan potensinya. Produk utama pertanian Jepang adalah beras, dan kebanyakan beras yang dimakan di Jepang dihasilkan di dalam negeri (Oryza sativa L. ssp. japonica). Dibandingkan dengan jumlah penduduknya, tanah yang dapat digarap sangat sedikit sehingga tidak dapat menghasilkan gandum, kedelai, atau tanaman panen lainnya dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh penduduknya. Jepang mengimpor gandum, sorgum, dan kedelai serta hasil ternak dalam jumlah besar, terutama dari Amerika Serikat.

Namun, walaupun masih berstatus net importer untuk beberapa bahan pangan, Jepang mulai menyadari bahwa tidak selamanya mereka akan bergantung pada Negara lain, ditambah lagi beberapa kejadian yang sempat memberikan dampak sangat besar pada sistem pangan di Jepang, seperti kejadian menyebarnya virus BSE (Bovine spongiform encephalopathy) atau penyakit “Sapi Gila’ yang diduga masuk ke Jepang melalui impor daging dari Amerika Serikat pada tahun 2001 (Tanaka 2008). Serta bencana meledaknya pembangkit tenaga nuklir di Fukushima yang menyebabkan radiasi yang mengkontaiminasi hasil pertanian pada tahun 2011 (Davis 2012).

Dua kejadian besar yang mempengarusi sistem pangan dan perekonomian di Jepang, membuat Jepang mulai membenahi sistem pertanian dan pangan dengan mengupayakan peningkatan produksi dan kualitas dalam negeri. Jepang kembali pada sistem pertanian organik (Yuuki Nouhou) yang mengutamakan potensi lokal dengan sistem pertanian berkelanjutan (Sustainable Agriculture).

Sistem pertanian berkelanjutan merupakan sistem pertanian yang berupaya tidak tidak terlalu banyak menggunakan bahan-bahan yang mampu mencemari lingkungan sehingga tidakn mengganggu keseimbangan alam. Sistem ini kembali lagi pada sejarah sistem pertanian Jepang pada masa Azuchi-Momoyama (1573-1603) yang diterapkan sampai tahun 1945.

Sebenarnya Indonesia dan Jepang memiliki kemiripan. Salah satunya karena masih terdapat petani lokal yang mengembangkan usaha kecil dan tradisonal. Di Fukuoka misalnya, kota terbesar ketujuh di Jepang itu merupakan kota pertanian di Jepang yang memulai lagi menginisiasi untuk meningkatkan peran generasi mudanya untuk memilih kembali pertanian sebagai mata pencaharian utama.

Di Jepang, pemerintah menetapkan harga jual produk impor lebih murah dari produk lokal. Namun pengimpor boleh saja menjual barangnya di bawah harga produk lokal, dengan syarat selisih harga harus disetor ke pemerintah. Sebagai ilustrasi, seandainya importir menjual beras impor 1.000/kg, sementara harga beras lokal 1.200/kg, maka importir harus menyetor ke pemerintah sebesar 200. Kebijakan ini sangat membantu petani, karena harga jual produknya dapat bersaing dengan produk impor.

Selain itu beberapa kebijakan pertanian dibuat untuk meningkatkan produksi lokal dan regional daerah. Sepert program One Village One Product. Pemerintah Jepang memberikan subsidi pada produk yang dianggap punya potensi. Pemerintah disana mengharuskan supermarket menyediakan outlet khusus untuk pangan lokal yang diproduksi petani kecil, lengkap dengan foto dan data petani pemasoknya (produsen). Di sana, petani juga langsung memanajemen semua aktivitas mulai dari penentuan Harga (Bar Code), Labeling, dan Packaging. Hanya kasir saja yang dilakukan oleh pegawai supermarket. Para petani juga mendapatkan informasi langsung melalui SMS atau internet produk apa saja yang laku. Informasi tersebut bisa ditanya kapan saja, tergantung kebutuhan. Dengan kebijakan seperti ini Jepang memulai kembali semangat kemandirian tanpa harus bergantung dengan Negara lain.

Semangat kemandirian yang dimetaforakan sebagai Seven Samurai berasal dari Film Seven Samurai (1954) yang merupakan salah satu film yang paling diakui dan berpengaruh yang dibuat oleh Kurosawa Akira. Dalam film ini, tujuh samurai tanpa pedang direkrut oleh petani miskin untuk mempertahankan desa mereka dari perkumpulan bandit yang bersenjata yang menjajah pedesaan. Hal ini dianalogikan sebagai upaya pemerintah (samurai) untuk mempertahankan desa dengan segala potensinya dan penjajah (yang diasosiasikan dalam kegiatan importer). Di zaman modern, samurai, atau kelas prajurit yang memerintah Jepang antara 12 dan abad ke-19, telah dianggap sebagai maskot yang mewakili individu dengan karakteristik yang mencakup keberanian, kekuatan, ketegasan, kehormatan, kesetiaan, kejujuran, dan kepercayaan. Selain itu, bushido (the way of warrior) dan filosofi samurai yang sangat asketik, pekerja keras, berdisiplin tinggi, pantang menyerah, totalitas loyalitas dan menjunjung tinggi tradisi, kode etik dan tata krama dalam kehidupan.

Bangsa Jepang merupakan bangsa yang tidak mudah menyerah. Dari segi budaya, mereka menerapkan sistem kerja kolektif dan bukan merupakan bangsa yang senang meniru. Mereka selalu berusaha belajar dari kemajuan dan kesalahan bangsa lain tanpa harus mencontoh seutuhnya. Seorang ilmuwan di Jepang benar-benar memiliki andil yang sangat besar dalam proses pembangunan bangsa. Ketika para ilmuwan jepang belajar teknologi maupun perekonomian di Amerika maupun negara Eropa, saat studi tersebut selesai, mereka akan dengan bangga kembali ke tanah airnya dan menerapkan apa yang didapat dengan beberapa modifikasi keunikan sistem sosial dan sistem budaya yang mereka miliki. Termasuk pada sistem pangan dan pertanian, saat ini Jepang sedang berbenah untuk mengupayakan kedaulatan pangan di Negara para samurai ini.

Referensi:

Davis SAY. 2012. The Movement for Sustainable Agricultural in Japan: A Case Study of Post 3/11/2011 Organic Farmers in Saga, Fukuoka, Kagawa, and Hyogo Prefectures. Theses: 227

Tanaka, Keiko. 2008. Seven samurai to protect “our” food: the reform of the food safety regulatory system in Japan after the BSE crisis of 2001. Agric Hum Values (2008) 25:567–580.

Shitsuke

Posted on Updated on

Meretas Kesuksesan dari Kedisiplinan Semenjak Dini

Saat ini Jepang dikenal sebagai Negara dengan kekuatan ekonomi yang mapan. Jepang masuk dalam 5 besar negara pemberi pengaruh dalam perekonomian dunia. Jepang memiliki ekonomi modern berkembang secara simultan dengan identitas budaya nasionalnya. Banyak pengamat Barat menyebut bahwa identitas kebudayaan dan institusi sosial adalah embrio dari kesuksesan Jepang. Jepang mampu berdiri sendiri, menjadi Negara modern, namun tetap mempertahankan identitas budayanya, maju tanpa harus kebarat-baratan.

Bangsa Jepang merupakan bangsa yang disiplin dan tidak mudah menyerah, sifat ini merupakan sifat yang mengakar yang pembinaannya dimulai semenjak dini, bahkan semenjak anak-anak masih berusia belum genap setahun. Hal ini saya dapatkan saat berinteraksi secara langsung dengan anak-anak Jepang yang memiliki tingkat kemandirian yang sangat tinggi. Pengamatan sederhana saya lakukan selama kurang lebih dua hari dua malam membersamai mereka dalam suatu acara perkemahan.

Kepercayaan para orang tua untuk mengizinkan anak-anak mengikuti kegiatan perkemahan merupakan kepercayaan yang tidak dibangun dalam waktu yang singkat. Orang tua harus meyakini bahwa anak-anak mereka mampu melakukan rutinitas kesehariannya secara mandiri, seperti hal pertama yang saya perhatikan yakni setiap anak bertanggung jawab terhadap barang-barang yang dibawanya, seberat apapun itu mereka akan berusaha membawa tas mereka sendiri (Gambar 1).

  photo

Gambar1. Anak-anak membawa tas mereka sendiri

Kepercayaan orang tua juga terbangun karena keprofesionalan dari panitia penyelenggara yang telah menyiapkan beberapa volunteer (dimana penulis terlibat dalam acara tersebut) yang telah diberi pengarahan sebelumnya untuk berpartisipasi membantu acara perkemahan. Minimal usia anak-anak yang diperbolehkan ikut dalam kegiatan ini adalah 5 tahun. Secara tidak langsung, kita bisa melihat bahwa usia 5 tahun merupakan usia yang menandakan anak-anak Jepang sudah mampu mandiri.

Hal-hal berikutnya yang saya catat, pada usia 5 tahun ini, anak-anak Jepang mampu makan sendiri dengan tertib. Dalam kegiatan makan yang teratur dilakukan saat pagi, siang, dan malam, setiap anak makan dengan tepat waktu, mencuci tangan dengan sabun, mengantri saat mengambil makanan, dan duduk dengan tertib saat makan. Selekasnya kegiatan makan, mereka membawa peralatan makannya sendiri ketempat pencucian, tanpa meninggalkannya tergeletak diatas meja.

Sejak dini anak-anak dibiasakan untuk mengucapkan terima kasih dan hormat pada makanan yang disajikan. Sebelum makan mereka mengucapkan “itadakimasu” dan saling membungkuk. Selesai makan mengucapkan “gochisousamadeshita.” Itu adalah ungkapan terima kasih kepada orang yang telah membuat makanan sampai tersaji dengan rasa yang lezat. Jika ada anak atau orang lain yang tidak sopan dengan makanan di meja ia akan diberi peringatan. Jika tidak mendengarkan dia akan dihukum dengan tidak diberikan makanan penutup setelahnya.

 photo(3)

Gambar 2. Suasana makan bersama

Kedisiplinan seperti ini dimulai dari masa menyusui, bayi-bayi di Jepang diupayakan untuk teratur dalam menyusui, mereka akan diberikan ASI pada jam-jam makan yang teratur, kebiasaan untuk teratur ini terbawa sampai dewasa.

Orang-orang Jepang percaya, jika mereka berhasil mendisiplinkan anak-anak, anak-anak akan tumuh menjadi pribadi yang mandiri dan tidak bergantung dan merepotkan orang lain. Anak-anak berperilaku lebih baik dan lebih sopan.  Selain itu anak-anak Jepang didorong untuk belajar, dan mereka melakukannya selama setidaknya 10 jam sehari. Orang tua di Jepang juga memantau anak-anak secara intens dan membimbing perkembangan mereka. Setelah anak melewati tahap balita, mereka diminta untuk mengerjakan tugas, duduk di meja dan makan dengan keluarga, dan praktik kebersihan mereka sendiri.

Hal ini dibuktikan penulis saat memperhatikan anak-anak Jepang mengatur tempat tidurnya sendiri sebelum waktu tidur (Gambar 3). Mereka mampu meletakkan futon (kasur), melipat sendiri kain sprei, dan merapikan selimut. Juga saat bersiap akan ke kamar mandi, mereka mampu untuk menyiapkan alat mandi, sampai akhirnya memakai pakaiannya sendiri.

photo(2)

Gambar 3. Anak-Anak mengatur tempat tidurnya sendiri

Semua hal yang diajarkan oleh para orang tua merupakan hal-hal yang dilakukan untuk menumbuhkan kedisiplinanan semenjak kecil.Jika kita mencari arti kedisiplinan yang dalam bahasa jepang berasal dari kata Shitsuke dalam kamus Koujien, kita akan menemukan beberapa makna yang berarti ( 1 ) untuk mengatur sesuatu ( 2 ) untuk menanam bibit dalam garis lurus  ( 3 ) untuk mengembangkan perilaku yang baik dan sopan melalui instruksi dan praktek , dan ( 4 ) untuk memperbaiki jahitan yang longgar sehingga menjadi teratur kembali. Dari keseluruhan arti, makna yang dikandung hamper sama yakni, meluruskan yang bengkok dan memperbaiki yang salah.

Orang tua mencoba untuk mendukung anak-anak dalam mengembangkan pemikiran independen , belajar mengambil keputusan dan tindakan saat mereka tumbuh dewasa. Dalam prosesnya, orangtua mengurangi langkah dukungan mereka demi langkah sampai hari tiba ketika anak-anak mereka mampu untuk berdiri sendiri. Begitupun kedisiplinan yang coba diterapkan semenjak dini. Orang tua memberikan anak-anak dengan pengawasan dan instruksi serta membimbing perkembangan mereka dalam rangka membangun rutinitas dan pola perilaku . Hal ini diinginkan agar rutinitas yang terpola bisa menjadi perilaku dan pada akhirnya melalahirkan budaya dan adat istiadat yang berlaku di suatu negara. Sehingga tidak heran jika saat ini Jepang menjadi Negara yang unggul diberbagai bidang yang dikarenakan masyarakatnya yang mempu mempertahankan budaya yang tercermin dari kebiasaan mengantri, mengemudi, dan tepat waktu yang terasah semenjak dini.

Referensi:

Hamano Takashi, Uchida Nobuko, Lee Ki Sook, Zhou Nianli, Dinh Hong Thai Jamastrandori Batdelgel & Goto Noriko (2012). Effects of Socio-cultural Factors on Early Literacy Acquisition: A comparative Study of Japan, Korea, China, Vietnam, and Mongolia.

Horikawa. Gaya Asuh Keluarga Jepang. [Terhubung Berkala]. http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/keluarga/berbagi.pengalaman/gaya.asuh.keluarga.jepang/001/009/26/1/1

Kegiatan Perkemahan diselenggarakan oleh Tim Ganbaro Miyagi