Bulan: November 2013

Curhat Pascasarjana #LPDP #Story #7 (Habis)

Posted on Updated on

Kita, mungkin tidak pernah tahu apa yang terbaik untuk kita. Kita hanya bisa menerka, menduga, dan mencari celah dimana kita dapat menemukan berkah dan ridha-Nya. Dengan selalu menemukan cara untuk bersyukur.

Bahkan untuk keinginan yang telah kita capai, tidak berarti itu yang terbaik untuk kita, juga untuk keinginan yang kandas dan tergantikan oleh kenyataan, tidak berarti itu yang terburuk untuk kita. Tetapi sekali lagi, kita dapat mencari celah dimana kita dapat menemukan berkah dan ridha-Nya. Dengan cara menemukan alasan untuk bersabar.

Wahai Allah, karuniakan apa yang terbaik menurut-Mu, yang dengan itu hati selalu merasa tentram, walau dengan keadaan yang berpayah dalam kesulitan, namun selalu ada jalan untuk berbaik sangka memahami skenario-Mu.

Alhmdulillah, semenjak ada LOA, perjuangan harus lebih semangat! Saya segera mengecek status pendaftaran beasiswa LPDP di website. Belum ada pengumuman yang lolos seleksi berkas. Saya tunggu beberapa pekan lagi, keluarlah pengumuman seleksi gelombang 4, yang periode submitnya mencakup tanggal dimana saya submit berkas. Hasilnya, cukup membuat sesak, karena tidak ada nama saya.

Saya mulai bertanya, apakah karena tidak ada LOA? atau Essay yang tidak bisa dipahami atau nilai TOEFL yang terlalu kecil? atau atau yang lain, yang membuat saya pusing untuk berasumsi sendiri.

Kalau memang tidak ada LOA, maka saya coba untuk mengabarkan bahwa, hey saya sudah dapet LOA-nya, hiks.

Saya bertanya-tanya pada banyak orang, apa yang harus saya lakukan. Tibalah dimana saya mencoba untuk mendatangi kantor LPDP untuk menjelaskan kondisi saat ini. Tetapi setelah saya kesana, memang prosedurnya adalah harus menunggu pengumuman seleksi beasiswa selanjutnya. Intinya, harus sabar, Riska…

Saat itu, mungkin saya dalam tahap yang, Saya harus dapet beasiswa! Saya mulai mencari jalan lain, beasiswa lain. Dikti dan kemendikbud, menjadi sasaran selanjutnya yakni beasiswa BPLN dan BPKLN, saya sempat melengkapi berkas untuk kedua beasiswa itu.

Dalam sebulan itu saya hampir tiap pekan mendatangi kantor-kantor pemerintahan seperti dikti dan kemendikbud untuk memastikan pembukaan program beasiswa itu. Saya juga hampir mencari rekomendasi dari Universitas untuk merekomendasikan saya sebagai dosen disana, tetapi akhirnya setelah dipertimbangkan lagi, saya urungkan untuk yang dikti. Then, saya coba beasiswa kemendikbud, saya pastikan bahwa memang benar ada beasiswa ini, dengan menelefon dan mendatangi langsung kantornya, namun sekali lagi, saya urungkan untuk mendaftar beasiswa ini.

Juli, seperti bulan yang penuh dengan campur aduk perasaan, di satu sisi saya bersyukur bisa diterima oleh salah satu universitas, di sisi lain, saya harus siap memilih untuk tidak berangkat, jika memang tidak mendapatkan beasiswa.

Rasanya saat melihat nama tidak ada dalam list pendaftar yang lolos seleksi berkas itu, seperti dunia berhenti berputar, isi perut seakan pindah ke ubun-ubun, terbang dan dijatuhkan kembali, sampai akhirnya sadarkan diri, dan adegan kemudian adalah nangis bombay… (Oke ini lebay :p)

Seakan disentil dan diperintahkan untuk mengingat dan melihat kebelakang, “pasti ada yang salah”. Yang buruk dari saya adalah, procrastinator sejati, kerjaannya selalu menunda-nunda pekerjaan, dengan banyak alasan atau cari-cari alasan 😦 saya juga sempat diingatkan sama TIko, “kan riss, aku juga saranin kamu cepet-cepet siapin persyaratannya, siapin ini itu, langsung usaha cari ini itu” dan saya hanya ber-“iyaaa yaa tikoo huhuhu“. Dan penyesalan datang karena usaha yang tidak maksimal.

Saat keasyikan menunda-nunda, seakan terlupa sama nasihat:

“Barangsiapa yang suka melambat-lambatkan pekerjaannya maka tidak akan dipercepat hartanya.”  (HR. Bukhari)
”Jika kamu menyongsong pagi, maka janganlah menunggu waktu sore. Jika kamu berada pada waktu sore, maka janganlah menunggu waktu pagi. (Ibnu Umar)
Padahal Allah senantiasa meminta kita untuk bersegera, tetapi tidak tergesa, baik dalam hal tugas, amanah, dan ibadah.
“Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Robb kalian dan kepada syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imron: 133).
Saat dalam titik, “yasudahlah” dan saya mulai sibuk untuk mengerjakan yang lain. Saya dikabari Tiko, untuk mengecek pengumuman pendaftaran hasil seleksi berkas gelombang 5, dan ternyataaa, tertulis nama saya diantara beratus pendaftar lainnya, Allahu akbar! saat itu, saya bingung harus merasakan seperti apa, karena saat itu sedang di warnet yang sedang ramai…
Kabarnya, saat wawancara LPDP, banyak hal yang ditanyakan terkait dengan nasionalisme, seperti isi panca sila, pembukaan UUD, pahlawan-pahlawan, lagu Indonesia Raya dan lain-lain, sya mencoba untuk mem-Pede-kan diri untuk menghapalkannya lagi. fiuh.
Kenyataannya, saat wawancara dilakukan oleh 3 orang interviewer, 2 berlatar belakang psikologi dan 1 orang berlatar belakang pendidikan (dosen). Saya yang sudah mempersiapkan presentasi dalam bahasa Inggris, jika sewaktu-waktu ditanyakan tentang rencana riset, saya sudah siap (yes!). Dan nyatanya, apa yang saya persiapkan, tidak ada yang ditanyakan (Nah loh ris..). Mereka benar-benar fokus pada pertanyaan: Akan jadi apa kamu setelah 5 dan 20 tahun mendatang. Selain pertanyaan dasar seperti alasan memilih universitas, negara, dan jurusan.
Saya yang random, dan saat itu sulit menjelaskan tentang cita-cita, semakin disadarkan bahwa tujuan memang harus segera ditentukan dan fokus dalam pencapaiannya. Saya yang dahulu saat kuliah sarjana banyak menargetkan cita-cita, bak seorang yang memiliki ratusan list mimpi, seperti hilang arah saat cita-cita itu tidak tercapai, khususnya setelah lulus kuliah, dan akhirnya saya lelah untuk bermimpi. Padahal, sukses itu bukan tanpa hambatan, bukan jalan lurus yang langsung sampai. Pemahaman saya yang keliru akan definisi sukses dan gagal, memepengaruhi pemahaman kehidupan saat itu.
Saya lupa, bahwa Allah selalu menyediakan ruang yang luas untuk berharap, dan saya lupa bahwa apa-apa yang terbaik selalu menjadi hak-Nya untuk kita. Saya lupa… dan saya diingikatkan kembali saat tahap wawancara.
Saya jawab, saya ingin menjadi ini dan itu, sebisa mungkin saya jelaskan, bahwa saya ingin menjadi bla.. bla.. bla.. 😀
Allahu rabbi, sepulang wawancara, saya merasa hilang arah (halah), orang yang saya temui setelah wawancara adalah Atha, dan saya langsung keluarkan perasaan saya yang tidak yakin dengan jawaban, yang menyesal kenapa harus jawab itu gak ini dan lainnya.
Seperti berada di titik yang sama seperti sesaat setelah interview universitas, nama tidak ada di list pendaftar yang lolos seleksi berkas, dan saat ini, selepas wawancara beasiswa, tahap terakhir untuk mendapatkan beasiswa dari LPDP.
Padahal, saat itu saya sedang ribet-ribetnya memikirkan pembuatan Certificate of Eligibility, yang meminta keterangan sudah dapat beasiswa atau belum, saat itu seperti saat -saat tersensitif dalam hidup, karena sering merasa tidak banyak orang yang membantu, tidak banyak diperhatikan, dan lain-lain, Padahal sebenarnya gak selebay itu sih dalam kenyataannya.
Saat itu juga, saya seperti ditampar dengan halus, karena diingatkan bagaimana kedua orangtua saya mendukung penuh. Sampai, seperti tidak adalagi yang mereka pikirkan selain mikirin anaknya. Seperti yang selalu ibu saya bilang: “bersemangat ya teh!”, Padahal saya kadang sok tahu terhadap pendapat ayah dan ibu saya yang ternyata memang lebih benar perkataannya.
Dua bulan sebelum tanggal (seharusnya) keberangkatan. Saya mencoba untuk menata ulang lifeplan, jikalau tiba-tiba saya harus mengisi form withdraw universitas, jika memang tidak menerima beasiswa, jika.. jika..
Sebulan sebelum keberangkatan, tepatnya akhir Agustus, saya menerima email yang berisikan undangan untuk mengikuti pelatihan yang berarti saya hampir lulus program beasiswa LPDP. Allah… Yang Maha Baik… Allah Yang Maha Baik… Ia tahu apa yang terbaik…
Saya pun mengikuti pelatihan 2 pekan sebelum saya berangkat. Pelatihan kepemimpinan LPDP menjadi syarat terakhir untuk menentukan pendaftar menjadi penerima beasiswa LPDP. Bersama dengan 96 calon penerima lainnya. Alhmdulillah, hari terakhir pelatihan kita dinyatakan resmi sebagai penerima beasiswa. Allahu Yubariik Fiik…
Karena keputusan terbaik, ada dalam keadaan terbaik, dan keadaan terbaik ada dalam suasana hati terbaik, suasana hati terbaik itulah, dimana kita mengingat Allah dan Yakin kepada-Nya.

See… tidak ada yang spesial dari curhatan pascasarjana saya… banyak hal dodol, geje, dan gak banget yang mewarnai hari-hari dalam perjalanannya… sekali lagi, bukan karena saya bisa, tetapi hanya karena betapa beruntungnya saya berkat doa-doa orang tua, dan orang-orang yang rela mendoakan saya ditengah kesibukan, yang saya tidak tahu siapa mereka (semoga Allah melipatgandakan doa untuk mereka) dan kelanjutannya.. bagaimana Allah saja, terserah Allah saja 😉