Curhat Pascasarjana #LPDP #Story #3

Terpilihlah satu negara, yang pada awal tahun saya sempatkan untuk mengikuti pameran pendidikan negara itu yang diselenggarakan di Universitas Atmajaya Jakarta (Benhil, Depan Kost-nya Tiko, pemirsah, nama: Tiko, akan beberapa kali di-mensyen, mohon jangan bosan :D)

Global 30 program pengajaran dengan bahasa Inggris, yang membuat saya memberanikan diri untuk mengambil sekolah di Jepang. Ya Jepang, tanpa harus menguasai bahasa Jepang secara keseluruhan (yang selama ini menjadi kendala saya untuk maju sesegera mungkin) akhirnya saya bisa sekolah di Jepang hehe. Tentunya, bahasa Jepang harus tetap dipelajari, sebagai bahasa keseharian. Akhirnya setelah tanya-tanya dan bertemu beberapa sensei yang datang di pameran pendidikan itu, saya memantapkan diri untuk mengambil kuliah di sana.

Tersebutlah beberapa Universitas yang menyediakan beberapa jurusan yang berhubungan dengan sains, biokimia, dan pertanian. Sambil mencoba menentukan universitas, saya pun mencoba mencari peluang-peluang beasiswa yang ada, pertama kali yang saya coba adalah beasiswa kominfo. Saya pun menyesuaikan jurusan yang saya ambil, yang berhubungan dengan informatika, jreeng, saya akan mencoba mengambil Bioinformatika di Tokodai. Saya mulai mempersiapkan persyaratan seperti berkas-berkas, formulir, TPA dan TOEFL ITP.

Bulan Januari pekan ke 2 saya mengambil test TOEFL ITP di LIA Pramuka Jakarta (TOEFL saya yang dulu ternyata sudah expired hihi XD), pekan ke 3 nya saya mengambil test TPA di Bappenas Jakarta (Pertama kalinya ambil test TPA). Mepeett, sungguh mepet karena deadline berkas untuk beasiswa kominfo adalah tanggal 5 Februari. So, hasil test haruslah sesuai dengan syarat yakni 550 untuk TOEFL dan 450 untuk TPA. Alhasil TPA dengan nilai cukup bagus (walau di kemampuan matematika yang pas-pasan wkwk), namun TOEFL saya ternyata turun hiks hiks, saya tidak jadi apply untuk beasiswa kominfo. Dadaahh bioinformatikaaa… 😀

Target beasiswa selanjutnya adalah Monbugakusho (atau MEXT yakni beasiswa dari pemerintah Jepang), yang bikin cupu buat ikut beasiswa ini adalah kemampuan bahasa Jepang yang “ahsudahlah” :p saya cuma bisa baca hiragana sama katakana, kanji mesti merem-melek buat bacanya XD. Dan proses aplikasi yang cukup panjang yakni setahun.

Beasiswa lain yang lagi marak adalah LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) dari kementrian Keuangan yang berkoordinasi dengan Kementrian Pendidikan dan Kementrian Agama. Tahun ini adalah tahun pertama untuk beasiswa LPDP. Tiko menyarankan untuk coba monbusho dan LPDP, saya yang tukang ngeyel dan sok banyak kerjaan ini, masih maju mundur untuk memperjuangankan kedua beasiswa itu. Jadilah dalam tahap itu saya mencoba untuk mencari LOA (Letter of Acceptance) dulu.

Dari hasil pertimbangan yang mendalam, saya list 3 universitas yakni Kyoto, Kyushu, dan Tsukuba sebagai target. dan diantara ketiga itu, saya mencoba mencari sensei dan jurusan yang sesuai, ada beberapa yang menarik hati di Kyoto, misalnya Global Frontier Bioscience, tetapi saat dipertimabangkan kembali, saya gak mau ambil yang bioscience banget hehe, ingin yang lebih aplikasi dan mengarah ke social science tapi yang gak sosial banget (hadeeh banyak maunya). Then, saya akhirnya jatuh cinta pada sebuah program post-graduate di University of Tsukuba, sebut saja ia: Professional Training Program in International Agriculture Research, saya coba SKSD dengan menanyakan beberapa mata kuliah yang ditawarkan. Sambil tanya-tanya juga ke alumni Tsukuba Daigaku seperti Ka Ikono dan Mba Nur Hasanah. Selang sehari kemudian, saya mendapat beberapa jawaban langsung dari sensei yang bersangkutan, Happy to hear that! Saya kepo-in deh riwayat sensei tersebut, yap dengan mantap saya memintanya untuk jadi prospective supervisor atau dosen pembimbing saya.

Saat itu, saat bulan Mei, dimana saat pertengahan April saya sudah menyerah dengan berkas monbugakusho saya, akhir April saya berangkat ke Taiwan untuk presentasi, sehingga berkas itu benar-benar tidak terkirim hehe. Kabar baiknya, ternyata LPDP dibuka sepanjang tahun, ALhmdulillah secercah harapan sedikit terlihat. Bulan Mei, selain sibuk persiapan kampanye pangan lokal, saya juga menyempatkan untuk menulis proposal riset dan mengikuti test TOEFL IBT. Ganbaru! 😉

to be continued…

Iklan

2 thoughts on “Curhat Pascasarjana #LPDP #Story #3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s