Curhat Pascasarjana #LPDP #Story #5 (Interview)

4 Juni 2013

Perjuangaaan mencari surat rekomendasi dari Dean of FacultyΒ yang buat saya dag-dig-dug sebelum tanggal 7 Juni, dan tertanggal 4 Juni saya masih corat coret ngisi formulir, dan nunggu kepastian surat rekomendasi dari dosen di IPB. Saya memang gak gaul di Fakultas (Gaulnya tingkat Universitas sih, :p ditimpuk rame2), Nah itu yang buat saya gak deket sama Ibu Dekan yang baru, dan agak sungkan untuk minta rekomendasi beliau. saya juga agak sungkan untuk minta rekomendasi ke Departemen saya, Biokimia, karena studi yang saya ambil agak jauuuh dari apa yang saya pelajari sebelumnya hehe. Maap Pak,Bu. Akhirnya saya beranikan diri untuk meminta rekomendasi ke Dekan Pascasarjana IPB, yang saya baru kenal karena beliau yang membantu menjadi juri opini untuk lomba pangan lokal. Alhmdulillah beliau bersedia πŸ˜€

Dodolnya saya, bapak tersebut pasti sibuk luar biasa, harusnya saya meminta jauh-jauh hari. Ya tetapi apa daya, saya coba untuk ke kampus hari itu, saya sudah sms tetapi tidak mendapat balasan, wah beneran sibuk, batin saya. Sebelum ke rekntorat, saya coba ke kantor dekan FMIPA, tapi ternyata ibunya sedang ke luar kota T_T hampir speechless dan nyerah. Saya jalan-jalan lah ke rektorat dengan maksud mentranslet dan legalisir ijazah yg berbahasa Inggris, dan saat sampai disana, tiba-tiba saya melihat sesosok bapak yang berjalan tegap, saya perhatikan… Yatta! itu pak dekan! refleks langsung memanggil si bapak dengan nada setengah teriak (bener-bener gak sopan pemirsah, jangan ditiru :D) dan sambil cengar-cengir, menghampiri si Bapak, “Ohiya, kamu riska ya? maaf ini saya belum sempat balas sms, sini mana saya buatkan suratnya sekarang juga” waks… langsung melting, dan bolak-balik dzikir istigfar sambil hamdalah dalam hati, ya Allah emang kalau jodoh gak kemanaaa :”) doakan bapaknya berkah dunia akhirat.

Akhirnya saya ikut ke ruangan beliau, dan saat itu juga dibuatkan surat rekomendasinya. :”) padahal itu H-4 jam harus dikumpul lewat pos ke Jepang. Selain bapak itu, saya sebelumnya telah meminta ke dosen lainnya, (lagi2 bukan dosen departemen saya)< bapak itu adalah dosen jurusan teknik mesin dan biosistem yang sudi membuatkan surat rekomendasi untuk saya. dan hari itu membatu saya untuk mencari alamat DHL Bogor! Semoga bapak iini juga berkah dunia akhirat :”)

Waktu menunjukkan pukul 14.00 wib. dan itu artinya saya harus cepat-cepat mengirimkan berkas. menuju ke DHL Bogor di jalan Padjajaran. Hal selanjutnya yang selalu saya alami adalah, Nyasar! sampe jam 16.30 wib. Alhmdulillah, sampai juga di DHL, setelah muter-muter :p yang membuat saya bersyukur selanjutnya adalah pengiriman ke jepang yang 2 hari sampai sodara-sodara! Allahu Akbar! dan hari itu ditutup dengan pengiriman berkas, saya pun pulang ke Cilegon dari Bogor ;’)

admission

7 Juni 2013

Saya mendapatkan email dari Ms. Shinoda tentang jadwal interview, Alhmdulillah lolos seleksi berkas. Dalam jadwal yang diberikannya, ada 2 agenda tanggal 12 Juni untuk cek koneksi skype dan tanggal 19 Juni untuk interview. Saat tanggal 12, waktu yang ditentukan untuk cek koneksi yakni jam 11.00 p.m, dan dengan pinjaman laptop dari Mba Intan di kantor saya coba untuk terhubung dengan Ms. Shinoda. Gak nyambung-nyambung, suara yang tidak terdengar dll T_T akhirnya saya memutuskan untuk membeli peralatan seperti web-cam dan head-phone yang ada micro-phonenya (tadinya sih mau ngirit, tapi emang mesti modal juga XD). Tibalah tanggal 19 Juni, kedodolan saya kembali muncul, yang saya ingat adalah jam 11.00 p.m, dengan santainya saya masih siap-siap di kost-an, pilih-pilih jilbab dll XD, tanpa sadar bahwa jam yang saya ingat itu salah! Saat mulai berangkat pukul 08.30 dari kosan, dengan dibonceng motor oleh Atha. Perasaan saya nggak enak, saya coba cek lagi email di perjalanan naik motor, deg. Ternyata jam interview adalah jam 08.45-09.00. Saya tepuk-tepuk pundak Atha, kalau salah jam >.<! Akhirnya dengan kekuatan kebut-kebutan (Saya sunggu percaya pada sahabat saya ini, karena dia sudah pengalaman bermotor ria, sampai ketiduran saat bawa motor :P) perjalanan yang biasanya ditempuh sekitar 45 menit, menjadi sekitar 25 menit saja. Sampai di parkiran motor, ada nomor asing yang menelepon, dan itu suara sensei saya!

Setelah basa-basi di telpon sambil meminta maaf, saya pasang alat-alat untuk sykpe yang baru dibeli tadi malam >_< dan mencoba memulai koneksi. Jreeeng. sudah ada sekitar 5 orang pewawancara. Saya berusaha mengatur napas dan rileks. Thanks berat buat temen2 kantor saya yang ikutan rempong pagi itu, dan akhirnya mereka menonton saya interview… >,<.

“I’m sorry, I’m late, this is my fault.. bla bla bla…” saya bilang itu kesalahan saya, ditambah dengan alasan macet (dan memang macet ^^”) dan interview pun berlangsung…

Pertanyaan yang muncul pertanyaan standar seperti alasan memilih jurusan, cita-cita, rencana study, sponsorship, kenapa memilih Jepang bukan USA, dan banyak lagi. Semua jawaban mengalir, kalau boleh terharu, mungkin saya bakal menitikan air mata saat ditanya mengapa jurusan ini dan mengapa jepang (hihi oke ini lebay :p). Allahu rabb, saat itu datang juga πŸ˜‰

Sesudahnya interview, teman2 di ruangan senyam-senyum sendiri, hal pertama yang saya tanya:

ngerti gak tadi aku ngomong apaaa? *sambil meringis :pΒ (soalnya jawaban saya yang menurut saya amburadul :p)

“ngertii, hihi,”Β Alhmdulillah, *doa buat Mba Nuri, Mba Intan, Atha, dan Ka ufuwan yang hadir saat ini πŸ˜€

Sesudah interview itu juga, saya naik ke mushola, saya merenung, nangis sebanyak-banyaknya biar semua beban lepas, sambil dhuha-an, karena sebelum interview gak sempet >.

Iklan

Curhat Pascasarjana (TOEFL IBT) #LPDP #Story #4

Abu Darda Radliyallahu ‘anhu berkata, “Siapa yang beranggapan bahwa pergi menuntut ilmu bukan jihad maka telah berkurang akalnya.”

Mu’adz bin Jabal berkata, “Pelajarilah ilmu, karena mempelajarinya karena Allah adalah hasanah, menuntutnya adalah ibadah, mempelajarinya adalah tasbih, dan membahasnya adalah jihad.”

Persiapan selanjutnya adalah test TOEFL IBT, berbeda dengan TOEFL ITP (Institutional Test Program)Β atau PBT (Paper Based Test), TOEFL IBT (Internet Based Test) menjadi persyaratan masuk Universitas yang harus dilampirkan. Mungkin ada beberapa yang menerima dalam bentuk ITP atau PBT, teteapi lebih banyak yg menerima IBT (saat akan apply ke universitas, mohon ditanyakan mengenai persyaratan TEOFL ini). *FYI: TOEFL hanya diperuntukan untuk negara seperti Asia dan Amerika, kalau Eropa dan Australia yg diperlukan adalah IELTS (jangan tanya saya, soalnya belum pernah XD)

Untuk mengikuti TOEFL IBT hal pertama yang harus dilakukan adalah membuat akun di www.ets.orgΒ nanti akan ada kolom Sign Up untuk register.

ets ets2

As always, saya curcol sama Tiko (yang selalu selangkah lebih maju.. eaa :D). Apa saja yang dibutuhkan, dipersiapkan, dll. Jujur, kami belum pernah ikut les persiapan untuk TOEFL dan semacamnya, dan langkah ini pun kami nilai sebagai langkah yang Nekat! :p Bismllahi tawkkaltu, laa hawla wa laa quwwata ila biLlah…

Seelum Tes TOEFL IBT, saya dua kali mengikuti Tes TOEFL ITP, yg pertama yang saya ceritakan sebelumnya, yakni di LIA Pramuka, dengan hasil yang gak banget, saya gak ambil deh hasil tesnya. hehe. Dan yang kedua bertempat di LIA Veteran (test TOEFL ini saya ambil bersama dengan Tiko). Untuk tes TOEFL IBT itu jadwal tes saya berselang seminggu dengan jadwalnya Tiko.

Oke-nya, pendaftaran IBT ini adalah untuk daftar minimal sebulan sebelumnya, hal ini mencegah saya yg deadliner ini untuk tergesa, dan gak belajar untuk persiapan test :p. Yah namanya juga riska, dengan alasan masih mikir, ngumpulin uang, dan sok sibuk dengan kerjaan (ya karena utama adalah kerjaan bukan? hihi), saya kena denda juga, karena telat sehari pendaftaran. #tepokjidat. Sehingga sistem belajar kebut 2 minggu pun saya lakukan.

Buku yang saya baca untuk persiapan test adalah buku dari KAPLAN, dengan dilengkapi CD-ROM untuk latihan. Ada empat bagian test yakni, Reading, Listening, Speaking, dan Writing. Yang nge-buat keki dan gak pede adalah bagian Speaking hehe. Jadi saya maksimalin untuk latihan speak-speak :p

kaplan

Tantangannya, dibandingkan TOEFL IBT yang hanya Reading dan Listening, IBT memang lebih kompleks dan lengkap. Semua kemampuan ditest disana. Seperti dua tahun lalu saya saya berkesempatan course english selama 2 bulan di US, 4 hal itulah yang dititikberatkan untuk dilatih. Then, selama di Indonesia, menguap sudah ilmunya, karena gak pernah dipake, wkwk. Wallahu’alam πŸ˜‰

Jeng jeng, kenapa saya terburu mengambil test pada bulan Mei ini? Karena oh karena deadline berkas Admission adalah 7 Juni 2013, dan waktu terakhir untuk ikut test IBT adalah saat itu juga. Hoho. Ya begitulah pemirsah. itu pun saya masih harus izin untuk bilang bahwa hasil test yang akan langsung dikirim ke kempus Tsukuba dari US (tempat penilaian test) akan telat sepekan dari yang sudah dijadwalkan. Alhmdulillah diperbolehkan. Yap, jadi ingat-ingat, untuk test TOEFL IBT harus sebulan sebelum (minimal dua pekan, klo telat denda skitar 47$ atau sekitar Rp.500.000 lumayan kan T_T), sedangkan testnya sendiri seharga 175$ atau sekitar Rp. 1.850.000. Dan hasilnya akan dikirim langsung ke Universitas Tujuan, dalam durasi sekitar 15 hari.

Hasil nilai bisa dilihat langsung di web ets.org, dan dengan hasil itu saya pastikan lagi ke kampus, sehingga mereka percaya bahwa saya telah ambil test IBT hehe. ALhmdulillah dengan nilai sekian-sekian, saya memberanikan diri untuk menyertakan nilai itu dalam aplikasi pendaftaran saya ke University of Tsukuba. Aplikasi lainnya berupa form pendaftaran, CV, dan Reserach Plan. Yosh! πŸ˜€

Curhat Pascasarjana #LPDP #Story #3

Terpilihlah satu negara, yang pada awal tahun saya sempatkan untuk mengikuti pameran pendidikan negara itu yang diselenggarakan di Universitas Atmajaya Jakarta (Benhil, Depan Kost-nya Tiko, pemirsah, nama: Tiko, akan beberapa kali di-mensyen, mohon jangan bosan :D)

Global 30 program pengajaran dengan bahasa Inggris, yang membuat saya memberanikan diri untuk mengambil sekolah di Jepang. Ya Jepang, tanpa harus menguasai bahasa Jepang secara keseluruhan (yang selama ini menjadi kendala saya untuk maju sesegera mungkin) akhirnya saya bisa sekolah di Jepang hehe. Tentunya, bahasa Jepang harus tetap dipelajari, sebagai bahasa keseharian. Akhirnya setelah tanya-tanya dan bertemu beberapa sensei yang datang di pameran pendidikan itu, saya memantapkan diri untuk mengambil kuliah di sana.

Tersebutlah beberapa Universitas yang menyediakan beberapa jurusan yang berhubungan dengan sains, biokimia, dan pertanian. Sambil mencoba menentukan universitas, saya pun mencoba mencari peluang-peluang beasiswa yang ada, pertama kali yang saya coba adalah beasiswa kominfo. Saya pun menyesuaikan jurusan yang saya ambil, yang berhubungan dengan informatika, jreeng, saya akan mencoba mengambil Bioinformatika di Tokodai. Saya mulai mempersiapkan persyaratan seperti berkas-berkas, formulir, TPA dan TOEFL ITP.

Bulan Januari pekan ke 2 saya mengambil test TOEFL ITP di LIA Pramuka Jakarta (TOEFL saya yang dulu ternyata sudah expired hihi XD), pekan ke 3 nya saya mengambil test TPA di Bappenas Jakarta (Pertama kalinya ambil test TPA). Mepeett, sungguh mepet karena deadline berkas untuk beasiswa kominfo adalah tanggal 5 Februari. So, hasil test haruslah sesuai dengan syarat yakni 550 untuk TOEFL dan 450 untuk TPA. Alhasil TPA dengan nilai cukup bagus (walau di kemampuan matematika yang pas-pasan wkwk), namun TOEFL saya ternyata turun hiks hiks, saya tidak jadi apply untuk beasiswa kominfo. Dadaahh bioinformatikaaa… πŸ˜€

Target beasiswa selanjutnya adalah Monbugakusho (atau MEXT yakni beasiswa dari pemerintah Jepang), yang bikin cupu buat ikut beasiswa ini adalah kemampuan bahasa Jepang yang “ahsudahlah” :p saya cuma bisa baca hiragana sama katakana, kanji mesti merem-melek buat bacanya XD. Dan proses aplikasi yang cukup panjang yakni setahun.

Beasiswa lain yang lagi marak adalah LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) dari kementrian Keuangan yang berkoordinasi dengan Kementrian Pendidikan dan Kementrian Agama. Tahun ini adalah tahun pertama untuk beasiswa LPDP. Tiko menyarankan untuk coba monbusho dan LPDP, saya yang tukang ngeyel dan sok banyak kerjaan ini, masih maju mundur untuk memperjuangankan kedua beasiswa itu. Jadilah dalam tahap itu saya mencoba untuk mencari LOA (Letter of Acceptance) dulu.

Dari hasil pertimbangan yang mendalam, saya list 3 universitas yakni Kyoto, Kyushu, dan Tsukuba sebagai target. dan diantara ketiga itu, saya mencoba mencari sensei dan jurusan yang sesuai, ada beberapa yang menarik hati di Kyoto, misalnya Global Frontier Bioscience, tetapi saat dipertimabangkan kembali, saya gak mau ambil yang bioscience banget hehe, ingin yang lebih aplikasi dan mengarah ke social science tapi yang gak sosial banget (hadeeh banyak maunya). Then, saya akhirnya jatuh cinta pada sebuah program post-graduate di University of Tsukuba, sebut saja ia: Professional Training Program in International Agriculture Research, saya coba SKSD dengan menanyakan beberapa mata kuliah yang ditawarkan. Sambil tanya-tanya juga ke alumni Tsukuba Daigaku seperti Ka Ikono dan Mba Nur Hasanah. Selang sehari kemudian, saya mendapat beberapa jawaban langsung dari senseiΒ yang bersangkutan, Happy to hear that! Saya kepo-in deh riwayat sensei tersebut, yap dengan mantap saya memintanya untuk jadi prospective supervisor atau dosen pembimbing saya.

Saat itu, saat bulan Mei, dimana saat pertengahan April saya sudah menyerah dengan berkas monbugakusho saya, akhir April saya berangkat ke Taiwan untuk presentasi, sehingga berkas itu benar-benar tidak terkirim hehe. Kabar baiknya, ternyata LPDP dibuka sepanjang tahun, ALhmdulillah secercah harapan sedikit terlihat. Bulan Mei, selain sibuk persiapan kampanye pangan lokal, saya juga menyempatkan untuk menulis proposal riset dan mengikuti test TOEFL IBT. Ganbaru! πŸ˜‰

to be continued…