Jangan (Malu) Jadi Bangsa Tempe

Sebagaimana kita ketahui, slogan “Jangan jadi bangsa tempe” dikenal dari salah satu pidato presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno, yang ingin Indonesia menjadi bangsa yang tidak mudah diinjak-injak dan diremehkan harga dirinya oleh bangsa lain. Ir. Soekarno berkata demikian karena pada saat itu pembuatan tempe masih dilakukan dengan cara diinjak-injak untuk mengelupas kulit kedelai sebelum dilakukan proses fermentasi.

Walau perkataannya seperti memarjinalkan tempe sebagai pangan asli Indonesia, tetapi Presiden Soekarno sangat menyukai tempe. Konon ada dua makanan yang tak pernah absen dari meja makan istana saat itu yakni gulai daun singkong dan tempe goreng.

Tempe: Pangan Lokal Indonesia

Sejarah tempe tidak lepas dari sejarah dibudidayakannya kacang kedelai di Indonesia. Masuknya kedelai ke Indonesia pada abad ke XVI tidak lepas dari kedatangan pedagang CIna yang membawa kedelai sebagai makanan. Awalnya, kedelai memang tidak ditanam secara luas sebagai tanaman inti seperti jagung atau ubikayu. Saat itu kedelai hanya ditanam secara tradisional sebagai tanaman sisipan. Berangsur-angsur terjadi perubahan dari corak usahatani tradisional ke corak usahatani komersial untuk memperoleh keuntungan maksimal dari budaya kedelai.

Tidak seperti makanan tradisional lain yang berasal dari kedelai yang biasanya berasal dari Cina atau Jepang, tempe berasal dari Indonesia. Bila ditelusuri dari asal muasal katanya, tempe bukan berasal dari bahasa Tiongkok, tapi bahasa Jawa kuno, yakni tumpi, makanan berwarna putih yang dibuat dari tepung sagu, dan tempe berwarna putih. Pada masa Kerajaan Majapahit, tempe sudah diyakini ada. Penyebutan tempe sebagai makanan secara terang-terangan disebutkan dalam serat Centhini, jae santen tempe (jenis masakan tempe yang dicampur santan) dan kadhele tempe srundengan.

Di Indonesia, kedelai merupakan komoditas terpenting ketiga setelah padi dan jagung. Lebih dari 90 persen kedelai Indonesia digunakan sebagai bahan pangan, terutama pangan olahan, yaitu sekitar 88 persen untuk tahu dan tempe, 10 persen untuk pangan olahan lainnya dan sekitar 2 persen untuk benih (Sudaryanto, Swastika 2007).

Menurut artikel Kompas, pada 3 Juli 2003 yang ditulis M. Astawan menyebutkan, Indonesia merupakan negara produsen tempe terbesar di dunia dan menjadi pasar kedelai terbesar di Asia. Sebanyak 50% dari konsumsi kedelai Indonesia dilakukan dalam bentuk tempe, 40% tahu,dan 10% dalam bentuk produk lain (seperti tauco, kecap, dan lain-lain). Konsumsi tempe rata-rata per orang per tahun di Indonesia saat ini diduga sekitar 6,45 kg.

Tempe: Pangan Sehat Indonesia

Saat ini di beberapa tempat proses pembuatan tempe sudah menggunakan Standar Nasional Indonesia (SNI). Pembuatan tempe dibuat dengan lebih bersih, higienis, dan berteknologi. Sehingga tidak bisa dikatakan lagi apabila tempe adalah makanan kelas dua yang tidak sehat. Tempe memiliki beberapa kelebihan jika dibandingkan kedelai yang belum diolah.

Komposisi gizi tempe yang berupa kadar protein, lemak, dan karbohidrat tidak banyak berubah dibandingkan dengan kedelai. Namun, karena adanya enzim pencernaan yang dihasilkan oleh kapang tempe (Rhizopus sp.), protein, lemak, dan karbohidrat yang terdapat pada tempe menjadi lebih mudah dicerna di dalam tubuh dibandingkan yang terdapat dalam kedelai. Dibandingkan dengan makanan hasil olahan kedelai lainnya, tempe mengandung isoflavone dengan kadar yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan oleh fermentasi yang dilakukan oleh jamur Rhizopus. Semakin lama proses fermentasinya, semakin tinggi kadar isoflavone-nya. Oleh karenanya, tempe sangat baik dikonsumsi oleh semua usia. Dengan mengkonsumsi tempe, gizi masyarakat tercukupi, serta generasi yang cerdas pun tidak mustahil akan tercipta.

Selain itu,merupakan satu-satunya bahan pangan nabati yang menghasilkan vitamin B12. Tempe Indonesia mengandung vitamin B12 sebanyak 4.6 ug/100g, jumlah yang cukup tinggi dibandingkan dengan tempe Jepang yang kandungannya 0.03-0.06 ug/100g. Hal ini dikarenakan tempe Indonesia mengandung bakteriKlebsiella. Selain sumber vitamin B12, tempe juga mengandung antioksidan yang berfungsi mencegah penuaan dini. Dengan maraknya penelitian tentang khasiat dan manfaat tempe bagi kesehatan, tempe sudah menjadi makanan pokok bagi masyarakat Indonesia.

Tempe dan Dilema Kedelai Indonesia

Tempe pernah menghilang dari peredaran. Dikarenakan kedelai dalam negeri yang langka karena target produksi kedelai tak tercapai lantaran petani mulai beralih ke komoditas lain. Bertanam kedelai dianggap tidak menguntungkan. Karena banyak petani beralih ke komoditas lain, luas lahan kedelai ikut berkurang dibandingkan tahun lalu. Produksi kedelai dalam negeri tiap tahunnya mengalami penurunan. Pada 2010, misalnya, produksi kedelai tercatat 907.031 ton, kemudian sepanjang 2011 menyusut menjadi 851.286 ton. Pada 2012, produksi komoditas ini kembali menurun menjadi 779.741 ton. Padahal, kebutuhan kedelai di Indonesia saat ini mencapai 2.85 juta ton.

Bahan baku kedelai yang sebenarnya dapat diproduksi oleh petani Indonesia sendiri, sebagian besar masih harus diimpor. Adanya industri olahan primer kedelai ditambah dengan kebutuhan bungkil kedelai sebagai pakan ternak, sebenarnya merupakan peluang pendapatan tunai bagi petani kecil di seluruh Indonesia. Berdasarkan data kasar, Indonesia masih harus mengimpor 1.5 juta ton kedelai dan 1 juta bungkil kedelai.

Bergantung, kalau terlalu lama, maka kita tidak ada bedanya dengan bangsa yang diinjak dan tidak dihargai oleh bangsa lain. Lalu bagaimana solusinya? Sementara, kita memang masih mengandalkan impor kedelai untuk memenuhi kebutuhan kedelai dalam negeri. Pada akhirnya, kita harus berusaha memulai untuk meningkatkan produksi dalam negeri. Harus. Bila tidak, maka krisis pangan, tak hanya krisis kedelai, akan terus melanda.

Konsep “tanam, simpan, makan” menjadi solusi yang dapat dikembangkan untuk menyelesaikan permasalahan krisis pangan. Pertama, konsep tanam, hendaknya bercocok tanam dengan bersungguh-sungguh, yakni dalam perspektif jangka panjang perlu dipikirkan benih, pupuk, teknologi, tantangan alam, dan sebagainya. Kedua, konsep simpan, mangandung maksud perlunya melakukan upaya penyimpanan dan pengawetan makanan, sebagai perspektif jangka menengah. Dahulu, masyarakat Indonesia melembaga sebuah unit sosial yang berfungsi menjaga stabilitas pangan atau disebut dengan lumbung pangan. Lumbung pangan merupakan cadangan pangan yang berfungsi untuk menjaga stok atau stabilitas pangan baik karena musim paceklik atau karena ada kondisi darurat seperti bencana alam. Lumbung pangan ini dapat dimaksimalkan fungsinya oleh masyarakat atau pemerintah (bulog). Ketiga, konsep pengendelian konsumsi. Pengendalian konsumsi dengan makan secukupnya atau mengatur pola makanan, merupakan perpektif jangan pendek untuk menghemat persediaan pangan. Dengan demikian, pembangunan ekonomi tidak dapat diandalkan pada hutang dan impor semata tetapi dengan manajemen stok, persediaan, dan penyimpanan.

Jangan Malu Bangsa Tempe

“Jangan jadi bangsa tempe”. Ir. Soekarno berkata demikian karena dahulu pembuatan tempe masih dilakukan dengan cara diinjak-injak untuk mengelupas kulit kedelai sebelum dilakukan proses fermentasi. Ir. Soekarno ingin Indonesia menjadi bangsa yang tidak mudah diinjak-injak dan diremehkan harga dirinya oleh bangsa lain. Namun sekarang, tempe telah berubah menjadi kebanggaan Indonesia. Tempe menjadi simbol pangan nusantara Indonesia yang sudah diproses sedemikian rupa dengan teknologi yang higienis serta mampu menyediakan gizi yang baik bagi masyarakat Indonesia. Tempe juga menjadi komoditas pangan yang sudah tersebar diseluruh dunia. Walaupun dengan dilema kedelai yang masih impor, kita selalu punya harapan untuk membuat kualitas kedelai dalam negeri menjadi lebih baik dengan konsep tanam, simpan, dan makan yang apabila diaplikasikan dengan sungguh-sungguh, keberlanjutan pertanian dan pangan akan terjamin. Sehingga kita menjadi bangsa yang mandiri, bukan lagi menjadi bangsa yang bergantung pada negara lain.

Siapkah kita menjadi bangsa tempe? Yang memiliki integritas yang tinggi untuk memajukan produk nusantara, ikut berkontribusi dalam pembangunan negara, dan ikut berpartisipasi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Mari kita mulai untuk mencintai pangan nusantara Indonesia dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan masyarakat ini dengan meningkatkan kompetensi, profesionalitas, dan kontribusi diberbagai bidang yang kita sinergikan untuk Indonesia.

Opini untuk Beranda MITI 😀

Setengah Juni

Dan Juni, sudah setengah perjalanan dilalui. Masih ada setengahnya lagi. Kemudian, manakala sudah sampai di ujung Juni, itu berarti sudah setengah perjalanan dilalui dalam tahun ini. Masih ada setengahnya lagi.

Namun untuk harapan, tentu tak hanya tinggal setengahnya lagi. Karena harapan, selalu ada untuk orang yang beriman 😉

Salah satunya adalah harapan untuk bertemu bulan pelipat ganda kebaikan. Yang di tahun ini akan hadir dipertengahan perjalanan dalam melewati tahun matahari. Harapan yang secara berulang tertanam setiap tahunnya. Harapan untuk bertemu dengan bulan ramadhan yang juga selalu disertai dengan harapan agar amal-amal penjadi penolong di hari kemudian.

Maha besar Allah, yang telah menerbitkan harapan di setiap hati manusia. Harapan yang membuat manusia tetap melakukan hal-hal terbaik dalam hidupnya. Harapan yang membuat manusia mengenal kesabaran. Karena jarak harapan dan kenyataan adalah kesabaran. Dan kesabaran menjadi jawaban atas semua pertanyaan.

Sehingga, Allah-lah tempat terbaik untuk menitipkan harapan. Allah yang membimbing kita untuk bersabar, menambah kesabaran, serta bersiap jika suatu saat harapan beralih menjadi kenyataan. Ishbiru, Shabiru, wa Rabithu.

Mari bersiap lewati setengah Juni, dengan sepenuh harapan dan kesabaran. wush! 😉

Strategi Hideyoshi

04_strategi hideyoshi

Edisi ngerakum kutipan kali ini dari buku Strategi Hideyoshi… selamat menikmati 😉

Lord Nagahama

Awal kisah ini adalah tentang, dua orang petani daerah Miwa yang ingin mengubah hidupnya. Jiro dan Gonsuke. Saat Jiro bermimpi sedang berdiri di persimpangan jalan. Satu mengarah ke jalur yang aman tetapi sepi petualangan. Dan satunya menawarkan perjalanan yang mendebarkan. Gonsuke pun menyarankan agar mereka berdua melakukan petualangan ke Negeri di luar Miwa.

“Pikirkanlah, jika kita bisa berbagi pikiran dengan seorang penasihat yang berpengalaman, seseorang yang lebih kenal dunia, seseorang yang tidak menertawakan impian seorang pemuda.”

“Sepertinya aku tahu orang itu, kau pernah dengar nama Hideyoshi?”

“Bukankah Ia Lord Nagahama?”

“Benar, ia salah seorang kepala samurai Nobunaga. Tetapi berasal dari keluarga seperti kita di Nakamura. Keluarga Petani”

Petualangan pun dimulai untuk mencari Hideyoshi.

Perjalanan ke Nagahama

Jiro dan Gonsuke, bertemu dengan seorang nenek yang sangan berlebihan dalam menilai Hideyoshi. Dan bertemu juga dengan seorang lelaki tua yang sangat membenci dan merendahkan Hideyoshi. Seketika mereka bertemu dengan lelaki yang pendek, tua, dan jelek. Jiro dan Gonsuke pun bertanya perihal Hideyoshi kepada lelaki pendek itu.

“Sepertinya semua orang mengenal Hideyoshi, meskipun pendapat mereka berbeda-beda. Pertama-tama seseorang bercerita bahwa ia lelaki berperawakan besar dan ahli seni bela diri. Berikutnya orang lain mengatakan ia bertubuh cebol. Pagi sampai siang ia seorang pahlwaan, malamnya seorang pengecut.”

“Menurutmu mana yang benar?”

“Yah… barangkali karakter Hideyoshi tergantung mata yang melihatnya. Bagi seorang perempuan tua yang rindu melihat kebaikan di dunia ini, ia adalah pahlawan. Bagi pedagang ketus yang iri kepada keberhasilan orang lain, ia tak ubahnya seorang penipu.”

“Betul! Karena tak jarang orang melihat diri mereka sendiri pada sosok orang lain”

“Bolehkah aku tahu mengapa kalian ingin bertemu dengan Hideyoshi?”

“Kami datang karena ingin belajar dengannya. Barangkali seseorang yang berasal dari dunia petani tidak akan tersinggung mendengar permohonan kami yang sederhana ini, untuk mendapat nasihat.”

“Jawaban yang bagus sekali! Kebanyakan orang memilih bersilat lidah selam satu jam daripada harus mendengarkan nasihat dari seorang bijaksana selama sepuluh menit Kalian tahu bahwa akulah Hideyoshi.”

Hideyoshi menjadi orang yang menonjol, bukan karena seni bela diri. Melainkan melalui pengabdian, kerja keras, rasa syukur, dan mencurahkan tenaga dalam beberapa bidang yang tidak ada sangkut pautnya dengan dunia militer.

Jalan Menuju Keberuntungan

Hideyoshi berpesan kepada kedua pemuda itu,

“Rahasia keberuntungan dan kepuasan sama tuanya dengan keberadaan manusia itu sendiri. Rahasia-rahasia ini senantiasa diketahui orang-orang bijak. Tetapi sebagaimana dalam setiap zaman, sekarang ini hanya segelintir orang saja yang menangkap makna sejatinya-apalagi kekuatannya yang luar biasa dalam pikiran yang siap menerimanya.”

“Renungkanlah kebenaran sederhana yang akan kusampaikan, maka kebenaran itu akan mengubah kehidupan kalian sebagaimana yang telah terjadi dalam kehidupanku. Terbayangkan berarti terjangkau.”

“Bahwa aku mampu meraih… apa pun yang aku inginkan?”

“Seandainya keinginan adalah jalan menuju pencapaian, maka setiap pengemis akan menunggangi kuda yang mahal, dan setiap orang mulia akan menjadi raja. Tidak, keinginan tidak akan membawa hasil seperti itu. Perumpamaan di atas menyiratkan perbedaan anatar menginginkan dan membayangkan.”

“Dalam setiap tahap perjalanan, orang harus tahu persis tujuannya. Jika kau bisa membayangkan langkah-langkah menuju tujuan, bukankah persoalnanya menjadi sederhana? Kau tinggal menyusun langkah itu dan mencapainya satu per satu. Kegagalan manusia lebih sering disebabkan ketiadaan tujuan yang jelas dibandingkan ketiadaan kemampuan.”

“Kata-kata dan perbuatan baikku kepada orang lain mengundang kebaikan bagiku. Tidak butuh waktu lama, aku yakin Yang Maha Penguasa memberi imbalan atas rasa syukurku, sehingga aku menemukan cara kedua dalam menempuh jalan menuju keberuntungan; Rasa Syukur Mengundang Keberuntungan.”

“Sahabatku, mengenali bakat diri sendiri sangatlah penting. Bahkan itulah yang mengubah arah kehidupanku. Aku tidak bisa berharap disegani orang lain tanpa mengembangkan dan menguatkan kemampuanku sendiri. Dengan begitu aku menemukan satu lagi kunci keberuntungan, yaitu Kenali Bakatmu.”

“Pada masa itu aku menemukan jalan lebih lanjut untuk membuat diriku menonjol dari yang lainnya. Yaitu dengan bekerja keras. Pedomanku adalah bekerja dua kali lebih keras dibanding siapapun disekitarku. Aku mengabdikan tubuh dan jiwaku untuk setiap tugas yang diberikan kepadaku, tak peduli betapa pun sulitnya. Aku melakukannya secepat mungkin, dan dengan perasaan gembira.”

“Sebagian orang menganggap kerja itu bebabn, dan berkhayal pemimpin mereka punya kewajiban memenuhi kebutuhan hidup mereka. Padalah justru sebaliknya! Jika tidak ada orang lain, mereka mengecam sang pimpinan, alih-alih memujinya. Berhati-hatilah dengan orang-orang yang tidak bersyukur seperti itu, karena mereka tidak bisa dipercaya. Kunasehati kalian, jika bekerja kepada seseorang, bekerjalah dengan benar!”

“Pahamilah nasihatku. Usaha setengah-setengah membuahkan hasil yang baik, tapi usaha yang luar biasa membuahkan hasil yang luar biasa. Ini pun salah satu cara untuk mendapatkan keberuntungan”

“Apa yang membedakan orang-orang yang berhasil dibanding yang lain?”

“Usaha!”

“Tentu saja temanku. Usaha menentukan Hasil!”

“Seorang pemimpin harus berbagi keberhasilannya dengan orang lain, dan harus membantu orang-orang yang kurang mampu agar bisa mengembangkan kemampuannya.”

“Kusimpan pesannya yang merupakan jalan menuju keberuntungan, Kerja Sama Melahirkan Keberhasilan.”

“Namun, kita tidak boleh lupa bahwa impian manusia dalam sekejap bisa berubah menjadi kegandrungan. Karena aku sendiri bisa melihat betapa cita-cita bisa menggelapkan kebijakan seseorang. Karena itu, dalam mengejar keberuntungan, kita harus membentengi diri dari niat-niat kotor dan berusaha bertindak dengan keberanian dan penuh kepribadian, jujur, serta terhormat.”

Kuil Songaji

Di pagi bulan Juni yang cerah di Desa Miwa, terlihat sesosok ronin yang berjalan dengan putus asa. Ia pun bertemu dengan dua sahabat yakni Jiro dan Gonsuke. Melihat semangat yang diperlihatkan oleh Jiro dan Gonsuke, ronin itu pun tertarik untuk ikut bertemu dengan Hideyoshi, untuk mencari rahasia keberuntungan.

Tak hanya mereka bertiga, ternyata di kuil itu sudah berkerumun beberapa orang yang ingin juga mendengarkan rahasia dari Hideyoshi.

Hideyoshi pun berkata:

“Selamat datang di sekolah kuil, tempat semua orang dari berbagai latar belakang. Kurasa kalian datang untuk mendengarkan aku mengungkapakn rashasia keberhasilanku di dunia”

“Sayangnya aku harus mengatakan yang sebenarnya, Rahasia itu tidak ada”

“Rahasia itu adalah diri kalian dan aku hanya mencoba untuk mengungkapkannya”

Hideyoshi bertanya kepada para pendengarnya tentang apa itu keberuntungan?

“Menemukan kuda yang tak bertuan, kemudian mencari tuannya sehingga mendapatkan imbalan yg banyak”

“Bermain judi”

“dll”

“Lalu apakah kalian akan menunggu kuda itu lewat atau bermain judi setiap hari?”

“Tidak”

“Maka, itu bukanlah sebuah keberuntungan.”

Kemudian ada seseorang yg bercerita tentang seorang tukang kayu yg dipandang remeh oleh masyarakat, karena dibandingkan tukang kayu yg lainnya, karya ia tidak seberapa.namun ia tidak pernah mengeluh dan tak pernah berputus asa membuat barang kerajinan, malah ia mengerjakannya dengan riang.

Lalu ada pengawal raja yang tertarik dan meminta ia membuat 12 ukiran selama 3 hari. Tukang kayu pun menyanggupi dengan bekerja keras tanpa kenal lelah. Dan ternyata hasilnya sangat memuaskan. Ia pun menjadi tukang kayu yg terpandang.

“Dari pengalaman itu aku melihat betapa seseorang bisa mengasah bakatnya melalui pengabdian tanpa kenal putus asa sehingga keberuntungan dapat menghampirinya. Kemudian kesempatan datang, dan ia memanfaatkannya.”

“Dan keberuntungan murni hanya datang dari segelintir orang. Tapi kesempatan, dalam berbagai bentuknya, datang ke setiap orang pada suatu titik dalam kehidupannya. Namun hanya sedikit orang saja yang meraih kesempatan itu dengan penuh semangat. Dan orang-orang seperti itulah yang sejahtera.”

pekerjaan orang kuat

“Tak sekedar menyambung hidupnya sendiri, tapi menyambung hidup orang lain, memberi seluas-luas kemanfaatan bagi orang lain” Karena selain ada aku, kamu, dan kita… ada juga mereka…

Scientia Afifah

16 Mei ’13

Waktu saya kecil dan ikut menemani Ibu keliling kota Jakarta mengisi pengajian di kantor-kantor, saya acap bertanya-tanya setiap kali melihat gedung-gedung bertingkat tinggi: apa isi dari gedung-gedung itu? Ada banyak orang di gedung itu kan? Apa saja yang mereka lakukan? Apa bedanya perusahaan ini dan itu? Karena kosakata pekerjaan di kepala saya saat itu sebatas dokter, guru, pilot, maka saya keheranan ada berbondong-bondong orang yang setiap harinya rela berangkat pagi, terjebak kemacetan, kemudian pulang sorenya, terjebak kemacetan pula. Tapi mereka terus saja begitu, sampai bertahun-tahun, sampai mencapai titik yang mereka anggap sebagai puncak karier mereka.

Ah, karier? Kata apa pula itu? Saya tidak menemukan kata ‘karier’ dalam status pekerjaan bapak maupun ibu saya. Okelah, Ibu adalah orang yang sibuk dengan jam terbang yang tinggi, tapi sampai saat ini, status pekerjaan di KTP Ibu saya tetap sama: Ibu Rumah Tangga. Wanita yang sampai saat ini masih sempatnya menyiapkan…

Lihat pos aslinya 983 kata lagi

Hujan Bulan Juni

tak ada yang lebih tabah 

dari hujan bulan Juni

dirahasiakannya rintik rindunya

kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak

dari hujan bulan Juni

dihapuskannya jejak-jejak kakinya

yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif

dari hujan bulan Juni

dibiarkannya yang tak terucapkan

diserapkan akar pohon bunga itu

(Sapardi Djoko Damono, 1989)

*Saat puisi ini dibuat oleh penulisnya, hampir bisa dipastikan tahun itu, anomali cuaca belum seperti sekarang ini, sehingga hujan di bulan Juni mustahil untuk terjadi.

Namun ternyata, atas kehendak Allah, Hujan Bulan Juni bisa saja terjadi.

Ya, atas kehendak-Nya lah semua terjadi, termasuk Hujan Bulan Juni,

Tak ada yang mustahil bagi-Nya, termasuk Hujan Bulan Juni.

“Wahai orang-orang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat; sesungguhnya Allah beserta orang-orang sabar” (Q.S 2:153)

Sekali lagi, selamat datang Hey Juni 😉

Think Global, Eat Local

Alhamdulillah wa syukurillah… acara yang sudah direncanakan semenjak awal tahun 2013 ini berjalan dengan lancar. Ialah Gerakan Kampanye Cinta Pangan Lokal  salah satu program yang digagas oleh Bidang Kajian dan Kebijakan tempat saya bertengger selama ini 😀

Bermula dari Kajian mengenai daya saing Indonesia, tingkat komponen dalam negeri, bla bla bla, hingga sampai pada pembahasan produk dalam negeri, khususnya pangan. Riset pun dilakukan untuk mengetahui pola konsumsi masyarakat Indonesia, yang (tidak) mengejutkan, didapat kesetiaan bangsa ini terhadap produk negeri sendiri masih tidak setinggi terhadap produk negeri lain. Alasannya yaaa, tidak lain dan tidak bukan adalah masalah harga diri, gengsi, dan alasan artifisial yg lain (?) ya semacam seperti kalau gak makan di tempat makanan asing gak gaol getoh #huks (_ _”)

Nah, indikasi ini mengarahkan pada konsep diri pemuda kita (karena kebanyakan responden adalah pemuda) terhadap kebanggaan atas produk yang berasal dari negeri sendiri serta proteksi diri dari pengaruh-pengaruh asing (apa pula ini? :p). Globalisasi, memang menjadi hal yang tidak bisa dielakkan lagi pengruhnya, tidak masalah jika pengaruhnya menyehatkan bangsa ini, tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Tubuh bangsa ini bagai tidak dapat menopang secara mandiri, ia bolak-balik dipermainkan oleh tangan-tangan yang saling berebut kekayaan yg dimiliki oleh Ia, yang bernama Indonesia.

Masyarakat perlu disadarkan, minimal dengan hentakan halus, yaa kita sebut saja dengan kampanye kali yaa (hehe :D). Saya sangat berterimakasih pada tim dan pihak-pihak yang telah membantu seoptimal mungkin bergerak cepat sebelum tanggal 19 Mei datang. Saya yang terlalu bersemangat pun #yakali, akhirnya sempat drop, dengan disertai jari-jari dan telapak tangan yang sedikit tremor karena frekuensi mengetik dan mengklik untuk menulis dan editing grafis menjadi lebih banyak dari biasanya 😛

Akhirnya tanggal 19 Mei pun datang, rekan-rekan yang bersinergi pun bergerak serentak di empat kota untuk mengabarkan pada Indonesia, Helloo, kita punya sumberdaya pangan yang berlimpah, sehingga tidak perlu lagi bergantung sampai tahap yang keterlaluan terhadap pihak luar…

Dan perjuangan, tentu tidak selesai sampai disini, menjadi negeri yang berdaulat, khususnya pangan, masih terus menjadi agenda sepanjang masa yang akan dilanjutkan oleh anak cucu kita. Setidaknya, dengan kampanye pangan lokal, kita menjadi ‘sedikit’ lebih ingat, bangga, dan setia untuk memilih pangan lokal, yang dibuat dari oleh, dan untuk kita.

922866_379817532134829_661172614_n
tanam, simpan, makan

Juga tentang konsep simpan, tanam, dan makan ala Nabi Yusuf yang Allah abadikan di Surat Yusuf (lengkapnya ayat: 43-49)

“Agar kamu bercocok tanam tujuh tahun berturut-turut secara sungguh-sungguh, kemudian apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di tangkainya kecuali sedikit untuk kamu makan.”

Konsep kemandirian pangan telah dicontohkan oleh Nabi Yusuf, The Best Economist Ever.

“Tidak ada ajaran agama untuk mengandalkan pembangunan ekonomi pada hutang dan tidak ada ajaran untuk mengatasi kelangkaan dengan impor, tetapi dengan manajemen stok,”

Akhir kata, sadarkah jikalau kita masih terjajah? Penjajah itu masuk lewat fun, fashion, dan food. Kapan kita merdeka secara seutuhnya, jika untuk makan saja kita masih di’paksa’ untuk memakan apa yang mungkin tidak perlu kita makan?