Formosa #2

Hari Kedua, 28 April 2013.

Serius, pagi itu saya masih ngantuk ;p padahal begadang juga enggaa, karena slide presentasi sudah dikumpulkan saat hari pertama, sistem kebut se-siang.. πŸ˜€ sebelum sorenya harus dikumpulkan. Ini adalah pengalaman presentasi di konferensi intl yang kedua, dengan sejarah persiapan slide yang lebih baik dari konferensi yang pertama, Alhmdulillah (bisa bayangin kan, betapa rempongnya saat pengalaman prensentasi pertama kali, yah namanya juga mahasiswa :D).

Masih dengan kosa kata yg sama dengan hari kemarin: Me you pyou, lianke (Artnya: kami tidak punya kartu -untuk bis-, dua orang), itu lah kata-kata sakti yang diajarkan oleh Mbak Chiku, untuk naik bis dari penginapan ke tempat acara di Asia University. Mbak Chiku idola dan inspirasi kami, ihiy πŸ˜€ Alhmdulillah semenjak pertemuan Januari lalu saat ia pulang ke Indonesia, kami bisa menjumpainya di negara seberang tempat Mbak Chiku merantau… Β πŸ˜‰

Saya dan Mbak Ummy mendapat kesempatan untuk memberikan presentasi di Cluster 1, Cluster Culture and Social Change. Dengan berbekal pengalaman lapangan yang sangat berbeda sekali dengan background kami berdua (Saya Biokimia dan Mbak Ummy Biologi :D) kami mencoba berbagi tentang, SosioTeknopreneuship! πŸ˜‰ 8 Daerah yang menjadi pilot project menjadi bahan bagi riset sosial tentang aplikasi konsep sosioteknprener dalam pengembangan masyarakat di masing-masing wilayah. Alhmdulillah misi presentasi selesai sudah… hehehe.

320714_10201182941562593_243830174_n
Peserta di Cluster 1

Akhirnya dua hari acara konferensi AISC Taiwan 2013 berjalan lancar, semoga berkah untuk para peserta dan panitia, dan semoga silaturahim tetap terjalin πŸ˜‰

Dalam acara tersebut, kami banyak menemui saudara-saudara lama, alumni IPB, dan teman sekelas SMA saya, alumni UGM, dan teman-teman mbak Ummy saat SMA. Selain itu kami juga bertemu teman-teman baru dari keluarga besar FORMMIT, IC3T, dan mahasiswa-mahasiwa Indonesia yang sekolah disana πŸ˜‰ (Thanks to: Mba Chiku, Kiswah, Arian, Cahyo, Adil, Mas Zucha, Defa, Mba Tati, Mbak Siwi, Krisna, -Panitia yang udah dirempongin saat kami disana- Β Vita, Fajri, Muna, Ka Eksa, Atin, Endang, Geng Biologi UGM, Geng Unair, Ridho galau, Adik2 Brawijaya, dll- Yang sama-sama rempong sebagai peserta :D-)

942359_10200462006571164_1913923438_n
Ada Indonesia di Taiwan πŸ˜€

Malam hari setelah penutupan, kami menyempatkan untuk berjalan-jalan disekitar pasar malam. Awalnya kami kira dapat menjumpai beberapa souvenir khas yang bisa dijadikan oleh-oleh, selain makanan, karena makanan khas disana didominasi makanan tidak halal :(, tetapi ternyata pasar malamnya persis seperti pasar malam di Indonesia hehe. Alhasil kita hanya sempat berfoto-foto saja. :p

935645_10201182949682796_207716180_n
Narsis di Pasar Malam

Dan sampailah di hari ketiga… Jalan-Jalaaan… Yeay.. πŸ˜€

Hari Ketiga, 29 April 2013.

Lokasi Β tujuan perjalanan hari ini adalah ke Industri Mesin Jhonford dan Sun Moon Lake. Jhonford adalah sebuah pengelola industri mesin yang ada di Taiwan. Saya salut dengan industri yang mengelola industri hulu untuk supply bahan ke industri menengah ini karena merekahanya memiliki beberapa pekerja dan masih skala menengah namun sudah mampu mengekspor bahan-bahan ke luar negeri.

foto1
Industri Mesin di Taiwan
603517_10201182957482991_669202034_n
Cewek yang Teknik itu Kereeen πŸ˜€
942961_10201182956922977_1160885030_n
Setumpuk Gambar Teknik…

Perjalanan dimulai kembali. Dimanapun, dengan apapun, harapan saya. Duduk dekat jendela! walaupun terkadang sering diledekin karena kayak bocah, tetapi saya akan berusaha terus supaya bisa duduk dekat jendela πŸ˜€ Dan inilah hasilnya… Taraaa…

944566_10201182953882901_1225781207_n
“Fly Over”
946863_10201182955722947_2087869111_n
Efek Miniatur πŸ™‚

Perjalanan dilanjutkan ke Sun Moon Lake, yang terletak di Nantaou, Taiwan Tengah. Kalau tidak salah di daerah ini kita akan menemui suku asli Taiwan, karena saya sempat melihat plang bertuliskanΒ Formosan Aboriginal Village,Β sayang sekali karena durasi waktu kunjung yang terbatas, kami belum berkesempatan untuk mengunjunginya. Perjalanan di Sun Moon Lake dilakukan menggunakan kapal kecil yang bermuatan sekitar 10-20 orang. Saya selalu suka mengadakan perjalanan melewati perairan, mendengar mesin kapal bercampur dengan percikan air… πŸ˜‰

945377_10201182963563143_87597115_n
Peta Sun Moon Lake
935733_10201182966083206_186408194_n (1)
Berlayar untuk Kembali πŸ˜€
945404_10201182973003379_722048421_n
Kebahagian itu dekat, triknya menemukan sudut yang tepat πŸ™‚

Menjelang petang kami beranjak pulang, sebenarnya bagi saya pecinta senja, masih penasaran dengan senja di Sun Moon Lake apakah terlihat mataharinya atau tidak? *Mbak Chiku mesti jawab karena saya yakin beliau sudah pernah menangkap senja disana yak kan? πŸ˜‰

Usai sudah perjalanan, kembali ke Asia University. Saya dan Mbak Ummy bergegegas capcus ke Terminal U-Bus karena malam itu juga kami akan langsung ke Taipei untuk bermalam disana (dan jalan-jalan di Shilin night market- Janjinya Arian sih gitu :p *Arian adalah seorang temen saya sedari SMP-SMA yang sedang ditunggu kepulangannya oleh teman saya sedari SD-Kuliah Renny –Penting gak sih keterangan ini :p). Tetapi karena sampai di Taipe terlalu malam yakni jam 23.00 kami akhirnya mengurungkan niat untuk jalan-jalan ke night market. Kami langsung bergegas istirahat ke tempat Mbak Chiku dan berpisah dengan Arian yang sudah rela menjemput di Taipei Main Station (TMS) tetapi akhirnya ia harus mengantarkan rombongan anakΒ Unair yang ‘nekat’ untuk ke Taipei tanpa rencana πŸ˜€

375023_10201182982803624_283847729_n

Sampai di tempat Mbak Chiku… Alhmdulillah ketemu kasurrr tidurrr (lagi πŸ˜€ setelah tidur sepanjang perjalanan di U-Bus)… Zzzz. Keesokan harinya, Mba Chiku mengantarkan kami ke TMS untuk naik HSR (Horee, Akhirnya ngerasain juga :D). Yang berarti itu adalah saat-saat terakhir di Taipei πŸ˜‰

Alhamduillah, sekelebat saat menyebrang jalan menuju TMS, saya menemukan pemandangan ini! Walau belum sempat kesana, tetapi memandang dari jauh itu sudah cukup πŸ˜‰

foto3
Taipei 101 Tower in Taipei πŸ™‚
922925_10201182983283636_1152756337_n
Naik Kereta Api Tut tut tut… ;D
216312_10201182985723697_2141602042_n
Biowall di Bandara Taoyuan

Thanks to Mbak Intan dan Atha yang sempet ingetin saya untuk memfoto nama mereka di ‘Taiwan’. Ampuuun saya lupa foto nama kalian disana, jadi saat di pesawat saya sempatkan untuk foto ini hehehe *minta ditimpuk πŸ˜€

577610_10201182984363663_545699376_n
Titipan Atha πŸ˜€ πŸ˜€
183100_10201182986163708_1821426309_n
Titipan Mbak Intan ‘Che Lei’

Selesai sudah perjalanan di Negeri Formosa, yup Formosa means Beautiful πŸ˜‰ Sayonara, Kitto Mata itsuka (ini bahasa mandarinnya apa yak? :D)

Mengapa kita selalu suka pada perjalanan? Karena perjalanan itu menyembuhkan. Saat kita mencari kebahagiaan dalam perjalanan, saat itu juga kita menyadari bahwa bahagia itu diciptakan, dari hati, bukan dicari πŸ˜‰

Iklan

Formosa #1

Jadwal full yang menyebabkan saya menjadi sok sibuk ini :p membuat saya kurang meluangkan waktu untuk meng-kepo tentang siapa #eh apa yang saya bisa temui di Taiwan. Entah itu adalah perjalanan dari bandara ke tempat acara atau tentang destinasi wisata disana #eehh (harusnya kan termasuk persiapan paper dan presentasi juga ris… –“) ya sepertinya seperti itu lah ya. Simpulannya it’s very unprepared banget sekali…

Mood saya saat berangkat memang agak kurang enak… Entah karena banyak pekerjaan yang ditinggalkan atau entah karena harus meninggalkan berkas beasiswa yang sudah rapi (tapi masih kurang beberapa berkas seperti abstrak penelitian yang bernah dibuat, dengan mencantumkan asal prosidingnya, itumah berarti masih kurang ris… serta ditambah adegan kehilangan nilai toefl yang asli, padahal itu nilai tertinggi yang bernah saya dapat… Ya Allah) Saya urungkan niat saya untuk mengirim berkas yang ber-deadline tanggal 30 April itu.

Dalam prosesnya, saya disertai seorang teman seperjalanan, seperjuangan, saat kami memutuskan untuk meng-apply disalah satu univ. di jepang. Kami telah mengikuti beberapa step seperti hadir pada workshop kampus jepang yang termasuk kampus G 30, tes toefl supaya mencapai angka 550 di ILP Veteran, dan akan ikut dalam tes toefl ibt dalam bulan mei ini (dan pun saya akhirnya masih galau mengambil tes ini hehehe).

Ialah -ia yang tidak mau disebut namanya- πŸ˜€Β semoga ia bisa sampai terlebih dahulu di kampus yang telah kami impikan sejak lama, semenjak kami pertama kali menginjakkan kaki disana saat tahun 2010, kami bertekad akan kembali kesana, kembali ke Kyoto untuk kembali lagi ke Indonesia.. dan sampai akhirnya benar-benar kembali ke tempat kembali.. :”) (kebanyakan kata ‘kembali’ deh). Seandainya pun saya tidak penah kembali ke Kyoto, biarkan dia yang membawa mimpi saya, membawa harapan, dan semangat saya berjuang di negeri seberang untuk menuntut ilmu disana (nah bagian ini saya mulai melow :p). Yes She is… teman seperjalanan saya πŸ˜‰

Balik ke Formosa,

Akhirnya saya sampai di sebuah pulau kecil yang ternyata masih masuk ke dalam RRC ini, kabar dari Indonesia yang saya terima setibanya di sana adalah.. ustadz Jefry meninggal dunia… Innalillahi wa inna ilaihi raajiun… (Edisi melow kedua, karenanya diingatkan kembali tentang kematian.. Dzikrul maut, tentang persiapan, tentang keberkahan akan apa-apa yang telah dilakukan… tentang… tentang…tentang…)

Dari Bandara Taoyuan, saya dan mba ummy (teman dari MITI yang bersama berangkat dari Indonesia) menggunakan bus menuju Taichung, perjalanan yang cukup jauh yakni sekitar 3 jam. Sesampainya di Taichung, kami istirahat sejenak di penginapan yang telah kami pesan sebelumnya, Hotel Chance namanya.

Ketidak mood-an saya berlanjut karena saya tidak paham bahasa mandarin.. huks. Kalau bahasa jepang ya lumayan lah, walau hanya bisa Ohayou, Arigatou, Doko desu ka?, Hontou ni, Ikura desu ka?, Ichi, Ni, San… dll :p Setidaknya saya bisa bersenyum-senyum dan berbasa basi dengan warga setempat disana. Tetapi mandarin… saya menyerah.

Se-menyerah saat membaca tulisan dimanapun saya berada (terkecuali kalau itu ada englishnya), se-menyerah saat menonton televisi yang subtilenya mandarin semua, namun se-menyerahnya saya mengahadapi kendala bahasa disana, saya harus tetap bertahan, yaiyalah, udah sampe taiwan bo, masa nyerah gitu aja.. :p kendala bahasa pun saya enyahkan… dengan bermodalkan xie xie ni.. mae you pyou, lianke… Β (bener gak tuh tulisannya? hihi) Go go go, semangat presentasi, semangat buat slide yang belum selesai! #eh

Malam hari sebelum hari konferensi, kami menyempatkan untuk melihat-lihat tempat kegiatan yang ternyata berjarak 45 menit (tepat) dari penginapan kami. Adalah Asia University tempat kegiatan Konferensi Internasional AISCT 2013 diadakan. Sesampainya disana kami berkenalan dengan teman-teman panitia yang merupakan mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Taiwan (mupeng.com).

Hari Pertama (27 April 2013)

Pembukaan dan sambutan. Dilanjutkan dengan beberapa kegiatan acara seperti seminar oleh para keynote speaker. Ada dua keynote speaker yang sangat menarik perhatian saya, antara lain, Mr. –yang saya lupa namanya– =D perwakilan dari ITRI (Industrial Technology Research Institute) di Taiwan. Saya merasa sangat mengenal dengan apa yang ia paparkan, tentang transfer teknologi, aplikasi teknologi, dan inkubasi bisnis, karena hal-hal itu yang saya pelajari selama hampir satu setengah tahun di kantor MITI :’) Saya berangkat dari nol untuk mempelajari itu semua, ditambah dengan ketidaktertarikan saya terhadap dunia bisnis dan aplikasinya (padahal ilmuwan, bisnis, dan pemerintah memiliki keterkaitan yg dinamakan triple helix), karena basis keilmuan saya yang mengajarkan untuk berpikir mikro, dan saat saya kerja saya harus berpikir makro serta manajerial. Dan sepertinya saya mulai menemukan passion saya di sana… πŸ˜‰

946591_10201182936002454_1604414691_n

Kemudian, ada pembicara kedua, yang sehari-harinya beraktifitas di seberang gedung kantor saya πŸ˜€ *jadi jarang ketemu hehe, ialah Bapak Warsito. Salah satu sumber inspirasi negara ini. Tidak bisa tidak terharu jika ingat perjalanan hidup beliau, saya banyak belajar dari istri beliau yang tangguh dan anak-anak beliau yang unik-unik :D. Dan ke-melow-an tahap selanjutnya terjadi saat mendengar seminar dari beliau saat itu. Karena, saya sedang tahu bagaimana kondisi beliau saat mengisi seminar tersebut, kondisi yang jika saya berada pada posisinya mungkin saya tidak bisa setegar ia. Ketegaran ditengah berbagai tantangan yang ia hadapi di negaranya sendiri.

303006_10201182937282486_726244093_n

Selama lebih dari sepuluh tahun mengenyam pendidikan di Jepang kemudian dilanjutkan di USA, siapa yang tidak betah dengan fasilitas penelitian yang memadai dan memenuhi kebutuhan sebagai peneliti? Namun, ia keluar dari zona nyaman untuk kembali ke negaranya sendiri, Indonesia. Spirit itulah yang Β saya pegang kuat-kuat, jika nanti saya berkesempatan untuk mengenyam pendidikan di luar, pergi untuk kembali ;). Apa sebenarnya yg ia cari di Indonesia yg penuh dengan keterbatasan ini? Happiness jawabnya. Kebahagiaan berada ditengah masyarakat yang membutuhkan kebermanfaatan ilmunya, kebahagiaan berada ditengah-tengah keluarga, dan kebahagiaan untuk dapat selalu pulang ke Indonesia, rumah kita.

Tiga hal pesan dari beliau sebagai penutup seminarnya, keilmuan, inovasi, dan enterpreneur (kemandirian), tiga hal yang akan membuat kita menjadi pribadi yang tangguh, memiliki ketahanan untuk bertahan ditengah gelombang ujian #tsah ;D. No matter how hard it is… I trust you Pak! :’)