Bulan: April 2013

Membadai

Posted on Updated on

Wa laa tahinuu, wa laa tahzanuu, wa antumul a’lauwna inkuntummu’minin… (Q.S 3:139) –  Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.

Aku lebih suka lukisan. Samudera yang gelombangnya memukul-mukul, menggebu-gebu, dari pada lukisan sawah yang adem-ayem-tentrem (Bung Karno 1965).

brave waves 2

Be brave as waves… It is because they never be afraid to smash the stone, And we will never be afraid to face the challenge.

*Sungguh ini lebih dari sekedar, ulala cetar membahana badai~ :p

Jangan takut! Fight-too!

Renai Shashin

Posted on Updated on

150409_10200941673492180_505390293_n

Sesungguhnya, kebahagiaan itu dekat, triknya adalah menemukan sudut yang tepat 😉

Pekan kemarin saya mulai mengajak kembali Niki-Chan (Nikon D3100) yang kali ini ditemani adiknya, Niki-Kun (Nikon D5100). @athakazhimi, sahabat yang saya daulat untuk menjaga Niki-Chan -yang pernah saya ceritakan sebelumnya, bahwa ia telah hampir 2 tahun menemani saya dalam suka dan duka, saat jalan-jalan, saat bengong sendirian di jalan, saat naik gunung sampai nyungsep di pantai, juga di acara sakral sidang dan wisuda kelulusan sarjana :’)- . Sedangkan saya sendiri bertekad untuk menjaga Niki-Kun yang sebenarnya adalah milik adik saya, @DanuPangestu 😀 (Tengkyu braderr)

Perjalanan kali ini sedikit berbeda, karena ternyata Niki’s tidak hanya berdua, tetapi akan bertemu teman-teman seperjuangan yang terdiri dari Nikon, Canon, Sony, sampai Olympus. Yap, pemilik-pemilik mereka adalah orang-orang yang akhirnya bisa saya temui saat perjalanan kemarin ke Yogyakarta. Pemilik-pemilik kamera yang sebelumnya hanya saya bisa lihat lewat karya hebat mereka 😉

Ialah, @tOekangPoto, sebuah komunitas ajaib yang saya temukan dari dua teman seperjuangan republik rakyat cilegon yang sudah melang-lang buwana bersama kameranya, @addura_izzati dan @NisshaDianty. Bersama para @tOekangPoto, petualangan pun dimulai…

Pasar Beringharjo

Hiruk pikuk pasar menjadi tantangan tersendiri bagi kami. Diawali dengan menyambangi bagian pasar yang menyediakan berbagai macam panganan. Kami memilih salah satu tempat yang kabarnya menjual soto paling enak se-Beringharjo (Uyey :D). Dan kenyataannya memang sesuai dengan kabarnya. Terbukti bahwa untuk menikmati soto tersebut, pengunjung rela untuk menunggu antrian demi mendapatkannya. Pun juga kami.

Setelah sarapan, kami berpencar untuk menemukan sudut masing-masing.

Sudut-sudut tempat kami menemukan, menangkap, dan menyimpan kebahagiaan

Sebagaimana kita tahu, pasar tradisional memiliki kesan kotor, becek, dan gak ada ojek. Namun, berbeda dengan Beringharjo, pasar ini memiliki slogan tersendiri,

bringharjo

Dengan kekuatan slogan yang diletakan dibeberapa sudut pasar, kebersihan pasar pun tetap terjaga, karena setiap orang akan paham, bahwa kebersihan pasar akan mempengaruhi rezeki mereka. Kiranya setiap pasar tradisional di Indonesia perlu menggunakan media edukasi sebagai penyadaran pentingnya kebersihan di pasar. Karena pasar yang bersih akan mempengaruhi perilaku konsumsi masyarakat sehingga lebih memilih pasar tradisional sebagai tempat berbelanja yang nyaman, bersih, ramah lingkungan, dan mendukung pengembangan potensi lokal daerah 😀

Dengan begitu, setiap penghuni dan pengunjung pasar akan selalu merasa bahagia…

480727_4727894711552_1300455324_n
Senyum Si Mbah (Foto oleh: Hesty Ambarwati)
45333_10200403693689402_623953129_n
Foto oleh: Imam Saefudin
537335_10200996545862817_1756707433_n
Penjual Beras (Foto oleh: Riska Ayu)

bringharjo2

Sarapan Sehat (Foto oleh: Riska Ayu)

Beringharjo, Pasar yang sederhana, namun kaya makna.

Pantai Siung, Gunung Kidul

Bahagia itu pilihan, bisakah kita tetap memilih bahagia walaupun dalam keterbatasan, dalam kehilangan, dalam ketidak sempurnaan?

Pantai Siung, perjalanan yang memakan waktu yang cukup lama dan medan perjalanan yang cukup terjal. Malam hari saat akhirnya kami menjejakan kaki di pasirnya. Riuh rendah suara tawa kami ikut menyemarakkan malam itu.

“Tidur yuuuk, besok kita lihat sunrise”  *Pada gak nyadar apa ye, ini di pantai selatan, jadi mana ada sunrise –“

Tukas beberapa wanita-wanita yang belum juga tidur, padahal waktu hapir menunjukan tengah malam.

“Iya ayo tidur, eh bisa gak itu suara ombaknya dikecilin dulu”

“Menurut loo… wkwkw”

Kebersamaan yang hangat dan penuh persaudaraan dan canda tawa kami lewati sebelum pada keesokan harinya, pada detik yang singkat kami ‘diminta’ untuk menyadari, bahwa semua hanya titipan :’)

Subuh baru saja berlalu, namun, matahari masih malu untuk menampakkan sinarnya. Debur ombak yang sedari malam kami dengar pun tak kan surut untuk berhenti menabrak karang. Berani dan tangguh, itulah ombak.

Pencarian sudut kebahagiaan pun kami mulai, dengan menyusuri bibir pantai, melangkah jauh menerjang gemericik ombak untuk mencapai karang, hingga menaiki karang-karang terjal yang ‘mungkin’ ia telah kalah oleh ombak.

siung
Pantai Siung, Pagi Hari (Foto oleh: Riska Ayu)
waves
Tak Gentar Hantam Karang (Foto oleh: Riska Ayu)
siung2
Hunting di Atas Karang (Foto oleh: Riska Ayu)
akhwat
tOekang (di)Poto 😀 (Foto oleh: Pak Sukiswo)

Masing-masing melakukan kegiatan hunting fotonya, ada ber-lansdcape, ber-human interest, ber-candid, ber-macro, dan yang lainnya. Pelajaran yang saya dapat saat akan hunting foto, biasakan untuk melakukan riset foto yakni riset yang terdiri dari beberapa pengenalan mengenai tempat, budaya, kegiatan, dan budaya di tempat yang akan di ambil fotonya. Supaya, foto adalah hasil dari suatu riset yang telah dinarasikan, bukan sebaliknya. Dan foto menjadi benar-benar hidup, A pictures say thousand words.

Kira-kira seperti ini, foto hasil riset tersebut 😀

529143_4700486758651_1587026189_n
Sejumlah nelayan menerobos ombak besar untuk melaut di Pantai Siung, Kabupaten Gunungkidul,Yogyakarta (Foto: Khairuddin Safri)

Dan sesaat setelah itu…

Tragedi terjadi saat akmi berkumpul di pantai. Pak Dudi Iskandar (@AbuSyamil2004) mengalami musibah hampir terseret ombak saat melakukan hunting di sela-sela karang. Semua perlengkapan, mulai dari kamera, berbagai lensa, dompet, uang, dan lain-lain, basah tersiram ombak, syukurlah Pak Dudi terselamatkan.

155743_10200359493862725_330806902_n
Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (Foto oleh: Achmad Komaruddin)
17195_10200983131443887_2099580552_n
Foto Terakhir Sebelum Datang Ombak (Foto oleh: Pak Dudi Iskandar)
72902_10200996647145349_225782605_n
‘Amunisi’ Pak Dudi (Foto oleh: Riska Ayu)
531846_4936544848550_2119759099_n
Pak Dudi yang tetap ceria walau musibah melanda 😀 (Foto oleh: Tuti Azizah)

Kemudian, sampailah pada adegan dimana semua @tOekangPoto berkumpul untuk mengambil foto bersama. Diawali dengan meletakkan beberapa ‘senjata’ masing-masing di spanduk…

69486_503211009741730_1317627735_n
Sesaat Sebelum #TragediSiung (Foto oleh: Hasna Puri)
392803_4022844827976_1574307670_n
Toekang Poto: Para Pelukis Kebahagiaan dengan Cahaya 😀 (Foto oleh: Ihsanudin Mahfud)

Terdengar riuh celoteh kami…

“Ayo foto bareng, bareeeng… “

“Yuk, yukk…”

“Spaduk nya, name tagnyaa”

“Eh eh, gak kena ombak kan?”

“Engga masih jauuuhhh”

Dan saya masih ingat percakapan dengan Hesty saat ia berkata:

“Ris, gue baru sadar kenapa ombak bisa nyeret orang ya, itu ombaknya gede banget deh..”

Saya, sambil melihat ke belakang, melihat ombak yang terlihat lebih besar dari sebelumnya, “Iyaa ya tiii…”

Dan…

“Aaaawas itu ombaknya mendekaaatt!!”

Saya berbalik dan mencoba mencerna kalimat barusan, otak saya menyuruh tangan untuk segera mengambil apapun benda yang dalam pandangan saya hampir tersapu oleh ombak yang tiba-tiba sudah berada didepan saya. Saya meraba pasir yang sudah bercampur dengan air untuk menyelamatkan kamera siapapun itu. Tetapi, tidak ada yang terpegang, takut-takut saya menyimpulkan, apakah kameranya terseret ombak? Rabb…

Lutut saya lemas, saya trauma karena pernah merasakan hal yang sama setahun yang lalu, saat terjungkal di sisi pantai di daerah Anyer. Saya tidak menyadari ada ombak yang menghantam dari belakang, saya pegang kamera tinggi-tinggi, namun Niki-Chan tetap terimbas ombak, bersama saya yang kuyup bersamanya. Semenjak itu -walau sudah diguyur dengan air mineral (penyelamatan pertama pada kamera yang terkena air laut yang bersifat korosif)- Nikichan kehilangan kemampuan untuk mem-blitz. Mode Automatic-nya tidak bisa digunakan lagi. How poor you are Niki-Chan…

Dan saya sangat khawatir itu terjadi lagi, Kakak beradik Niki, tiba-tiba… Nikon siapa inii? Dan ternyata, Alhamdulillah mereka selamat.. :’)

Terngiang pesan…

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” Al-Baqarah: 216.

Musibah, boleh jadi adalah berkah yang tersembunyi, dan Kesenangan, boleh jadi adalah keburukan yang tersembunyi. Kami, diingatkan kembali tentang itu dengan sangat halusnya, seperti sapaan, hey, kalian ini.. janganlah berlebihan ya :’) Ya, hanya dengan sapuan ombak yang tiba-tiba mampir, sapuan ombak yang halus dan tenang… Rabb, terimakasih karena itu bukan sapuan gemuruh ombak yang berupa badai cetar membahana :’)

Setelahnya, kami menjadi lebih jinak (?), tidak bercanda berlebihan, dan banyak-banyak mengingat nikmat-Nya. Semoga dalam Barokah, walau saat musibah pun, selalu ada kebaikan yang bertambah-tambah.

69458_10200333471852191_1213075896_n
Kamera Korban #TragediSiung (Foto oleh: Achmad Komaruddin)

Sepuluh kamera menjadi korbang dalam #TragediSiung tersebut, dan harus melanjutkan perjalanan tanpa kamera.. Toekang Poto tanpa kamera apa jadinya?

Dan Jreeeng…

531893_10151501982221855_140427407_n
Smileeeee 😀 (Foto oleh: Hermawan Wicaksono)
524621_608050385890519_1124028037_n
Expresi ketika mendengar bahwa ternyata Fotografer lagi Macro-wan (Foto oleh: Umar Rosyadi)

Do you see?

Keep smile… Whatever and Wherever we are…

Sepulang dari sana, saya yakin, kami, semakin cinta dengan fotografi. Semakin ingin menemukan sudut kebahagiaan lainnya, menangkap, menyimpan, dan membagikan cinta, bahagia, syukur lewat foto, hingga siapapun yang melihat menjadi merasa tentram dan damai serta lebih cinta dan dekat dengan-Nya, lebih mengagungkan ciptaan-Nya… Kore wa… ‘Renai Shashin’ desu(The picture of love) 

Anyway…

I have captured the miracle… have you? 😉