Petrichor #2

Karena hujan tak pernah salah…

Dalam keadaan apapun, hujan yang turun selalu membawa rahmat dan barakah. Dan barakah menjadikan kebaikan yang bertambah-tambah. Dalam keadaan apapun, dalam perasaan apapun, perasaan yang tercampur-campur, teraduk-aduk dalam syukur dan sabar yang selalu senada berjalan beriringan.

“Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji”(QS. Asy Syuura: 28).

Terus lanjutkan perjalanan, dengan ditemani hujan.

Cipularang, Menuju Bandung 🙂
17 Feb 2013.

Iklan

Sosioteknopreneur #1

Sabtu. 9 Februari 2013.

Kalau saja ditotal jarak perjalanan hari ini pasti saya sudah sampe Jogjaaa! Uyey #yakali sebenernya gak gitu juga :D. Tetapi yang sebenarnya terjadi, hari ini saya hanya memutari ja-bo-ta-dan akhirnya sampai di Cilegon. Pagi hari beranjak dari kost di Ciledug, saya bersama seorang teman berniat untuk mengunjungi salah satu kegiatan sosiotechnopreneurhsip di daerah Serpong, Tangerang Selatan. Banten untuk melihat kegiatan wirausaha yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitarnya. Ialah Bapak Syahrizal yang menggagas kegiatan tersebut, seorang bapak ramah yang saat ini masih bekerja di salah satu perusahaan BUMN di Indonesia.

Berawal dari kepedulian Pak Syahrizal untuk membangun sebuah mushola di daerah Gunung Sindur (perbatasan Bogor dan Tangerang Selatan). Masyarakat yang awalnya mempertanyakan, ‘mau ngapain nih si bapak’ berubah menjadi ‘Alhmdulillah ya, berkat adanya mushola dari Pak Syahrizal warga dan pemuda disini jadi bias ikut belajar ngaji dan nyantri”. Dan dengan begitu, menjadi suatu entri poin yang baik untuk memulai sebuah hubungan dengan masyarakat.

Pendekatan yang baik dari Pak Syahrizal, membuat masyarakat mau menerima dan memahami apa yang pak Syahrizal bawa dan sampaikan. Bil Hikmah wal mauidzotil hasanah. Sehingga, dalam konteks interaksi sosial, mampu mengambil hati masyarakat untuk mau berbuat bersama, dan berperan setara. Karena tempat tinggal yang tidak jauh dari desa yang diberdayakan, Pak Syahrizal sangat sering untuk bertemu masyarakat disana.

Setelah konsep sosial, ada hal penting dalam sosioteknopreneur, yakni wirausaha yang menjadi kegiatan utama dalam membangun kemandirian masyarakat. Konsep wirausaha ini difokuskan kepada wirausaha yang dijalankan oleh pemilik program dengan melibatkan beberapa warga untuk membantu. Usaha dijalankan oleh beberapa orang penggagas program.

Misalkan saja, pak Syahrizal beserta keluarga menggagas program wirausaha ternak domba di desa tersebut, dengan membeli tanah  disana, dan melibatkan warga sebagai karyawan peternakannya, itu sudah bisa disebut konsep sosioteknopreneurship.

domba1

domba2

Kemudian untuk konsep teknologi, Pak Syahrizal pun mempelajari beberapa konsep pakan untuk meningkatkan kualitas domba yang dipeliharanya. Dengan teknologi fermentasi, pembuatan silase, pemanfaatan alfafa untuk pakan menjadi nilai tambah tersendiri untuk program yang dijalankan oleh bapak ini.

Kiranya, mungkin seperti itu konsep sosioteknoprenership yang telah diterapkan pak syahrizal di daerahnya. Terlihat mudah ya? Namun, selama dua tahun berjalan, banyak tantangan yang telah dihadapi olehnya. Entah ternaknya mati, sakit, sepi pembeli dan banyak lagi “kalau gak dari susah dulu mulainya, mungkin gak akan bertahan sampai sekarang?” Ujarnya.

Yup. Harus berani menghadapi kesulitan dan kegagalan saat mencoba. Karena disetiap kesulitan ada kemudahan. Setiap kesulitan ada kemudahan.

And Finally…

Kegiatan semacam ini, terkadang membuat saya ‘galau’ karena mengusik ‘ketentraman’ saya sebagai seorang lulusan Institut Pertanian di sebuah kabupaten di Bogor yang sangat berbasis kewirausahaan sekali 😀 Apalagi kalau yang lulusan itu berasal dari daerah. Kegundahan yang sama juga dirasakan oleh teman-teman saya yang berasal dari daerah seperti dari sumatera, Kalimantan, dan ujung Indonesia lainnya. Apa yang bisa ‘dibawa ke’ dan ‘dibangun dari’ daerah asal merupakan beberapa bentuk pertanyaan yang terus terpatri sampai akhirnya mengemukakan pernyataan alam bawah sadar: “Suatu saat saya harus pulang, untuk bangun daerah”. Karena kita pergi untuk kembali, kan? 🙂

Shiawase Ni Naru

Sejarah kepahlawanan tidaklah ditulis dengan mulus. Para pahlawan Mukmin sejati tidak selalu menghadapi situasi dan peristiwa yang mereka inginkan. Kita mungkin akan lebih kuat apabila situasi dan peristiwa yang tidak kita inginkan itu sudah kita duga sebelumnya, sehingga ada waktu yang memadai untuk melakukan antisipasi.

Akan tetapi, apa yang akan dilakukan para pahlawan mukmin sejati apabila mereka menghadapi situasi dan peristiwa yang tidak mereka inginkan dan tanpa mereka duga sebelumnya? Ini jelas berbeda dengan situasi sebelumnya. Di sana kita mempunyai waktu yang memadai untuk melakukan antisipasi, tetapi di sini kita tidak mempunyai waktu itu. Di sana secara psikologis kita akan lebih siap, tetapi di sini kita tidak terlalu siap. Namun, saat-saat seperti ini akan selalu terulang dalam kehidupan para pahlawan mukimin sejati. Saat-saat seperti ini merupakan saat yang paling rumit dalam hidup mereka. Dan inilah salah satu momentum kepahlawan dalam hidup mereka.

Yang pertama kali mereka lakukan adalah menerima kenyataan itu apa adanya. Mereka tidak menolaknya, tidak juga mencela atau mengumpatnya. Dalam situasi seperti itu mereka menjadi sangat realistis; situasi atau peristiwa itu sudah terjadi, ia sudah menjadi kenyataan yang tidak dapat ditolak. Maka, jalan terbaik adalah menerimanya apa adanya. Tentu saja, tidaklah cukup hanya dengan menerima situasi dan peristiwa itu apa adanya. Maka, yang selanjutnya mereka lakukan adalah menentukan kemungkinan paling buruk yang dapat mengalihkan arah perjalanan mereka menuju kepahlawan. Jalan menuju kepahlawan itu haruslah jelas, sejelas matahari dalam benak dan kesadarannya.

Dengan begitu, ia mengetahui semua kemungkinan yang dapat mengalihkan arah perjalanannya. Misalnya, hadirnya situasi atau peristiwa tertentu di luar kehendaknya dan di luar dirinya serta tanpa ia duga sebelumnya, namun ia menyentuh dan mempengaruhi kehidupannya secara keseluruhan.

Itulah poin paling penting yang harus ia tentukan ketika selanjutnya ia berinteraksi dengan peristiwa atau situasi tersebut. Apabila poin yang dapat mengalihkan arah perjalanannya telah ia temukan, maka langkah selanjutnya adalah mengadaptasikan dirinya dengan situasi-situasi baru yang terjadi setelah perubahan keadaan tersebut. Pikiran, jiwa, dan ruhnya harus belajar hidup normal dalam situasi-situasi baru tersebut.

Akan tetapi, dalam proses itu pula ia mencoba menemukan celah yang dapat mengambalikan kekuatan dirinya secara penuh, menemukan saat-saat keseimbangan optimalnya dari seluruh instrumen kepribadiannya dan memuntahkan karya-karya terbaiknya dalam situasi-situasi tersebut. Ia melampaui dengan tenang seluruh hambatan-hambatan yang merintanginya dalam situasi-situasi baru itu. *

Ya, menghadapi gagal dengan berani, karena mengapa harus takut dan tidak suka dengan gagal? Padahal dengan kegagalan, kita dapat menghimpun energi (walau harus berpayah) dan darinya akan bermula kebaikan yang lebih baik dari sebelumnya. Gagal membuat kita harus memutar, bahkan tersasar. Namun siapa sangka, orang yang tersasar adalah yang paling banyak berpikir dan akhirnya ia mampu mencapai tujuan dengan jalan lain, dengan cara lain, bahkan dengan teman seperjalanan yang lain. Namun, arah tetap sama, menuju satu titik, yakni apa yang disebut dengan “ridha-Nya”.

The great thing in the world is not so much where we are, but in what direction we are moving.

*Seni Ketidakmungkinan, oleh: Anis Matta

Shiawase Ni Naru: To be happy 🙂

Jounetsu!

Pernah mendengar bahwa apabila kita hidup hanya untuk diri sendiri, kita akan menjadi orang yang kerdil, tetapi jikalau kita hidup untuk kebermanfaatan orang lain, kita akan menjadi orang yang besar, manusia yang paling bermanfaat, manusia terbaik.

Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni).

Seperti apakah manusia yang paling bermanfaat itu?

Seperti siapa?

Seperti bagaimana prosesnya?

Seperti apa aktivitasnya?

Seperti apa hasilnya?

Daaan, beberapa rentetan pertanyaan lainnya…

Okehh saya ingin jadi yang paling bermanfaat tapi…

Tapii… Galaauu… jadi apa doong, masuk jurusaan apaa, ikut organisasi apaa, konstribusi dimanaa, kerjanya gimanaa? =___=  belum lagi kalau ditambah pertanyaan, nikah sama siapaa #eeh 😀 multiple galau syndrome deh 😀

Kuncinya: Istafti Qalbak, Passion itu ada di hati. Kalau dikaitkan dengan ‘Enthusiasm’, kata latin yang berarti bisikan dari Tuhan… Allahu Rabbi… >__< *Keren badaiii.

Benar jikalau ada yang bilang bahwa, pandangan hati adalah yang paling hakiki dibandingkan pandangan mata dan akal. Ialah hati tempat ruh yang akan mempengaruhi semua gerak-gerik tubuh.

Saat terjadi multiple galau syndrome yang telah saya sebutkan diawal, maka ada baiknya diobati dengan obat hati. Diantaranya adalah baca quran dan maknanya, mendirikan sholat malam (tahajud), berkumpul dengan orang soleh (ta’lim, liqo atau halaqoh), perbanyak berpuasa (puasa sunnah), dan perbanyak dzikir mengingat Allah di saat berdiri, duduk, maupun berbaring.

Dengannya hati menjadi tenang, mampu memilih apa yang sesuai dengan kata hati, passion, dan antusiame. Kemudian, memulai dengan niat yang baik, langkah yang benar, melakukan yang terbaik yang bisa dilakukan (kompeten, professional), syukur, sabar dan berdaya saing (fastabikhul khairat). Maka, jalan manapun yang akan dituju, menjadi apapun kita (peneliti, pengusaha, birokrat, pendidik, penulis, petani dan berbagai macam kegiatan lainnya) akan selalu bermanfaat untuk orang lain.

“Passion is what you enjoy the most.” —Rene.

“Allah knows the best, Allah yang paling tahu yang terbaik, yang terbaik untuk kita”

*Jounetsu (japan)= Passion, Enthusiasm

Kompeten, Profesional, Kontributif! yeah 🙂

Qeesha's Weblog

Ini cerita berdasarkan pengalaman, buku bacaan dan apa yang saya pikirkan ketika dulu dan sekarang masih berkecimpung di dunia lembaga studi or kelompok studi..Gambar

Mm..iseng-iseng mikir ketika mengisi acara training lembaga, kita (siapa ya?) dah sering menyebarkan, menyuarakan or apa lah yang semacam itulah..tekait KPK. Tapi di pengurus sendiri dengan MITI klaster Mahasiswa yang notabene membawa dan menggaung2kan KPK, apakah sudah sering kita share or diskusi atau emang kita dah tahu? Bagaimana peningkatan kita sebagai sebuah lembaga atau penggerak di MITI klaster Mahasiswa dengan membawa KPK? Apakah teman-teman pernah berpikir atau bertanya-tanya seperti itu?

Ya..dari pada mikir macem-macem. Kali ini MOST-nya bersifat pengetahuan terkait KPK. Agak teoritis memang. Tapi biarin aja. Kalau ada yang bosen mendengarkan karena sudah sering dapat KPK, ya skip aja.. ^^

KPK

KPK merupakan akronim dari kumpulan kata benda yang memiliki nilai positif, yaitu Kompetensi, Profesionalitas, dan Kontribusi. Lalu apa makna dibalik kata-kata itu? Oke…

Lihat pos aslinya 467 kata lagi

Februari

Di Bulan ini,

Ada doa yang terlipatganda saat lamat-lamat disematkan dalam tengadah, hingga berpilin jauh ke langit.

Ada hati yang ingin selalu berpaut dalam ketaatan dan kesadaran penuh pada Penggenggam hidup dan mati

Ada harap untuk tetap menjaga kehormatan yang kadang tercompang-camping di tengah upaya kami membadai dan membumi

Wahai Allah, sudah banyak nikmat yang Engkau beri sampai kami menginjak usia kami yang saat ini. Kau cukupkan kami, tapi terkadang kami yang mengurangi sendiri. Kami yakin, doa, cita, dan harap kami, sudah kau dekap erat sekuat Engkau jaga kami dalam berkah dan istiqomah. Jaga kami ya Allah, jaga kami sampai akhir yang paling baik dalam hidup kami.