Bulan: Januari 2013

Bebas

Posted on Updated on

“Elo tuh tipe-tipe orang harapan bangsa banget yah”

Saya, asli bengong, sambil mengeluarkan kata, “Hah?”

“Iya, maksud gue, elo tuh ya tipe-tipe orang yang cinta tanah air banget gitu, ikut organisasi ini, organisasi itu, kabarnyanya elo juga pernah ke luar negeri kan ya, wuiihh… hahaha”

Saya, tambah bengong, dalem hati, nih orang nyinyir apa muji sih yak…

“Yaa, emang kenapa gitu? Gak boleh? Setiap orang bebas kali milih kegiatan apa aja yang pengen dia ikutin, ya termasuk elo juga”. Jawab saya sekedarnya sambil makan gorengan plus rawit yang banyak :p. Dan sejenak mikir-mikir frasa aneh tadi, ‘Harapan Bangsa?!” Hueheh. Padahal belum tentu juga seluruh penduduk Indonesia kenal sama yang namanya Riska :p

Bebas. Hakikat manusia adalah memilih kebebasan itu sendiri. Kebebasan untuk mencapai tingkat kenyamanan yang sesuai dengan dirinya. Bebas untuk menentukan nasibnya. Bebas untuk mengatur hidupnya. Bebas untuk memilih apapun yang menurutnya diinginkan atau dibutuhkan.

Karena setiap manusia diberi kebebasan, terkadang kebebasan yang satu akan berbenturan dengan kebebasan yang lainnya, sehingga, tidak ada yang namanya kebebasan mutlak, karena setiap kebebasan pasti akan ada akibat dari kebebasan itu sendiri. Entah baik atau buruk, entah untuk dirinya sendiri atau untuk orang lain.

Jadi, walaupun kita punya kebebasan untuk berbuat, pahamilah bahwa apapun gerakan kita selalu ada dampaknya untuk orang lain dan semesta. Baik atau buruk. Oleh karenanya kita memiliki kebebasan yang bertanggungjawab. Liberty with responsibility.

Dalam hati,

“Iya sih gue bebas buat milih apapun yang gue mau, tapi, gara-gara lo bilang gitu, gue jadi keingetan, kalau mungkin pilihan gue ini pernah merugikan orang lain. Entah ia merasa waktunya telah terambil, kesempatannya, atau kedekatannya dengan seorang Riska…”

Dan yang pasti, biar Allah yang menilai apapun gerakan kita. Luruskan niat. Sekali lagi, biarlah hanya Allah… Kalau bukan karena manusia, benturan dengan manusia, tidak akan menghentikan gerakmu… 😉

November, 2012

ditengah kerumunan orang-orang yang baru pertama kali dikenal 

Langit Nusantara #2 (De Smeroe)

Posted on Updated on

Lumajang, 15-18 November 2012

Terkadang, bukan puncak yang dibutuhkan, tetapi keseimbangan kiri dan kanan 🙂

“Tahun depan, pas kesini lagi insyaAllah sampai puncak ya…”

“Aamiin..” Kami serempak mengaminkan pernyataan sekaligus doa tesebut. 

Ya, walaupun saya tak sampai puncak, tetapi semenjak itu saya paham mengenai “Membawa ikut serta semuanya”, “Mimpi pun harus dimusyawarahkan”, “Mengayuh mimpi bersama”, “Kita tak hidup sendiri”, dan lain-lain yang menegaskan bahwa ‘menggapai mimpi’ bukan hanya ‘aku’, tetapi ‘kita’. Yang dalam konteks ini merupakan kepedulian terhadap ‘teman seperjalanan’.

Di sana saya juga takjub dengan teman-teman yang  saya rasa mampu untuk melanjutkan perjalanan ke puncak, tetapi urung melanjutkan karena berusaha untuk tetap bersama dengan teman-teman yang lainnya. Padahal mungkin saja apabila sudah mempunyai ambisi untuk muncak, akan terus melanjutkan perjalanan bagaimanpun caranya. Dan bagaimanapun akibatnya.

Perjalanan kami menuju Lumajang tak kalah banyak hikmahnya, bus yang kami tumpangi mengalami mogok dua kali, yang berarti kami harus mengabiskan hampir dua malam dalam perjalanan, dan itu juga artinya durasi kami untuk muncak menjadi bertambah sempit.

Sesampainya di Desa Tumpang (18.00 yang seharusnya jika perjalanan lancar kami sampai jam 08.00 pagi), pendaftaran dilakukan dan siap-siap menuju Desa Ranu Pane. Sayang sekalinya juga, perjalanan ke Ranu Pane yang menggunakan truk, harus dihabiskan dalam kegelapan. Padahal jika terang, pemandangan puncak-puncak di sekitar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru akan terlihat indah, khususnya melihat Gunung Bromo dari jauh.

Sampai di Ranu Pane (20.30) kami melakukan istirahat sejenak, dan rencana awal kami akan mulai melakukan pendakian sehabis itu. Setelah meminta izin kepada panitia penyelenggara, kami tidak diperbolehkan jalan dalam kondisi gelap malam itu juga karena jalan yang licin sehabis hujan.  Akhirnya kami beristirahat di mushala setempat sampai besok pagi.

Keesokan harinya, kami bersiap untuk memulai perjalanan. Tepat pukul 09.00 waktu setempat, kami pun mulai berjalan ke arah yang sama, “Puncak Mahameru”. Dalam hati saya berujar, Ya Allah, seriusan nih mau naik gunung beneraann >.< padahal terakhir saya merasakan suasana hidup di alam bebas adalah saat saya masih SMP, bayangkan sodara-sodaraa, dan saat itu pun saya hanya kemping-kempingan di kaki Gunung Pinang di Serang.. hehe. Dan sekarang, jreeng, bersama dengan Ayu Arthur, partner in crime dimanapun berada. Disini kami ingin mewujudkan mimpi lain dalam kehidupan kami, berdiri di antara langit dan bumi,

“Menyentuh langit, menembus awan, namun, kaki masih berpijak di bumi :’)”

Yak, sebelum berangkat, saya dan ayu, rada-rada ngerasa belaga juga nih, karena sekalinya naik gunung langsung ke Semeru. hehe. Ya gapapalah ya. 😀 Bismillah, laa hawla wa laa quwwata ila billah 😉

DSC_0378 edit
Memulai Pendakian

Oke, lanjut lagi cerita dalam perjalanan melalui beberapa pos sebelum akhirnya sampai di pemberhentian pertama untuk nge-camp. Ranu Kumbolo. Hey, kalian tahu apa yang saya rasakan selama dalam perjalanan ke Ranu Kumbolo? Beruntung saya menyempatkan diri untuk olahraga kecil setiap pagi dan joging setiap pekan (Gak tiap pekan juga sih :D) karena apabila tidak, gak kebayang gimana nasibnya di sana O_o. Yang saya rasakan, adalah ya Allaaahh, kapan sampe, huks huks, punggung sakit, pinggang encok, (dengan beban akomodasi, ransum, dan tenda), kaki pegel, dan ujan-ujanaann booo. Pengeeen pulaang… 😦 tapi ada satu suara lagi yang menyemangati. heh kalau kamu nyerah dan baik lagi turun, kamu kalah ris! dan emang gak ada yang mau nemenin juga kalii.. Hehe.  Dan akhirnya saya dengan sepenuh tenaga sisa, minimal harus sampai ke ranu Kumbolo! Osh! 😀

Bener kata orang, kalau naik gunung itu, sifat asli kita akan tampak, tak ada yang ditutupin, aseeeli keliatan jeleknya, kaga ada jaim-jaiman deh. Dan saya berterimakasih kepada kalian yang masih tahan buat terus bareng-bareng sama saya hehehe. Karena kalian bisa tahan sama sifat asli saya yang keluar. Haha. Jazakumullah ya, semoga Allah balas dengan yang lebih baik atas kebaikan kalian semua :’). Perjalanan menuju Ranu Kumbolo melewati beberapa tanjakan landai, dan sesekali terjal. Jalan setapak pinggir tebing yang membuat, harus berhati-hati dalam melewatinya, karena kepeleset sedikit, bisa jatuh ke jurang 😦

DSC_0694
Di Tepi Jurang

Terngiang dalam benak saya, sederet bait awal dalam lagu “Mahameru-nya Dewa 19” yang dipesankan oleh kakak kelas saya sebelum mendaki,

Mendaki melintas bukit

Berjalan letih menahan menahan berat beban

Bertahan didalam dingin

Berselimut kabut `Ranu Kumbolo`

Menatap jalan setapak

Bertanya-tanya sampai kapankah berakhir

Mereguk nikmat coklat susu

Menjalin persahabatan dalam hangatnya tenda

Bersama sahabat mencari damai

Indeed! Ya Allah, sungguh dalam perjalanan ini banyak hikmah yang bisa didapat, “berjalan letih menahan berat beban”, Dalam hidup, teranalogikan beban yang masing-masing kita pikul sendiri, Laa yulaifullahu nafsan ila wus’aha… Allah memberikan beban yang sesuai dengan kesanggupan kita, maka jikalau dirasa beban yang dipanggul bertambah berat karena banyaknya amanah, maka mintalah pada Allah, pundak yang semakin kuat. Dan suatu beban, apabila kita bersama dengan teman seperjalanan, beban yang dipikul bersama, beban yang didelegasikan, akan semakin mudah untuk dibawa sampai ke ujung perjalanan. Kuncinya kerja bersama, delegasi, dan saling percaya 🙂 maka beban akan terasa ringan.

“bertanya-tanya sampai kapan kah akan berakhir” Dan saat jenuh kita bertanya, Ya Allah kapan sih ujian ini berakhir. saya capek, saya lelah. Tapi kita menyadari bahwa beban atau amanah yang diberikan kepada kita adalah untuk menungkatkan kapasitas, meningkatkan jejang, dan manaikkan kelas kita ke tempat yang lebih baik, lebih indah. Maka keep moving forward, terus berjalan tak kenal lelah, Allah bersama kita 😉

Sampai akhirnya, satu beban dan satu ujian terlewati, kita sampai di tempat yang luar biasa indah, ialah Ranu Kumbolo. Seperti kebaikan yang akhirnya kita dapatkan setelah kita bekerja keras… Speechless, pokoknya Ranu Kumbolo itu… Masya Allah, indahnya >.< Allahu Akbar… :")

Telaga indah Ranu Kumbolo dan Padang kerennya Oro-Oro Ombo, menjadi bayaran yang sungguh luar biasa atas kerja keras kita sampai ke sana. Kalian keren-keren. Sungguh 🙂

DSC_0683
Kalian Keren Banget Oyy 😀
DSC_0507
Ranu Kumbolo :”)
DSC_0511
Menanti Matahari Terbit
DSC_0637
Oro-Oro Ombo, dibaliknya tersembunti puncak Mahameru 🙂
DSC_0609
Akhirnya, sampai sini Alhmdulillah 🙂
DSC_0625
Semeru 17.5 Meter Lagi

Sekali lagi,

Terkadang, bukan puncak yang dibutuhkan, tetapi keseimbangan kiri dan kanan

Menyeimbangkan impian yang tersimpan di sayap kiri dan kanan

Mengepak sayap bersama-sama, menuju gapaian langit namun masih berpijak di bumi

Thanks to: Semua anak gunung ragunan :D, semua yang telah membantu, mendukung, dan meminjamkan barangnya 😀 hehe. Jazakumullah khairr, karena kalian, kami bisa menatap langit nusantara di semeru :’)

Langit Nusantara 2012 #1

Posted on Updated on

Say Hello, Salam.

The first page of 365.

Semoga selalu ada berkah diawal kita memulai hari ya. Hari ini perhitungan tanggal baru dimulai untuk kita mengelilingi matahari. Kenapa matahari? Ya mungkin karena ia pusat di galaksi Bimasakti, jadi yang umum dipakai oleh ‘dunia’ ya tanggal masehi seperti demikian adanya. Terlepas dari konspirasi atau engga. he :D. Oke. Bulan Desember kemarin, bakal jadi bulan tanpa postingan karenaaa, saya hanya posting 1 tulisan dalam sebulan. Begitulah saya yang sedang malas dan gak mood buat nulis hehehe.

Di Oktober, November dan Desember, Alhmdulillah, banyak hal-hal yang didapat dalam kesempatan saat perjalanan. Melihat jadwal yang lumayan padat, kalau tidak diselingi oleh hal-hal yang ‘menurut’ saya itu menyenangkan, tenaga dan pikiran mungkin bakal terkuras habis. So, harap maklum ya kalau suka #salahfoku hihi. My lovely honey Niki-chan, Nikon D3100 yang sudah hampir 2 tahun menemani (dan mengrobankan dirinya #eh, soalnya pernah kejebur laut, kena suhu sedingin salju, dan ancur-ancuran ikuat mendaki gunung :D) akan selalu jadi solmet perjalanan 🙂

Solo

Kota ini, menjadi sarana penghibur dikala jenuh dan geje (karena saya sendiri sih hehe) saat awal-awal bulan Oktober, Solo membuat saya bertemu dengan teman-teman yang semangatnya bisa bikin semangat saya balik lagi. Sudah cukup dengan liat mereka ketawa-ketiwi, plus pulang berdesak-desakan di kereta Solo-Jogja. Saya bahagia.

Mengapa kita selalu suka pada perjalanan? Karena perjalanan itu menyembuhkan. Saat kita mencari kebahagiaan dalam perjalanan, saat itu juga kita menyadari bahwa bahagia itu diciptakan, dari hati, bukan dicari.

Aceh

Allah haidoo do da ida… (sepertinya lirik awalnya sih seperti ini :D) (Panglima Prang by Izzis) Ini jadi lagu backsound entah saat berangkat ke Aceh sampai pulang lagi ke Jakarta. Terharu. Selain bertemu dengan temen-temen yang gak kalah semangatnya sama yang di Solo, saya juga sempatkan untuk reuni dengan sesosok sahabat yang telah saya kagumi lama, Khatijatusshalihah Hanafiah alias Shellyyy! yay. Sahabat, yang dengannya, saya selalu bisa satu frekuensi saat berdiskusi dan bersama bertahan di negara paman sam 2 tahun yang lalu.

Nah, oleh karena itu saya juga sempatkan untuk menginap di tempat tinggalnya yang bertempat di perumahan dosen di Unsyiah. Menarik, karena dia di ‘daulat’ tinggal disana oleh dosennya untuk menemani dosen yang berasal dari USA. Great! Mbak dosen bule yang bernama Sarah Kadi ternyata tak berbeda jauh usianya dari kami, mungkin hanya terpaut 3 tahun. Keren kan, usia yang muda sudah jadi dosen.

Dalam girls talk yang dilakukan saat shelly sedang menyelesaikan tugas akhirnya (maap ya neng hehe), kami banyak menyimpulan tentang bermacam hal, dari mulai daerah tempat kami tinggal (shelly cerita tentang masa-masa dia kecil yang dipenuhi oleh ketakukan karena GAM sampai pada kisah Tsunami Aceh dan saya cerita tentang Jawara Banten dan lainnya, heu), masa depan, karir, keluarga, kontribusi dan banyak lagi. And you know, Those things make me wake up! Really, Thank you dear. Yap, pembahasan seperti itu yang akan selalu buat kita mikir lagi kan? dan dari situ semoga kita bisa meneruskan hidup dengan lebih baik. Life to the fullest!

Gorontalo

Hal pertama yang membuat saya bahagia adalah: Saya tidak lupa untuk menenteng Niki-chan untuk ikut serta ‘duduk’ bersama saya yang selalu memilih posisi dekat jendela pesawat hehe. Dengan begitu kita bisa sama-sama menikmati pemandangan dari atas. Horeee! karena dalam perjalanan sebelumnya, Niki-chan selalu terlupa untuk dibawa karena ikut dalam ransel yang diletakan di lemari kabin.

Hal kedua, ini kali kedua saya ke pulau Sulawesi, yang dalam pikiran saya hanya satu yakni makan ikaan. Yoi. Alhmdulillah, dalam kesempatan itu saya bisa merasakan ikan dengan sambal khas yang dicampur minyak kelapa :9

Then, kalian tau gak, saat mengamati kehidupan di Gorontalo, saya menyimpulkan bahwa Kota ini sungguh nyaman, tentram, damai tanpa ada gangguan apapun. Kalian bisa melihat sapi yang dengan santainya ‘sun bathing’ di pinggir jalan. Tanpa khawatir dia bakal diculik. Tidak ada macet, polusi, dan sebagaimacamnya yang selalu kita temukan di Jakarta. Perjalanan kemanapun kita bisa lalui hanya dalam beberapa menit. Dari kantor Gubernur Gorontalo yang berada di ujung bukit, kemudian dilanjutkan perjalanan ke pantai di teluk Gorontalo, hanya memakan waktu tidak sampai satu jam. Cukup untuk membuat gembira ria, tapi lama kelamaan terasa ‘slow motion’ nya hehe. Anyway, pengalaman yang didapat disini tak kalah menyenangkan dengan kota-kota sebelumnya. Bertemu dengan seorang ibu yang luar biasa dalam memberdayakan masyarakatnya, membuat saat ingin mengikuti jejak ibu tersebut, multitalenta dan peduli terhadap daerah asalnya. #eaa :p

Sama halnya dengan di Aceh, di Gorontalo, saya sempatkan untuk bertemu teman lama saya sewaktu beasiswa, ialah Rahman Imran, pemuda yang menjadi idola di daerahnya, seorang Anchor dan Foto Model. Uhuy. Darinya juga saya banyak belajar tentang bagaimana mengorbankan keinginan pribadi demi memenuhi keinginan keluarga. Yang saya simpulkan. Rahman sangat sayang kepada ibunya. Good boy 😀

Sepulang dari Gorontalo, yang saya ingat adalah mengenai Al-Hajj Ayat 77, kontribusi dan kebajikan untuk sesama. A man and his contribution.

“Yaa ayyuhaa alladziina aamanuu irka’uu wasjuduu wa’buduu rabbakum waf’aluulkhayra la’allakum tuflihuuna”

Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.

Dalam ayat itu Allah meminta kita selain ruku dan sujud, buatlah kebajikan kepada sesama, kebaikan, dan kontribusi. Kebajiakan dan kontribusi seperti apa? Apapun yang menjadi kompetensi kita saat ini. Menjadi kompeten, profesional , dan akhirnya mampu berkontribusi untuk sekitar. Haikk. Dari situ saya menjadi lebih paham tentang arah gerak dan tujuan kedepannya. Arigatou sensei-sama 🙂

Di ibukota atau di daerah, semuanya selalu punya kebaikan, tergantung bagaimana memaknainya, dan seberapa besar manfaatnya untuk sekitar – Hari terakhir di Gorontalo 🙂

Serang dan Banjarmasin

Sama halnya dengan perjalanan sebelumnya, saya sangat berterimakasih telah diberikan kesempatan untuk merasakan perjalanan tersebut. Arigatou minna san, karena itu saya terus bisa berinteraksi dengan para pemuda unyu-unyu yang masih pada semangat untuk berprestasi, berkarya, dan berkontribusi. Salam Inovatif dan kontributif!

Jeng jreeeeeng…

Dan akhirnya kota di Nusantara terbahana ulala yang saya sambangi selama tahun 2012 adalah… Lumajang, Jawa Timur ada apa disana? Tunggu cerita selanjutnya yak 😀