Mengorganik

Belajar kepada hasil adalah sesuatu yang penting. Hasil adalah kata-kata yang muncul setelah serangkaian proses kerja. Dengan hasil, kita bisa melihat sebuah karya nyata. Tetapi melihat hasil dengan mengabaikan proses niscaya hanya akan dibuat terkagum dan bisa jadi pengetahuan kita berhenti pada terminal informasi yang tak menggerakkan. Kita mesti belajar dari proses, karena proseslah yang akan membimbing kita bergerak meraih hasil.

*Dikutip dari buku Entrepreneur Organik karya K.H Fuad Affandi.

Enteurprener organik merupakan proses yang berkeinginan untuk menciptakan sesuatu sehingga menghasilkan sesuatu. Didalamnya terdapat proses yang panjang, dalam memahamkan masyarakat untuk melakukan perubahan kearah yang lebih sejahtera. Enteurprener organik  melakukan perubahan dan perjuangan dari masyarakat bawah, yang diawali dari perbaikan ekonomi, kemudian menjalar ke bidang kehidupan yang lain. Buku ini menggambarkan spirit seorang pengajak dan penyeru kebaikan untuk melawan salah satu musuh Islam, yakni kemiskinan.

yap, karena setiap proses hidup adalah pembelajaran, ya kan? 😉

Je Crois En Toi

Issyahdu bi ana muslimun, saksikan bahwa saya seorang muslim.

Sungguh sedih saat mengetahui seseorang yang dulu melindungi diri dengan hijabnya, kini meninggalkannya. Banyak alasan yang mereka kemukakan, salah satu diantaranya, karena mereka tinggal di negara dimana muslim menjadi minoritas.

“Waktu memutuskan tinggal di Australia kebetulan suasananya lagi hangat2nya penduduk lokal (anglo saxon/ kulit putih) menyerang penduduk muslim (boleh baca di wikipedia “Cronulla Riot 2005”). Penyebabnya karna (dan sangat disayangkan) remaja2 muslim keturunan libanon (middle-east) terkenal dg criminal record yg tinggi (bahkan sampe skrg) mulai dari narkoba, tawuran, KDRT,pelecehan, sampe dg pemerkosaan. Puncaknya dimana salah satu kelompok remaja tsb menyampaikan bahwa semua orang kulit putih sampah dan perempuannya adalah pelacur.Akhirnya sentimen atas penduduk muslim muncul salah satunya tindakan rasisme termasuk melecehkan wanita berjilbab. Keputusan saya untuk melepas jilbab (and it is my personal choice) atas dasar keamanan, kenyamanan dan pembuktian bahwa islam agama cinta damai dan tidak memberatkan kaumnya. Saya yakin Allah selalu melindungi umatnya tapi saya merasa saya juga harus berusaha untuk melindungi diri saya sendiri dan terus berbuat yg terbaik khususnya di negara dimana islam adalah agama minoritas. Let’s show to the world that we as individual and as muslim women have good achievements to be proud of :)”

Saya pun tak bisa tidak untuk meninggalkan komentar di foto ibu tersebut,

“In my opinion, kemanusiaan berbanding lurus dengan keimanan.. ^_^ jadi tidak ada alasan demi kemanusiaan lantas meninggalkan keimanan. Saya termasuk yg mengaggumi ibu, dan sebenarnya sedih meilhat ibu yang berhijab dan skrng menampakkan foto yg tidak berhijab. May Allah always bless you bu. :)”

Pyuhh, pagi-pagi sudah banyak pelajaran yang didapat. Kita yang yakin dan percaya bahwa Allah berada dimanapun, termasuk di negara yang muslimnya minoritas, mengapa harus khawatir atas keamanan diri kita disana, toh dimanapun berada, saat takdir menyapa, kita tidak akan bisa mengelaknya, yang berbeda adalah, bagaimana kondisi kita saat menghadapi takdir tersebut, (entah musibah, kejahatan, penganiayaan, dan sebagainya) apakah kita menghadapinya dengan percaya dan yakin terhadap kuasa-Nya, atau kita hanya bergantung pada makhluk yang sama-sama akan binasa. Walla’hu alam, hidup memang pilihan. Pilihan hanya untuk dunia, atau setelahnya.

Laa ikraaha fiddin… qattabayyanarrusdu minal ghaiy… (Al-Baqarah:256)

Ya muqalibalqulub, tsabits qalbi alaa dinik, subhanaka inni kuntumminadzholimin…

Iman itu adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang (Imam Syafi’i)