Bulan: Agustus 2012

Khatulistiwa

Posted on Updated on

Bertebaranlah di bumi. Karena dimanapun berada, kita selalu bisa melihat langit yang sama (ditambah lagi malam ini akan ada purnama).

Seketika saya berpikir, ya kita sudah tidak muda lagi, sudah cukup usia untuk melanglang buwana ke tempat manapun, entah itu yang kita ingin tuju, atau Allah yang menempatkan kita di tempat itu.

Kalian tahu? Berkelana itu juga butuh kekuatan untuk menjalaninya. Seperti ada sesuatu yang tertinggal. Meninggalkan kampung halaman, meninggalkan orang-orang tercinta, meninggalkan hal-hal yang membersamai tumbuh kembang kita.

“Teringat suatu hari, sahabat saya berujar,
Hidup itu belajar mengikhlaskan apa yang kita sayangi untuk diambil kembali oleh Allah. Perlahan tapi pasti. Mencoba merasakan apa yang orangtua kita rasakan, bagaimana mereka membesarkan kita, mereka belajar ditinggalkan kita yang pergi sekolah jauh, belajar ditinggalkan kita yang bekerja dan berusaha, belajar ditinggalkan kita yang akhirnya akan menikah. Kata bapak itulah siklus yang mengajarkan bahwa semua yang kita sayangi tidak kekal dan abadi, jadi harus ikhlas…” (Arthuria)

Setuju, hidup adalah belajar ikhlas. Ikhlas dengan apapun yang Allah beri untuk kita. Ikhlas untuk menjalankan apapun hanya semata untuk mendapat ridho-Nya.

Kapanpun saat kita akan pergi, pastikan yang ditinggalkan selalu baik-baik saja. Dan kita yang pergi, tinggalkan selalu kebaikan dimanapun tempat yang pernah kita singgah disana.

“Wherever Allah plants us, just be fruitful!” πŸ˜‰

“Kita tulis cerita, yang takkan kita lupa, bersama di bawah langit senja. Kita nyatakan saja pada mereka lewat sebuah lagu. Antara kau dan aku di bumi khatulistiwa…”(Doremi)

:D!

Camera Obscura

Posted on Updated on

Kita berterimakasih pada Al Hasan Ibn Al Haytham atau Al-Hazen yang bertutur lewat karya besarnya, Al-Manazir yang menjadi dasar dimulainya perkembangan penyampaian hikmah lewat cahaya.

Berawal ketika mempelajari fenomena gerhana matahari. Al-Hazen membuat lubang kecil pada dinding yang memungkinkan citra matahari semi nyata diproyeksikan melalui permukaan datar. Mempersilakan cahaya melewati ruang gelap yang pada akhirnya menghasilkan jejak awal yang diikuti oleh para penghayat cahaya lainnya.

Sekali lagi, terimakasih pada Al-Hazen πŸ™‚

Kemudian, masihkah ingat bunyi saat rana kita mencoba menangkap cahaya yang melewati prisma dan kemudian sampai kepada lensa?

Layaknya menulis dengan cahaya. Kita coba sampaikan pesan lewat kumpulan-kumpulan hikmah yang kita simpan dalam bingkai cahaya.

Sejatinya, pembingkai cahaya melakukan perjalanan membuat dan mengambil, tidak terbatas pada banyaknya namun makna sebuah gambar

Layaknya seorang penyair sekaligus pelukis, perekam jejak, pembeku gerak sekaligus pengejar cahaya, yang memahami datang dan perginya cahaya, menyimpan memoar dalam bingkai cahaya.

Yang pada akhirnya, ia menyadari bahwa selalu ada cahaya diatas cahaya…

Jadi, tetaplah memotret, Klik! πŸ˜‰

Ctrl + F5

Posted on Updated on

Perjalanannya masih sama, arah dan tujuannya pun masih serupa. Tetapi ada sesuatu yang berbeda, ada sesuatu yang baru, yakni cara melangkah, cara mengisi energi, dan cara menambah perbendaharaan hal-hal yang didapat selama perjalanan. Dengan bekerja lebih keras, lebih cerdas, lebih ikhlas.

Just click for refresh, and triiing… we will find something new. New day is coming. Bismillah… πŸ˜‰

Waktu (s)

Posted on Updated on

Pernah merasakan ingin memiliki sesuatu tetapi merasa belum tepat waktu untuk memilikinya?

Euumm. Misalnya nih ya. Selagi kita mengadakan perjalanan di suatu pertokoan. Kemudian, tetiba saja kita tertarik akan sesuatu yang menurut kita, “If I get it, I will be the lucky one in the world! Yeah” Entah itu baju, buku, kendaraan, perhiasan atau apapun yang memang saat itu sedang kita butuhkan. Pokoknya “Worth it!”.

Setelah melihat, memikirkan, menimang, dan melihat kantong lebih dekat dan lebih dalam. Ahiyak. Ternyata kita belum tepat untuk memilikinya sekarang. Mungkin karena kita belum pantas dan masih perlu untuk melakukan hal lebih untuk memperbaiki kepantasan kita (untuk membelinya).

“So, what must we do?” Sebagai manusia-manusia yang baik hati, tidak sombong, dan rajin menabung. Tentu saja, kita tidak serta merta memperturutkan keinginan kita untuk memilikinya bukan? Tidak lantas kita melakukan hal-hal yang dianggap tabu dan tidak layak untuk diperbincangkan bukan? (kedengarannya ini seperti tagline program acara tivi ya ^^”).

It can be perfect for each other. But if the timing’s wrong, it’s never going to work out.

Akhirnya, kita belajar untuk bersabar, belajar untuk memperbaiki, dan belajar untuk memantaskan diri di hadapan Yang Akan Memberi Rezeki. Dengan berupaya sekuat tenaga untuk mengumpulkan hal-hal yang akan digunakan untuk memiliki apa yang kita inginkan. Oh jelas, Ia yang paling tahu kapan kita mampu untuk memiliki. Karena, apabila kita benar-benar jujur kepada-Nya. Dialah yang akan memberikannya untuk kita.

Oke. Karenanya, mari kita sama-sama tinggalkan sesuatu yang belum menjadi hak kita. Hanya meninggalkan sementara. Kita tinggalkan sementara dengan harapan akan bertemu lagi di suatu masa, dalam keadaan terbaik menurut-Nya. Osh!! Bi Iznillah…

“Barang siapa yang mencintai karena Allah. Membenci karena Allah. Memberi karena Allah. Dan tidak memberi juga karena Allah. Maka sungguh dia telah menyempurnakan imannya.” (HR. Abu Dawud)

“Waktu dan jarak akan menyingkap rahasia besarnya, apakah keinginan itu semakin besar, atau semakin memudar (Tere Liye)”

*Beberapa waktu kemudian, setelah perbekalan cukup untuk memiliki.*

Seketika kita berujar, Hey, barangnya masih ada! Alhamdulillah. Memang kalau sudah rezeki tak kemana yah πŸ˜€

Atau mungkin, Hey, barangnya sudah terjual! Alhamdulillah, dengan begitu kita menyadari bahwa akan ada rencana Allah yang lebih baik. InsyaAllah. πŸ™‚

“Demi masa, sesungguhnya manusia kerugian, melainkan, yang beriman dan mengerjakan kebaikan…”

5′ Forward Primer

Posted on Updated on

Sebutlah ia sejenis bebek. Oh bukan, bukan Donald Bebek, Paman Gober, apalagi Gerombolan Si Berat (jelas karena mereka bukan bebek). Petunjuknya, Bebek itu bisa mengapung dan berenang di perairan (Lah emang).

Sttt. Satu rahasia lagi. Bebek itu ternyata bukan benda hidup. Ia hanya bisa digerakkan dengan kemauan si penggeraknya.

Dan kalian perlu tahu. Kalau bebek itu dibiarkan menggenang atau mengapung terlalu lama di air, kolam, atau semacamnya. Lama kelamaan, bebek itu akan berlumut, mungkin juga berkarat, mungkin juga berlubang, dan pada akhirnya. Blub… Blub… Blub… Tenggelam tak meninggalkan bekas, seperti misteri moster Lochness yang ternyata hanya konspirasi.

Tapi, bebek tenggelam itu tentu bukanlah konspirasi. Karena ia akan benar-benar tenggelam apabila tidak pernah digerakan dan dimanfaatkan oleh yang berkesempatan untuk menggerakkannya. Bebek akan menjadi tidak berguna dan sia-sia.

Padahal, apabila si penggerak mau mencoba memulai mengerahkan tenaga untuk menggoes pedal si bebek, maka bebek itu akan menjadi alat yang bisa membuat ia mengarungi luasnya perairan, ya sementara perairan sekelas danau lah ya.

Oke. Balik lagi ke bebek, penggerak, dan air. Bebek adalah apa yang dimiliki, penggerak adalah kita, dan air adalah rintangan yang harus dilewati.

Kita dengan berbekal iman, dan keyakinan. Mencoba memulai ikhtiar dengan memanfaatkan apapun yang ada di dalam, di dekat, dan di sekitar kita, dan tentu yang bisa dilakukan sekarang. Untuk terus bergerak menjemput mimpi, menjemput rizki.

Karena sukses dan gagal itu selalu punya alasan. Sukses, punya alasan untuk memulai. Gagal, punya alasan untuk menunda.

Dan kita, hanya perlu untuk memulai. Kemudian, keep moving forward!

*Entah kenapa “bebek-bebekan” yang jadi primadona (mungkin karena hari ini saya berkesempatan untuk menggoes pedalnya kembali setelah bertahun terpisahkan-apadeh). Padahal bahasan utamanya adalah “keep moving forward” loh πŸ˜€

*Ehya, 5′ forward primer adalah sejenis kumpulan basa nitrogen khusus yang membantu memulai pembentukan rantai DNA baru pada proses PCR.

Ok. Ada pertanyaan lagi?
Keep cheers all! πŸ™‚

Deja Vu

Posted on Updated on

Seharusnya ada pepatah bijak yang berbunyi: “Bila engkau ingin satu, maka jangan ambil dua. Karena satu menggenapkan, tapi dua melenyapkan.” Sekalipun ganjil terdengar, tapi itu penting. Pepatah bukan sekedar kembang gula sastra. Dibutuhkan pengalaman pahit untuk mengformulasikannya. Dibutuhkan orang yang setengah mati berakit-rakit ke hulu agar tahu nikmatnya berenang santai ke tepian. Dibutuhkan orang yang tersungkur jatuh dan harus lagi tertimpa tangga. Dibutuhkan sebelangga susu hanya untuk dirusak setitik nila. (Dee)

On your mark, get set, go! Kemudian kita berlari, ada saat tersandung, terjatuh, terbangkit, terlompat, terjumpalitan, begitu seterusnya

Lalu, jatuh kita akan menjadi sia-sia apabila kita tak mencoba memungut hikmah yang terserak di tanah. Begitu juga lompat kita akan menjadi sia-sia apabila kita tak mencoba gapai hikmah yang tergantung di udara.

Dan hikmah itu kita kumpulkan, menjadi apapun yang kita bisa bawa kemana saja. Karena saat seumpama kita berlari kembali di jalan yang sama, kondisi kita untuk melewatinya mungkin akan lebih siap, lebih singkat, lebih aman, dan lebih elegan. Yea! πŸ˜€

Berkata Khalid bin Walid “Seluruh lembah, gunung, dan gurun yang pernah kulewati, pasti akan selalu kuingat sekaligus kubayangkan segenap strategi yang akan kugunakan, jika suatu saat aku berperang di tempat itu”

 

 

 

Hibernasi, Momentum, Akselerasi

Posted on Updated on

Terkadang kita butuh berhenti sejenak dari kerumitan rutinitas harian yang memaksa untuk terus berbuat, berburu dengan waktu, dan berpindah dari amanah yang satu pada amanah yang lainnya.

Bukan hanya hewan musim dingin, atau tetumbuhan yang meranggas saat musim gugur tiba. Tentu, manusia pun butuh waktu untuk merenung dan menyendiri untuk meramu ulang rasa di hidupnya.

Sejenak, teringat Ramadhan kemarin. Kita telah jadikan ia rumah yang nyaman bagi proses hibernasi kita. Hibernasi hati. Karena, Ramadhan membawa pesan khusus terhadap hati. Mengapa hati? Karena kemenangan hakiki hanya bisa dirasakan oleh hati yang taat, jujur, dan ikhlas pada Allah.

Hati, memimpin sekaligus menjadi komandan atas diri manusia. Maka, Jika hatimu sedang sakit, semoga Ramadhan telah menyembuhkanmu. Jika hatimu lemah, semoga Ramadhan telah mengokohkanmu. Jika hatimu mati, semoga Ramadhan telah menghidupkanmu. Semoga Ramadhan, sampai seterusnya, pesan tersebut menjadikan kita lebih baik setiap harinya.

Setelah Ramadhan, semoga setiap permasalahan, kebingungan, ketidakpastian yang menjadi ujian bagi masing-masing pribadi. Telah terlewati, terselesaikan, dan lulus dengan predikat terbaik di sisi Allah SWT.

Selekas hibernasi, kita menemukan momentum untuk memulai semuanya dari awal. Memulai bergerak lagi. Karena diam berarti mati. Dan hidup akan mengikis apa saja yang memilih diam, membuat kita untuk mengikuti arusnya. Kita semua, tidak terkecuali.

Maka,
Berbahagialah yang berupaya memulai berusaha bergerak, meraba, terbata, mengeja, merangkak… Karena kita yakin akan berjalan dan akhirnya berlari.

Berbahagialah yang berupaya memulai sesuatu yang sebelumnya adalah asing baginya, tak mengenal, tak disuka, bahkan dirasa sulit untuk dilakukan.

Berbahagialah yang mencoba sesuatu yang baru, melihat dunia yang belum pernah terlintas, menelisik sudut pandang yang berbeda, yang tak biasa

Berbahagialah. Ketika gaya statis akan berubah menjadi dinamis. Dan sedemikian rupa, kita upayakan gerakan itu menjadi berlipat ganda, mengalami percepatan, akselerasi. Bersiap menjalani semuanya, jatuh, bangun, jatuh lagi, bangun lagi. Sampai suatu saat keniscayaan hadir, saat dipanggil oleh-Nya.

“Dan barangsiapa yang berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak…” (An-Nisaa [4]: 100)

Selamat merindukan Ramadhan. Dalam rindu, kebaikan selalu dapat dilakukan. Dalam rindu, harapan selalu ada untuk yg beriman.

Keep cheers! πŸ™‚