Bertasbihlah Entitas Semesta

Wahai semesta jagat maya… 😀

Saya memohon maaf atas segala salah khilaf sangka dan duga…

Mohon maaf atas semuanya… maaf… maaf… maaf… =)

Saat kita terbata untuk mengeja spirit yang hilang…

Mencoba lagi bangkit dengan berpayah…

Karena lelah kita yang kini hanya bersifat sementara…

Akan ada lelah-lelah selanjutnya, yang lebih besar, dan harus dipersiapkan…

Dear saya dan semua para penjelajah maya,

Sungguh, meski niat yang masih terbata, pun ilmu yang masih terkoyak. Izinkan kami, wahai Allah, untuk selalu menyempurnakan niat menjadi bangunan yang indah disertai ilmu yang melengkapi berkah. Mudahkan kami dalam memperbaiki diri, dan memperbagus akhlak. Dan janganlah biarkan kami berputus asa dari rahmat-Mu…

*pun maya atau nyata, selalu ada celah kebaikan bahkan keburukan, sekuat yang kita bisa, menyampaikan dan mengambil apa yang menjadi kebaikan, bukan sebaliknya. Dan… She said:*sstt, gak boleh berburuk sangka, sama halnya dengan gak boleh buat orang lain berburuk sangka kepada kita. okey. Me: wuidih… bener… benerr ituhh ^^ (dalam hati, jleb T_T)

 

Baiklah.

Selamat menempuh sucinya Ramadhan… ^_^

 

 

 

Neurotransmitter

Semoga tiap kata tak hanya mengandung ilmu, tapi juga melahirkan dzikir. Semoga tiap kalimat tak hanya menambah wawasan, tapi juga ketaqwaan. (SAF)

Ditengah tenggelam dalam buku beliau yang berjudul bla bla bla 😀 sejenak terhenti saat sampai pada kalimat diatas. Sekilas teringat pada beratus tulisan yang telah tersebar entah sampai dimana gerangan. Tulisan tentang apapun itu, kapanpun itu, dan dibaca oleh siapapun itu. Sekilas juga teringat akan sebuah tulisan yang mampu mengubah. Mengubah cara pandang, mengubah cara memahami, dan mengubah cara berkehidupan. Contohnya dari kita yang dulu menjadi kita seperti sekarang ini :p

Sebagai seorang yang berasa banget jadi penulis padahal mah engga. Saya harusnya bertanggung jawab atas tulisan-tulisan yang pernah saya buat. Jadi nanti kalau ditanya, “Apa alasan kamu menulis ini… ituu… kamu tau gak dampaknya seperti ini… seperti ituu…?” Allah… saya gak tau bakal sanggup jawab atau enggaaa 😦

Apalagi kalau maksud yang ingin sampaikan tidak tersampai baik ke yang membaca, dan lebih paranya lagi bila pesan yang tersampai adalah sebaliknya. Berarti ada yang salah dalam tulisan itu, entah itu niat, proses, atau hasil dari tulisan itu. Sehingga pesan yang ingin tersampaikan menjadi bias, ambigu, dan multitafsir.

Merupakan suatu karunia Allah SWT yang menciptakan berbagai macam media untuk makhluknya agar dapat berkomunikasi, mengutarakan ide, menyampaikan pesan, dan mengambil pelajaran dan hikmah. Semuanya ditujukan untuk kebaikan manusia, namun bila tidak digunakan dengan semestinya media-media itu akan menjadi sumber prasangka, perpecahan, dan permusuhan.

Sereemm.. >.<

Nah, akhir-akhir ini, yang sedang naik daun adalah si Miss Kom. Mba Miss Kom bagai penyusup yang hadir ditengah-tengah orang-orang yang sedang berukhuwah, bersaudara. Mba Miss Kom pun kadang dijadikan kambing hitam atas segala permasalah yang ada. Mba Miss Kom layaknya jelangkung yang datang tak diundang dan pulangpun tak diantar.. pfft. Padahal si Mba (udah pake mba pake miss pula hihi :p) tak perlu hadir kalau manusia-manusia yang sedang berkomunikasi itu mencoba saling mengerti satu sama lain, memanfaatkan media komunikasi yang tersedia dengan baik, kalo gak sms kan bisa telpon, kalo gak telpon kan bisa ketemu langsung, kalo gak ini kan bisa itu… apapun itu (Apapun itu, yg namanya omangan di praktekin itu yg susyeh riss!). Kemudian berprasangka baik, tidak berspekulasi, tidak berasumsi, tidak berstigma, tidak berparadigma.. atau apalahh itu yang bisa membuat kedua belah pihak yang sedang berkomunikasi menjadi antipati, apalagi sampai memutus silaturahim.

Menulis, membaca, berbicara, mengerti, dan memahami. Semua kata kerja itu seakan menjadi satu bagian kita yang merupakan makhluk sosial. Makhluk yang fitrahnya berjamaah, dan berpasangan. Komunikasi menjadi penting saat kita berusaha untuk membangun suasana berorganisasi yang baik, bersosial, dan berukhuwah.

Sebagai pengguna berbagai macam media komunikasi yang ada saat ini, butuh adanya filter diri yang bisa membantu kita untuk menghindari adanya pengaruh-pengaruh yang tidak diinginkan. Ditambah lagi dengan semaraknya kegiatan kepo mengkepo.. Haha. Hayoo yg suka kepo siapa? (sayaa!! :p). Seperti katanya siapa yak… katanya.. Habis kepo terbitlah galau.. nah loh, itu yang bikin kalimat itu pasti sering banget berspekulasi dan berasumsi yang tidak sesuai dengan kenyataanya. Hehe. Yup, tempatkanlah kepo pada tempatnya, seperti arti dari kepanjangannya: Knowing Every Particular Object. Kepolah pada hal-hal yang perlu dikepoin ;p

Yahh begitulah sodara-sodara. Bijak-bijaklah kita dalam saling mengutarakan pesan, berita, dan pemikiran. Menyampaikan dengan baik, lugas, tajam, dan terpercaya. Hehe. Hindari pesan yang ambigu, multitafsir, dan bias. Supaya tidak terbit prasangka diantara kitaa.. *tsaahh 😀

Titip pesan lewat Allah, semoga apa yang kita ingin sampaikan, selalu menjadi kebaikan dan keberkahan.

Ya perlu saling pengertian, jangan cuma pengen dimengerti aja |

Iya gitu ya mbak.. bener juga sih… trus gimana dong? |

Ya, kita masing-masing mesti instrospeksi diri, karena semua orang itu diciptakan dengan keunikan. Kita yang harus menyesuaikan dengan lingkungan. Harus banyak bertemu dengan lingkungan yang berbeda, supaya lebih belaja beradaptasi lagi… |

Sipp. Keren deh mbak ini :D.|

*Sekelumit pembicaraan di kantor hari ini 😀

Keep Cheers All!

Dan kita sebut itu dengan membaca… membaca buku, membaca keadaan, membaca perubahan, membaca hati… Bacalah… Dengan nama Tuhan yang menciptakanmu.

Pseudo…

“Hai kaumku, Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan Sesungguhnya akhirat Itulah negeri yang kekal.” (Q.S. Al-Mu’min: 39)

Dan Ternyata…

Semuanya hanya cukup untuk disimpan di tangan, agar mudah berlepas saat sudah seharusnya dilepas.

Semuanya hanya cukup untuk disimpan di tangan, agar fluktuasi perasaan semudah membalik telapak tangan, syukur sabar dalam wktu bersamaan.

Semuanya hanya cukup untuk disimpan di tangan, atas perncanaan, yang kita tengadahkan pada yg Maha Mengabulkan, di-Aamiin-kan oleh langitan.

Semuanya hanya cukup untuk disimpan di tangan, melepas membuat kita tidak kehilangan, dan menyambut pengganti terbaik yg berbondong datang.

Dan dunia…. Semuanya hanya cukup untuk disimpan di tangan 🙂