Dopamin

dan kita hanya mampu berpegang teguh pada kekata-Nya…

Tak seorangpun mengetahui nikmat yang menanti, yang menyenangkan hati, sebagai balasan atas apa yang dikerjakan (Q.S As-Sajdah: 17).

yang saat itu, kita akan tergugu, tersimbah air mata haru… tersentak akan sesuatu nikmat yang tidak pernah disangka, tidak pernah diduga… oleh Dia yang selalu menepati janji, oh tidak… tidak hanya janji, namun juga memberi, sehingga yang terpatri pada kita lebih dari sekedar harap, namun juga percaya pada-Nya.

“Janji menerbitkan harapan, tapi pemberian melahirkan kepercayaan.” (Anis Matta)

Biner

Hanya ada nol dan satu untuk membahasakan apa-apa yang ingin disampaikan. Hanya ada nol dan satu untuk mengerti apa-apa yang ingin dipelajari. Hanya ada nol dan satu. Sedih dan gembira, sabar dan syukur, hitam dan putih…

“Niat seorang mukmin itu lebih baik dari amalnya” (Riwayat Baihaqi)

Diam, berhenti sejenak, berpikir dan memeriksa ulang. Perihal niat kita untuk bertahan di jalan ini. Jika niat benar selayaknya semangat tak akan pernah padam. Jika niat benar selayaknya berkorban tidak mengharap balasan.

Mengapa kita mudah kecewa saat orang lain tidak memberikan apresiasi yang semestinya atas amal, usaha, dan prestasi kita, bukankah sejak awal yang kita harapkan hanya ridha Allah semata? Mengapa kita marah saat orang lain mencibir jerih payah kita, bukankah yang kita nantikan hanya semata hanya pujian dari-Nya? Mengapa kita menyesali diri saat kita tidak mendapatkan apa-apa di sini, bukankah sejak semula kita memang niatkan untuk mencari pahala dari Allah, bukan mengharap piala dari manusia?

Mengapa kita mudah tersinggung, mudah marah, dan mudah mendendam pada saudara kita? Bukankah sejak awal kita disini untuk mecari teman dan memperbanyak saudara? Lalu kenapa kita kecewa? Jangan kecewa pada orang lain, karena yang pantas dikecewakan hanyalah diri kita sendiri.

“Manusia dibangkitkan kembali kelak sesuai dengan niat-niat mereka” (Riwayat Muslim)

Dan kita hanya tinggal memilih… hanya untuk dunia atau setelahnya…


When she was just a girl 

She expected the world 

But it flew away from her reach so 

She ran away in her sleep 

And dreamed of

Para-para-paradise, Para-para-paradise, Para-para-paradise

Every time she closed her eyes 

 

Image

“Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.” (HR Bukhari-Muslim)

Autoimun

Setelah lagunya mang Jason di remake sama bang Raef… lagu ini jadi tambah keren bangetnya maksimal 🙂


Well I’ve done-done wrong and you bet I felt it
I tried to be chill but it was so hot that I melted
I fell right through the cracks
And I’m trying to get back!
Before the cool done run out
and I’ll be giving it my bestest
And nothing’s going to help me but divine intervention
I reckon it’s again my turn…to win some or learn some!
So I won’t hesitate no more, no more
This cannot wait, I’m Yours! Rabbee I’m Yours!!

Well open up your mind and see like me
Open up your plans and man, you’re free!
Open up your heart and you’ll find love, love, love 🙂
Listen to my music and maybe sing with me?
I love peaceful melodies
It’s our God-forsaken right to be loved, loved, loved, loved, loved!

So I won’t hesitate no more, no more
This cannot wait I’m sure
There’s no need to complicate
Our time is short
This is our fate, Rabbee! Rabbee! I am Yours!

I’ve been spending way too long checking my tongue in the mirror
And bending over backwards just to try to see it clearer
and my breath fogged up the glass
So I drew a new face and laughed 😀
I guess what I be saying is there ain’t no better reason,
to rid yourself of vanities and just go with the season
It’s what we aim to do
Our name is our virtue!

So I won’t hesitate no more, no more
This cannot wait I’m sure
There’s no need to complicate
Our time is short
This is our fate, Rabbee! Rabbee! I am Yours!
Rabbee, Rabbee, I am Yours!
Rabbee, Rabbee, I am Yours!
Oh, Rabbee, Rabbee, I am Yours!


Yup! And I’m trying to get back!

“… Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nyalah aku kembali”. (Huud: 88)

Transformasi Simetri

Inbox:
“Ris, baca 5 cm ya!”

dalam hati setelah terima sms:
nih si emba ujug-ujug sms gini doang? hihi. ehiya juga sih dulu pernah bahas buku ini waktu perjalanan ke Surabaya, buku yg sebenernya saya sudah pernah mengikuti bedah bukunya di tahun 2008, tapi belum sama sekali baca bukunya. nahloh :p pas diceritain mbaknya jd tambah penasaran deh 🙂

“oke mbaaaaa… doain aku segera dapet bukunya ya hihi :)”
sent.

Jalan di gramed bogor, entah kenapa buku yang pertama dilihat adalah buku ini… diem sebentar, mikir, liat sampul, tertulis “goodreads Indonesia…” hmmm. ah minjem aja deh, berlalu, balik lagi, liat sampul belakang. deg! ambil, bayar… 😀

Menelusuri lembar-lembar awalan. “Gila ancur banget ya ni bocah lima” pikir si belagu yang lagi baca novel 5 cm. Terusin, ayo bertahan-bertahan, walau 5 bocah ini gak seidealis yang elo kira ayo baca sampe abis! si belagu akhirnya nurut kata hati yg satunya lagi. Dan… beberapa penggal kalimat yang terekam jelas oleh si pembaca, membuatnya berpikir ulang bahwa hikmah itu memang ada dimanapun, darisiapapun, tergantung dari kita mau menyimpannya atau enggak 🙂

                                                                       ***
 
“Tapi kan ada yang lebih penting dari sekadar selera…,” ” Yang penting kan kita bareng-bareng terus berlima, menghargai pendapat semuanya, selera semuanya, ketawa buat semuanya, sedih buat semuanya, Lagian kita jangan pernah saklek bilang nggak suka sama sesuatu karena nggak ada yang saklek dan pasti di dunia ini, semuanya berubah. Satu-satunya yang pasti di dunia ini adalah ketidakpastian” Genta berfilosofi sendiri mengutip kata-kata Albert Einstein.
 
Nah gini nih, kalo masih ribet sama yang namanya debat tentang bagusan apa, kerenan siapa, pentingan mana, baikan dan jahatan siapa, dan sebagaimacamnya… plis deh udah gak jamannya, atau perdebatan itu bakalan gak ada abisnya, karena di dunia gak ada yang benar-benar mutlak. semuanya relatif, pinter relatif, cantik relatif, baik relatif, jahat relatif, sholeh relatif. yang mutlak hanya pencipta semua yang relatif itu 🙂
 
“Ini semua bukan tentang selera, tentang musik, tentang bola, apapun itu. Itu semua kecil banget dibanding kalo kita bisa menjadi orang yang membuat orang lain bisa bernapas lebih lega karena keberadaan kita di situ”
 
“Yang penting kita jangan pernah ngomongin kejelekan orang kalo orangnya nggak ada. Kita nggak akan bantu dia, soalnya dia nggak ada di situ, dan emang kalo ada kejelekan orang, langsung aja bilang ke orangnya. Dengan begitu kita bantu dia mengerti akan dirinya…”
 
yup setuju banget! apalagi kalo pake kode-kode, isyarat-isyarat geje, bahas ambigu dan multitafsir 🙂
 
“Don’t stop me now, I’m having such a good time…
I’m burning to the sky
Two hundred degrees
that’s why they call me Mr. Fahrenheit…
I’m driving to the speed of light…
Don’t stop me now…
 
“IQ tahu?”
“Intelectual Quotient…”
“Itu mah kepanjangannya. Artinya apa?”
Ian mencoba menjawab. “Tingkat kecerdasan seseorang yang diukur memakai derajat kecerdasan intelektual, bisa dites pake tes IQ, pokoknya kecerdasan yang menyangkut aspek-aspek nyata manusia. Misalnya, dalam menerima dan menangkap pelajaran. Intinya, kebanyakan orang yang IQ-nya tinggi pasti bisa dibilang pinterlah, Pak. Kecerdasan rasional, dua tambah dua sama dengan empat.”
“Kalo EQ”
“Emotional Quotient, tingkatan ukur buat kecerdasan emosional, yang udah diakui lebih penting daripada IQ karena kecerdasan Emosional mengambil aspek tidak nyata dari kecerdasan manusia. Karena EQ memberikan gambaran tentang sikap manusia akan dirinya yang sudah pasti punya emosi. Emosi inilah yang memegang peranan penting bagi manusia karena emosi kalau bisa dikendalikan akan sangat membantu manusia, kalau tidak dikendalikan bisa berbahaya”
 
Sekilas habis baca ini, jadi termenung sendiri. Semua orang itu pada dasarnya pinter, dan orang pinter itu, supaya tambah sukses, emosinya juga harus bener 🙂

“Orang yang paling bijaksana adalah orang yang mengetahui bahwa dirinya tidak tahu” Socrates.
 
Dibuku ini, emang kalian bakal temuin, si Socrates, Plato, Sigmud Freud, Aristoteles, dan filsuf-filsuf jaman yunani kuno. Hmmm… pasti ngeh deh sama mereka. Tapi, siapapun mereka, pegangan terus ya, sama keyakinan kita, dan ambil yg baik-baiknya aja dari mereka 🙂

“Orang yang bener-bener hidup untuk kebaikan memang hidupnya akan selalu dikenang orang lain”
 
“Woman was created from the ribs of a man
Not from his head to be above him
Nor from his feet to be walk upon him
But from his side to be equal
Near to his arm to be protected
and close to his heard to be loved”
 
“Sebuah negara tidak akan pernah kekurangan pemimpin apabila anak mudanya sering bertualang di hutan, gunung, dan lautan.”
 
Beh! keren, seenggaknya yang pernah gabung sama aktivis pramuka dan PMR termasuk yah yah yah 🙂

“Don’t go trying some new fashion
Don’t change the colour of your hair
You always have my unspoken passion
although I might not seem to care
I don’t want clever conversation
I never want to work that hard
I just want someone that I can talk to
I want you just the way you are…”
 
“Manusia internal dan Manusia eksternal”
“Manusia eksternal adalah manusia yang selalu memandang sesuatu yang terjadi pada dirinya sebagai akibat keadaan yang terjadi di luar dirinya. Manusia ini beranggapan bahwa semua keadaan atau segala kejadian yang menimpa dirinya itu disebabkan oleh keadaan eksternal di luar kendalinya. Manusia yang selalu menyalahkan keadaan.”
“Manusia internal adalah manusia yang akan selalu melihat dahulu apa yang salah dalam dirinya, bukan lantas menyalahkan keadaan. Dia selalu punya sikap yang gak mau kalah sama keadaan.”
 
“Sesungguhnya setiap manusia memang diberi kebebasan memilih. Memilih di persimpangan-persimpangan kecil atau besar dalam sebuah ‘Big Master Plan’ yang diberikan Tuhan kepada kita semenjak lahir. Jadi semuanya ke masalah pilihan.”
 
“Muhammad SAW pernah bilang, kalo kamu punya unta, serahkanlah unta itu pada Allah. Tapi jangan lupa, unta itu juga harus diikat. “Intinya jangan menyerah sama keadaan, harus ada usaha””
 
Ada satu bagian dimana mereka bahas tentang rumus relativitasnya Einstein E=m.c (kuadrat) dan itu keren banget. Baca sendiri ya di bukunya 🙂

Pemimpin itu nggak boleh menurunkan mental, nggak boleh ngeluh, nggak boleh ngomong nggak tau, nggak boleh nggak ngambil keputusan”
 
dan saya paling sebel kalo nanya orang dan dia jawabnya cuma “gak tau…” berasa gak ada usahanya untuk cari tau, setidaknyanya usaha dulu baru bilang, mohon maaf ya, sepertinya saya kurang tahu pasti. mungkin kamu bisa tanya ke siapalah gitu. 😀 tapi ya juga jangan sok tahu 🙂 
-padahal saya suka gitu juga wwkkwkw…-

“Sebobrok apapun negeri ini, tapi semenjak lahir cuma tanah ini tempat kita berpijak dan airnya yang menghidupi kita setiap hari”
 
“Mimpi-mimpi kamu, cita-cita kamu, keyakinan kamu, dan apa yang kamu kejar taruh si sini… jangan menempel di kening, biarkan, dia menggantung, mengambang 5 centimeter di depan kening kamu. Nggak akan pernah lepas dari mata kamu. dan sehabis itu yang kamu perlu cuma kaki yg berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yg akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yg akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, dan hati yg akan bekerja lebih keras dari biasanya. Serta mulut yg akan selalu berdoa.”
 
“Dan, cinta sekali lagi membuktikan kekuatannya malam itu kalau cinta ada untuk cinta itu sendiri, bukan untuk dimiliki. Cinta memang ada untuk dicintai dan diungkapkan sebagai sebuah jembatan baru ke pelajaran-pelajaran kehidupan selanjutnya. Cinta yang akan membuat manusia lebih mengerti siapa dirinya dan siapa penciptanya. Dan, dengan penuh rasa syukur akhirnya manusia menyadari bahwa tidak ada cinta yang paling besar di dunia ini kecuali cinta Sang Pencipta kepada makhluknya.”
 
Indeed! 🙂
 
“…yang bisa dilakukan seorang makhluk bernama manusia terhadap mimpi-mimpi dan keyakinannya adalah mereka hanya tinggal mempercayainya…”
 
akhir kata…
cita-cita tertinggi adalah surga. proses terbaik adalah mengharap ridha-Nya
🙂
 
Image
 
Dengan latar cerita saat pendakian ke puncak Mahameru, bulat sudah tekad di suatu hari nanti dapat melihat gunung di bawah kaki sendiri. InsyaAllah 🙂

Distorsi

Adalah ketika bapak-bapak menyembur asap rokok yang rupanya bagai jin keluar dari lampu ajaib. Bedanya ini tak membuat kita bahagia karena tiga permintaan yang ditawarkannya. Asap yang keluar ini tak jauh lebih baik dibandingkan asap yang keluar dari kendaraan bermotor, serupa kadar menyebalkannya. Terkadang jurus pertama akan yang dikeluarkan adalah pura-pura batuk, agar terkesan, “Eh! nih gue batuk gara-gara rokok eloh! Ish”. Bila tidak ampuh, cara kedua adalah dengan mengibaskan tangan, seraya memasang raut muka cemberut dan melihat sinis ke arah si perokok. Agar terkesan, “Eh gue bener-bener gak nyaman nih.” Bila tidak sadar juga, cara paling terakhir adalah, berkata pada si perokok, dengan santun dan anggun. Atau dapat juga mempertahankan raut cemberut dan sinis. Bergantung pada mood, situasi dan kondisi. “Pak, bisa tolong matikan rokoknya?” Cara ketiga ini mayoritas berhasil tapi terkadang, si perokok menambah kekuat hembusan asapnya. Ngeyel. Memuat alibi dan alasan, bagai terdakwa sebuah kasus yang tak mau mengaku. “Kalo ada conan, udah disepak kali pake bola yg ditendang pake sepatu khusus. Beh!” Dan kenyataanya, kita hanya bisa beristighfar, sambil menutup hidung. Pasrah. Sambil berdoa, “Ya Allah, jauhkan hamba dari keburukan asap rokok” Aamiin.

Adalah lain ketika menaiki angkutan umum saat akan bepergian. Memang, kita bisa naik dan turun sesuka hati kita. Tapi, dapat dipastikan akan bertemu dengan abang angkot yang sabarnya luar biasa, sabar menunggu penumpang angkot yang kalau diperkirakan secara statistik probabilitasnya sangat rendah. Sampai-sampai ingin rasanya menasihati si abang dengan, “Bang! beneran deh, mendingan elo move on, daripada nunggu yang gak pasti gini. Ck!” Tapi apa daya, abang-abang angkot se-Indonesia seperti sudah memiliki konspirasi tersendiri untuk tetap melakukan ritual “Nge-Tem”. Kemudian, masih tentang per-angkutan umum. Entah mengapa para supir di Indonesia ini sangat sayang sama mobil antiknya, yang harusnya sudah dimuseumkan tapi masih aja dibawa jalan kemana-mana. Murahhh sih, tetapi, kalau tiba-tiba mogok tengah jalan jadi tetap saja bikin mati gaya #pppfftt 😐 Dan dengannya, peribahasa tentang waktu adalah uang, benar adanya. Untuk efisiensi waktu dalam menempuh suatu perjalanan, kita harus mengeluarkan uang lebih. Sebaliknya, bila dengan uang yang pas-pasan, durasi yang dihabiskan untuk sekali perjalanan sangat memakan waktu, tidak efisien, walau dengan jarak yang sama. 

Benar-benar distorsi, tak wajar, tak normal, menyimpang, menganggu, collaps.

Apalagi kalo kita tambah kedistorsian yang lain, ya macet lah, banjir, anak jalanan, pencuri, korupsi, birokrat dan birokrasi, hilangnya pesawat sukhoi, liberarisme mbak manji, dan lain-lain, dan kawan-kawan, dan sebagainya. Ahsudahlah~

Sehingga, apabila kondisi demikian menimpa kita. Maka, distorsi sedistorsi-distorsiya yang akan memuka kepermukaan adalah saat kita mempertanyakan, kenapa kita terlahir sebagai orang Indonesia. Sigh. Kenapa tak menjadi orang jepang, US, jerman, dan negara yang dirasa aman, nyaman, tentram, makmur, sejahtera, sentosa tiada tara. Apalagi kalo kita-nya itu pernah bermukim di negeri sana, dan saat pulang ke Indonesia, sindrom membandingkan menjadi penyulut emosi jiwa. Arrgh. Kemudian akhirnya balik lagi ke negara seberang dan memilih untuk tak pulang. Plis jangan ya 😦

Sah! Banget apabila kita merasa distorsi seperti itu. Karena kita Manusia. Namun, bila tak ingat tentang, “ketidakbersyukuran akan menambah derita itu sendiri” maka sepanjang kita hidup di negara bernama Indonesia, hidup kita bisa dipastikan akan selamanya menderita. “Gak mau kan?” Iya saya pun tak rela menderita sepanjang hayat. 

Nah, bagaimana caranya agar kita terhindar dari menderita sepanjang masa. Yakni dengan bersyukur dengan apa yang ada. Kini dan disini.

“Ahh klise!”

Ya memang klise, dan akan tetap menjadi klise kalau tak kau cuci agar menjadi foto :p

Setidaknya syukur adalah kata dasar yang kita pegang agar tetap berharap sambil berbuat. berbuat sambil berkontribusi. Berkontribusi sambil bersinergi. “Gak bisa tuh kalo bergeraknya sendiri, sendiri, maunya sendiri, dan pake aturan yang hanya menguntungkan diri sendiri, ish! silakan ke laut aja :p”. Bersinergi adalah bergerak bersama dalam aturan Allah. Aturan yang paling mutlak yang pernah ada. Dengan begitu, kita akan mereduksi distorsi yang ada, menghubungkan neuron-neuron yang uniselular menjadi multiselular, bersinapsis, berpadu dalam jaringan, sehingga mampu menyalurkan dengan cepat sinyal rangsangan yang ada, dan mengeksekusi dengan tepat dengan gerakan yang nyata.

Gerakan nyata bersama membenahi Indonesia. Indonesia, tubuh kita. 🙂

***

*neuron: sel saraf
*sinapsis: tempat berinteraksi antara neuron yang satu dengan yang lain sehingga membentuk jaringan saraf.

Myopia

Rabun jauh, sejauh mata memandang, yang dilihat hanya sekitar kita bahkan diri kita. Saya sebagai penderita paham betul bagaimana rasanya jika lepas dari yang namanya lensa bantu penglihatan alias kacamata… tapi enaknya kita bisa lepas kacamata kalo gak pengen liat yang aneh-aneh, macem-macem atau gak penting huehehe :p tapi dbalik itu, tetap mata adalah organ terpenting yang salah satunya mempunyai fungsi untuk memperhatikan.
 
Sampai disini, memperhatikan merupakan makna yang hanya terbatas pada visualisasi, bila diperlebar maka, memperhatikan, perhatian, diperhatikan, ternyata bersumber pada kata dasar, Hati… 

Ada beberapa kalimat yang saya dapat dari buku yg dipunyai oleh teman sekampus saya, kiranya seperti ini:
“Perhatian adalah pemberian jiwa: semacam penampakan emosi yang kuat dari keinginan baik kepada orang yang kita cintai. 
Tidak semua orang memiliki kesiapan mental untuk memperhatikan. Tidak juga semua orang yang memiliki kesiapan mental memiliki kemampuan untuk terus memperhatikan. 
Memperhatikan adalah kondisi dimana kamu keluar dari dalam dirimu menuju orang lain yang ada di luar dirimu. Hati dan pikiranmu sepenuhnya tertuju kepada orang yang kamu cintai. 
Itu tidak sesederhana yang kita bayangkan. Mereka yang bisa keluar dari dalam dirinya adalah orang-orang yang sudah terbebas secara psikologis. Yaitu bebas dari kebutuhan untuk diperhatikan. 
Mereka independen secara emosional: kenyamanan psikologis tidak bersumber dari perhatian orang lain terhadap dirinya. Dan itulah musykilnya. Sebab sebagian besar orang lebih banyak terkungkung dalam dirinya sendiri. 
Mereka tidak bebas secara mental. Mereka lebih suka diperhatikan daripada memperhatikan. Itu sebabnya mereka selalu gagal mencintai” (AM)
 
See?
ternyata lebih nyaman memperhatikan daripada diperhatikan kan?
untuk dapat memperhatikan kita harus selesai dengan diri kita sendiri, kalau belum selesai juga, ya terus menerus harus berusaha untuk menyelesaikan diri, caranya meningkatkan kapasitas, memperbaiki diri, tidak pernah merasa puas, ujub, bangga, sombong, jumawa, and the genk 😀

saya hubungkan makna memperhatikan ini pada konteks kontribusi, 
kontribusi mengarah keluar, tak hanya fokus pada diri sendiri, tapi juga orang lain. 
kasarnyaaaa, ngurusin orang lain! ;p 

woii ngapain juga ngurusin orang lain? ngurusin diri sendiri aja belum benerr lu

Yah kan udah gue jelasin di paragraf sebelumnya, dengan ngurusin orang lain, kita juga jadi semangat buat ngebenerin en nyelesain maslah kita sendiri, seiring lah, sambilan gitu bray:p

Aah elah, ngapain ngurusin orang, trus yang ngurusin kita siapa?

lupa sama hadist tentnag Allah yang bakal nanggung semua kebutuhan kita saat kita memperhatikan urusan saudara kita? 

et dahh alim amat lu, tapi emang bener sih… pfftt 
 
nyeheheh, sudah makan dulu sanah :p


Ya gitu deh ya, pokonya mah begitulah. Kesimpulannya, jadi penderita myopia itu gak enak bener dah! makanya, kita perlu pake kacamata supaya bisa melihat sejauh mata memandang, memperhatikan seluas jangkauan yang kita punya, berkontribusi dengan segala daya dan upaya. 😀 cheers!
 

    * * *

“Seorang muslim adalah saudara untuk muslim yang lain, tidak menzhaliminya dan tidak menyerahkannya kepada musuh (membiarkannya disakiti), barangsiapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya (muslim) maka niscaya Allah akan memenuhi kebutuhannya, barangsiapa yang menghilangkan kesusahan seorang muslim maka niscaya Allah akan menghilangkan kesusahan-kesusahannya pada hari kiamat dan barangsiapa yang menutupi aib seorang msulim maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat“. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Homeostasis

Bukan salah hujan. Bukan kok. Apalagi salah aspal… Jadi salah gueh? Salah temen-temen gueh? Bukaaan tapi itu, salah eloh, dan temen-temen manusia elohhh. Oh. oke ini lebay, tadi itu ceritanya si banjir yang lagi angkat bicara…

Dan sekarang kami yang berbicara, manusia.

Iya, ini salah kami. Para Homo sapiens. Kasta mamalia tertinggi. Yang tak mengerti bagaimana harus berbuat dengan sebenar-benarnya untuk mendiami bumi tempatnya tinggal untuk sementara.

Iya, ini salah kami. Yang mayoritas tak mengerti apa yang harus diperbuat sesampainya kami pada fase kehidupan dunia yang membuat kami terlena dan menganggap dunia adalah segalanya. 

Iya, ini salah kami. Para pemilik dua mata yang hanya mampu melihat gelombang cahaya sinar tampak dan terkadang tak paham ada lebih banyak lagi alunan gelombang yang kami tak bisa menjangkaunya. Tak terhingga.

Bebas nilai untuk ilmu, namun terkadang tidak untuk teknologi. Seperti kata Pablo Picasso, Every act of creation is also an act of destruction, lalalaa~ gak usah dibuat patokan serius-serius amatlah pernyataan beliau ini, intinya sih saya cuma ingin mengambil sekelumit pikiran dia tentang kreatifitas, yang kalau tidak dikelola dengan baik, maka yang terjadi bukan kemajuan tetapi kehancuran.

Tentang kreatifitas yang menghasilkan teknologi, itu seperti suatu keniscayaan. Kehidupan manusia sehari-hari pada dasarnya adalah terapan ilmu dan teknologi, baik dikembangkan secara sadar maupun tidak. Pengembangannya secara sadar akan menyebabkan terapan teknologi menimbang berbagai ilmu dan pengetahuan kehidupan kemanusiaan lainnya, seperti ekonomi, sosial, politik, budaya, dan agama.

Teknologi, terkadang tepat atau malah tidak cocok diaplikasikan ke tempat yang bukan asalnya. Maksudnya, negeri kita ini terkadang terlalu gegabah mengadaptasi teknologi yang berasal dari negeri seberang yang lain, sehingga bukannya sustaining malah terjadi disruptive. Entah maksudnya apa, tapi yang pasti harusnya teknologi itu membantu, memudahkan, menguntungkan, dan meramahkan lingkungan. Tapi, kerap kali yang kita lihat malah sebaliknya. Let see the banjir, lumpur, kebakaran, mutasi genetika, pengangguran, marjinalisasi, kemiskinan, keterpurukan, kesedihan, kesengsaraan, keterasingan, kegaulauan… Hikshikshikss… (cukup! cukupkan kenyataan ini… ris!)

Pernah lagi saya berdebat dengan teman sebelah kamar kost saya, mengenai hebatnya teknologi yang sedang berkembang saat ini, saya yang seorang MIPA-ers sangat menggebu-gebu tentang perkembangan teknologi ini, itu, dan kawan-kawan. Dan dia adalah seorang Ekologi Manusia-ers (Fakultas Ekologi Manusia- FEMA IPB) yang membantah terang-terangan karena menurutnya teknologi itu hanya akan membuat manusia sengsara, polusi, limbah, hilangnya plasma nutfah, kelestarian alam terganggu, perubahan sosial, urbanisasi, hilangnya kealamiahan, budaya lokal terusik, dan macam-macamnya telah saya sebutkan diatas. Pfftt… dan debat itu pun berakhir dengan damai karena kita langsung beralih ke topik lain… Haha… dasar wanita selalu punya stok banyak buat cerita  (Pada intinya pembahasan tentang teknologi dan manusia itu tidak selesai – -“)

Oh yaa… Saya pun tak menyarankan kita masih mempertahankan budaya jaman batu yang masih ha ha hu hu hu hah haah, atau komunikasi dengan mengandalkan pukul-pukulan batu dikepala. Tentu tidak. Karena teknologi pun akan mendukung peradaban dan kualitas sumber daya manusia.

Teknologi yang baik akan menyesuaikan dengan ketentuan pencipta-Nya. Sebagai ilmuwan dan teknolog yang berbudi luhur, rendah hati, rajin menabung, dan menyiram tanaman, sudah selayaknya kita berupaya menjadi seperti itu. Kita, berpegang teguh pada keknologi yang menerima peranan Tuhan didalamnya, tak seperti, teori evolusi Darwin, determinisme Newton hingga penggunakan senjata pemusnah massal, bom atom, danBioweapon. Lahirnya teori ekonomi komunis maupun neoliberal pun dianggap sebagai sains teknologi yang menolak peranan Tuhan.

Dengan menimbang, manganalisis, dan melihat peluang pengembangan teknologi yang ramah lingkungan, tepat guna, dan kerakyatan, mungkin akan memilimalisir terjadinya kerusuhan yang diakibatkan oleh pemanfaatan teknologi. Kalau tidak lihat saja, nanti manusia akan menerima pembalasan dari alam (jeng… jeng… jeng… seperti curcolan banjir di awal cerita). Karena bumi dan jagat raya akan selalu menyesuaikan agar selalu berada di titik keseimbangan. Juga manusia, yang sifat dan perilakunya akan selalu merupakan resultan dari perpaduanblueprint yang ada di dalam dirinya dengan lingkungan sekitarnya.

Ya, akan selalu menyesuaikan dan menyeimbangkan atas perintah-Nya.

Karena hujan yg jatuh tak pernah menyalahkan awan. Pun saat ia tertabrak aspal. Padahal ia rindu dengan tanah. -Diorama Seombak Banjir