Learning How to Learn #NHW5

Pembelajaran yang efektif sangat diperlukan bagi siapapun yang ingin belajar, mendalami suatu ilmu, bahkan mempelajari hal yang baru.

Saat masih menjadi siswa dulu, mungkin kita tidak sadar bahwa kita dipandu untuk belajar sesuai dengan kurikulum yang telah ditetapkan. Tentu saja, kurikulum bukan hal yang mudah untuk dibuat dan diikuti. Terbukti ada beberapa siswa yang ternyata tidak cocok dengan kurikulum yang ada, sehingga mungkin nilainya dibawah rata-rata. Belakangan ini, kita baru mengetahui bahwa cara manusia belajar berbeda-beda, sesuai dengan kecerdasannya, seperti visual, audio, kinestetis, dan sebagaianya…

Maka, saat ini kurikulum pun berubah-ubah sesuai dengan menteri yang menjabat di kemendikbud #eh. Apalagi baru-baru ini ada wacana untuk menambah jam belajar menjadi 8 jam perhari, dengan menerapkan pendidikan karakter yang didala waktu 8 jam itu ada kegiatan esktrakulikulernya. Hmm…

Padahal di Finlandia, yang mana negara maju dengan pendidikan paling bagus di dunia hanya menerapkan 4 jam sekolah yang berdasar irama sirkandian atau bioritmis anak-anak. Apalagi itu? Ya yuk mari kita gugling

Ditengah ketidakpastiannya kurikulum di Indonesia apakah kita lantas menyerah? Dan lebih memilih mendidik anak kita di rumah atau metode homeschooling? Mungkin itu menjadi salah satu alternatif pilihan. Karena membahas sekolah formal atau homeschooling sesungguhnya menjadi salah satu perdebatan sendiri dikalangan mamak2, disamping tema-tema lain hihi. Tapi semoga kita ga perlu ikut berdebat karena keduanya punya kekurangan dan kelebihan masing-masing, sehingga pilihan tergantung kondisi kesiapan ilmu yg kita miliki.

Pengaplikasian kurikulum itu sendiri dimulai dari kita sebagai seorang pendidik, minimal anak kita sendiri. Mau tidak mau kitalah yang pertama kali dipacu untuk “belajar”.

Membahas tentang penyusunan kurikulum, sebelumnya tentu kita harus memahami pentingnya belajar itu sendiri. Kenap harus terus belajar bahkan sampi ujung kehidupan kita nanti. Lalu, dimulai dari mana ya kira-kira? Dari hasil merenung, lintasan pikiran, dan berbagai bacaan saya pun merangkumnya sebagai berikut.

1. Memahami hakikat belajar.

Sebagai seorang manusia, kita perlu belajar agar kita mampu mengemban amanah menjadi manusia, berat ya 😅 Tapi tanpa belajar tentu kita akan banyak menemukan kesulitan kan? Belajar membuat kita lebih mudah menjalani kehidupan. Selain itu, belajar juga menjadikan kita orang yang lebih baik dari sebelumnya, mampu beradaptasi denvan lingkungan, menjadikan diri semakin bijak menghadapi kesulita atau kehagalan juga membuat diri bermanfaat untuk orang lain.

IMG_5238
sumber: muslimnote.com
IMG_5239
sumber: koleksi pribadi

2. Mengedepankan adab belajar, terkhusus adab kita terhadap ilmu dan adab terhadap guru.

Adab menjadikan ilmu yang kita pelajari menjadi berkah atau bermanfaat dalam kondisi apapun, mudah atau sulit. Sehingga adab kepada ilmu dan guru sangatlah penting. Misalnya, mencari ilmu dengan cara yang jujur, tidak dengan kecurangan. Menghormati guru yang memberi ilmu. Juga tidak merasa benar sendiri dari orang yang memberi ilmu.

3. Menelusuri sumber belajar yang terpercaya.

Tantangan kita di zaman yang penuh dengan informasi ini adalah memilah mana informasi yang benar dan tidak. Salah satu hal yang perlu dihindari adalah memilih ilmu dan informasi sesuai dengan yang diinginkan sehingga menutup diri dari informasi yang sesungguhnya itulah kebenarannya.

IMG_5241

4. Menemukan metode belajar yang cocok.

Kita atau anak kita dibekali keunikan tersendiri yakni karakter atau fitrah diri. Sehingga kita mencoba untuk menemukan ‘gaya’ yang pas untuk belajar.

IMG_5240

5. Mengatur rincian jadwal dan kurikulum agar tercapai target 10.000 jam terbang.

Jadwal dan kurikulum nantinya akan berkaitan dengan seberapa lama kita mampu fokus, meningkatkan memori, membagi materi, melakukan evaluasi, dan mengaplikasikan pelajaran.

Semoga dengan semangat belajar, minimal dalam belajar memilah informasi, kita mampu mencari informasi yang valid, mengedepankan adab mencari dan menerima informasi, sehingga meninimalisir terjangkitnya kita dari virus close mind, menutup diri merasa paling benar, share berita hoax, dan berdebat kusir di kehidupan maya juga nyata 😉

Aliran Rasa #4

Masihkah semangat belajar menjadi ibu profesional? Pertanyaan yang saya ucapkan kepada diri saya sendiri, hehe. Akibat sudah dua kali terlambat mengumpulkan tugas karena hal-hal yang kalau dipaparkan akan semakin memanjakan rasa excuse atau alasan demi alasan. Padahal kalau manajemen waktu, skala prioritas jelas, serta komitmen yang kuat, ga ada tuh yg namanya alasan T___T

Sekali lagi, saya harus menampar diri untuk teguh memegang komitmen untuk sesuatu yang saya sudah mulai. Dan bertekad tidak lagi menunda-nunda mengerjakan tugas. Dan mengingat kembali konsep komitmen atau istiqomah, jika memulai sesuatu itu berat, maka yg lebih berat adalah menjaga semangat agar terus beristiqomah… jadi, ya harus tetap semangaaat!

Oke, kembali kepada review tugas lalu, yakni NHW #4 tentang mendidik dengan fitrah. Dijelaskan bahwa untuk menjadi ahli dibidang tertentu maka kita perlu 10.000 jam terbang untuk menekuninya. Teori ini dipaparkan dalam salah satu buku Malcolm Gladwell dalam yang berjudul Outliers (2008). Sehingga perlu untuk mengatur waktu setiap harinya untuk belajar dan menenekuni bidang. Kemudian, saya tekadkan bahwa saya mampu meluangkan 5 jam selama seharu, maka kurang lebih 8 tahun akan menjadi ahli dibidang tersebut. Berkaitan dengan bidang yang akan saya tekuni, kurikulum yang akan saya perdalam adalah sebagai berikut;

Bidang ilmu yang akan ditekuni: Pemberdayaan Wanita meliputi parenting, literasi, dan pertanian.

Tahapannya adalah sebagai berikut:
Learn it! KM 0 – KM 1 = Ilmu Dasar (2 tahun); mempelajari ilmu dasar pemberdayaan, parenting, literasi, dan pertanian.

Do it! KM 1 – KM 2 = Praktik ilmu dasar (2 tahun);
Sambil mempraktekan pada unit terkecil yakni keluarga, manajemen waktu yang baik, manajemen rumah tangga dengan mengurangu food waste, menjaga lingkungan, kebersihan, menerapkan konsep reuse, recycle, dan reduce.

Make it! KM 3 – KM 4 = Membuat Karya Produktif (2 tahun); memiliki karya berkaitan dengan literasi dan pertanian. Diantaranya, buku nonfiksi, publikasi paper terutama bidang pertanian, dan buku pendidikan usia dini tentang pertanian.

Share it! KM 4 – KM 5 = Menginspirasi wanita lainnya (2 tahun); memberdayakan wanita sekitar.

Sumber-sumber pembelajaran:
Dari bangku kuliah yang saat ini sedang dilakukan, dari jurnal, buku dan belajar langsung dari masyarakat khususnya di pedesaan.

Sekali lagi, semoga komitmen dan istiqomah.. Aamiinn! Karena mungkin dalam perjalanannya ada hal-hal geje dan payah yang akan terjadi sebagai seorang wanita, istri, dan ibu. Namun, jika mengadapi kegagalan, harus selalu bangkit kembali. Seperti yang disampaikan oleh Jack Ma, pendiri Alibaba;

Never give up. Today is hard, tomorrow will be worse, but the day after tomorrow will be sunshine

Mendidik dengan Kekuatan Fitrah NHW #4

Pekan kemarin kelas matrikulasi memasuki tahap #4 dari proses belajar, maka dimulailah praktek dari beberapa ilmu yang telah dipelajari sebelumnya.

Saat melihat kembali tugas pada Nice Homework (NHW) #1. Jika ditanya kembali apakah saya akan tetap memperlajari ilmu yang sudah saya pilih sebelumnya mengenai pemberdayaan wanita yang berkaitan dengan parenting, literasi dan pertanian, maka jawabanya adalah Ya! Tentu saja 🙂

Kemudian dilanjutkan dengan membaca kembali NHW #2 apakah sudah konsisten untuk mengisi checklist harian, insyaAallah sedang diusahakan sehingga checklist ini menjadi sarana agar senantiasa memantaskan diri dalam menjadi ibu yang profesional.

Ketika masuk pada telaah kembali NHW #3 yang mencakup pengenalan diri sendiri, sehingga memahami tujuan penciptaan dan mensyukuri segala potensi diri, maka semakin menetapkan bidang yang akan kita kuasai, sehingga peran hidup akan makin terlihat.

Dari mempelajari kembali tugas-tugas yang telah diberikan juga dengan disertai rencana untuk bertempat tinggal di daerah pedesaan sekembalinya ke Indonesia. Juga dengan melihat pendidikan dan pembangunan yang tidak merata. Saya pun merancang ulang peran apa yang saya tekuni setelah menyelesaikan studi yang masih berkaitan dengan pemberdayaan wanita, parenting, literasi dan pertanian.

Kelas matrikulasi IIP sendiri membagi proses aplikasi ilmu menjadi empat tahap, diantaranya (dilengkapi dengan tahapan pribadi yang ditetapkan berkaitan dengan ilmu yang akan dikuasai):

1. Bunda Sayang : Ilmu-ilmu seputar pemberdayaan wanita, parenting, literasi dan pertanian
2. Bunda Cekatan : Ilmu-ilmu seputar manajemen pengelolaan diri, rumah tangga, keluarga dengan mempraktekan ilmu dari tingkatan terkecil yakni keluarga.
3. Bunda Produktif : Ilmu-ilmu seputar minat dan bakat, kemandirian finansial, juga yang melibatkan produktifitas dan karya dibidang literasi dan pertanian.
4. Bunda Shaleha : Ilmu tentang berbagi manfaat kepada banyak orang meliputi pemberdayaan wanita sekitar agar lebih memiliki percaya diri dalam pengasuhan anak, membudidayakan kebiasaan membaca, dan mengambangkan usaha masyarakat yang mencakup pertanian rumah tangga dan pengolahan pangan pasca pertanian.

Setelah itu adalah menetapkan Milestone untuk memandu setiap perjalanan anda menjalankan Misi Hidup. Salah satunya dengan berkomitmen tinggi akan mencapai 10.000 (sepuluh ribu) jam terbang pada bidang tersebut, agar lebih mantap menjalankan misi hidup. Yang kurang lebih seperti ini rinciannya:

KM 0 – KM 1 : Menguasai Ilmu seputar Bunda Sayang
KM 1 – KM 2 : Menguasai Ilmu seputar Bunda Cekatan
KM 2 – KM 3 : Menguasai Ilmu seputar Bunda Produktif
KM 3 – KM 4 : Menguasai Ilmu seputar Bunda shaleha

Dari materi ini, saya sangat terbantu sekali bagaimana menjadika diri sebagai ibu yang memiliki kompetensi, profesional, dan berkontribusi untuk sekitar. Terimakasih IIP! 😉

Karena perjalanan ribuan mil selalu dimulai oleh langkah pertama, segera tetapkan KM 0 kita!

 

Aliran Rasa #3

Pekan ini, saya sempat merasa menjadi ibu yang payah. Diawali dengan anak yang tiba-tiba sakit, muntah-muntah, yang awalnya saya belum tau apa penyembabnya. Tanpa menunggu lama, setelah kejadian muntah-muntah langsung dibawa ke bagian gawat darurat di Rumah Sakit, setelah pemeriksaan, ternyata dirujuk ke bagian THT karena kabarnya ada peradangan di bagian telinga. Setelah ditangani dan diberi obat. Alhmdulillah keadaan semakin membaik.

Kejadian selanjutnya sepekan kemudian, anak saya muntah-muntah kembali, dan setelah ditelusuri karena asupan MPASI yang tidak cocok. Saya pun merasa gagal mempersiapkan, mempelajari, dan mempraktekan teori MPASI yang telah saya baca dari berbagai sumber. Alhmdulillah ditengah rundungan perasaan gagal memberi hal terbaik untuk anak, banyak yang menenangkan bahwa setiap anak itu unik dan tidak bisa disamakan satu sama lain. Yang membuat satu teori cocok untuk semua anak. Sayapun menyadari bahwa saya tidak boleh berhenti belajar memahami anak, keluarga, juga diri saya sendiri. Serta tak patah semangat untuk membangun peradaban dari dalam keluarga. Dari forum diskusi IIP saya pun diingatkan kembali bahwa,

“Pahamilah bahwa semua menginginkan ‘keberadaan’ anda, anda diciptakan dengan tidak sia-sia.”

“Maka bersungguh-sungguhlah dalam menjaga “amanah” yang sudah diberikan dengan sepenuh cinta untuk kita.”

“Jangan pernah bandingkan diri anda/anak anda/keluarga anda dengan diri/anak/keluarga lain. Tapi bandingkanlah dengan diri/anak/keluarga anda sendiri. Apa perbedaan anda hari ini dengan perbedaan anda satu tahun yang lalu.”

Peradaban dari Dalam Rumah #NHW3

Jodoh itu adalah cerminan diri

Setelah dua tahun menikah, kami banyak sekali menemukan kesamaan diantara kami, walau perbedaannya pun tak kalah banyak. Memulai pernikahan dengan bekal pengenalan yang singkat sebelumnya menjadikan kami banyak mendapat kejutan setelahnya haha.. kejutan yang menyenangkan atau sebaliknya.

Sebut saja beberapa kebiasaan kecil masing-masing kami yang terkadang saya tidak sadar kalau itu mengganggu pasangan saya. Apalagi kalau kebiasaannya mengancam kemaslahatan bersama, perlu diubah memang, namun kami paham itu butuh proses dan waktu.

Saya juga memahami, saya harus mengubah standar romantisme yang saya pahami lebih lama menjadi versi suami. Sehingga jikalau tidak dibelikan bunga atau coklat di hari pernikahan kami, saya tidak lagi sakit hati wkwkw…

Berat memang, apalagi dulunya saya sering dan kebanyakan nonton princess-princess disney, dan hey pernikahan di kehidupan nyata bukanlah cerita yang happily ever after ya hihi, karena pada akhirnya saya menyebut pernikahan adalah perjuangan, berjuang agar diberi kebaikan dunia dan akhirat, agar kami bisa dikumpulkan kembali di hari yang lebih kekal, dengan keadaan yang lebih baik dari sekarang.

Kepada suami tercinta, terimakasih sampai saat ini masih bersabar membersamai seorang istri yang saya tahu dan menyadari betul, sebagai istri, saya masih jauh dari kata frase “istri yang baik” namun saya bertekad akan terus belajar agar menjadi istri yang berbakti dan menyenangkan suami. Terimakasih juga telah merelakan untuk sama-sama membangun rumah tangga berdua, jauh dari keluarga. Membesarkan bersama Mas Ikyu dan adik-adiknya kelak agar menjadi pemuda sholih yang baik hati, cerdas budi. Semoga keberadaan kita di Jepang, khususnya Tsukuba, menjadi manfaat dan kebaikan untuk sekitar.

Akupun paham bahwa kiranya terlalu jauh dan muluk jikalau membahas ‘membangun peradaban dari dalam rumah’ padahal printilan, remeh temeh rempeyak rengginang yang walau remeh tapi penting kadang suka terlupakan untuk dibenahi. Semoga kita selalu diberi petunjuk agar bisa membangun peradaban dari dalam rumah, dimulai dari sekarang, dari diri sendiri, dan dari hal-hal yang sederhana. Aamiin.

Aliran Rasa #2

“Ojo kalah karo wegah” (Jangan mau kalah dengan rasa malas).

Sekelumit kalimat yang sempat diutarakan dalam diskusi grup diskusi Institut Ibu Profesional pekan lalu. Alhasil, saya, pun, mesem-mesem sendiri, salah tingkah, untung gak ada yang liat wkw… biasanya sih kalau salah tingkah karena ngerasa ya, ya emang huhu..

Teringat bagaimana manajemen waktu saya yang acakadut seperti yang pernah saya jelaskan dipostingan sebelumnya, sehingga saya memang perlu untuk diingatkan salah satunya melalui forum tersebut. Selain itu, sentilan kedua datang dari beberapa key word, diantaranya; Komitmen, Konsisten, Deep Habit, Shallow Work, dan Deep Work. Sebagai seseorang yang terkadang bermasalah dengan waktu, pekerjaan, yang banyak, dan prioritas, tentu komitmen dan konsisten sangatlah diperlukan, seharusnya. Tetapi kenyataannya, saya ternyata harus banyak-banyak meminta ampun kepada Allah karena banyaknya waktu yang tersia, suka menunda-nunda, dan akhirnya menjadi tidak optimal. Maka, perbaikilah dirimu mulai dari sekarang juga.

Selanjutnya, adalah Deep Habit, Shallow Work, dan Deep Work. Deep Habit yaitu kebiasaan-kebiasaan yang dibangun secara terus menerus untuk mendukung aktivitas yang membutuhkan fokus, ketajaman berpikir dan benar-benar krusial untuk hidup kita. Yang tentunya akan berkaitan dengan produktivitas kita yang didukung oleh deep work atau aktivitas yang memerlukan fokus, ketajaman berpikir sehingga membawa perubahan besar dalam hidup kita. Sentilan kesekian karena ternyata saya tidak bisa mencapaikan dikarenakan apaa? karena Shallow work yang salah satu contohnya adalah, scrolling timeline facebook ampe bawah yang gak berbatass… sehingga yang harusnya kita bisa lebih produktif malah sebaliknya. Oleh karenanya, sudah siapkah tidak sering-sering buka medsos? atau kapan terakhir kali baca buku dengan fokus? Ng…. umm.. fiuh…

Indikator Ibu SMART dan Profesional NHW#2

Memasuki materi kedua di pekan kedua kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional (IIP) saya semakin menyadari bahwa banyak hal yang harus dibenahi dari diri saya, jleb deh rasanya, langsung mengena di relung jiwa, ea oke ini lebay.

Tapi saya kembali merenungi, kenapa selama ini, apalagi setelah memiliki anak, sering banget bad mood, muka ditekuk, cemberut, pusing sendiri. Ternyata jawabannya adalah, manajemen diri dan waktu yang acakadut.

Lagi-lagi, yang menjadi korban adalah suami saya, mungkin juga anak saya yang walau masih belum setahun pasti merasakan rasa hati ibunya hiks, maaf ya.

Dalam materi kedua, untuk menjadi profesional, kita harus mamahami peran sebagai seorang individu, istri, dan ibu. Sehingga mampu melaksanakan ketiga tugas tersebut dengan baik. Caranya, dengan menanyakan pada diri, suami, dan anak (sebenernya ini yang masih bingung, bagaimana mendapat respon dari bayi berumur 6 bulan hehehe, namun akhirnya saya buat berdasar asumsi dan beberapa sumber tumbuh kembang anak), selain itu, memasang indikator dalam setiap capaian. Berikut inilah indikatornya,yakni SMART.

Specific: unik/detail
Measurable: terukur
Achiveable: bisa diraih, tidak terlalu susah dan tidak terlalu mudah
Realistic: berhubungan dengan kondisi sehari-hari
Timebond: berikan batas waktu

Saya diingatkan kembali, kapan ya terakhir bikin target, time table, dan list-list seperti itu, huhu, a long time ago…

and then, here we go, inilah targetan yang sekiranya saya mampu lakukan sebagai individu, istri, dan ibu, semoga istiqomah!

IMG_5125
Targetan Menjadi Ibu Profesional

Jadilah, semoga di momen yang bertepatan dengan Ramadhan ini, bisa menjadi titik balik dan momen perubahan menjadi seorang wanita, istri, dan ibu yang lebih baik. Aamiin 😉