Mengandung dan Melahirkan di Jepang #4

Posted on

Tibalah saat yang dinanti dengan berbagai perasaan didalamnya, ada senang, gak sabar, khawatir, sedih juga, takut apalagi. Saat pemeriksaan hari Selasa di pekan ke 38, ada hal yang mengejuktkan, karena ternyata saya sudah bukaan 2. Ini mngejutkan bagi saya yang belum lengkap siap-siapin barang-barang yang dibutuhin untuk nginep di rumah sakit (gurbakk!). Dan akhirnya sepulangnya dari RS saya dan suamipun sempet-sempetnya jalan-jalan belanja.

Berdasarkan pengalaman ibu yang sudah menangani beberapa kehamilan, karena ibu adalah bidan hehe. Beliau pun bilang, wah besok juga bakal keluar tuh! Saya dan pak suami sontak terkejut dan saya yang masih bisa cengengesan pun belum merasakan yang namanya kontraksi alias mules-mules.

Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu pun terlewati. Saat itu adalah saat harap-harap yang paling cemas, kalau kata mamah, yaudah nginep di RS aja.. Oww tapi tunggu dulu, untuk dapat dinyatakan bisa menginap di RS haruslah memenuhi 3 syarat; Kontraksi yang berulang setiap 10 menit, Pecah ketuban, atau Perdarahan. Kira-kira itulah syarat ditetapkan oleh pihak RS disini. Dan karena saya belum mengalami itu semua, saya pun tinggal di rumah dan masih menyempatkan foto-foto sebelum daunnya makin rontok -__-

image.jpg
Trimakasih taneman yang jadi tripod! *maaf wajah pak suami ketutupan daun ๐Ÿ˜

Sabtu malam, rasa mules yang katanya hampir mirip dengan mules menstruasi pun datang. Sebelumnya saya bingung, kalau sudah bukaan itu masih bisa sholat gak ya? Dan memang ada beberapa pendapat, salah satunya saya mengikuti yang ini (https://rumaysho.com/6388-hukum-darah-sebelum-melahirkan.html) yang menyatakan bahwa masih bisa sholat.

Dengan bantuan aplikasi, interval mules pun saya hitung, sampai pada akhirnya Ahad malam sekitar jam 11, kami memutuskan untuk ke RS karena kontraksi yang makin berulang dan adanya flek darah. Yang mana mules yang dirasa memang sama dengan saat saya menstruasi yang nyerinya bisa sampai nungging guling-guling. Saya yang sebenernya masih takut-takut ini akhirnya merelakan, terserah nanti disana mau diapain aja, sambil berdoa semoga apapun cara lahirnya, semoga itu yang terbaik yang dikasih sama Allah.

Sesampainya di Emergency, yang sebelumnya bahkan sempet salah sambung pulak teleponnya, duh. Kami pun disambut oleh suster yang saat ditelepon sudah saya beri tau keadaan terakhir sebelum menuju RS. Saya pun dibawa ke ruangan untuk pengecekan kontraksi. Diruangan pemeriksaan, ketuban saya pecah, dan bukaan sudah mencapai 7 cm.

Di RS yang saya tempati, ada dua ruangan terpisah yakni ruang kontraksi (labor room) dan ruang kelahiran (delivery room), setelah pemeriksaan saya pun saya berganti baju dan dibawa ke ruang labor, dengan berjalan kaki, oke hmm. Di ruang labor yang kata senior saya adalah ruang pesakitan, karena memang ruangan yang dikhususkan untuk kontraksi. Dan, disanapun saya merasakan kontraksi yang bener-bener kontraksi yang digambarkan oleh salah seorang sahabat sebagai rasa mules dengan hasrat ingin buang air besar yang air nya suangat besarrr! Sampai-sampai saya khawatir kalau anus saya akan pecah karena kuatnya tekanan kearah sana. Dibantu oleh seorang bidan, saya pun diajarkan cara bernapas dalam untuk mengurangi rasa sakit, ditambah juga fasilitas bola kasti yang fungsinya menekan bagian anus agar tidak terlalu sakit, dan itu adalah tugas suami saya yang hampir semalaman melakukan tugas mulia itu.

Waktu menunjukan pukul 4 subuh, saya yang sudah tidak sabar pun semakin gelisah dengan rasa sakit yang tidak berkesudahan. Saya pun bertanya kira-kira berapa lama lagi harus begini. Ibu bidan menjelaskan bahwa bukaan belum sampai 10 cm dan untuk melahirkan interval kontraksinya harus setiap 2 menit. Hiks. Perlakuan induksi pun ditambahkan karena kontraksi saya yang masih 6 menit. Pukul 8 pagi dan kabar baik itu datang, saya boleh pindah ke ruang delivery karena bukaan sudah lengkap dan kontraksi sudah semakin sering. Saya pindah ruangan dengan berjalan kaki, yak, disuruh jalan kaki!

Sesampainya diruangan pun, oleh seorang bidan saya masih harus mencoba berbagai macam posisi untuk bisa mengejan, masih ditemani suami. Saat rambut bayi sudah terlihat saya pun dinyatakan sudah siap untuk melahirkan, pak suami diminta keluar ruangan. Yakk, keluarr deh dia. Dan tim paramedis yang terdiri dari dua dokter, dua bidan, dan beberapa suster pun datang. Saya sudah pasrah dengan adanya satu dokter lelaki yang ada disana, dalam situasi darurat sehingga kondisi yang menurut saya tidak ideal itu harus dihadapi, Alhmdulillah dokternya baik dan mirip sama yang ada di dorama yang pernah saya ceritakan, *haduh ris!

Beberapa kali harus mengejan, yang saya ingat adalah jangan merem (karena bisa menyebabkan pembuluh darah di mata pecah), jangan angkat pantat (karena bisa menyebabkan robekan sampai anus) dan jangan teriak (karena akan mengabiskan tenaga). Di suatu hentakan dengan aba-aba yang dikomando oleh pak dokter; Seeei no, ich ni san! saya merasakan perut tetiba menjadi ringan dan ada teriakan seorang bayi diujung sana. Alhmdulillah rabbi habli minnasshalihinn.. Tatapan mata saya pun tak lepas dari sosok itu, selain untuk melupakan rasa sakitnya dijahit, saya pun tertakjub dengan manusia yang akhirnya lahir itu :’)

image
Foto yang diambil sama suster dan dikasih ke suami yang menunggu di luar

Entah berapa jahitan, karena saya sudah males tanya, plus gak tau bahasa jepangnya hhe. yang pasti itu terasa nyut-nyutan. Alhmdulillah proses melahirkan selesai sudah, dokter pun mempersilakan saya beristirahat sekitar satu jam di ruang persalinan, setelahnya diperbolehkan ke ruang inap dengan jalan. Oh tidak, jalan lagi? Alhmdulillah karena saat mencoba berdiri pengelihatan saya menjadi berkunang-kunang, sayapun dibawa ke ruang inap dengan kursi roda ๐Ÿ˜€

Mengandung dan Melahirkan di Jepang #3

Posted on Updated on

The worst thing for pregnant mother is being swayed by other people’s opinion and information and then losing confidence (Konotori Sensei dalam Drama Koundori)

Kehamilan mungkin menjadi salah satu penyebab kebahagiaan di dunia ini, atau mungkin menjadikan seorang wanita merasa sempurna. Namun, juga jangan dilupakan bahwa memilih hamil berarti memilih untuk terbebani amanah, memilih untuk tidak bisa lagi tidur nyenyak, tidak ada lagi me time, harus pinter-pinter jaga makanan, badan remuk redam dll dsb dst ๐Ÿ˜€

Juga bukan berarti wanita yang belum dikaruniai kehamilan bukan wanita sempurna atau belum dipercaya untuk diberikan amanah. Meyakini bahwa anak adalah rezeki rahasia yang menjadi hak Allah dalam penentuannya, mungkin sama dengan jodoh dan kematian. Hanya Allah yang tau bukan? Tugas kita adalah berusaha untuk mencari jodoh terbaik, berusaha untuk mendapatkan dan mendidik anak menjadi manusia yg sholeh, serta menjadikan kehidupan sebagai ladang amal untuk bekal kematian.. (Susah ya.. Iyaa..)

Kira-kira kata penghibur saya ketika dalam masa menanti (jodoh) ataupun keturunan ya mungkin emang belum dikasih sama Allah (titik) sambil terus mengupayakan yg terbaik yg bisa saya upayakan. Hihi, apalagi ditengah hantaman informasi kehidupan orang lain yang dibombardir di sosial media, harus bisa mengurut-urut hati biar gak dengki sama kehidupan orang lain, mensyukuri apa yang sudah diberi dan sebisa mungkin mengambil inspirasi yang baik-baik.. Ya Allah ampuni hambaaa..

Yuk dilanjutt..
Hamil, Alhmdulillah akhirnya Allah berikan juga, tapi tunggu dulu, hamil di Jepang? Pas lagi sekolah? Mungkin kedengerannya ribet sendiri ya. Udah mana membaca saja saya sulit, plus membayangi harus sering-sering berinteraksi dengan tenaga medis dengan bahasa jepang T_T sedih ya kitah.

Anyway, Alhmdulillah dalam kurun 9 bulan kehamilan di jepang, banyak sekali bantuan dan dukungan yang saya dapatkan, dari mulai komunitas Indonesia di jepang (dukungan moril, materil, dan yang paling penting makanan hehe) teman-teman, guru-guru, dan kolega di kampus, juga dari orang-orang jepang yg kadang saya temui tidak sengaja melihat perut saya yang besar, “Ee.. Omoi desuka? Ganbatte ne! ๐Ÿ™‚” walau dalam tiga bulan pertama saya harus berjuang dengan mual-mual yang dahsyat sampai kehilangan 5 kg berat badan, juga merelakan ngidam-ngidam (termasuk nasi goreng dan sate ayam yang lewat depan rumah di cilegon) yang gak kesampean. Ditambah lagi kerjaan lab dan submit paper yang gak selesai-selesai. Dukungan mamah yang selalu bilang, “semangat! Jangan manja, jangan menye-menye” yang menjadikan saya harus selalu setrong T_T walau sama suami tetep sih kadang nangis-nangis random gak ngerti kenapa atau juga karena kedodolan yang makin menjadi saat hamil bikin suami kadang kesel juga, maaf ya pak suami.

image.jpg
Yang sabar ya pak sama istrinya ๐Ÿ˜„

Untuk kerjaan di lab, saya pun berusaha
untuk melakukan sebaik mungkin yang saya bisa, walau hamil bukan berarti saya minta diringankan, dan memang sensei saya pun tetap meminta saya mengerjakan kerjaan yang seperti biasa, riset, asisten, study trip, sampe saya pikir “sensei, gak ngeh apa saya lagi hamil?” Lahhh.. Wkw. Tapi kerja keras selalu membuahkan hasil, Alhmdulillah, Setidaknya saya bisa mengambil cuti dengan tenang ๐Ÿ˜€

image.jpg
Si Utun yang ikut presentasi ๐Ÿ™‚

Intinya, klo ga ada tantangan gak bakal maju-maju ya gaakk? Nah, biasanya biar memotivasi kadang saya ambil beberapa inspirasi dari dorama (halah, bilang aja emg demennya nonton dorama, ups). Salah satu drama rekomendasi saya yg berkaitan dengan kehamilan, obgyn, bayi, dll adalah Dr. Storks atau Koundori yg tayang di TV jepang Oktober 2015 lalu, link nonton streamingnya bisa dilihat disini loh hehe: http://www1.dramanice.at/kounodori/watch-kounodori-episode-1-online

Selain buat nambah vocab bahasa jepang buat periksa rutin dan persiapan kelahiran, drama ini juga lumayan mempersiapkan mental hiks, tiap episode hampir selalu berurai air mata dan banyak hal yang bisa dipelajari. Jadi, hami di jepang, walau banyak tantangan insyaAllah selalu ada kemudahan! Semangat!

Mengandung dan Melahirkan di Jepang #2

Posted on

Saat melalukan pemeriksaan kehamilan di Klinik, kita akan melakukan pemeriksaan janin dan detak jantung janin pada pekan ke enam dan tujuh kehamilan. Setelah memastikan bahwa janin sehat dan berkembang, ditandai dengan adanya detak jantung dan penambahan ukuran janin pada pekan ketujuh, maka dokter akan memberikan surat rekomendasi untuk pengajuan asuransi kehamilan di balai kota.

Asuransi tersebut biasa disebut ‘Marufuku’. Syarat untuk mengurus Marufuku adalah, Residence Card, Kartu Asuransi, Rekomendasi Dokter dan tanda tangan suami. Setelah semua oke, kita akan mendapat satu bendel dokumen yang berisikan, Boshi Techo (Buku Petunjuk Kesehatan Ibu dan Anak), Gantungan kunci ibu hamil (untuk pertanda priority seat hehe), dokumen penjelasan hamil dan bersalin di jepang, serta kupon-kupon asurasi yang dipakai setiap pemeriksaan.

Setelah itu, kita akan dirujuk untuk melakukan pemeriksaan rutin di Rumah Sakit besar, untuk Tsukuba, yang dipilih adalah Tsukuba Daigaku Byoin atau Rumah Sakit Universitas Tsukuba.

Pemeriksaan rutin di Rumah Sakit dilakukan kira-kira 11 kali pemeriksaan, sebulan sekali sampai pekan ke 20, kemudian dilanjutkan pemeriksaan dua pekan sekali, dan saat memasukin pekan ke 36, pemeriksaan menjadi satu pekan sekali. Setiap periksaan, selalu dicek keadaan janin menggunakan USG. Beberapa jadwal berisi pemeriksaan darah (TORCH test, hormon kelenjar tiroid, gula darah, dll), pemeriksaan urine (kandungan protein, pH, dll), pemeriksaan tensi, berat badan, serta keberadaan bakteri streptokokus grup B.

Nah, menariknya menggunakan asuransi adalah, pembayaran tiap kali pemeriksaan akan mendapatkan potongan, misalkan saat pemeriksaan adanya bakteri streptokokus grup B dikenai sampai 10.000 yen, namun dengan adanya asuransi hanya kena 600 yen Alhmdulillaah ๐Ÿ˜€

Selain itu perlu diketahui bahwa dokter di jepang sangat jarang memberikan resep obat seperti vitamin, obat penguat dll apalagi susu ibu hamil. Yang saya pernah dapag hanya obat konstipasi dan zat besi, itu pun karena hasil pemeriksaan yang menunjukan kadar Hb yang rendah. Untuk vitamin seperti asam folat, vit.B, kalsium, DHA dan EPA biasanya dibeli sendiri di apotik terdekat tanpa resep dokter. Mungkin mereka sudah pede dengan nutrisi makanan di jepang, heuheu.

image

Dengan ini, catatan-catatan lengkap pemeriksaan perpekan yang diberikan oleh pihak RS akan saya simpan, sebagai referensi jika-jika suatu saat akan melahirkan di Indonesia. Di postingan selanjutnya, saya akan bercerita tentang bertahan hidup di Jepang saat hamil, detik2 menjelang melahirkan, dan satu bulan awal setelah melahirkan yang sesuatu bingits lah.. ๐Ÿ˜„

Mengandung dan Melahirkan di Jepang #1

Posted on Updated on

Setelah menikah pada Maret tahun 2015, kami memang menjadi salah satu pejuang LDR karena saya harus kembali melanjutkan studi di Jepang dan suami harus menyelesaikan kontrak kerja dan mempersiapkan hal-hal yang perlu dipersiapkan sebelum ia terbang menemani saya di jepang. Keluarga kami pun tidak terlalu terburu menuntut harus cepat punya anak, pun Alhmdulillah dengan kami yang juga memiliki motto “let it flow” plus sedang menikmati waktu-waktu pacaran setelah nikah mehehe..
Selang setahun setelah menikah, akhirnya kami memulai hidup bersama tepatnya di bulan Februari 2016. Suami sudah menetap di Jepang dan sudah memulai rutinitasnya. Saat bersama itu kamipun mulai terpikir untuk melakukan program hamil, beberapa rencana saya lakukan seperti ikut kelas Online Promil, cek kesehatan reproduksi dll. di bulan Maret 2016, Alhmdulillah saya dinyatakan positif hamil.
Diawali dengan “feeling” hmm koq belum dapet-dapet yah. Biar gak kege-eran hehe, setelah yakin telat sekitar 2 pekan, maka saya memberanikan diri untuk cek dengan testpack. Reaksi pertama saya saat mengetahui dua garis positif adalah… Nangis! Wkw. Antara terharu, khawatir, seneng, dan juga langsung mikir bahwa akan bertambah amanah dan tanggung jawab. Sedangkan suami, senyam-senyum cengar cengir sambil bilang, selamat yaa! ๐Ÿ˜„

Si Utun dan Sakura

 

Setelah itu, saya pun memberi kabar keluarga di rumah. Alhmdulillah, insyaAllah cucu pertama dari dua keluarga pun akan hadir. Selang beberapa hari, saya mencari klinik untuk melakukan pemeriksaan. Di Tsukuba, ada beberapa klinik yang biasanya memberi rujukan sebelum kita berobat ke Rumah Sakit, diantaranya,

1. Shoji Clinic (Obsetrics&Gynecolog)

2. Nanairo ย (Obsetrics&Gynecolog)

3. Maejima (Gynecolog)
Saya pun memilih Shoji. Yang perlu dilakukan saat pertama periksa adalah membuat janji, datang saat jadwal pemeriksaan, membayar dan membuat kartu pendaftaran. Untuk semua klinik, biaya pembayarannya hampir sama, berkisar antara 5000-6000 yen.
Aksesnya dari kampus memang agak jauh, tetapi alhmdulillah klinik tersebut memiliki dokter wanita yang juga bisa berbahasa inggris selain bahasa jepang. Buat saya yang masih ‘membaca saja sulit’ ๐Ÿ˜€ itu sangat membantu sekali.
Di postingan berikutnya insyaAllah saya akan berbagi pengalaman hal yg sangat penting hihi, yakni saat mengurus asuransi untuk kehamilan di Jepang… ^_^

Kehidupan Riset di Jepang

Posted on Updated on

Sudah hampir memasuki tahun ketiga saya bergabung dalam kelompok riset dimana saya belajar di University of Tsukuba. Seperti yang telah saya ceritakan pada cerita sebelumnya, bahwa mayoritas sistem pendidikan lanjutan di Jepang adalah based on research dibandingkan course work. Jadi, jika dibandingkan dengan pendidikan yang based on course work yang dialami teman-teman di belahan bumi Eropa atau Australia, memang agak sedikit berbeda. Kalau disana, banyak sekali saya mendapati cerita mengenai penuhnya kelas dan SKS yang harus diambil, begadang mengerjakan report, ujian tertulis, dan banyak lagi. Saya kadang sempat terpikirโ€ฆ

โ€˜โ€™Wah sampai segitunya ya, kaya disini ngerjain laporan kuliah ga pake begadang, -ya itumah elu aja ris yang kesantean… wkw.โ€™โ€™

Tapi tenang saudara-saudara, begadangnya kami di Jepang, bukan karena tugas, tetapi karena riset yang harus dikerjakan, apalagi jika berkewajiban untuk melakukan publikasi riset (jurnal). Yap, balik lagi ke pendidikan yang berbasis riset. Hampir selama pendidikan, yang kita kerjakan adalah riset, riset, dan riset. Walau memang bergantung kepada jurusan yang diambil, namun mayoritas mahasiswa di jepang akan memiliki study room/laboratory tempat untuk โ€˜berkaryaโ€™ siang dan malam hehe.

Sistem pendidikan yang menekankan pada riset membuat persiapan untuk melanjutkan pendidikan di Jepang menjadi unik. Hal pertama yang paling penting adalah, mencari calon supervisor, atau dengan kata lain, sensei yang berkenan untuk membimbing kita. Nah, dibagian ini adalah yang paling penting, karena bisa dibilang sensei adalah titik penentuan kehidupan kita di Jepang akan berjalan bahagia atau sebaliknya (agak lebay ya, tapi memang itulah kenyataanya hiks).

Mengapa peran sensei sangatlah penting? Karena, sebagai supervisor beliaulah yang akan menjamin hidup kita di Jepang, yang menjadi penanggung jawab di setiap form yang kita isi, yang memberikan rekomendasi untuk berbagai hal dan banyak lagi. Oleh karenanya, peran dan tanggung jawab beliau sangat penting, wajib untuk kita menjaga hubungan baik, saat menempuh pendidikan dan juga setelahnya.

Ada teman yang bertanya,

โ€˜โ€™Jadi parameter sensei yang baik itu kayak gimana ris?โ€™โ€™

Hm, memang agak sulit, karena dalam komunikasi tulisan, yakni yang kita lakukan saat berkirim email pertama kali, hal itu sulit ditentukan. Cara lain adalah dengan bertanya kepada senior atau memang belum ada senior disana, berdoalah supaya senseinya memang baik. Atau memang terlanjur mendapat sensei yang agak kurang baik (nah ini juga parameternya bias sih), cara paling akhir adalah selalu bersabar mengahadapinya. InsyaAllah selalu ada jalan.

Selain itu, penting juga untuk mengetahui riset apa yang digeluti oleh sensei yang kita tuju. Banyak cara kepo-in sensei, lewat google scholar, web universitas, atau linkedin. Dari situ dapat tergambar mengenai apa yang akan kita lakukan dalam riset dibawah bimbingan beliau.

Setelah semua proses dilakukan, sampailah kita dalam kehidupan riset di Jepang. Setiap mahasiswa yang sudah memasuki masa riset (tahun keempat undergraduate, graduate baik master atau doctor) akan mendapat study room/laboratory yang hampir semua kegiatan riset akan dikerjakan sedari pagi sampai sore bahkan malam. Seluruh fasilitas yang mendukung riset sudah tersedia, jikapun tidak, kita diberikan kesempatan untuk mengajukannya. Study room/laboratory menjadi tempat untuk belajar secara mandiri, maupun berdiskusi dengan teman satu ruangan. Agenda wajib lain di setiap lab adalah mengikuti konferensi, serta menghadiri dan persentasi pada diskusi pekanan atau yang kami sebut zemi (asal kata dari seminar).

konfrens
Presentasi dalam Konferensi
IMG_2112
Teman-teman satu ruangan study room
zemi
Kegiatan Zemi

Nah, menariknya, kegiatan di kelompok riset bukan hanya tentang penelitian semata. Dalam beberapa kesempatan, kegiatan lain seperti bersilaturahim ke rumah sensei, study trip, welcome party, farewell party, dan juga end year party. Kegiatan-kegiatan ini yang menjadi media komunikasi antar sensei, mahasiswa jepang, dan juga mahasiswa luar negeri. Harapannya, kegiatan-kegiatan tersebut dapat skill dalam berkomunikasi, dan juga wawasan antar negara. Jadi jangan takut riset di Jepang ya. Hidup riset! *menyemangati diri sambil ngolah data yang gak kelar-kelar ><

IMG_2182
Farewell Party

 

 

Step by Step Kuliah di Jepang #4 (Memilih Kampus)

Posted on

Setelah niat yang cukup, mengapa harus melanjutkan sekolah, setelahnya adalahย mencari negara tujuan, Indonesia atau di Luar Negeri? Benua Asia, Australia, Amerika, Eropa, atau Afrika? Untuk penentuan ini, saya butuh hampir setahun untuk banyak berkonsultasi ke senior-senior yang saya rasa cukup banyak pengalaman di pasca sarjana di dalam dan di luar negeri. Selain senior, saya juga sempatkan untuk banyak bermusyawarah dengan keluarga, khusunya ibu dan bapak.

Akhirnya, di akhir tahun 2012, saya memutuskan benua Asia, sebagai pilihan dengan dua negara Jepang atau Korea. Kenapa Jepang atau Korea? Jepang, bisa dibilang negeri impian, Pertanian dan Sainsnya maju, Dan juga Alhmdulillah sudah pernah merasakan tinggal walau hanya beberapa hari disana Jadi lebih terbayang bagaimana jika tinggal disana dalam waktu yang lama.

Korea, bukan karena korean wave yang lagi happening :p Korea negara yang hampir sama perkembangannya dengan Jepang, dan salah satu negara yang mempunyai banyak Inovasi dengan tetap memberdayakan tenaga kerja dalam negerinya. Seperti Jepang, Ia negara yang sangat menjaga tradisi dan cinta terhadap produk dalam negeri. Ditambah, di tempat tinggal saya kini banyak sekali tenaga kerja dari Korea. Dan jadilah Jepang dan Korea yang menjadi kandidat negara selanjutnya dengan beberapa kandidat Universitas seperti: Kyoto University, Tokyo University of Agriculture and Technology (TUAT), Kyushu University, Tsukuba University, Yonsei University, Korea Advance Institute of Science and Technology (KAIST). dan Pohang University of Science and Technology (POSTECH).

Sekitar dua bulan, saya pun menentukan mana yang akan dipilih dari kedua negara ini. Dengan beberapa pertimbangan, akhirnya diputuskanlah satu negara tujuan yakni jepang. Alhmdulillah ternyata pilihan saya adalah pilihan yang tepat, karena seiring perjalanan saya mulai menemukan kedua perbedaan dari jepang dan korea.

Jepang dan Korea bisa dikatakan selalu bersaing dalam segala hal, keduanya ingin mengungguli satu sama lain, namun bisa dibilang jika perekonomian jepang lebih maju dari Korea, kareanya ritme kerja di korea menjadi lebih keras dari jepang karena mereka merasa harus mengungguli jepang. Istilahnya, no break until drop, karenanya, di korea, jenjang antara senior-junior sangatlah jelas diantara mereka.

Untuk memilih kampus yang baik di jepang ada hal-hal yang perlu diperhatikan, diantaranya:

  1. Jurusan yang ingin digeluti

Hal inilah yang pertama kali harus ditentukan, karena hal ini yang akan membuat semangat kita naik turun, dan yang akan menentukan hal-hal yang akan dilakukan kedepannya. Ketertarikan terhadap riset adalah hal yang penting karena, budaya riset di jepang yang sangat kental, baik untuk ilmu eksak dan ilmu sosial. Jadi, jangan sampai salah jurusan ya! ๐Ÿ™‚

  1. Sensei yang diminati

Hal selanjutnya yang menentukan hidup mati kita (oke ini lebay, tapi sangat menjadi pertimbangan hehe), adalah sensei. Banyak macemnya sensei, ada yang prefeksionis, yang aktif ikut seminar, yang gak mengizinkan mahasiswanya memiliki kehidupan selain di kampus hehe, yang gak terlalu suka jika mahasiswanya menikah dan punya anak, sampai ada yang baik banget sampai mau meminjamkan uangnya untuk keperluan mahasiswanya. Tapi overall, sensei disini semuanya bertanggung jawab dan dapat dipercaya akreditasinya.. jadi pilihlah jenis sensei yang tepat untukmu *bukan karena sensei ini mudah atau sulit, Karena setiap orang berbeda mengahapinya. Caranya bisa dilihat dari rekam jejak penelitiannya (menggambarkan bahwa dia orang yang aktif), dari cara korespondensi email (coba tanyakan mengenai perihal keluarga dll, jika kita berniat membawa keluarga), dan lain โ€“lain.

  1. Bahasa Pengantarย (English/Japanese)

Hal ini cukup penting untuk dirimu dalam mempersiapkan kemampuan berbahasa di jepang. Kalau memang ingin masuk ke program yang Bahasa jepang baiknya adalah ikut research student dulu, keuntungannya adalah kamu akan lebih gaul dikalangan teman-teman jepang, dan mendapat banyak info yang bisa kamu mengerti (jika info itu dalam Bahasa jepang), tapi jika program yang kamu ikuti berbahasa inggris itu lebih menguntungan sehingga kamu bisa fokus ke peningkatan risetmu, namun kelemahannya ya jd banyak gak ngerti hal-hal sekitar..

  1. Kampus yang memiliki peringkat yang baik

Di Jepang, peringkat satu dan dua adalah Tokyo dan Kyoto, peringkat lainnya berubah-ubah tiap tahunnya. Namun sepuluh besar jepang, biasanya menyediakan program Bahasa inggris. Jadi sebenernya dimanapun kamu belajar insyaAllah setiap kampus memiliki keistimewaannya sendiri.

  1. Lokasi, budaya, dan masyarakat sekitar

Lokasi perkuliahan yang kana mempengaruhi anggaran studimu dan bagaimana cara mengatur keuangan hehe. Jika tinggal di daerah kota seperti Tokyo, Kyoto, dan Nagoya, kemungkinan kamu akan menghabiskan anggaran lebih besar dari kota lainnya. Jadi siap-siap untuk hal ini. Namun, di kota besar akan banyak hal yang akan didapatkan lebih dari kota lainnya.

Riset

Posted on Updated on

Kekuatan riset ada pada originalitas, aktualitas, rasionalitas, publisitas dan prioritas. Untuk membangun komponen kekuatan riset itulah perlu perjuangan yang terorganisir dengan baik dan rapi serta dilandasi dengan mental yang mumpuni. Tidak sedikit yang sukses dalam kuliah namun gagal dan kandas dalam risetnya. Tapi sebaliknya ada yang prestasi IPK tidak menonjol namun tuntas risetnya. Ini semakin mengkonfirmasi bahwa riset perlu dikawal dengan mental dan nyali yang mumpuni selain ilmu pengetahuan pada bidangnya.

-Prof. Kudang Seminar